Hati Brain!

Keesokan harinya, Rania pergi ke sekolah. dia mengabaikan keberadaan Adam yang terus mengejarnya. Hanya di sekolah lah pria itu tidak mengikutinya.

Jam istirahat Rania pergi mencari Brain. sejak kemarin pria itu di hubungi nya. Namum, tak sekalipun pria itu angkat.

"Brain kemana sih!" dengus Rania. Sekarang dia terlihat seperti mengejar ngejar Brain, mencarinya kemana mana.

"Ciee.... Sekarang cinta brain memiliki buah!" seru teman teman sekelas Brain pada Rania, ketika gadis itu menanyakan kemana brain pergi.

Jarang jarang Rania seperti ini, hanya Brain lah yang mampu membuatnya begini.

Merasa lelah mencari Brain, Rania pun memutuskan untuk pergi ke kantin. Perutnya sejak tadi keroncongan.

"Huh, karena pria menyebalkan itu. Aku jadi sering tidak sarapan" gerutu nya sambil berjala. menuju ka kantin.

Seperti biasa, Rania mengambil tempat duduk di paling sudut. Dia memesan bakso pedas dan minumnya es teh.

Tanpa Rania sadari, ternyata Ririn sudah sejak menunggu kedatangan nya.

"Akhirnya kamu datang juga" gumam Ririn berdiri di depan meja Rania, dia bersama teman teman nya memegangi mangkuk masing masing.

"Aku sedang tidak mau berdebat, tolong urungkan niat kalian" jawab Rania malas.

Hal itu, tentu membuat Ririn tidak senang hati. Dia menggebrak meja Rania, kemudian menyuruh teman temannya untuk menuangkan kuah bakso ke tubuh Rania.

"Eh..." belum sempat kuah itu mendarat, Rania lebih dulu beranjak dari sana.

Seperti yang dia katakan, hari ini dia lagi tidak mood. So, dia tidak akan berantem.

"Sial!" umpat Ririn. Dia hendak mengejar Rania. Namun, guru BK tengah berdiri di depan pintu kantin.

"Loh, non Rania mana? kok malah pergi." tanya mamang kantin pada Ririn.

"Gak tau..." jawab Ririn kesal. Lalu, dia berbalik pergi bersama teman teman nya. kali ini terbebaskan, namun tidak. pikir Ririn.

...----------------...

Brain masuk ke dalam istana nya. Dia berjalan lurus masuk ke dalam ruangan ayah nya, raja Vampir.

"Ada apa ayah memanggil ku?"

Raja vampir yang tengah b

berdiri menatap ke luar jendela, langsung berbalik menatap putranya.

"Bagaimana Brain? kapan kau akan membawa wanita itu ke istana?" ucap Raja vampir. Tatapan matanya tajam, menantikan jawaban dari putranya.

Brain menunduk, menghindari tatapan mata ayah nya.

Hal itu membuat raja vampir kesal.

"Tatapan aku Brain! Kenapa kau menghindari ku?" bentak nya.

"Maaf ayah! seperti keinginan ku sejak awal. Aku tidak akan membawanya datang ke istana sebagai mangsa mu!" ucap Brain.

Mendengar jawaban putranya, raja vampir langsung murka.

"Apa yang kau pikirkan brain! Kau berpikir ingin menikahinya??? Kau masih belum sadar juga??? Dia bukan jodoh mu!"

"Tapi aku mencintainya ayah!" sela Brain.

"Persetan dengan cinta. Apa kau tidak peduli dengan keselamatan bangsa kita?"

Brain kembali menunduk, tentu saja dia menginginkan keselamatan bangsa mereka. Namun, dia juga tidak bisa mengorbankan Rania.

"Tidak bisa ayah, aku tidak akan bisa memberikan Rania kepada mu!"

Sleess...

Raja Vampir segera melesat mendekati putranya. Tangannya dengan kuat mencengkram leher Brain.

"Berani sekali kau menentang ku Brain! kau itu putra ku, harusnya kau mematuhi aku!"

Brain tidak menjawab, dia hanya diam saat ayah nya hampir membunuhnya.

Bagi Brain, lebih baik mati dibanding melihat Rania di serahkan pada klan nya.

Melihat putranya tidak melawan sama sekali, raja vampir semakin geram.

Plak!

Bug.

Brain di tampar, kemudian di lempar ke dinding bangunan istana.Dia tergeletak di lantai, tangan nya terluka dan hidungnya berdarah.

"Aku tidak akan membiarkan ayah, mengganggu Rania" Brain berusaha bangkit, lalu segera beranjak dari sana.

Brain pergi ke hutan kawasan vampire. Dia ingin menenangkan diri.

Dia duduk di tepi Jurang, menghadap ke bawah hutan yang terlihat sangat rimbun.

"Arrrggg!!!!" Brain berteriak sekuat kuatnya, melepaskan semua sesak di dadanya.

Perkataan ayah nya tertancap kuat di dalam hatinya.

Sudah berulang kali ayah nya mengatakan hal itu. Menjelaskan bahwa Rania bukanlah jodohnya. Melainkan jodoh seorang manusia serigala.

"Tidak, aku tidak akan membiarkan mereka merebut Lady ku!" kedua yang Brain mengepal, dia memiliki tekat ambisi yang kuat.

"Arrrggg!!!" sekali lagi dia berteriak.

Malam pun menjelang, Brain memutuskan untuk pergi ke dunia manusia.

Sebelum pulang, Brain mengecek ponselnya. Dia sangat terkejut melihat panggilan dan pesan yang sangat banyak dari Rania.

Isi pesan itu hanya sebuah pertanyaan yang menanyakan di mana dia berada.

"Kau mencari ku?" gumam Brain merasa sangat senang. Kembang api meletup letup di dalam hatinya, saking dia merasa bahagia nya.

Mendapat perhatian khusus dari Rania merupakan sebuah penghargaan.

"Aku akan menemui mu!" gumam Brain. Dia segera pergi ke rumah Rania menggunakan kekuatan vampir nya.

Dalam sekejap, Brain tiba di depan rumah Rania. Baru saja beberapa langkah dari gerbang nya, Brain mencium aroma manusia serigala memasuki Indra penciuman nya.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Brain terkejut, Adam muncul dari balik tembok pagar rumah Rania yang menjulang tinggi.

"Mengapa kau ada di sini?" tanya Brain berusaha untuk tidak panik.

Bukan panik, Brain sama sekali tidak takut pada Adam. Namun, brain merupakan vampir yang paling menepati janji.

Dia tahu jika leluhurnya pernah berjanji, tidak akan membuat keributan di dunia manusia. Karena itulah Brain selalu menjaga sikapnya.

"Di sini atau tidak nya aku, kau tidak perlu tahu" sahut Adam.

"Kalau begitu, katakan juga kalimat itu pada dirimu!"

"Cih, kau mulai keras kepala? kau menantang ku?" Adam mulai menggeram marah, dia tahu selama ini vampir busuk ini mendekati mate nya. Dan hal itu tentu tidak akan bisa dia terima.

"Kenapa kau harus marah? bukan kah ini memang bukan urusan mu!"

"Jika kau mendekati Rania, maka kau baru saja membuka perang dengan bangsa ku"

"Apa yang kau bicarakan alpa Adam Wils." balas Brain berusaha untuk tetap tenang.

"Cih, kau boleh berpura pura bodoh di depan Rania, namun di depan ku. Kau boleh menunjukkan wajah asli mu!",

Cih.

Brain tersenyum menyeringai, dia merasa Adam terlalu percaya diri.

"Kau terlalu sombong alpa, kau memang raja di pack mu. Tapi, kau juga jang lupa. Aku juga seorang raja"

"Calon Raja!" sela Adam memperbaiki kalimat Brain.

"Kau baru calon, bukan raja. masih ada raja serakah yang memimpin bangsa mu!" imbuh nya.

Brain hendak menjawab, namun dia melihat pintu jendela kamar Rania baru saja terbuka.

"Aku akan mengalah kali ini, namun tidak lain waktu!" ucap Brain sebelum dia berbalik pergi.

Adam tersenyum kecut, dia tahu jika Brain sedang berpura pura lemah. Padahal dia sedang memanfaatkan kepolosan Rania, untuk melancarkan keinginan ayah nya, Raja vampir.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!