Minuman Apa itu?

Setiba nya di sekolah, Rania langsung turun dari dalam mobil Adam. Tanpa menoleh Tampa mengatakan apapun.

"Karakter Luna yang tiada banding" gumam Gamma.

Adam tak menyahuti gamma nya, dia menatap kepergian mate nya dengan senyum bahagia.

Ketika hendak menjalankan mobil nya, Gamma menghirup udara kuat. Dia mencium aroma yang berbeda. Dia tahu jika di sekitar sini ada banyak manusia serigala berkeliaran, namun aroma ini sangat berbeda.

"Kenapa?" tanya Adam dari belakang.

Gamma pun menoleh, "Maaf alpa, tapi saya mencium aroma lain!"

"Itu aroma calon raja Vampir"

"Apa? jadi ada keturunan vampir di sini??"

Adam mengangguk pelan.

"Kenapa bisa alpa? bukan kah kita sudah membuat orang itu tidak mengganggu manusia lagi?"

Adam menghela nafas berat, memang benar klan vampir tidak boleh masuk ke dalam duni manusia. Jauh beribu tahun yang lalu, ketika perseteruan antara vampir dan manusia.

Manusia meminta bantuan pada klan serigala untuk membantu mereka mengalahkan klan vampir. Agar manusia bisa hidup nyaman aman, Tampa merasa takut di ganggu oleh makhluk penghisap darah itu.

Pemimpin Klan Serigala pun setuju, karena mereka juga harus hidup berdampingan dengan manusia, apalagi klan Vampir juga sudah sangat meresahkan rakyat nya juga.

Maka dari itu terjadilah peperangan besar antara klan manusia yang bersekutu dengan manusia melawan klan vampir kalah.

Manusia dan serigala sangat kuat, bukan hanya itu klan peri juga membantu mereka. Sehingga membuat Klan Vampir tidak bisa berkutik. Mereka juga meminta bantuan dari pada klan Demon. Dan bahkan mereka juga meminta bantuan dari penyihir.

Namun, mereka tetap kalah. Alpa serigala terdahulu bersama istri nya sangat kuat!. Moon goddess menghadiahkan mereka kekuatan yang terpendam di dalam diri istri alpa. Sehingga mereka mampu mengalahkan mereka semua.

Meskipun kalah, Mereka tidak di bumi hanguskan, mereka tetap di biarkan hidup dengan satu syarat, tidak mengganggu manusia maupun klan serigala.

"Hidup berdampingan tidak apa Gamma, asalkan tidak membuat kericuhan" jelas Adam.

Gamma pun mengangguk mengerti, dia segera melajukan mobil meninggalkan pekarangan sekolah Rania.

Di dalam sekolah, Rania tampak kesepian. Sejak dia datang hingga jam istirahat tiba. Brain tidak mendatangi nya. Biasa nya pria itu akan selalu menempel pada dirinya.

"Huh, kemana boca itu" gumam Rania. Dia keluar dari dalam kelas, berniat ingin mencari Brain.

Rania pergi ke kantin, mungkin brain ada di sana.

"Apa dia terlalu lapar? sehingga dia tidak memanggil ku terlebih dulu?"

Rania terus menggerutu, dia melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kantin. Mengedarkan pandangannya mencari keberadaan brain. Si pria berkulit pucat.

Tidak ada, Rania tidak melihat Brain di antara keramaian teman sekolahnya.

"Kemana dia?"pikir nya.

"Eh non Rania,gak mau makan?" sapa pelayan kantin saat melihat Rania yang hendak berbalik keluar.

"Eh mang, aku lagi cari brain. Dia udah ke sini belom sih?"

"Belum neng, dari tadi pagi mamang gak ada lihat dia" jawab pelayan kantin.

"Oh yaudah deh, Rania keluar dulu"

"Gak makan dulu?"

Rania menggeleng, selera makan nya tidak ada saat ini. Apalagi mood nya yang sudah di hancurkan oleh Adam sejak pagi buta.

Rania kembali mencari Brain, menyusuri koridor sekolah, mencari ke atap sekolah, dan bahkan ke taman tempat anak anak kelas Brain nongkrong. Tapi, brain tetap tidak terlihat.

"Aduh, tu anak kemana sih??" Rania sudah merasa lelah mengelilingi sekolah nya yang sangat luas itu.

Rania melihat teman sekelas Brain lewat. Dengan segera gadis itu berlari menghampiri.

"Eh Cit, kamu liat brain gak?"

"Oh tadi sih aku liat dia keluar kelas dengan terburu buru." jawab siswi yang bernama citra.

"Oh gitu yah, yaudah makasih yah" ucap Rania.

Cinta mengangguk pelan, kemudian berlalu dari sana.

"Terburu buru? tu anak kenapa emang?"gumamnya.

Rania semakin penasaran, apa sebenarnya yang terjadi pada pria itu.

Rania semakin ingin menemui Brain, menanyakan semuanya pada pria itu.

Rania melangkahkan kakinya hendak ke perpustakaan. Mungkin aja pria itu ada di sana.

Saat ingin menaiki anak tangga menuju ke lantai atas, tempat perpustakaan. Rania merasa ingin buang air kecil.

"Aduh, malah kebelet lagi!" gumam nya, dia langsung merubah alur tujuan nya.

Rania memutuskan untuk ke toilet terlebih dulu. Panggilan alam ini lebih penting di bandingkan dengan mencari Brain.

Dia berlari kecil, panggilan alam nya semakin darurat, sehingga Rania merasa tidak tahan lagi.

Saat sudah hampir tiba di toilet. Rania melihat Brain berjalan menuju ke taman belakang.

"Kemana tu anak?" gumam nya. Dia hendak memanggil, tapi rasa kebelet nya kembali menyadarkan dirinya.

Rania berlari masuk ke dalam toilet, lalu melepaskan dahaga buang air kecil nya.

Setelah selesai, Rania langsung bergegas menuju ke taman belakang.

Dia mencari cari di mana Brain. Tempat duduk yang biasa di tempati oleh anak anak sekolah tampak sepi.

"Apa dia sedang kencan?" mata Rania membulat saat pemikiran itu menghampiri benaknya. Bukan karena dia cemburu, tapi dia tidak menyangka aja jika hal itu benar benar terjadi.

Rania terus melangkah menyusuri taman belakang sekolah, mata nya dengan lincah melihat ke segala arah.

Saat matanya tidak sengaja melihat Brain duduk di salah satu bangku yang sedikit tertutup oleh tanaman besar.

"Nah tu dia" gumam Rania senang.

Gadis itu langsung melangkah cepat menghampiri brain. Dia langsung duduk di samping Brain.

"Brain!" panggil nya dengan suara besar. Sengaja agar pria itu terkejut.

Benar saja, Brain sangat terkejut mendengar dan melihat Rania tiba-tiba duduk di samping nya.

"Rania!" gumam Brain dengan mata melotot. Tangan nya yang sedang memegangi sekotak minuman, langsung dia sembunyikan.

"Apa itu?" tanya Rania penasaran.

"Bukan apa apa"

Rania tidak puas, dia ingin melihat minuman apa yang sedang brain minum. Dan mengapa dia menyembunyikan darinya.

Rania berusaha merebut kotak minuman itu dari brain. Dia tidak suka brain menyembunyikan sesuatu dari dirinya.

"Apa itu brain, aku mau lihat!!"

"Tidak boleh Rania, ini hanya boleh di minum oleh laki laki" jawab brain mengelak saat Rania menggapai tangan nya yang tersembunyi di belakang tubuhnya.

"Aku mau lihat, di coba sedikit tidak masalah!" kekeuh Rania masih mencoba merebutnya.

"Ini minuman khusus untuk laki laki, kau tidak boleh meminum nya!" tegas Brain.

Rania terhenti, dia menatap Brain dengan mata menyipit.

"Apa itu minuman sejenis obat kuat?" tebak Rania.

Tentu saja tidak, Brain menggeleng kuat. Dia tidak mungkin meminum ramuan yang seperti itu. Tidak meminum nya saja, dia sudah sangat kuat wanita pasti akan sangat puas jika bersama nya.

"Aku tidak akan meminum itu Rania!" elak Brain.

"Lalu apa itu??"

"Pokok nya tidak boleh kau melihat nya!" tegas Brain, masih menyembunyikan minuman yang berwarna merah itu.

Minuman itu adalah darah hewan segar. Brain memang vampir, dia tidak meminum darah manusia, tetapi meminum darah hewan.

Bagaimana mungkin dia berbagi minuman ini dengan Rania. Bisa bisa jati dirinya di ketahui oleh Rania.

Rania menatap brain lekat, dia benar benar penasaran dengan minuman itu. Apalagi Brain terlihat tidak mau berbagi dengan nya. Tidak seperti biasanya, apapun yang dia minta, brain pasti akan memberikan nya.

"Ay,-"

Kringgg!!!!!!

Bel masuk pun berbunyi, Rania terpaksa menghentikan aksinya merebut minuman itu.

"Huh, aku marah pada mu!" dengus Rania berlalu pergi dari sana.

Fyuu..

Brain bernafas lega, akhirnya dia terbebas dari Rania.

"Maafkan aku Rania, aku tidak mungkin berbagi darah dengan mu" lirih nya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!