Senandung Lirih Di Ladang Hijau

Dengan bernyanyi nyanyi kecil Lara melangkah pelan diantara pepohonan melinjo yang berbuah lebat. Dengan memakai kostum sama dengan para pekerja lainnya.

Kebaya katun hijau polos yang pas dibadan dengan Kain selendang batik selutut dilengkapai caping kecil diatas kepala sebagai pelindung wajah dari sengatan matahari sa'at mengantar buah kecil kecil merah itu kegudang penampungan yang siap dipetik oleh pemanjat dan pengutip buah yang berada dibawah pohon, yang melewati padang rerumputan yang berpohon jarang.

Dan dengan mudah wajah pekerja akan terpapar matahari.

Kelihatan sekali pemilik perkebunan ini adalah orang yang baik. Karena sangat memperhatikan kesejahteraan para pekerjanya.

"La, Kamu harus menjemput buah yang sudah dipanjat oleh Danu kearah pohon tua didekat gudang pengepul buah dibelakang lapangan semen penjemuran emping," Perintah Bu Lody, Mandor perempuan yang bertubuh sintal dengan gincu tebalnya yang merah menyala. Wanita itu lebih mirip wanita yang menjual kosmetik jalanan yang membuat promosi warna lipstik yang paling menyala.

Dengan sinis Bu Lody menatap kearah Lara dengan sinis. Sejak awal Wanita itu tak menyukai Lara.

Lara yang cantik, penurut dan dengan waktu singkat bisa mencuri perhatian para pekerja dan para mandor yang berlomba lomba menarik perhatian Lara.

Dengan penuh rasa iri dan dengki Wanita itu menatap tubuh Lara yang mungil namun padat sempurna. wajahnya yang kemanyu dan sangat Ayu dengan tubuh putih kekuningan halus dan terlihat memikat dibawah caping bambunya yang berwarna kuning. tertutup kerudung kuning persegi tiga yang diikat dibawah dagunya.

"Lara, Kamu cantik sekali hari ini, Mirip model majalah Trubus Dizaman Bapak remaja dulu, Dengan wanita cantik membawa pepaya segar didalam keranjang yang siap dipanen," Kata Pak Kirno Salah satu mandor lelaki yang berada disamping Bu Loudy.

Lara menunduk tersipu mendengar pujian pak Kirno, Dan mulai melangkah pergi.Jengah dengan tatapan Mandor itu yang terus menatap dadanya yang berbalut kebaya hijau pas dibadan itu.

"Huh, Dikatain jadi model majalah Trubus aja Bangga! Cuih gadis bodoh! Dia tidak tahu kalau majalah Trubus itu adalah majalah petani, Cocoklah Untuk gadis kampung seperti dia," Katanya dengan keras disengaja. Agar didengar oleh Lara.

Pak Kirno mengerutkan kening tidak senang mendengar ucapan Bu Lody.

"Apa salahnya kalau aku mengatakan Lara cocok jadi model majalah petani sukses itu! Toh Kita ini kan hidup dari pertanian, Dia cocok kok pembawa pepaya segar. Dia cantik! Dadanya sebesar pepaya mengkal dan dia juga baik, Kita ndak ada berniat menganggunya disini." Katanya dengan kesal.

Lody Mendengus kesal dan berlalu meninggalkan Pak Kirno yang bersungut sungut sendiri.

...****************...

Lara berhenti tak jauh dari gudang pengepakan Emping yang siap kemas.

Gudang sedang sepi.Beberapa pekerja dibagian penjemuran tampak beberapa sedang berjalan sambil membawa dan menyusun bambu bambu yang dianyam lebar sebagai media pengeringan alami dengan sinar matahari.

Lara memungut Buah buah merah kecil yang berserakan sangat banyak dibawah pohon melinjo besar itu.

Dengan keranjang biru yang berbentuk bulat menerawang terbuat dari plastik tebal.

Seseorang berjongkok disampingnya, Wangi pinus dan bunga hutan bercampur wangi rokok yang manis menguar kehidungnya. Dengan pelan Lara menoleh, Dan!

Dia hampir menjerit melihat wajah yang ditakuti dari rumah besar itu menatapnya dengan wajah datar. Dan mata memerah laksana Vampire yang hendak menyedot habis darahnya. Lara memucat dan lunglai.

Lara hampir terjatuh dan terduduk direrumputan dibawah pohon yang berwarna hijau dibawah tubuhnya.

Lara mencoba hendak bangkit sa'at merasa badannya ditarik kebawah dengan keras. Lara terduduk dipangkuan Zac! Membentur dada Zac dengan punggungnya yang lembut.

"Kau, Mau kemana lagi Hmmm," Katanya dengan suara lembut namun terdengar menyeramkan ditelinga Lara.

"Zac, Jangan sakiti aku lagi! Kumohon! Jangan Zac," Tangisnya Tubuhnya tak berdaya berada dikungkungan tangan dan pelukan erat pemuda berbaju kaos oblong biru itu. Menatapnya dengan begitu lekat dengan jarak yang begitu dekat.

"Jangan coba coba pergi lagi dariku Lara!" Katanya pelan sambil menatap wajah Lara dengan penuh perasaan.

Marah, Rindu dan nafsu menggelora. dari deru nafasnya dan matanya yang menatap dengan liar dan tajam.

menelusuri tubuh Lara.

Dengan tak sabaran pria muda itu menyentuh dan menelusuri wajah Lara, Berhenti dibibir mungil bagai kelopak anggrek bulan berwarna merah muda dihutan larangan. Menghisapnya dan menggigitnya dengan pelan bertubi tubi sehingga Lara terengah engah kesulitan bernafas. Mendorong dada pemuda yang keras itu seakan tak ada gunanya. Tangan pemuda itu bergerak kasar mengaduk ngaduk tubuhnya tanpa ampun. Lara kesakitan dan berusaha melepaskan dirinya dengan perjuangan yang sia sia.

Pemuda ini seolah olah menemukan mainan yang lama hilang dan sangat berarti untuknya dan melahirkan sifat Adictif yang muncul dengan membabi buta.

Lara semakin ketakutan sa'at pria itu membuka kebaya hijaunya dengan tangan gemetar kasar. Dan sentuhan tangannya yang hangat berubah halus dan membuai ditengah desiran angin yang lewat diantara pepohonan menyapu halus rerumputan yang bergoyang, Seakan turut menyaksikan kehangatan dan gairah panas sang pemuda yang bergerak liar namun sesa'at membuai bagai ayunan syurga yang menerbangkan sang wanita yang mulai kelelahan keatas nirwana.

Keringat mereka jatuh bercucuran bagai habis mandi diperigi tua. butiran air yang mengalir dikening Lara membasah tercampur air mata.

Zac tak ingin berhenti ditengah hijaunya pepohonan yang terus bergoyang dihembus sang bayu. Membuat keringat mereka mengering sendiri dan Mulai mengucur kembali dengan deras. Diantara ******* kenikmatan dan kesakitan dari bibir wanita yang kepayahan didera ombak yang ganas. Menggiringnya kepusaran waktu yang panjang membuatnya terhentak kedalam suasana gairah yang menyiksa.Waktu berlangsung melambat. Matahari telah sempurna sa'at permainan yang panas itu usai.

Satu jam telah terlewati tanpa terasa.

Lara terhenyak tak bergeming. Tergeletak dengan sisa peluh yang masih menetes dari pori porinya bagai terkena percikan hujan yang deras. Tubuhnya terasa kram dan kaku sa'at Zac mengelus perutnya yang terbuka bagai lukisan alam ditengah rerumputan yang menghijau. Rambut indahnya terurai bagai jalinan benang hitam yang kusut, namun membawa keindahan yang menakjubkan. Zac terpana dan tersentak dari sisi liarnya.

Dengan tubuh polos mereka yang terasa menghangat diantara sinar matahari yang panas.

Lara tak bergeming sa'at pria itu menutupi tubuhnya dengan kain batik penutup tubuh bagian sebelah bawah. Tatkala pemuda itu memakaikan kebaya hijau kebadannya yang tak bergerak bagai tanpa nyawa.

Sepi.

Dari balik rerimbunan semak perdu dari balik kelam matanya, Lara melihat pria itu telah berpakaian lengkap dengan kaca mata hitamnya. Dia merasa dirinya wanita yang paling malang sa'at mendapati dirinya tak kuasa menolak segala keinginan yang terpendam bersama pemuda itu.

"Bangunlah Lara! matahari telah naik,Kau harus pulang beristirahat ditempatmu, Aku pasti kembali " Bisik Zac pelan, Sepelan desiran kesiur angin dari pucuk daun melinjo yang menari nari diatas kepalanya.

Dan pemuda itupun melangkah pergi menghilang dibalik pepohonan yamg menghijau. Turut menyaksikan segala segala keindahan dan kenikmatan yang baru dirasakannya.

Lara bangkit dengan pelan, melilitkan kain panjang itu ditubuhnya.

Menutupi wajah lusuhnya dengan caping bambu, Mengapa tak ada yang datang memergoki perbuatan bejat Zac terhadapnya?

Mengapa para mandor perempuan itu tak datang walau hanya sekedar mencemooh kerjanya yang lambat?

Mengapa semua tak datang ketempat terkutuk dimana pemuda itu memperkosanya?

Ada banyak pertanyaan, Dalam langkahnya yang terseok seok kesakitan. Jauh dibalik rimbunan semak perdu sepasang mata dengan bibir merah menyala tersenyum puas melihatnya.

Loudy!

Wanita itu pergi kembali kegudang pengepul sambil menghitung hitung uang yang disusunnya bagai kipas tangan.

Mengibas ngibaskan lembaran uang yang banyak itu kewajahnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!