Mobil hitam melaju cepat, membelah jalan yang di kelilingi oleh hutan lebat.
Terlihat jalanan berbatu mulai di lewati oleh mobil itu. Tak lama kemudian, mobil itu pun berhenti.
"Bawa dia keluar" titah seorang pria yang mengemudi mobil. Seperti nya dialah boss di antara ketiga pria itu.
Mereka mengangkat tubuh lemah Rania masuk ke dalam hutan yang tak beraspal. Sehingga mereka meninggalkan mobil mewah itu di sana.
Bruk.
Tampa kasihan, mereka menjatuhkan tubuh lunglai Rania ke lantai. Lalu mereka meninggalkan begitu saja.
Tubuh Rania terbaring menyamping, kedua tangan nya terikat ke belakang. Begitu juga dengan kedua kakinya.
...----------------...
Di rumah Claudia, Adam telah marah besar. Sejak tadi Claudia masih belum bisa menemukan keberadaan mate nya.
Brak!
Tangan Adam menggebrak meja ruang tamu Claudia.
"Kenapa kamu masih belum menemukan nya! " bentak Adam.
"Ma-maaf alpa, tapi saya benar-benar tidak bisa merasakan keberadaan Luna. Seperti nya ada sesuatu yang menutupnya. "jelas Claudia menunduk takut.
Adam menggeram marah, dia tidak sabaran, dia sangat khawatir pada mate nya.
"Seperti nya Luna sedang tidak sadar kan diri alpa. Karena itulah saya tidak bisa mendeteksi keberadaan nya"
Claudia terus memaksa dirinya, agar bisa menemukan titik di mana Luna sekaligus keponakan nya berada.
Kembali pada Rania. Dia masih terbaring dalam kondisi yang sama.
"Eng. . ." lenguhan halus terdengar dari gadis itu.
Perlahan, mata indah dengan bulu mata lentik mulai bergerak terbuka. Beberapa kali dia mengedipkan kelopak matanya.
Rania masih dalam keadaan loading, mencerna keadaan apa yang tengah dia alami saat ini.
"Di mana aku?" benak nya, mata nya segera menyapu seluruh ruangan yang terlihat sangat kumuh.
Rania berusaha bergerak, dia merasakan kedua tangan dan kaki nya terikat.
"Siapa yang sudah melakukan ini pada ku!" gumam nya berusaha untuk duduk, dia sedikit kesusahan.
Dengan usaha yang sangat keras, akhirnya dia berhasil duduk. Bersandar pada dinding bangunan yang di selimuti oleh debu.
Deru nafas Rania naik turun,dia menatap daerah sekeliling nya.
"Apakah ini bangunan tua? berdebu sekali" gumam nya dalam hati. Sesekali dia terbatuk karena tidak sengaja menghirup debu.
Brak!
Rania terkejut, pintu gudang tiba tiba terbuka lebar.
Ada beberapa pria masuk ke dalam, mereka melirik kearah Rania. Namun, mereka terlihat tidak peduli, meskipun tahu Rania sudah sadar dari pingsan.
"Hei, siapa kalian?" seru Rania berusaha untuk bertanya, meskipun dirinya sangat takut pada mereka.
Keempat pria aneh itu secara bersamaan menoleh kearah nya.
"Jika kau mau hidup, maka kau diam dan duduk saja!" seru salah satu dari mereka. Membuat Rania yang penakut langsung menutup mulutnya rapat.
"Sangat mengerikan, mereka juga galak" batin nya.
Rania memilih untuk diam, memperhatikan apa saja yang 4 pria itu lakukan.
Hingga salah satu dari pria itu beranjak keluar dari dalam gudang, kemudian kembali masuk, dengan membawa 4 ekor kelinci yang masih hidup.
Mata Rania masih mengawasi, dia menatap mereka yang saling berebut kelinci yang besar.
Dengan santai, mereka menggigit leher kelinci yang masi hidup. Darah kelinci langsung muncrat ke mana mana.
Rania melebarkan mata nya, dia hampir tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dia lihat.
Rania berharap ini semua mimpi, tapi dia tidak bisa terbangun.
"Siapa mereka,mengapa mereka memakan kelinci hidup" batin nya.
