Di dalam kelas nya, Rania menekukkan wajah nya. Dia ingin sekali bertemu dengan Brain dan mengomeli nya.
Semalam Rania melihat Brain pergi dari rumah nya. Dia yakin jika pria itu datang untuk menemui nya. Namun, mengapa pria itu tidak memanggilnya, mengapa datang lalu pergi begitu saja.
"Huh, awas saja jika kau menemui ku nanti!" gerutunya dalam hati.
"Eh Rania, kamu cari brain sejak kemarin kan?" ujar salah satu teman sekelasnya.
Rania menoleh,dia mengangguk pelan.
"Tuh, dia di depan kelas "
Rania langsung menoleh ke pintu kelas. Benar saja, Brain tengah berdiri di sana.
"Brain?" Rania bergegas berlari keluar dari kelas. Dia menghampiri Brain.
Rania menarik tangan brain, dia membawa pria itu sedikit menjauh dari kelas.
"Brain! kamu kemana aja sih, aku cariin kemana mana kamu gak ada!"
"Terus, kemarin kamu datang. Tapi kok pergi lagi dari rumah aku sebelum bertemu dengan aku!" tambah Rania, dia tidak memberi Brain untuk menjelaskan.
Brain tersenyum, dia senang melihat Rania mengomel seperti ini. Dia berpikir jika Rania peduli kepada nya.
"Rania, kamu lucu"
"Kamu kemana aja sih?"balas Rania sewot.
"Maaf Rania, tadi malam aku mendapat telfon dari rumah. Aku harus segera kembali!"
"Benarkah? apa kamu tidak membohongi ku?"
Rania memicingkan kedua matanya, melihat apakah ada kebohongan di kedua mata Brain.
"Ak-"
Kringggggg....
Hufff....
Rania menghela nafas gusar, dia tidak bisa terlalu lama mengintrogasi Brain.
"Bel sudah bunyi, pergilah ke kelas!" ujar Brain.
"Awas yah, jika nanti kau menghilang lagi. Aku patahkan kedua kaki mu!"
"Iya iya, bawel banget sih" kekeh Brain. Dia mendorong Rania masuk ke dalam kelas nya.
"Hum...Mengapa dia agak lain yah" pikir Rani. Dia merasa Brain sedikit berbeda, dia lebih seperti pendiam dan tidak perti dulu terhadap nya.
"Aku masuk dulu yah" pamit Brain, lalu dia langsung berbalik pergi.
Rania menatap kepergian pria pucat itu. Dia semakin merasa ada yang aneh dari brain.
Di tempat lain, Adam tengah berbincang dengan Claudia.
"Malam ini adalah bulan purnama, dan cahayanya akan sangat full" ucap Adam.
"Benar alpa, akan sangat bahaya bagi Luna." sahut Claudia.
Gamma yang juga ada di sana mengangguk setuju.
"Semua mahkluk immortal akan keluar dan mencari Luna. Darah Peri dan Demon yang mengalir di dalam tubuh Luna, adalah yang paling mereka inginkan. Bukan hanya itu, Nenek moyang Luna juga merupakan seorang yang berdarah Peri dan Serigala, kakek moyangnya Demon dan Vampir. Semua kekuatan akan bertumpu di dalam tubuh Luna" ucap Gamma panjang lebar.
Pria itu memang memiliki wawasan yang luas, sejara demi sejarah telah dia ketahui. Karena itulah Adam membawa dia ikut bersama nya.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Mate ku!" gumam Adam.
Kembali ke sekolah, bel istirahat baru saja berbunyi. Rania langsung bergegas keluar dari kelas. Dia berpikir Brain sudah menunggu nya di depan.
Namun, ternyata pria itu tidak ada.
"Huh, apa dia tidak menyukai ku?" gumam nya kesal.
Rania mencari Brain, dia tidak melihatnya di mana pun. Teman sekelasnya bilang, Brain bolos di jam kedua pelajaran.
"Astaga, pria itu. Sudah jelas mau ujian. Dia malah sering bolos!" gerutunya.
Rania pergi mencari ke taman belakang, dia tiba-tiba berpikir Brain berada di sana.
