Aku Bisa meramal?

Kini, tinggal Mawar dan Rania saja di ruangan keluarga. Keduanya sama sama diam.

Mawar menatap Rania, dia heran mengapa mate kakak nya yang sangat kuat, adalah wanita lemah dan terlihat bodoh seperti Rania.

"Hei.." panggil Rania pelan. Membuat mawar tersentak dari lamunannya.

"Kau bisa bicara?"

"Tentu saja, kau pikir aku bisu???" pekik Rania mendekati mawar.

"Apa kau benar-benar adik nya?" tanya Rania, dia meragukan semua yang Adam katakan tadi.

"Maksud mu?" Mawar mengerut, dia tidak mengerti apa yang Rania katakan.

"Huh, coba kau pikir. Rumah besar ini, berada jauh di dalam hutan. Dan di dalamnya banyak orang. Aku yakin mereka yang ada di sini bertahan karena mereka tidak bisa keluar" jelas Rania panjang lebar.

"Apa yang sedang kau bicarakan?"

Huh.

Rania menarik nafas dalam kemudian menghembuskan nya kasar.

"Maksud ku adalah, kau dan aku itu sama. Sama sama di culik tuan itu kan?" ucap Rania dengan suara pelan.

"Huh" Mawar semakin tidak mengerti, kening nya mengerut.

"Dengar yah Luna, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Tapi, satu hal yang membuat ku tidak jadi membenci mu"

"Huh?" Rania terkejut, Mawar membencinya?.

"Sorry Luna, aku pikir kau bodoh dan bisu. Sejak tadi kau hanya diam dan tidak memberikan reaksi apapun."

"Hahahah...Kau lucu yah adik tuan aneh. Aku tidak mungkin bisu"

"Yah mana aku tahu, kau tidak berbicara sedikit pun tadi" balas Mawar.

Rania menarik tangan mawar, membawanya duduk di sofa.

"Duduk lah, berdiri membuat kaki ku pegal" ucap Rania.

"Siapa sih yang jadi tuan rumah sekarang?" pikir Mawar.

"Kau masih sekolah?"tanya Mawar.

"Yah, aku masih sekolah. Bagaimana dengan mu?"

"Aku sudah lulus 2 tahun yang lalu" jawab Mawar.

"Benar kah? tapi aku tidak pernah melihat mu. Apa kau sekolah di luar negeri? atau di luar kota ini?"

Mawar menggeleng, satupun yang Rania sebutkan tidak ada yang benar.

"Aku sekolah di sini, sekolah khusus " jawab mawar.

"Wah, apa kalian terlalu kaya? sampe sanggup homeschooling "

Rania benar benar kagum, Adam memang terlihat seperti orang kaya.

"Luna, Ak-"

"Tidak hm Ma-" sela Rania, tapi dia lupa siapa nama Mawar.

"Mawar Luna"

"Ah iya, Mawar. Hmm Sorry, kak Mawar. Aku bukan Luna. Nama ku Rania, bukan Luna. " jelas Rania memperjelas pada Mawar agar mereka tidak salah memanggil namanya.

Mawar tersenyum geli, ternyata mate kakak nya orang yang lucu.

Mawar juga melihat ada sesuatu yang istimewa di dalam diri Rania.

"Kau wanita yang baik, tapi kau adalah Luna, Luna kami!" tegas Mawar tersenyum manis.

Rania hendak memprotes, dia bukan Luna tapi mawar terus memanggilnya dengan panggilan Luna.

"Ak-"

"Sayang, ayo. Kita harus pergi, kita harus ke dokter untuk mengecek kandungan mu" ucap Guntur memotong ucapan Rania.

"Baiklah" Mawar segera bangkit, dia berjalan mendekati suaminya.

"Jadi, kau sedang hamil?"tanya Rania terkejut. Di dalam hatinya, Rania memiliki sebuah keinginan untuk memegang perut mawar.

"Uhm...Aku tidak tahu dari mana perasaan ini datang, tapi aku ingin memegang perut mu" gumam Rania ragu.

"Tentu luna, kau boleh melakukan nya" jawab Mawar tersenyum senang.

Wanita hamil muda itu pun kembali mendekati Rania, di ikuti oleh Guntur yang berjalan di belakang istrinya.

"Benarkah boleh?"

Mawar mengangguk, dia menu tun tangan Rania mengelus perutnya.

Rania tersenyum tulus, dia mengusap perut Mawar. Perlahan mata Rania mulai tertutup, dia melihat sesuatu yang tidak dia mengerti.

"Huhh..." Rania tersentak, dia langsung membuka matanya. Deru nafas nya terasa sesak mengingat apa yang baru saja dia lihat.

Seperti nya Rania baru saja melihat masa depan bayi itu.

Mawar dan Guntur ikut terkejut melihat reaksi Rania.

"Apa yang kau lihat Luna?" tanya Guntur penasaran.

Rania menoleh padanya, dia juga tidak mengerti. Dia bingung, bagaimana mungkin dia bisa meramal seperti ini.

"Aku tidak tahu, tapi aku melihat sesuatu di pikiran ku ketika mengusap perut mu" gumam Rania, dia masih kebingungan dan nafasnya masih memburu.

Sungguh kejadian kejadian aneh semakin banyak menghampiri nya.

"Kalau aku boleh tahu, apa yang Luna lihat?" tanya Mawar penasaran.

Dengan menghela nafas berat, Rania menceritakan apa yang baru saja dia lihat. Tidak buruk, tapi Rania cukup terkejut.

"Aku melihat, seorang anak berubah menjadi seekor serigala putih bersih" gumam Rania pelan , dia takut Mawar dan Guntur tersinggung dengan ucapan nya

"Benarkah?? Wah ..Apa anak mama akan menjadi sebuah perisai kesucian?" Sorak Mawar.

"Itu lambang dari cinta suci kita" sahut Guntur, dia memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.

Sepasang suami istri itu lupa, jika ada Rania yang tidak tahu apa apa di depan mereka.

"Kalian tidak marah?" sela Rania.

Mawar dan suaminya saling melirik, kemudian terkekeh pelan.

"Luna, suatu hari nanti. Anda akan mengerti" ucap mawar.

Mereka pergi begitu saja, meninggalkan Rania yang masih di Landa kebingungan.

"Honey!"

"Akhh" pekik Rania terkejut. Dia menoleh ke samping tubuhnya . Adam dengan tiba-tiba berbicara di belakang tubuh nya.

"His, kau ini selalu saja membuat ku kaget!"omel Rania sambil mengusap dadanya.

"Honey, apa yang kau lakukan di sini sendirian? melamun lagi!"

"Aku tadi bersama mawar dan suaminya, tapi mereka malah membuat ku bingung dan pergi meninggalkan aku"

"Benarkah?" tanya Adam. Rania mengangguk pelan.

"Memangnya apa yang membuat kamu bingung sweetie?"

Rania menggeleng, dia merasa sangat pusing. Dia ingin beristirahat.

"Apa ada kamar tamu di sini? aku merasa sangat lelah" ucap Rania sambil memijit pelipisnya.

Ada mengangguk, dia membawa mate nya ke kamar utama. Yaitu, kamar pribadi milik dirinya.

Lagi, dan lagi. Rania di buat melongo oleh dekorasi setiap bagian di rumah bak istana ini.

"Apa kalian sangat kaya?" tanya Rania.

Adam tidak menjawab, dia menuntun Rania tidur di ranjang, kemudian dia ikut berbaring di sana.

"Kenapa anda juga ikut berbaring? "

"Honey, ini kamar ku. Dan kini sudah menjadi kamar kita berdua" ujar Adam.

Rania terkejut, dia secara spontan mendorong tubuh Adam.

"Tuan, anda pikir saya wanita gampangan? dengan mudah nya anda mengatakan hal itu Tampa menikahi saya. Sorry, tapi saya tidak mau!"

Rania segera bangkit dan turun dari atas ranjang.

"Kamu mau kemana honey?" cegat Adam. Namun, Rania menepisnya.

"Aku ingin pulang, aku tidak bisa terus berada di sini. Aku bukan wanita yang bisa di miliki dengan begitu mudah!" ucap Rania tajam.

"Sayang, siapa yang mengatakan kamu wanita yang rendah. Kamu adalah wanita yang paling berharga, bahkan nyawa ku aku berikan kepada mu!" Adam memegang kedua tangan Rania. Dia berusaha untuk meyakinkan wanita itu.

"Suatu hari nanti kamu akan mengerti honey"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!