Keempat pria itu dengan santai memakan sampai habis kelinci buruannya.
Mereka tidak peduli pada Rania yang bergetar ketakutan. Gadis itu berpikir jika dia akan dibunuh dan di makan bersama sama oleh orang orang itu.
Setelah makan, mereka pun beranjak pergi. Sebelum nya, mereka mengecek ikatan tangan dan kaki Rania terlebih dulu.
"Ayo pergi" seru nya.
Rania menggigil ketakutan, bayangan pria pria itu makan kelinci secara hidup hidup memenuhi kepalanya.
"Apa aku juga akan bernasib sama?" pikir nya mulai panik. Dia berusaha keras melepaskan ikatan di tangan nya.
Sekuat apapun Rania berusaha,dia tetap tidak bisa. Ikatan itu terlalu kuat, kulit nya menjadi lecet karena terus bergesekan dengan tali nya.
Rania merasa lelah sendiri, dia tidak kuat lagi bergerak. Tangan nya seakan mati rasa, karena terlalu lama di ikat ke belakang
"Huh.." hembusan nafas pasrah terdengar dari nya. Dia tidak bergerak lagi, tubuh nya benar benar lemas. Dia sangat lapar sekarang, hanya sarapan bersama bibi nya lah yang mengisi tenaganya.
Hari semakin gelap, ruangan itu pun juga semakin gelap. Sama seperti pandangan mata Rania saat ini, yang semakin menggelap. Rania kembali pingsan.
Dengan hilangnya kesadaran Rania, Claudia yang sudah hampir mendapatkan lokasi nya, kembali mendengus kesal.
"Huh! hampir saja, tapi Titi itu menghilang lagi!" dengus Claudia kesal.
"Ada apa? apa kau sudah tahu?" tanya Adam penasaran. Begitu juga dengan Gamma yang sejak tadi hanya diam memperhatikan mereka.
"Tadi sempat saya merasakan keberadaan Rania alpa, dia sudah sadar, dan entah mengapa saya kembali kehilangan dirinya" jelas nya.
Brak!
Adam benar benar marah, dia semakin khawatir pada mate nya.
Claudia mencoba mengingat di mana dia merasakan keponakan nya.
"Alpa, saya merasa Luna ada di hutan bagian Barat. Tapi, saya tidak sempat merasakan lokasi persisnya "
"Hutan itu kan luas dan sangat berbahaya!" sahut Gamma.
Adam tidak mendengar lagi, dia langsung melesat pergi.
Hutan Rawsdiak. Hutan terlarang, banyak ancaman bahaya jika masuk ke dalam sana.
Hutan itu, adalah tempat peri jahat dan penyihir bersembunyi.
Tepat nya pukul 12.30
...Aswa ...Mariate.. Gandarate......
Rania mengernyit bingung, suara suara bisikan mengganggu dirinya.
"Humm.."Rinti Rania ketika bergerak memperbaiki posisi duduk nya. Pergesekan tangan dan tali membuat dia merasakan kesakitan.
Aswa ...Mariate.. Gandarate...
Suara itu kembali terdengar, Rania menggeleng dan mencoba menajamkan pendengarannya.
"Aswa ...Mariate.. Gandarate..." Dia pun mengikuti suara itu, mengucapkan kata demi kata.
Angin bertiup kencang, cahaya emas mulai menyelimuti tubuh nya. Tanpa Rania tahu, bola matanya berubah menjadi hijau bening.
Krakk!!!
Dalam satu gerakan, tali pengikat tangan dan kaki nya pun putus.
Rania sudah bebas, dia terkejut dan tidak mendengar suara itu lagi.
Namun,dia tidak memperdulikan hal itu. Yang terpenting bagi Rania saat ini adalah bebas dari tempat itu, sebelum para penjahat kembali.
Rania berputar, dia tidak melihat apapun. Ruangan ini terlalu gelap.
"Cahtianse" gumam nya tiba-tiba.
Mata nya berubah begitu saja, sehingga dirinya bisa melihat dengan jelas seperti melihat di siang hari.
"Hebat!" gumam nya takjub. Entah apa arti dari yang dia ucapkan tadi, Rania tidak tahu. Bahkan dia tidak tahu bagaimana bisa dia mengucapkan kata kata itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments