Penyusup

Dari kejauhan Lara melihat rumah besar yang masih berdiri dengan anggunnya.Seakan ingin menyembunyikan pada semua tentang pergolakan hebat yang sedang terjadi didalamnya

Sepi!

Tak ada barang satu manusiapun disini.Daun daun kering yang jatuh berguguran beterbangan ditiup angin.Seakan mengusirnya untuk pergi. Namun Lara terus melangkah memasuki gerbang yang hanya tertutup.Dengan kunci besar tergantung gantung bagai ada yang menyentuhnya barusan. Tanpa ada pengawasan seperti biasa.

Dia tiba dengan pakaian lusuhnya dengan lipatan uang tujuh lembaran sepuluh ribuan yang setengah basah ditelapak tangannya.

Tak ada siapa siapa yang terlihat dirumah besar. Biasanya para pekerja simpang siur. Kini terlihat sepi.

Lara melongok kearah gardu, Kosong!

Mengapa semua menghilang? "Hai!" Suara teriakan seorang wanita membuat Lara terperanjat.

"Oh,Bu Ratna! Kemana semua penghuni?"Tanya Lara cemas. Bu Ratna menarik lengan Lara menuju gardu yang biasanya dihuni dengan empat orang security yang berjaga bergantian.

Dengan setengah berbisik Bu Ratna melihat kearah kiri kanan, Seolah olah ada yang melihat. padahal hanya suara gesekan pojonnpohonnpinggir jalan yang menggugurkan dedaunan kering menambah kesan horror disekeliling.

"Mereka dirumahkan La, Ibu Ambar terpaksa memberhentikan mereka, Keluarga ini sedang terpuruk, Biaya pengobatan Zac menelan biaya yang tak sedikit, Devon juga dipenjara, Dan Tuan Hasril melarikan diri keluar negeri, Tinggal Ibu saja dan Ibu Ambar masih dirumah ini,". Kata Bu Ratna sedih.

"Ya Tuhan, Dengan waktu yang begitu singkat semua hancur,"Balas Lara terpukul.

Bu Ratna menggait lengan Lara menuju kearah rumah besar. Mereka menaiki undakan tangga pualam yang selalu mengkilap menguarkan kemewahan seperti biasanya.

Lara menggenggam tangan Bu Ratna dengan jemari kecil nya yang dingin.,"Bu, Apa Zac masih hidup?"Bisiknya dengan raut yang sangat cemas.

Bu Ratna berhenti dan menatapnya dengan manik berkaca kaca, "Iya La! Zac masih hidup, Namun dia sangat berbeda, Tingkahnya semakin kasar dan tak bisa didekati sama sekali, Dia berubah bagai orang gila yang sebenarnya, Dalam waktu dua Minggu semua telah merubahnya menjadi semakin memburuk, Dia akan memukul dan melempar orang orang didekatnya, Dia koma selama empat hari dan dihari kelima dia sadar dengan fisik yang luar biasa hebat. Para dokter dan petugas dirumah sakit mengikatnya, Dan satu Minggu kemudian Ibu Ambar membawanya pulang kerumah ini..."Lara kaget dan dengan gemetar memotong keterangan Bu Ratna.

"D..ddia,. Adda dissinni? Bu!"Katanya dengan wajah pucat dan tangannya yang berubah jadi sedingin es. Tenggorokannya terasa pahit.

Ibu Ratna mengangguk pelan, Mencoba menenangkan Lara. Dengan menggenggam tangan Lara yang mendingin. "Iya, La! Ibu juga takut, Dia berubah jadi monster. Tadi pagi dia mencekik Ibu Ambar, Oleh karena itu Ibu Ambar pergi secepatnya mengurus dokumen penting yang akan dijual. Zac harus mendapatkan perawatan khusus, butuh biaya yang sangat banyak. Dua Galery Desain Grafisnya yang di Jogja harus terjual secepatnya. Sedangkan rumah ini akan dijual juga untuk mengurus Devon dan Pak Hasril yang bermasalah dengan kasus perdagangan kayu glondongan yang telah tersita oleh pemerintah di Kalimantan. La, Ibu minta tolong! Tinggallah disini, Temani Ibu! Kasihan Zac, Sejak kecil Ibu yang mengasuhnya dan menjaganya bagai anak sendiri, Ibu tak tega meninggalkannya sendirian, Sementara Ibu Ambar sibuk mengurus masalah keluarga ini yang kian hari semakin pelik."Kata Bu Ratna sambil menangis.

Tanpa pikir panjang gadis itu mengangguk walau dipenuhi dengan ketakutannya.

"Ayo Bu, Kita harus melihat keadaan Zac,"Katanya dengan kerinduan yang dapat mengalahkan segalanya.

Perutnya mendadak mual dan Lara sepertinya akan muntah lagi. Namun dapat ditahannya walau dengan wajah berkeringat.

Mereka menaiki rumah pada bagian lantai atas yang sepi bagai kuburan tua, Lara menarik nafasnya dalam dalam.

Sebelum mengetuk pintu.

Ibu Ratna siap berjaga jaga jikalau monster yang sedang bertapa didalam kamar itu mengamuk. Dia telah menyiapkan ponselnya ditangan memanggil pengaman yang ada di gardu tetangga yang tak jauh dari rumah besar.

Lara mengetuk pintu dengan tangan kecilnya yang gemetar.

Tok tok tok

Diam

hening

sepi, Tak ada sahutan.

Dengan pelan Lara membuka handel pintu yang ternyata tak dikunci dari dalam. Lara masuk dan melihat pemandangan yang menyedihkan.

Zac tertidur dengan kaki panjangnya menekuk sambil berbaring menyamping. Kepalanya botak dan hanya mengenakan celana boxer hitam tanpa baju.

Wajahnya ditumbuhi Bulu bulu yang halus. dan masih terlihat tampan walau terlihat agak seram dan dewasa. Lara terduduk ditepi ranjang besarnya yang awut awutan.

"Zac!"Katanya pelan sambil menutup wajahnya sendiri, Menangis Melihat kenyataan yang sebenarnya.

Zac berubah gila dan hampir mati.

Sepasang tangan mencengkeram bahunya dari belakang dengan kuat seakan akan meremukkan tubuhnya.

"Mengapa kau datang kemari gadis bodoh, Kau mau ikutan mati bersamaku?"Kata suara berat itu. dengan wangi yang tak berubah, Wangi pepermint bercampur manis.

Lara menatap Zac dengan wajah bersimbah air mata. Dan menubruk tubuh Zac yang masih setengah terbaring.

Memeluk tubuh Zac erat menangis didadanya yang ditumbuhi bulu bulu yang halus.

"Zac! Aku tak mau kamu mati, Aku akan selalu bersamamu! Aku tak akan pergi kalaupun kau akan mencekik leherku, Menggigitku dan memotong motong tubuhku, Aku akan disini menemani kamu Zac, Aku mencintaimu, Lihatlah Zac mungkin saja aku hamil anakmu! Aku selalu mual dalam beberapa hari ini. Kamu harus sembuh! Kita akan punya bayi, TAK PERDULI! walau kau mengerti atau tidak, Walau kau mau atau tidak mengakui anak ini. Aku tak perduli! Kau harus sembuh,"Kata Lara sambil menangis bagai orang yang hilang akal.

Diam. Zac tak menjawab namun mendorong wajah Lara agak menjauh dari dadanya dan menatap wajah lara lekat yang tengah memandangnya dengan bibirnya yang terbuka.

Zac dengan cepat menyambar bibir Lara dengan sangat rakus. Menghisap dan menyentuhnya dengan hangat dan penuh perasaan. Zac terlihat santai dengan keadaan dirinya yang dianggap gila ditengah kamarnya yang bagai tempat perang dunia.

Baju baju bagusnya dan aksesories mahal miliknya bertebaran dimana-mana.

******* dan lenguhan mereka terdengar hingga keluar kamar sampai ketelinga Bu Ratna yang diam diam pergi menjauh mengambil makanan buat Zac yang belum makan sejak pagi.

Bu Ratna merasa nyaman dan tak perlu khawatir dengan Zac untuk sa'at ini. Dia Hanya berharap anak itu tumbuh normal kembali.

Suara rintihan dan pekikan lara yang tertahan sayup sayup sampai ketelinga nya lagi.

Pekikan lembut itu berbalas dengan Geraman tertahan Zac terdengar bagai musik siang yang menghiasi sisi hatinya yang kosong selama hampir sebulan dipendam oleh mereka berdua.

Hampir Enam puluh menit telah berlalu Zac tak dapat berhenti dan terus melakukan segala permainan yang disukainya itu.

Lara adalah sebuah permainan yang membuat mimpi indahnya bagai hadir kembali dalam sisi gelap yang selalu membayang. Lara mendorong dada Zac terus berada diatasnya dengan penuh tenaga.

Zac, Aku lelah, Perutku sakit dan mual,"Katanya pelan hampir tak terdengar dan tiba tiba memejamkan matanya yang terasa memberat. Lara tertidur diantara sakit dan kelelahan.

Pria muda itu melepaskan dirinya dan menyelimuti tubuh Lara dan memakai kembali perangkat yang bertebaran diranjang besar itu.

Zac bangkit menuju kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya yang penuh dengan keringat.

Melihat tubuhnya kedepan cermin yang menampilkan wajah seram mirip tawanan perang yang tersesat dihutan.

Dia mandi dengan cepat membubuhkan lotion kulitnya.

Dia tak perlu lagi memakai Pomade dengan rambut botaknya.

Zac keluar menuju kotak pakaiannya yang masih menyisakan beberapa baju bagusnya.

Kaos abu abu tanpa lengan dengan celana Chaky selututnya yang keren telah merubahnya terlihat bagai manusia kembali.

walau dengan wajah brewok halus.

Dengan wajah datar melihat kearah perut Lara dan menggumam.

"Wanita pembohong ini pasti pura pura hamil agar aku tak menyuruhnya membereskan kamar ini, Heh,"Katanya tersenyum aneh.

Cepat cepat menuju keruang dapur mencari makanan.

Karena dia tahu akan mengganggu Lara kembali disa'at tidur. Dia tak bisa menahan diri tiap kali melihat wanita itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!