Zac masuk kekamarnya dan mulai membuka pakaiannya.
Dan melemparkannya keranjang.
Kaos putis press body dan jaket kulit putih yang kotor itu tergeletak diranjang yang rapi.
Zac kembali melempar jeans yang baru dilepas dari tubuhnya .
Kini dia hanya memakai dalaman bewarna putih yang melekat ditubuhnya.
Dia berjalan menuju kamar mandi kamar mandi besarnya.
Menyiram seluruh tubuhnya dari Shower hangat yang terasa segar memulihkan rasa pegal dibadannya yang membuat moodnya jadi buruk.
Menuang Shampoo dari botol kekepalanya dengan banyak.
juga menuang sabut cairnya yang sangat harum kebadannya.
membilas menjadi satu hingga seluruh tubuhnya berbalut busa tebal.
Perlahan masuk ke bathup yang kosong tanpa air.
Aneh.
Dia melonjorkan kakinya berfikir sambil bersandar pada sisi bathup mandinya yang terbuat dari porselen biru yang sangat halus dan terasa sangat licin karena busa ditubuhnya.
Zac merasa heran, Mengapa tiap kali melihat gadis pengasuhnya itu.Dia merasa horny dan selalu ingin menjamahnya.
Ini tak biasa.
Zac memang sering bermain main dengan banyak gadis muda yang usianya hampir sebaya dengan dirinya sejak usianya menjelang lima belas tahun.
Dia mulai suka dengan sebuah permainan yang baru itu.
Dan menemukan kenikmatan pada hasrat masa remajanya yang memasuki masa Pubertas.
Dorongan gairah dan hasrat itu akan muncul jika seorang wanita menggodanya dan memulai dengan menyerahkan diri mereka dengan sukarela.
Dan itu permainan itu hanya sekali pada setiap wanita yang digaulinya.
Setelah itu Zac akan bosan dan mencampakkan mereka dengan melupakan dan mengusir gadis itu seenaknya.
Dan kini dia merasa lain.
Zac melamun sambil mengusap usap bibirnya.
Disa'at ini dia ingin menyeret Pengasuhnya kekamar mandi ini dan membuat sebuah permainan yang membuatnya tak pernah bosan.
Zac menghela nafas panjang dengan tangan menumpu kesisi bathup.
Perlahan bangkit menuju Shoer dan mulai.membilas busa ditubuhnya yang mulai menghilang menyisakan bekas yang licin.
Fikiran liarnya kembali muncul.
Membayangkan kulit halus wanita yang diseberang kamarnya.
Dengan kasar membilas tubuhnya yang telah bersih dari sisa pembersih yang lembut itu.
Dia membaui lengannya yang tampak bersih.
Menuju lemari besar dikamar mandi itu yang berisi pelaratan mandinya.
Menyambar odol dan mulai menyikat giginya dengan cermat.
Setelah berkumur dia bercermin pada kaca disisi dinding kamar mandi yang yang lebar dan jernih.
Cermin itu menampilkan sosok pemuda tinggi berambut agak panjang dalam keadaan basah dan raut wajah yang sangat tampan.
Zac sangat percaya akan dirinya.
Kemanapun dia melangkah akan banyak.mata yang meliriknya.
Dia merasa lebih ganteng dari kakak lelakinya ,Devon.
Dan dia merasa lebih beruntung dari Devon Walau Devon adalah putra kesayangan sang Ayah.
Selalu dibanggakan dan dipuji setinggi menara petronas.
Devon yang sangat baik.
Zac sangat menyanyangi kakaknya dengan caranya sendiri.
Zac tak pernah melawan perkataan kakaknya yang memang tak pernah memarahinya.
Sa'at Zac masih duduk dikelas Dasar Devonlah yang sering mengajarinya dalam berbagai hal.
termasuk cara mengemudi motor dan mobil dengan benar.
Devon juga yang sering mengajarinya cara bermain basket yang mahir. Mendrible bola secara beruntun dan memasukkannya ke jaring. Oh Devonnya yang malang.
Tunangannya yang sangat dibanggakannya, Glory yang binal telah mengajaknya masuk kedalam sebuah permainan yang.membuat kakaknya terluka, Namun Devon tidak menyalahkan adiknya.
Tetap saja Glory yang bersalah dimata Devon.Devon dan Ibunya menganggap Zac adalah anak kecil yang masih hijau.
Disa'at Glory menggoda seorang anak lelaki mempunyai gairah baru yang besar pasti akan terperangkap oleh kemolekan tubuh dan kecantikan Glory.
Zac menyesal dan merasa jijik dengan wanita itu.
Dialah yang mendatangi Zac selagi Devon keluar kota dengan Ayahnya dalam waktu lama.
Melempar rambut keemasannya kebelakang dan menyodorkan leher dan dadanya kepada Zac yang sedang tertidur pada siang hari yang panas.
Dan peristiwa itu terjadi berulang ulang sa'at Ibu mereka, Ambar memergoki perbuatan tercela mereka.
Ambar memarahi Glory habis habisan, Mencela dan menghina Glory dengan membabi buta.
Dan sa'at itu juga menyuruh Devon memutuskan hubungan dengan wanita yang dianggapnya ****** tersebut.
Zac mengusap rambutnya yang mulai mengering karena terlalu lama diusap berpuluh puluh kali dengan handuk lembutnya.
Zac menuang penyegar yang harum kekulitnya dan membalur seluruh tubuhnya denga lotion yang disertai vitamin pelembut dan pelembab.
Ibunya selalu mengajarinya sejak kecil ritual sehabis mandi itu.
Lalu Zac membuka lemari Kaca kamar mandinya sambil meraba wajahnya yang mulai ditumbuhi bulu bulu lembut.
Seperti Dadanya yang mulai menggelap oleh bulu halus.
Zac membiarkan bulu bulu itu tumbuh aman didadanya.
Dia merasa Macho mengingat usianya sebentar lagi menuju delapan belas.
Tangannya meraih pomade yang dibeli oleh Devon dari Paris beberapa waktu lalu.
Wangi dan lembut kerambutnya.
Devon membelinya satu kemasan perlusin.
yang kini tersimpan dilemari kaca dikamar mandinya.
Zac mulai keluardari kamar mandinya dengan raut wajah berseri dan merasa segar.
Pertama tama yang ingin dilakukannya adalah makan dengan masih menggunakan Kimono mandinya yang berwarna abu abu.
berbulu lembut dan sangat harum.
kimononya dibiarkan terbuka sehingga menampilkan perut dan dadanya yang mulai berotot.
boxer putihnya mengintip keluar dan Zac terlihat sangat seksi.
Zac memanggil Leo dari Balkon dengan suara keras.
Dengan Sigap Leo menemuinya dan mereka bercerita dikoridor rumah menuju ruang makan.
Dia berbicara tentang sirkuit barunya yang luas dan aktifitasnya yang selalu membuat Leo terkekeh kekeh.
Dia juga mengatakan kalau tadi malam dia meninju hidung seorang rivalnya diarena sa'at dia ketinggalan menitnya.
Dan dia menghajar mulut orang yang mengejeknya sa'at mengomentari dan mengatakan strategi dan permainannya yang buruk.
Leo mengacungkan jempolnya dengan senang.
Mereka berbicara sepanjang makan dan Zachary makan sangat banyak.
Tanpa sadar dia menikmati masakan Lara yang ternyata cocok dilidahnya.
Nasi goreng telur gulung isi daging rempah yang wangi dengan sosis panjang besar dilapis roti tebal Turky dengan lelehan keju dan butter lembut. Semua tandas tak bersisa olehnya.
Lara memandangi pria muda itu dari kejauhan.
Melihat Zac tertawa membuat hatinya menghangat.
Beberapa hari belakangan Zac jarang marah dan berteriak.
Emosinya seolah terkontrol tertinggal pada kulit Lara yang masih membiru.
Kebuasannya seolah menancap dileher dan dada Lara yang masih tergores memanjang.
Semua emosinya seolah tersalur pada seorang gadis pengasuhnya yang bertubuh ramping itu.
Kegilaannya. Mulai tertuju hanya pada satu orang dirumah ini.
Lara mulai ketakutan sa'at mata Zac yang mengkilat melirik Lara berpapasan melewatinya diruang tengah rumah sa'at Lara mengatur bunga didalam Vas.
Lara menunduk ketakutan bagai kelinci yang tersudut ditembok menunggu terkaman anjing herder yang ganas.
Lara menautkan jari kiri kanannya dengan cemas.
Sa'at melihat kearah dada dan perut Zac yang terbuka didepannya.
Pemuda itu melewatinya tanpa kata.
Mengacuhkannya yang berdiri mematung.
Wangi Zac masih tertinggal menyeruak harum.
Aroma kayu hutan yang melekat dihidung Lara.
Zac hilang dari pandangan.
Melihatnya dengan pandangan dingin.
Seolah Lara adalah sampah.
yang ingin dilenyapkan dari hadapannya.
Dan ketika Melecehkannya dengan brutal.
seolah Lara adalah manusia hina.
Lara meneguk ludah dengan pahit.
Lara tak akan kuat berada disini.Gadis itu mulai berfikir akan pulang kerumah petak.
Dia takut nanti malam Zac akan berbuat buruk lagi padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments