Berhenti lah mengikuti ku!

Pagi yang indah, Rania akhirnya terbangun dari tidurnya.

"Di mana aku?" gumam nya langsung melihat ke sekeliling nya.

Fyu..

Rania akhirnya bernafas lega, ternyata dia ada di kamar nya.

"Bagaimana aku bi-" ucapan Rania terhenti, dia merasakan sesuatu berat melingkari perutnya.

"Tangan siapa ini?" pikir nya. Dia pun dengan pelan berbalik, melihat siapa yang tidur di belakangnya.

Rania terdiam, mata nya tak berkedip melihat pemandangan yang tidak pernah dia lihat sebelum nya.

Deg. Deg. Deg.

Detak jantung nya semakin kuat.

"Bagaimana mungkin ada manusia setampan ini?" benak nya.

Salah satu tangan Rania terangkat, dia mengusap wajah pria yang sedang tertidur lelap di depan nya.

Adam. Yah, dialah pria yang kini tengah berbaring di sebelah Rania.

Pertama Rania mengelus alis tebal milik Adam, kemudian turun ke hidung, lalu..Tap.

Tangan Rania mengambang, dia tidak berani meneruskan jarinya.

Glek.

Rania bersusah payah menelan saliva nya. Ingatan gadis itu kembali melayang pada kejadian itu. Di mana Adam mengambil first kiss nya.

Cukup lama dia menatap bibir Adam, kini tanpa sengaja mata Rania melirik ke arah jam dinding.

"Arrkkk!!!!!!"

Bug.

Rania berteriak histeris, tangan dan kakinya bekerja sama mendorong dan menendang Adam dari hadapan nya.

Lalu, setelah itu barulah Rania turun dari atas ranjang. Dia berlari masuk ke dalam kamar mandi.

"Aws....Ada apa sih, kenapa harus membangunkan aku dengan cara begini" gerutu Adam. Dia mengusap bokong dan juga pinggang nya yang terasa sakit.

"Kemana dia?" gumam Adam tersadar Rania tidak ada di kasur.

Byurrr....

Terdengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi. Membuat Adam paham jika mate nya tengah mandi.

"Huh.." Adam kembali melanjutkan tidurnya, beberapa hari ini dia merasa sangat lelah.

Selesai mandi, Rania langsung bersiap ke sekolah. Dia tidak ingat, jika hari ini adalah hari Minggu.

Dia melihat Adam masih tidur di atas ranjang nya.

"Dasar pria gila! tidak tahu sopan santun" maki Rania pada Adam.

"Huh!"

Merasa tidak ada gunanya memaki orang yang sedang tidur, Rania memutuskan turun ke bawah.

"Selamat pagi sayang" sapa Claudia tersenyum manis.

Namun, di balas dengan tatapan sinis oleh Rania.

"Kenapa sayang, pagi pagi kamu sudah seperti ini?"

"Bibi nanya? kenapa aku seperti ini? harusnya bibi sudah tahu!"

Claudia mengerut, dia mendekati keponakan nya. Dia benar-benar tidak tahu apa yang keponakan kesayangan nya ini maksud.

"Sayang, kenapa sih? kok pagi pagi begini sudah marah marah"tanya Claudia lembut. Dia duduk di samping Rania.

Bertepatan saat itu, Adam turun dari kamar. Kemudian pria itu pergi ke ruang makan.

Rania menatapnya sinis. Namun, Adam terlihat acuh dan biasa saja.

"Bibi, mengapa bibi membiarkan pria itu masuk ke kamar ku. Bahkan dia tidur bersama ku!"

"UM.."Claudia terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Claudia melirik alpa nya, meminta bantuan. Namun, Adam malah acuh.

"Huh...Kenapa kau masuk ke kamar keponakan ku! kenapa kau begitu tidak sopan!" maki Claudia. Dia berharap Adam tidak tersinggung dengan ucapan nya.

Adam tercengang, dia menatap Claudia dengan tatapan bertanya.

"Maafkan aku alpa" mindlink Claudia.

"Huh, buat apa marah jika bibi membiarkan nya semalam!" sela Rania. Dia masih marah, dan tidak mau melihat wajah Adam.

"Sayang, tidak masalah jika kau marah. Tapi ketahuilah, aku bukan orang asing bagi mu!" jelas Adam.

Mendengar hal itu, Rania langsung menoleh, dia menatap sinis Adam.

"Jika bukan orang asing apalagi namanya? aku tidak mengenal mu, aku tidak tahu asal usul mu. Tiba-tiba kau mengikuti ku dan kau bertindak seolah-olah aku ini barang milik mu!" Rania mengeluarkan semua unek unek nya. Dia sudah tidak tahan lagi, semua ini terasa aneh dalam hidupnya.

Sejak kejadian di perkemahan itu, Rania merasa hidup nya mulai berbeda.

"Bi, apa dia keluarga kita? mengapa bibi begitu mudahnya percaya dan membiarkan dia berkeliaran di sekitar ku!" Rania mendekati bibinya yang telah berdiri sejak tadi.

Claudia menarik nafas, dia menarik tangan keponakan nya. Wanita itu berusaha untuk menenangkan Rania.

"Tidak bibi, ini sungguh aneh, kau tidak pernah membiarkan aku dekat dengan orang lain. Tapi, dia?" Rania menunjuk Adam.

"Dia dengan begitu mudahnya mendekati aku!"

Tatapan mata mereka bertemu, Rania mendadak tertegun ketika merasakan sesuatu di hatinya.

"Sayang"

"Stop! aku tidak mau mendengar ucapan mu! jangan panggil aku dengan panggilan yang menjijikan itu!" potong Rania .

Rania benar benar sudah mengamuk, dia tidak bisa menerima semua ini secara tiba-tiba.

Apalagi setelah dirinya di culik oleh orang yang sangat aneh.

"Aku tidak tahu, mengapa hidup ku begitu susah setelah acara perkemahan itu! "

Rania menatap Adam semakin tajam. "Kau, berhenti lah untuk mengikuti ku!"

Rania menghembuskan nafas, kemudian dia berbalik untuk pergi.

"Mau kemana honey?"

"Aku sudah bilang, jangan memanggil ku begitu!" marah nya.

"Bukan begitu sayang, kau mau kemana?" tanya Claudia lembut.

Adam menghela nafas, dia hanya ingin memberitahu Rania, jika hari ini adalah hari Minggu.

"Mau sekolah, mau kemana lagi!" dengus nya.

"Tapi kan, sekarang itu hari Minggu nak"

Deg.

Rania mengerut bingung, dia merasa sangat malu.

"Benarkah hari ini hari Minggu?" pikirnya.

"Terserah ku, kalau aku mau sekolah, ya terserah aku!" dengus nya. Dia tetap pergi, namun tidak keluar rumah.

Rania berbelok pada anak tangga menuju ke kamar nya.

"Tas ku ketinggalan " gumam nya beralasan.

Rania melesat masuk ke dalam kamarnya, hempasan pintu keras tak dapat di hindari.

Blam!

Fyuu..

Claudia menghela nafas berat, dia langsung mendekati Adam.

"Alpa, mohon maafkan kejadian pagi ini" lirihnya.Dia takut Adam tersinggung, atau malah kecewa dengan keponakan nya.

"Tidak masalah Claudia, aku dapat memaklumi kelakuan labil mate ku!"

"Terimakasih Alpa"

Adam mengangguk pelan, dia kembali menatap pintu kamar mate nya yang terlihat sedikit dari ruangan makan.

"Kau akan mengerti suatu saat nanti" lirihnya.

Di dalam kamar nya, Rania menghempaskan tubuh nya begitu saja di atas ranjang.

Apa yang terjadi akhir-akhir ini membuat hidup nya terasa kacau.

"Aku harus berbicara dengan Brain" gumam nya. Rania langsung meraih ponselnya yang tersimpan di dalam tas.

Drrrt....Drrttt....

"Ke mana sih dia!" dengus nya. Rania terus berusaha menghubungi Brain, namun pria itu tak kunjung menjawab nya.

"Huh."

Brak!

Dengan kesal Rania melempar ponselnya ke sembarangan arah.

Gadis itu terlentang di atas ranjang, menatap langit langit kamar nya.

Kejadian di dalam gudang kemarin mulai masuk ke dalam pikiran nya.

"Bagaimana aku bisa menjadi kuat? mata ku bisa melihat ke dalam kegelapan" gumam nya bingung.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!