"Lara! Kamu kenapa?"Tanya wanita itu memegang kedua pipi Lara. Melihat kedalam matanya yang berwajah pucat.
Lara berjalan sempoyongan diantar ojek kedepan pintu rumahnya dengan kaki telanjang.
Lara terlihat sangat lemah dengan matanya yang sembab.
Dibalut baju biru langit yang lusuh, terlihat dipakai seadanya dengan krah terlipat disisi lehernya yang putih.
Aini terkesiap melihat disana tercetak bercak merah kebiruan layaknya habis melakukan percintaan yang sangat panas.
Aini mengerutkan keningnya dengan wajah cemas.
ini bukanlah kebiasaan Lara.
Lara yang pemalu, Tertutup dan menjaga diri dengan sangat baik diusianya yang dewasa tak pernah terjamah oleh tangan tangan yang tak terpelihara oleh hukum dan agama.
Lara melesak dan menghambur memeluk Aini sambil menangis.
Wajahnya pucat dan kuyu.
"Aini, Antar aku pulang ke kampung kerumah Emak, Aku tak mau tinggal dikota,"Katanya dengan pilu.
"Iya, Aku akan mengantarmu, setelah kau pulih kembali, Apa kata orang dikampung jika kau pulang dalam keadaan hancur begini? Emak pasti sangat terpukul melihatnya," Balas Aini khawatir.
Aini tahu alasan itu dengan melihat bercak merah membiru disisi dileher Lara dari samping.
Aini bukan wanita kemarin sore, Dalam hal percintaan. Aini juga tahu sifat Lara. Lugu dan polos. Dia tak biasa berprilaku sesuatu yang melanggar hukum yang tidak lazim.
Dilecehkan sedikit saja dia pasti ketakutan. Pernah seseorang pria dari kampung sebelah yang gemas melihat dada montoknya yang baru mekar, disa'at mereka duduk di bangku SMP.
Pria itu berusaha meremas dada Lara yang menjerit melindungi dadanya dipojok kelas.
Menjerit keras sehingga mengundang kerumunan yang lebar.
Membuat Lara malu dan enggan kesekolah. Lara mogok sekolah selama dua minggu.
Dan trauma melihat lelaki itu dalam waktu yang sangat lama.
"Siapa yang melakukan hal ini padamu Lara?" Tanyanya dengan pelan, Takut teman dekatnya itu tersinggung. Malu dan takut.
"Zac, Anak pemilik rumah besar itu,"Katanya tersendat,Berusaha menjelaskan kepada Aini dengan sedih. Terbayang Zac yang mempergauli dirinya dengan liar. Pada awalnya mungkin Lara terhanyut. Setelah beberapa sa'at Zac berubah brutal dan membuat tubuhnya bak permainan yang yang mengasyikan dan terombang ambing tak karuan. Oleh gelombang nafsunya yang seolah tak habis habisnya.
Zac adalah tipe remaja predator yang kejam.
Lara teringat dihari ketiga sejak Zac pertama kali menggaulinya.
Lara baru pulih dari rasa lelah dan sakit selama dua hari.
Zac datang lagi dengan kunci duplikat celaka itu.
Dan kejadian Laknat itu terulang lagi.
Lara merasa takut ketika anak muda itu mempermainkan tubuhnya dengan Penuh nafsu liar dengan menggeram gemas.
Berbuat bebas tanpa batas.
Lara menggigil Merasa wajahnya panas.
Dan tubuh bagian bawahnya terasa sangat pedih. Seperti ada luka sayatan baru disana. Mungkin Lara akan menahan Buang air kecil sampai besok.
Karena tanpa sadar Lara terpekik sa'at di closet dengan rasa panas dan pedih menderanya .
Dia melihat darah dari bagian vitalnya yang mencemari warna putih seprei katunnya diranjang besar itu. Dan kaos Zac yang dipakai untuk mengelap lantai yang terkena rembesan cairan merah itu. Pada bagian bahu dan dagu indahnya terdapat luka karena gigitan yang memerah dan sedikit goresan luka luar, Sa'at Zac mencapai pelepasannya. Dia Bagai monster yang menggigit, meremas dan mencengkeram dengan buas mencabik cabik harga diri Lara yang tak berdaya.
Dan Zac tak peduli, Lagi dan lagi membuat Lara terhentak hentak berkali kali dengan wajah tersiksa.
Pria itu terlahir tanpa belas kasihan.
Sekarang Lara sangat takut hal itu terulang lagi.
Untuk sementara waktu tinggal disini memulihkan kesehatan dan mentalnya sejenak.
Dan Akan menuju kekampung sunyi tempat kelahirannya yang damai.
Dengan rumah kecil berdinding kayu hutan dilereng gunung yang landai. Ditingkahi dengan musik alam gemericik air pancuran bambu yang memancar jernih dari belakang rumah yang bersahaja,Memanjakan pendengaran disa'at menjelang senja suara serunai alam nyanyian puput rimba dari hutan yang terlarang.
...****************...
Diwaktu yang bersamaan dari rumah besar.
"Bu Ratna!"Suara teriakan itu terdengar menusuk kegendang terdalam telinga penghuni rumah, Suara itu berasal dari Balkon sayap kiri rumah bercat kuning gading dibawah Lampu kristal besar berwarna jernih.
Dengan langkah tergopoh gopoh seorang wanita parubaya yang berpenampilan rapi dan cantik diusianya yang beranjak setengah abad.
Tampak segera hadir memenuhi panggilan yang menggema lewat pantulan tembok tebal berbalut batu pualam dengan ornamen dinding bertema rama rama warna warni pelangi itu.
" Ada apa Nak Zac?"Tanyanya dengan raut cemas.
Nalurinya mencium aroma hitam yang menakutkan, Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Fikirnya dengan hati berdebar.
Anak muda itu duduk disofa mini dengan wajah menekuk dilengkapi wajahnya yang cemberut dan masam. Seperti anak anak yang tengah merajuk karena mainan kesayangannya yang tiba tiba hilang.
"Dimana Gadis tua Bodoh itu!" Tanyanya sengit sambil memiringkan wajah kearah Ibu Ratna.
Membuat Bu Ratna terlonjak kaget.
Ada apa dengan Lara?
Dia baru saja minum obat penurun panas, Karena sakit dan suhu tubuhnya yang meninggi sejak empat hari terahir ini.
Lara terlihat memucat dan sering terlihat seperti orang yang sedang ketakutan pada sesuatu.
Namun Bu Ratna tak mengira kalau gadis yang rajin itu akan kabur dari rumah besar ini.
"Sebenarnya , Apa yang telah terjadi Zac?" Tanya Ibu Ratna .
Anak itu cuma diam sambil memandangi lantai dibawah telapak kaki panjangnya.
"Aku tidak menyuruh Bu Ratna balik bertanya untukku, Cari saja Lara, Dan jangan coba ciba melarikan diri dariku," Katanya dengan mata tajam kearah Asisten senior yang telah lama bekerja dikeluarga ini.
"Zachary, Si Tampan Mama! Apa keadaanmu baik baik saja sayang?" Tiba tiba Bu Ambar sudah berada diatas tangga putar lantai dua dengan menyandang tas kecil dengan setelan hitam putih berjalan menuju kearah Zac yang dalam mode low bat. Ibu Ratna Langsung mohon diri dengan lega pergi kearah tangga menuju lantai bawah
Pelukan hangat Ibunya sama sekali tak Membuat moodnya menjadi semakin membaik.
"Bagai mana dengan pengasuh barumu? Boleh mama berkenalam ?" Tanyanya Dengan riang, Namun anak itu hanya membalasnya Dengan Dengusan kasar.
"Tidak ada yang perlu dikenali dari wanita bodoh seperti itu," Katanya dingin bercampur kecewa.
Zac melipat tangannya kebelakang kepalanya, Rambutnya terlihat kusut.
Dia berjanji akan memberi pelajaran kepada Lara, Agar gadis itu mengingatnya seumur hidup.
Katanya dalam hati dengan geram.
Lalu dengan enggan bertanya kearah Ibunya.
"Mengapa Mama pulang lebih awal? Bukannya seharusnya satu bulan," Katanya sambil.memiringkan wajah mengarah sang Ibu yang tengah membungkuk membaca whatshap dari ponselnya.
Bu Ambar tak menjawab.
ini bukan kali pertama Ibunya tak.menjawab karena lebih fokus pada hal lain.
Zac Tersenyum kering.
Dan dia merasa hampa kini.
sesuatu yang hilang dari sudut hatinya.
Zac menatap kearah pepohonan tinggi di halaman rumah yang rindang melambai dari arah beranda Balkon yang terasa beku ditengah malam yang mulai menjelang.
Zac menarik nafasnya dengan malas dan menghembus dengan kuat.
Sa'at Ibunya mencubit pipinya sambil berkata riang.
"Oh Zac, Kita akan makan bersama malam ini, Lihat Launching pertama Mama mendapat sambutan baik dari konsumen luar," Katanya sambil memperlihatkan grafik diponselnya.
yang mengarah keatas membentuk garis vertikal dengan titik titik biru.
Zac mengangkat bahunya dengan acuh dan bangkit menuju kebawah.
Malam ini dia akan menghabiskan waktunya bersama teman temannya disuatu tempat Clubbing terbaru mereka.
Zac yakin sebentar lagi dia akan me menemukan Lara, Dan menyeretnya pulang kekamarnya.
Dan membantingnya kekasurnya yang tebal.
"Apa aku harus bermain trampolin diatas tubuhmu? Agar kau tak bisa lari dariku," Katanya tersenyum misterius menembus lampu jalanan yang temaram bersama Zacko dengan suara meraung meninggalkan asap dan debu yang mengaburkan pandangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Zahra Desky
😍🌟
2022-12-02
4