Berkelahi

Matahari mulai menampakkan dirinya. Cahaya nya mulai mencakar dunia semampunya.

"Engg...." Rania menggeliat, mengerang sambil merenggangkan tubuhnya.

"Pagi yang indah" gumam nya.

Dia segera bangkit dan langsung merapikan tempat tidurnya. Seperti lagu anak anak yang sering dia nyanyikan.

Setelah merasa kamarnya sudah rapi, Rania pun beranjak menuju ke kamar mandi. Tak lupa, gadis itu menyambar handuk yang selalu dia gantung pada dinding lemari.

Bibir mungil itu terus bersenandung ria, menyanyikan lagu anak anak itu. Entah mengapa, Rania merasa hari ini. Dia terbangun dalam keadaan bahagia.

Apa karena dia bermimpi bertemu seorang pria?

"His.." geram nya berusaha menghalau khayalan yang mengingatkan dirinya tentang mimpinya, yang bertemu dengan pria tampan dan pria itu tidur di samping nya.

Rania benar benar sudah gila di buatnya, dia merasakan kehangatan yang nyata dari mimpi itu.

Setelah mandi, dan berpakaian rapi. Rania turun ke bawah. Dia menghampiri bibi nya yang tengah sibuk di dapur.

"Pagi bibi" sapa Rania sembari memeluk bibinya dari belakang. Kebiasaan yang tak pernah Rania lupakan.

Claudia tersenyum, merasakan pelukan hangat keponakan yang sudah ia angga seperti putrinya sendiri.

"Pagi sayang, apa kamu sudah lapar?"

"yah, tentu saja aku sudah lapar. Ups, tidak. Aku bukan hanya lapar, tapi sangat lapar" balas Rania.

Gadis itu melepaskan pelukannya pada tubuh bibinya, lalu beranjak duduk ke meja makan.

"Aroma masakan mu selalu di kagumi oleh Indra penciuman ku" imbuh nya lagi.

Claudia tersenyum, dia membawa ikan bakar dan juga sayur mayur yang akan mereka jadikan lalap.

Rania adalah tipe wanita yang berbeda dari wanita lain nya.

Jika orang orang biasanya sarapan hanya makan sedikit, atau hanya makan roti dan minum susu saja.

Tapi, Rania malah makan nasi. Dia merasa perutnya akan keroncongan jika di pagi hari tidak makan nasi.

"Wahh...Ikan bakar, pantas saja hidung ku terasa penuh. Ternyata aroma ini yang memenuhinya" ungkap Rania menatap masakan Claudia dengan mata berbinar.

"haha..Kau ini selalu saja bisa membuat aku tersipu"

Claudia mengambil piring, mengisinya dengan nasi. Lalu, memberikan nya pada Rania.

"Ayo segera makan, sebentar lagi bis mu akan lewat."

Rania mengangguk, dia makan dengan sangat lahap. Begitu juga dengan Claudia, dia selalu berusaha membuat keponakan nya makan lahap.

Setelah selesai makan, Rania langsung berpamitan pada bibinya.

"Aku berangkat!!!"teriak Rania setelah meneguk jus mangga nya sampai habis.

"Baiklah, hati hati!!" sahut Claudia dari arah dapur, dia sedang mencuci piring.

Rania berjalan santai menuju ke halte. Bis yang biasa lewat di halte dekat rumah nya ini, akan lewat sekitar 15 menit lagi. Jadi, Rania bisa berjalan santai menuju ke halte.

Menikmati suasana pagi yang terasa masih asli. Rania tersenyum, melihat lihat tetangga yang sedang menyiram tanaman.

"Hey girl, berangkat sekolah,?" sapa pak tom. Dia adalah tetangga Rania yang paling ramah.

"Ya om" jawab Rania tak lupa tersenyum manis.

Tom pria tua berumur 40 tahun terlihat tersipu malu mendapat senyum dari Rania.

"Hati hati yah" sahutnya lagi.

"oke."

Rania tiba di halte, bis masih belum lewat. Dia melihat ke kiri dan kana. Tidak ada orang yang berada di sana.

Dalam hati Rania bertanya, mengapa tidak ada orang di halte. Biasanya akan banyak orang yang menunggu di sini.

"Apa bis nya sudah lewat?" Rania melirik arloji nya. Dia menggeleng pelan, jadwal bis masih ada 5 menit lagi.

Tett Tett

fyu..

Rania tersenyum lebar, bis yang dia tunggu akhirnya datang juga.

Dengan cepat, Rania naik ke dalam bis. Menempelkan kartu akse nya ke tempat pembayaran, lalu mencari tempat duduk kosong.

Bis kali ini terlihat lebih sesak dari yang biasanya.

Beruntung ada satu bangku yang masih kosong. Langsung saja Rania mengambil tempat duduk itu.

Sesampainya di sekolah, Rania langsung berjalan menuju ke kelasnya.

Tak henti hentinya bibir Rania melebar setiap melihat teman nya menyapa.

Rania tipe cewe yang ramah, dia selalu membalas sapaan teman teman sekolahnya. Meskipun dia tidak memiliki teman akrab, setidaknya dia akur dengan semua teman nya.

"Brain?" gumam Rania ketika melihat teman yang lumayan dekat dengan nya berdiri di depan pintu kelas nya.

Sebenarnya Rania tidak terlalu dekat, tapi pria ini selalu mencoba untuk mendekati nya. Karena sudah jengah, akhirnya Rania membiarkan pria itu mendekatinya. Rania pun nyaman dan mereka akhirnya dekat.

Melihat kedatangan Rania, pria yang bernama Brain itu, langsung mendekati nya.

"Rania, akhirnya kamu datang. Apa kamu baik baik saja? kamu tidak luka kan???" Brain memeriksa tubuh Rania dengan raut wajah khawatir.

Rania diam saja, membiarkan Brain memutar mutar tubuh nya mencari luka yang tidak ada.

"Brain sudah cukup! aku tidak apa apa!"

"Bagaimana kamu tidak apa apa Rania, aku sudah mendengar semua cerita kamu yang hilang di perkemahan"

Rania memutar bola matanya, dia mulai jengah dengan sikap berlebihan Brain.

"Aku memang hilang, tapi aku telah kembali dan aku tidak apa apa. Oke?" Rania menepis tangan Brain dari tubuhnya, lalu dia masuk ke dalam kelas. Membiarkan Brain yang masih menatapnya dengan tatapan aneh.

Brain, pria berkulit pucat yang selalu berusaha mendekati Rania. Dia adalah seorang vampir. Bukan sembarang vampir, Brain adalah calon King Lord vampir.

Sejak masuk ke dunia manusia, Brain jatuh hati pada Rania. Dia berusaha mendekati nya dan berniat menjadikan Rania sebagai Ratu di kerjaan nya nanti.

Kemarin, saat acara perkemahan itu di adakan. Brain tidak bisa mengikuti nya. Dia harus kembali ke kerajaan untuk menghadiri acara perayaan pernikahan mama dan papa nya. Lord dan Lady Vampir.

Kringggggg.....

Jam istirahat pun berbunyi, pertanda jam pelajaran saat itu berakhir.

Rania bersorak bahagia. Dia segera menyimpan buku buku nya ke dalam laci. Kemudian melangkah keluar dari kelas setelah Bu guru keluar.

"Yuk ke kantin!" aja Brain yang sejak tadi menunggu nya di depan kelas.

"Let's go!" sahut Rania bersorak.

Mereka pun pergi ke kantin, banyak yang iri melihat kedekatan Rania dengan Brain.

Pria tampan yang menjadi incaran siswi di SMA itu. Namun, pria itu malah hanya menatap Rania saja. Dia sangat dingin dan ketus pada orang lain.

Seperti biasa, Rania mengambil posisi meja pojok di kantin.

Dia langsung menuju ke Maja, sementara Brain langsung menuju ke tempat kasir untuk memesan makanan.

"Ini makanan kesukaan kamu"

Brain menyodorkan bakso pedas di depan Rania. Wanita itu langsung berbinar dan tersenyum senang.

"Kamu memang teman baik ku, tahu saja apa yang saat ini aku inginkan!"

"tentu!" sahut Brain tersenyum bangga. Dia juga memesan bakso,pokok nya apa yang Rania makan, itulah yang akan dia makan.

Brain adalah vampir yang bisa bersikap seperti manusia. Dia bisa memakan apapun yang dia mau. Karena dia keturunan asli vampir bukan vampir buatan yang hasil di gigit oleh Vampir kegelapan.

Ketika asik makan, tiba-tiba seseorang datang dan menggebrak meja mereka.

Brak!

"Dasar wanita gak tahu malu!", bentak seseorang.

Rania mendongak, menatap siapa baru saja mengganggu dia makan.

Mata elang nya menatap Ririn tajam. Rania paling tidak suka jika makan nya di ganggu.

"Apa! kau mau melawan ku?" tantang Ririn.

Brain hendak berdiri, dia ingin menyuruh Ririn pergi. Namun sebelum itu dia lakukan, Rania lebih dulu menyiram Ririn dengan kuah bakso pedas nya.

Byurr....

"Ririn??" pekik Siska menutup mulut.

"Berani sekali kamu!!!", geram Ririn, dia langsung menarik rambut Rania.

Tentu saja Rania tidak akan mau kalah. Jambak menjambak tidak bisa di elak kan. Pertarungan wanita, yah tidak jauh jauh dari itu.

Baru beberapa menit berkelahi, guru BK pun datang dan membawa Rania dan Ririn ke ruangan nya.

Mereka di jatuhi hukuman membersihkan toilet hari itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!