Tepat saja, ternyata benar. Brain ada di sana.
Rania tidak langsung mendekati pria itu. Dia bersembunyi dan memperhatikan Brain tengah meminum sesuatu yang beberapa waktu lalu dia lihat.
"Sebenarnya apa isi dari kotak minuman itu?" gumam Rania dalam hati.
Cukup lama Rania bersembunyi di balik pohon besar, mengawasi Brain yang seperti mayat hidup.
Pria itu hanya duduk, mata nya terfokus ke depan, entah melihat apa dia tidak tahu. Satu tangan nya terkulai begitu saja dan satunya lagi memegang kotak minuman itu.
Bruk.
Brain membuang kotak minumnya begitu saja. Lalu, dia pergi meninggalkan taman belakang yang sangat sepi.
Memastikan brain benar benar sudah pergi, Rania langsung mendekati tempat duduk Brain tadi. Lalu, dia mengambil kotak minum brain yang sudah tergeletak di tanah.
"Bau amis" lenguh Rania langsung menjauhkan kotak itu dari hidungnya.
"Apa ini darah? mengapa dia meminum darah?" pikir Rania penasaran.
"Bagaimana mungkin Brain minum darah?", pertanyaan itu terus berputar di benak nya.
"Vampir? Ah tidak mungkin. Mana mungkin ada vampir di dunia nyata!" tukas nya menghapus pemikiran pemikiran yang sebenarnya tidak bisa pergi dari otak nya.
Rania kembali ke kelas, dia terus memikirkan tentang Brain. Semua mulai dia satu satukan, mulai dari brain yang tidak pernah mengajak nya makan kecuali di kantin. Brain yang tidak banyak makan dan brain yang sangat sering lupa minum kecuali dia yang mengingatkan.
Tanpa terasa, waktu berlalu sangat cepat. Bel pulang pun berbunyi.
Saat berada di depan gerbang, Rania di kagetkan oleh suara klakson mobil.
Tett!!!
"Ah kepala mu botak!"pekik Rania latah.
Dia menatap marah pada mobil yang pintunya terbuka. Dari luar, Rania dapat melihat Adam tengah tersenyum manis kepadanya.
"Ayo, aku akan mengantar mu pulang" tawar Adam.
"Aku tidak mau!" tolak Rania. Dia berjalan cepat melewati mobil Adam.
Tadinya Rania ingin menaiki bus. Tapi, karena Adam menghalangi dirinya, membuat dia tertinggal oleh bus yang hanya lewat 2 kali, dan itu bus yang ke dua.
"Huh." Rania mendengus kesal, dia terpaksa berjalan kaki menuju ke rumah.
Rania berjalan acuh, mengabaikan Adam yang terus mengikuti nya dari samping. Seolah bejalan beriringan, Adam duduk di dalam mobil dengan pintu mobil nya di biarkan terbuka.
"Kenapa sih, ada pria super menyebalkan di muka bumi ini seperti dia!" gumam Rania dalam hati, dia mendelik kesal pada Adam.
Rania semakin kesal, melihat Adam terus memandanginya dengan senyum tak bersalahnya.
Guk!! Guk!!
Deg.
Langkah kaki Rania terhenti, dengan perlahan dia berbalik melihat seekor anjing berlari ke arah nya.
"Aaaaa Anjing!!!!" teriak nya ketakutan, tanpa berpikir panjang Rania langsung melompat naik ke dalam mobil Adam.
Blam.
Pintu tertutup rapat, Gamma dengan sigap langsung menguncinya.
Fyuu...
Rania bernafas lega, akhirnya dia terhindar dari kejaran anjing.
Setelah merasa lega, kini Rania menghela nafas berat. Dia melirik kearah Adam yang dia yakin tengah menatapnya.
"Cih, dia pasti menertawai aku" batin nya.
Benar saja, Adam kini tengah menatap Rania dengan tatapan memuja. Setiap saat, Adam selalu mengagumi mate nya.
Bukan hanya dia, tetapi Adit juga. Dia sangat memuja Rania, Luna, wanita yang akan menjadi pasangan King Alpa!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments