Sepuluh hari telah berlalu.
Rumah besar ini menyimpan banyak cerita. Rumor yang menyebar mulai banyak terdengar.
Tentang pertunangan Glory dan Devon yang berakhir. Atau Pak Hasril yang suka berselingkuh dibelakang istrinya, dan Ibu Ambar yang sering pergi keluar kota, Mengurus bisnis dan sering menelantarkan kedua putranya sejak kecil.
Dan kehidupan anak bungsunya Zac yang Bar bar, Menentang semua peraturan. Dan sampai rumor tentang Ratih yang mencintai Devon secara diam diam.
Lara tidak memperdulikan cerita orang orang yang berada diatas atap yang sama.
Lara tidak mengenali mereka semua dan tidak mempunyai urusan yang pribadi dengan mereka.
Dia disini digaji untuk bekerja, Dan pekerjaannya tidaklah berat.
Dia merasa senang sa'at belajar membuat masakan yang belum pernah dikenalnya. Dia membantu Samirah dan Ibu Ratna yang sedang menggosok relief dinding pada ornamen kupu kupu dan bunga yang berdebu tipis.
Dia juga membantu Samirah menyiram bunga Anyelir kesayangan Ibu Ambar.
Sudah seminggu para pemilik rumah pergi. Mengerjakan urusan masin masing. Penjaga dan pengurus rumah bekerja seperti biasa.
Lalu siapa yang dilayani? Pikir Lara heran. Para pekerja makan sepuas mereka dengan fasilitas lengkap.
Mereka bebas menggunakan bahan makanan yang melimpah dari lemari pendingin raksasa itu.
Ibu Ratna bertugas berbelanja setiap minggu dengan buket yang mahal.
Pak Hasril dan Ibu Ambar adalah vontoh majikan yang baik. Memberikan kesejahteraan yang bagus dengan gaji mahal yang tidak pernah terlambat dibayarkan.
Disini Lara hanya mengerjakan beberapa tugas ringan Sedangkan tugas pokoknya adalah melayani keperluan Zac yang lebih sering berada diluar bermain dengan para teman temannya.
Otomatis Lara merasa senang dan aman dari gangguan pria muda itu.
Sedangkan Devon pulang hanya sebentar saja.
Usaha kayu gelondongnya makin berkembang pesat dan membutuhkan pengawasan yang yang tidak mudah.
Berlokasi berada jauh dalam hutan daerah terpencil, Membuat Devon juga lebih sering mengawasi dari dekat. Dan tinggal disuatu kota kecamatan yang tidak begitu ramai.
Malam ini Lara tidur dengan nyenyak hujan yang basah diluar sana bagai membuainya bergelung dalam selimut tebalnya yang nyaman.
"La, Lihatlah Siput temuan Emak! Banyak bukan?" Kata Ibunya dengan bangga sambil memperlihatkan hewan dengan cangkang yang hitam sekeras batu itu kepada Lara.
"Iya, Mak! Kita sambal ajalah Mak, dengan petai tua dari belakang rumah, Kan enak!" Sahut Lara senang dengan tangkapan Ibunya.
Dia sedang mengangkat jemuran yang hampir basah karena hujan yang turun dengan tiba tiba.
Lara berlarian sambil mendekap beberapa baju dan kain yang baru diangkat dari jemuran.
Menuju rumah dengan wajah basah.
Lara mengusap wajahnya yang basah diwajahnya.
menyesap air hujan yang segar dari bibirnya.
rasanya seakan manis dan dingin.
Namun air itu masih membasahi wajahnya sehingga terasa basah mengalir dari rambutnya.
Lara membuka matanya dengan kecewa, Ternyata dia masih disini
Barusan bermimpi telah bertemu Ibunya dikampung. Tapi mengapa rambut dan wajahnya benar benar basah? Dia kan berada dikamarnya.
Dengan bingung dia menatap kesisi tempat tidurnya.
Dan sangat terkejut, Dengan wajah memucat.
Zac berdiri disana dengan gelas kosong menghadap kebawah.
Mengapa anak ini menyiramnya selagi tidur? Lara salah apa?
"Oh, Zac! Ada apa?" Tanyanya tak.mengerti dengan kelakuan kurang ajar anak muda tersebut.
Dia menghapus sisa air diwajah dan rambutnya. Dari mana dia bisa masuk?
Kamar ini telah dikunci sejak Lara hendak tidur. Setelah selesai Sholat Isya.
Sambil bersiul anak nakal itu memperlihatkan kunci duplikat yang tergantung gantung dijari telunjuknya sebelah kanan. Dan tangan sebelah kiri masih memegang gelas kosong yang baru saja dituang kewajah Lara.
"Ayo Ikut denganku!" Perintahnya tak peduli dengan kebingungan Lara yang masih terlihat mengantuk.
Lara mencari sandal kamarnya dan melihat kearah dinding.
Pukul 3 Dini hari lewat 12 menit.
Mengapa anak ini suka sekali mengganggu kenikmatan orang yang lagi beristirahat?
Lara terdiam sejenak,Sadar akan dirinya yang bertugas melayani keperluan putra sang majikannya ini.
Dengan langkah perlahan Lara mengikuti langkah Zac yang menuju ruang bawah,
kelihatan Zac baru pulang.
Dari tubuhnya yang menyeruak berbau asap rokok dan bau bauan yang tak dimengerti olehnya.
Tajam dan menyengat bagai aroma pepermint dan dan strawberry yang kuat.
Lara terus mengikuti langkah panjang Zac yang menuju dapur.
Sekarang anak itu membuka kulkas besar dan mengaduk aduk isi didalam benda raksasa dengan box box yang berisi pelbagai makanan dan minuman.
Baik mentah dan berbentuk kemasan.
"Duduk saja, Cukup perhatikan! Agar kau kelak tahu bagaimana cara membuat menu untuk camilan malam," Katanya, Sambil membaca label sebuah botol yang berisi Rhum.
"Ah, Aku tak membutuhkan ini," Katanya kesal dan menyusunnya kembali kekulkas dengan botol lainnya.
"Hei, Kau tahu? Aku tak bisa tidur karena memikirkan, Bagaimana cara menghukum Anak anak kecil jalanan yang brengsek itu yang telah menggores Zacko dengan pengait senar gitar mereka yang butut," Katanya kesal.
Sambil menuang Bacon kaleng yang baru dibukanya dengan giginya sendiri.
Lara melihatnya ngeri. Sambil mengangguk merespon kata kata pemuda itu barusan.
bagaimana kalau kuncian segel yang terbuat dari kaleng tajam itu melukai bibirnya?
"Kau tak perlu menghukum mereka Zac! mereka masih kecil dan mungkin saja mereka terlalu senang melihat Zacko, merubung menonton motor hebat itu, dan tak sengaja tersentuh dan tergores dengan pengait senar gitar mereka," Nasehat Lara pelan.
Anak ini hanya mengangkat bahunya dan tak berkomentar jahat.
Mungkin dia terlalu lapar sa'at ini.
Bacon daging berbumbu itu mengeluarkan aroma rempah dan agak amis dihidung Lara.
Bocah tengil yang terlihat santai dengan gayanya dengan kaos putih tipis berlengan pendek, Memakai celana Basket berwarna biru.
memasukkan potongan besar bawang dan Paprika kedalan wajan yang disiram sedikit mentega.
Lelaki muda itu menumis sejenak dan menuang Daging kaleng yang dipotong dadu itu, Mengaduknya sebentar dan melihat kearah Lara tengah memperhatikannya dengan kagum.
"Ambillah dua bungkus mie instant dibox besar disampingmu, Lara!" Suruhnya.
Lara terjengkit mendengar anak muda itu pertama kali menyebut namanya dengan benar.
Bukan umpatan dan nama buruk seperti biasa.
Dengan bergegas Lara bangkit dan memberikan makanan instant itu ketangan Zac.
Lagi lagi anak itu membuka bungkusan kemasan plastik mie dengan giginya.
Lara tersenyum melihatnya.
Memasukkannya kewajan baja putih itu dan mengaduknya pelan.
Meraih dua mangkuk berukuran sedang yang terletak dimeja dekatnya.
Membaginya menjadi dua dan membawanya kemeja dekat Lara duduk.
"Ayo, Makanlah," Suruhnya sambil mengedipkan matanya ramah.
Lara terkejut.
Ada yang salah dengan otak anak ini, Baru saja menyiram wajahnya sa'at tidur lalu membuatkannya makanan yang belum pernah dimakannya.
Lara meraih sendok dari box spoon diatas meja dan melihat Zac sedang menyantap makanannya lahap.
"Jangan terlalu sering menatapku, Nanti kau jatuh cinta,Perawan tua!" Katanya kembali getas seperti biasa dengan mulutnya yang penuh.
Lara menyuap makanannya dengan pelan. Rasa gurih, Pedas dan manis itu terasa enak walau ada bau sedikit amis.
Tapi Lara menyukai rasanya dan yang paling penting, Dia sudah bisa membuat masakan seperti yang dilihatnya dari pemuda ini.
Zac melihat kemangkuk Lara yang tak habis dimakan.
Dengan kening berkerut dia mengambil mangkuknya dan menghabiskan makanan sisa Lara.
Lara benar benar tak mengerti.
Anak ini pasti terjatuh dari motornya dan kepalanya membentur trotoar jalanan sehingga otaknya bergeser kearah yang semestinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Yuyaa Yuya
Ceritanya nanggung gitu!
2022-12-02
4
Fizaa No Counter
Devon or Zac ya!😑
2022-12-02
6
Fizaa No Counter
keren ya si Devon kaykny nnti jadian ma lara ya kan?
2022-12-02
6