Seperti biasa, Rania bangun tepat waktu.Dia membereskan kamar nya, lalu bersiap pergi ke sekolah.
Rania turun ke bawah, menghampiri bibi nya, lalu memeluknya dari belakang.
"Pagi bibi" sapa nya setelah mengecup pipi bibi nya.
"Pagi juga sayang"
"Masak apa bibi?"
"Seperti biasanya" jawab Claudia.
Rania mengangguk pelan, dia pergi ke meja makan. Mengeluarkan buku ceritanya .
Sambil menunggu bibi nya selesai masak, Rania berniat membaca buku sebentar.
Waktu sekolah masih lama, dia bisa sedikit bersantai sekarang.
Ting Tong..
Rania terkejut, dia menoleh pada bibi nya yang juga sama seperti dirinya. Mereka sama sama terkejut.
"Siapa itu Rania?" tanya Claudia.
Rania menggeleng, dia juga tidak tahu siapa yang bertamu di rumah nya sepagi ini
Lagi pula, sangat jarang orang bertamu ke rumah nya.
"Coba kamu lihat dulu" titah Claudia.
Rania pun beranjak menuju ke pintu depan. Awal nya dia mengintip di balik lobang bulat kecil yang terletak di tengah pintu.
"Kok gak kelihatan " gumamnya kesal, karena orang yang menekan bel tidak terlihat.
Ting Tong!
"Huh!" Rania akhirnya memutuskan untuk membuka pintu.
"Loh!" Rania terkejut, melihat siapa yang datang ke rumahnya sepagi ini.
"Hai gadis tercantik di muka bumi ini" sapa Adam dengan suara merdunya. Tak lupa senyum manis terukir di bibir nya.
"Ngapain kamu ke sini?"
"Kenap honey? kamu gak suka?"
"Tentu saja aku gak suka, pake nanya lagi" dengus Rania dengan nada tidak suka.
Adam mengerucutkan bibirnya, dia merajuk karena Rania tidak menyukai kedatangan nya.
Sangat aneh, Rania malah suka melihat raut wajah Adam yang seperti itu.
"Haha...Dia kok manis banget sih kaya gitu" tawa Rania geli di dalam hati.
"Udah deh,pergi sana. Kami tidak menerima tamu?" usir nya.
"Eh kok gitu sih sayang, aku sengaja loh datang ke sini buat kamu"
Rania memberikan ekspresi jijik, dia tidak kenal tapi pria ini malah sayang sayangan dengan dirinya.
Dari dapur, Claudia mengerut penasaran. Sudah beberapa menit, Rania masih kembali juga. Dia mulai penasaran dan khawatir, siapa yang bertamu itu?.
Akhirnya, Claudia memutuskan untuk menyusul Rania ke depan.
Ketika melihat siapa yang sedang berdebat dengan Rania, Claudia langsung cepat menghampiri nya.
"Salam A- hmm..Maksud ku salam, ada apa pagi pagi datang ke rumah kami" ucap Claudia hampir keceplosan.
Rania mengerut melihat bibi nya tiba-tiba lembut pada orang asing.
"Saya hanya ingin berkunjung saja" balas Adam tersenyum simpul. Dia merasa lega di hati nya, ternyata yang menjaga mate nya adalah seorang peri.
"Ohh silahkan masuk"
"Terimakasih" sahut Adam senang.
Sedangkan Rania malah melongo melihat apa yang baru saja bibi nya lakukan.
"Ada apa dengan wanita tua itu? biasanya dia yang paling galak ketika ada tamu" gumam Rania heran.
Claudia membawa Adam duduk di ruang tengah.
"Silahkan duduk" ucap Claudia lagi.
Adam mengangguk pelan, lalu menduduki salah satu sofa.
Claudia menoleh pada keponakan nya yang masih berdiri di ambang pintu.
"Rania, tolong segera buatkan air minum yah" titah Claudia.
"Huh?" Rania semakin melongo di buatnya.
"Sayang aku haus" ujar Adam.
Rania semakin jengkel, pria itu semakin menjadi ketika berada di depan bibi nya.
Dengan menghentak hentakkan kaki nya kuat. Rania beranjak menuju ke dapur.
"Awas saja kau nanti, aku gulung kau ke jurang" geram Rania menahan kekesalan nya.
"Salam Alpa!"
"Salam Peri "
"Claudia alpa" ucap Claudia memberitahu namanya.
"Baiklah Claudia" ulang Adam.
"Apa gerangan Alpa datang ke kediaman kami?"
Adam terdiam sejenak, lalu menatap Claudia lekat. Aura kepemimpinan nya terlihat jelas. Jantung Claudia menjadi berdetak ketakutan.
"Rania, adalah mate ku! Calon Luna kalian."
Claudia melebarkan matanya, dia sangat terkejut mendengar ucapan Adam.
"Benarkah? Calon Luna dari bangsa kami?"
"Yah, itu sudah keputusan moon goddess." ucap Adam.
Claudia mengangguk mengerti, bagi nya dari ras mana pun Luna mereka, itu tidak masalah. Apalagi ini dari ras mereka. Sungguh hal yang sangat membanggakan.
Claudia ingin bertanya lagi, namun Rania keburu datang. Jadi, dia harus menahan pertanyaan nya.
"Ini minuman nya!" ucap Rania setelah menghidangkan minuman hangat untuk Adam dan juga Claudia.
Lalu, Rania langsung beranjak ke ruang makan. Dia mengambil tas dan juga buku sekolah nya yang tadi sempat dia keluarkan.
Rania kembali ke ruang tengah, dia berpamitan pada bibi nya.
"Bi, aku berangkat dulu yah" pamit Rania.
"Oh baik lah sayang" balas Claudia.
"Kau mau berangkat?" Adam segera bangkit dari duduk nya.
"Tentu saja, kau pikir aku mau apa" ketus Rania.
"Yasudah, aku akan mengantar mu"
"Tidak perlu!" tolak Rania. Dia tidak mau pria itu tahu tempat sekolahnya.
"Tidak apa apa sayang, biarkan dia mengantar mu" ucap Claudia.
Rania menatap bibi nya, semakin aneh dan tidak bisa di pahami.
"Bibi, dia itu orang asing. Kenapa bibi mempercayai dia mengantar Ki!" protes Rania.
Lebih aneh lagi, Rania menatap bibi nya yang tengah menggeleng pelan.
"Sayang, percayalah. Dia sudah sangat lama mengenal mu, dia bukan orang asing!"jelas Claudia yang tidak bisa di percaya oleh Rania.
Adam terkekeh, dia merasa lucu melihat ketidakberdayaan mate nya saat melawan ucapan Claudia.
"Yasudah sayang, ayo. nanti kamu terlambat" ucap Adam menggandeng tangan Rania menuju ke mobil nya.
"Gak usah pegang pegang!" sungguh Rania menghempaskan tangan Adam.
Rania berjalan lebih dulu keluar dari rumah. Dengan wajah masih di tekuk, Rania masuk ke dalam mobil Adam.
"Hati hati Alpa, dan maaf dengan sikapnya" ucap Claudia pelan.
Adam menyusul Rania masuk ke dalam mobil, lalu duduk di sebelah nya.
"Kau tidak mengemudi?" tanya Rania heran. Dia memilih duduk di belakang, karena dia berpikir Adam yang mengemudinya.
"Tidak sayang, ada gamma ku yang akan mengemudi" jawab Adam.
Pria yang duduk di bangku kemudi pun menoleh.
"Hallo Luna" sapa nya. Adam langsung menendang kursi kemudi, mendengar sapaan gamma bodoh nya itu.
"Sorry, aku bukan Luna. Aku Rania!" balas Rania menyebutkan nama nya.
"Waw, nama yang indah" sahut Gamma dari depan. Lalu, dia pun melajukan mobil membela jalanan yang sama sekali tidak ramai.
Selama perjalanan, Rania tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya mendengus dan melirik Adam tajam.
Bagaimana tidak, pria itu sejak masuk ke dalam mobil. Terus menerus menatap dirinya.
Dia adalah wanita normal, di tatap seperti itu oleh lawan jenis tentu saja agan membuat nya tersipu malu. Apalagi pria nya sangat tampan seperti Adam.
Untuk pertama kali nya Rania merasa gugup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments