Hari Minggu, biasanya anak anak sekolah sangat mendambakan hari libur itu. Namun, berbeda dengan gadis satu ini.
Rania tida suka dengan hari libur. Dia merasa bosan di rumah dan dia juga tidak berminat untuk pergi bersama teman sekolah nya yang mengajak nya untuk berkencan.
Rania bukan kah tipe wanita yang suka Hura Hura, dia lebih suka di ajak berpetualang. Meskipun penakut, tapi Rania menyukai hal itu.
"Huh.."
Entah sudah ke berapa kali, hembusan nafas itu terdengar.
Rania benar benar bosan, sejak tadi dia hanya berbaring di atas ranjang nya. Berguling ke kiri dan kanan. Hanya itu yang dia lakukan sejak tadi.
"Huh!" Rania beranjak dari ranjang, dia berpindah ke balkon kamar nya. Menatap ke langit, melihat apakah langit cerah atau tidak.
"Cuacanya bagus" gumam nya, lalu dia segera berganti pakaian.
Rania memakai celana training dan baju kaos lengan pendek.
Setelah bersiap, Rania berjalan keluar dari kamar nya. Dia mencari Claudia, sebelum berangkat dia harus berpamitan dulu.
"Bi.."panggil nya saat membuka pintu kamar Claudia. Rania mengerut, kamar Claudia tampak kosong melompong.
"Di mana bibi?" gumam nya beranjak ke dapur.
"Mau kemana?"
Rania menoleh, dia memutar arah tubuhnya. Dia menatap bibi nya yang menyahut dari ruang tv.
"Oh ternyata bibi di sana."
"Ada apa?" tanya Claudia.
"Aku hanya ingin berpamitan, aku akan joging ke taman kota"
"Dengan siapa?"
Rania menggeleng, dia tidak pergi dengan siapa siapa. Dia hanya seorang diri.
"Kau pergi sendiri?" tebak Claudia
Huhh...
"Bi, memangnya kau sering melihat ku pergi dengan teman teman ku?"
Claudia menggeleng, keponakan nya ini memang tipe wanita yang tidak terlalu suka dekat dengan orang lain. Walaupun itu seorang wanita, Rania hanya ingin berteman begitu saja. Dia tidak mau menjadi ketergantungan dengan satu teman. Dia ingin berteman dengan semua orang. Jadi, jika dia tidak terlalu dekat dengan satu individual, maka dia akan terhindar dari yang di namakan pertengkaran.
Namun, nyatanya tidak. Malah banyak yang iri padanya. Contoh nya Ririn, dia musuh yang selalu mencari masalah dengan Rania.
"Yah sudah bi, aku berangkat dulu yah" pamit Rania mencium punggung tangan Claudia.
"Baiklah, hati hati. Jangan pulang terlalu sore yah" balas Claudia memperingati.
Rania mengangguk pelan, dia juga tidak berminat untuk berlama lama .
Setelah keluar dari rumah, Rania langsung star berlari kecil. Tak lupa, dia memakai handset di telinganya untuk menghapus kebosanan.
Rania tersenyum, menghirup udara segar dari lingkungan tempat tinggal nya yang memang masih terjaga.
"Lumayan ramai" gumam Rania. Dia kembali berlari lari kecil mengelilingi taman kota.
Taman ini memang sering di gunakan oleh masyarakat untuk berolahraga. Bahkan kadang untuk berpacaran.
Bruk.
"Aws.." Rania meringis kesakitan.
Seseorang dengan sengaja menubruk dirinya yang tengah berlari. Sehingga Rania terjatuh dan lututnya terasa ngilu.
Rania mendongak, melihat siapa yang telah menubruk dirinya.
"Kau??" mata Rania melotot, dia segera berdiri dan menatap tajam Adam.
"Hei nona, kau kalau berjalan pelan pelan lah sedikit, atau gunakan dengan baik mata mu itu!" omel Adam tanpa rasa bersalah.
"Heh tuan, bukan kah kau yang menubruk ku? kau yang tidak melihat kalau aku sedang maraton."
Adam tidak memperdulikan nya, dia melanjutkan langkah nya meninggalkan Rania begitu saja.
Walaupun sebenarnya hati nya berkata lain. Adam sangat ingin memeluk tubuh mate nya, menghirup aroma yang sangat wangi dari tubuh belahan jiwanya.
Rania mencak mencak, dia sangat kesal pada pria yang sejak beberapa hari lalu membuat masalah dengan dirinya.
"Huh! awas saja kau, jika sekali lagi kau membuat masalah, aku tidak akan melepas mu!" teriak Rania.
Mood Rania sudah hancur, dia memutuskan untuk beristirahat di salah satu bangku taman.
Sedangkan Adam, dia terus saja di maki maki oleh Adit.
"Kau sungguh keterlaluan, kau membuat mate ku kesakitan!" omel Adit.
"Dia mate ku juga Adit, jika kau tidak lupa!"
"Tapi kau membuatnya celaka bodoh!" maki Adit.
Adam tidak memperdulikan nya, dia memilih melihat Rania dari kejauhan. Senyum manis pemikat hati tak lepas dari bibir Adam. Apalagi ketika dia mendengar gerutuan Rania kepada diri nya.
"Dia benar benar manis" kekeh nya.
"Air minum!!! Air minum!!!" teriak pedang asongan. Dia berjalan ke depan Rania, menawarkan minuman dingin nya.
Adam yang melihat hal itu, langsung berjalan cepat. Dia tahu siapa pedagang itu, bangsa penyihir yang ingin meracuni Rania.
"Pak, saya mau air mineral nya satu!"
"Baik neng" pedagang itu langsung memberikan air mineral yang sudah di campurkan dengan cairan khusus .
Rania menerima air itu dengan senyum manis, lalu memberikan uang yang kembaliannya dia sedekahkan pada pedagang itu.
"Makasih ya neng"
"Iya pak sama sama" jawab Rania.
Dengan senyum lebar, pedagang itu pergi meninggalkan Rania.
"Aku haus banget" gumam Rania sembari membuka tutup botol air minum tersebut. Dia bersiap ingin meminumnya.
Tiba-tiba Adam datang dan menepis botol minum yang siap masuk ke dalam tenggorokan Rania.
Brurr ..
Air mineral itu langsung terjatuh ke tanah. Rania menatap nanar pada air minumnya.
"Kau benar-benar membuat ku kehabisan kesabaran!!" bentak Rania marah.
"Maaf nona, tapi-"
"Tapi apa? sebenarnya kau ada masalah apa dengan ku, sejak kemarin kau selalu mencari masalah!" potong Rania. Emosinya benar benar di ujung ubun ubun.
"Maaf nona, minuman itu su-" Adam tidak bisa melanjutkan ucapan nya,dia tidak bisa mengatakan jika pedagang tadi adalah penyihir, Rania pasti akan menganggapnya gila.
"Apa? kenapa kau berhenti, apa kau tidak memiliki alasan lagi? huh?"
"Bukan begitu," Adam kehilangan kata kata, dia bingung ingin menjelaskan pada Rania.
"Sudah lah, kau benar-benar orang teraneh yang aku temui!" Rania beranjak dari hadapan Adam, dia memilih untuk pulang. Dia sudah benar benar tidak mood untuk maraton.
Selain itu, cuaca juga sudah mulai menggelap. Sebelum hujan, lebih baik dia pulang lebih awal.
Adam terdiam, menatap kepergian mate nya.
"Mereka sudah mulai mengetahui keberadaan mate ku Adit. Keselamatan mate kita sedang dalam bahaya"
"Kamu benar" sahut Adit.
...----------------...
Rania menatap langit, sudah sangat mendung. Gadis itu semakin mempercepat langkah kakinya. Awalnya hanya berlari kecil, kini dia berlari besar.
Rania berdiri di halte, menunggu bus menuju ke rumahnya. Namun, bus tak kunjung datang.
"Huh, aku berlari saja" putus Rania.
Dia berlari sekencang yang dia bisa. Rania ingin segera tiba di rumah. Apalagi sekarang sudah semakin mendung, angin juga sudah bertiup kencang.
Setibanya di jalur rumah nya, barulah Rania mulai mengurangi kecepatan lari nya.
Merasa lelah dan sesak nafas saat berlari kencang tadi. Rania memutuskan untuk berhenti sejenak.
"Huh, lelah juga" gumam nya dengan nafas memburu.
Rania menoleh ke kiri dan kanan, melihat apakah ada orang lain di jalan ini, selain dirinya.
Ternyata ada, Rania sedikit tersenyum ketika melihat ada dua orang berjalan di belakang nya.
Senyum itu segera patah, saat Rania merasa orang yang berjalan di belakang nya itu sedikit berbeda.
Rania merasa sangat was was, dia langsung melanjutkan langkah kakinya.
Semakin cepat langkah kakinya, Rania merasa orang di belakang nya juga semakin mempercepat langkah mereka.
"Apa mereka mengikuti ku?" pikirnya mulai was was.
Rania berlari kencang, kedua pria itu juga ikut berlari. Malah mereka berseru untuk menangkap Rania.
"Tangkap dia!!!!" seru salah satu pria itu.
Rania tak sanggup lagi, rumah nya masih jauh. Di sini juga sangat sepi. Kemana dia akan minta tolong.
Bruk.
Rania terjatuh, kaki nya tersandung batu besar.
Kedua pria itu berhenti, mereka tertawa lepas melihat Rania beringsut ketakutan pada mereka.
"Hahaha...Mau lari kemana kau pembawa bencana!" ujar pria itu.
Rania tidak memperdulikan ucapan mereka, dia hanya memikirkan bagaimana caranya kabur dari orang itu.
"King pasti senang, kita berhasil membawa dia ke pack."
Rania menggeleng, dia terus beringsut menjauh, menarik kakinya yang sakit.
Bug.
Bug.
Tiba-tiba entah dari arah mana Rania tidak tahu, Adam menghantam mereka hingga terpental jauh.
Takut Rania takut padanya, Adam terpaksa melawan kedua vampir itu dengan tenaga manusianya.
Bug.
Brak!
Dalam sekali tendang dan lempar, Adam berhasil mengalahkan kedua pria itu.
"Wah dia kuat sekali" kagum Rania pelan, namun dapat di dengar oleh Adam dengan jelas. Karena dia adalah serigala.
Setelah membereskan kedua tikus kecil itu, Adam berbalik mendekati Rania. Dia memeriksa kaki Rania yang tengah terkilir.
Dengan sekali usap, kaki Rania langsung sembuh. Dia bisa menggerakkan nya tanpa terasa sakit.
"Wah...Tidak sakit lagi" gumam Rania, dia langsung berdiri dan mencoba melompat lompat di depan Adam.
"Umm... terimakasih" cicit Rania.
"Akan aku terima, asalkan kau mau aku antar pulang" jawab Adam.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri" tolak Rania.
Namun, bukan Adam namanya jika dia mengalah begitu saja.
"Baiklah, kalau begitu. Kau berhutang Budi pada ku!"
Mata Rania langsung terbelalak, "Kau gila, aku kan sudah berterimakasih"
"Memang, tapi aku tidak menerima nya jika kau tidak mau aku antar" jelas Adam santai.
"Huh, memang manusia aneh!"dengus Rania kesal. Dia berbalik pergi lebih dulu dari Adam.
"Memang aku bukan manusia asli, tapi manusia serigala " kekeh Adam, lalu menyusul Rania yang sudah hampir jauh dari dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments