Kamar yang luas dengan segala fasilitas yang ada. Ayra duduk di tempat tidur barunya. Mulai hari ini maka inilah kehidupan dia. Inilah tempat tinggal dia. Ayra tidak memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya pada kehidupannya ini. Jika kedepannya tidak seperti apa yang di harapkan selama ini. Ayra akan mencoba menerimanya. Mungkin memang tidak mudah, tapi inilah kehidupan yang dia pilih. Inilah perjanjian yang telah dia tanda tangani dengan sadar. Dan sekarang dirinya hanya perlu menerima semua yang telah dia sanggupi, semua yang telah dia tandatangani dalam sebuah surat perjanjian.
Ayra mengelus perutnya "Semoga suatu saat nanti kita tetap bisa bersama ya, Nak. Bunda akan selalu menyayangimu meskipun suatu saat nanti kita mungkin akan berpisah. Tapi Bunda yakin kamu akan bahagia bersama Ayahmu"
Hancur.. Hatinya benar-benar hancur saat mengatakan itu pada bayi di dalam perutnya. Bagaimana seorang Ibu harus rela menyerahkan anak pertamanya, tanpa harus menemuinya lagi dan bisa mengakui jika dirinya adalah ibu kandungnya. Itulah yang sedang menjadi dilema seorang Ayra.
Ayra baru saja selesai mandi, dia sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sampai suara pintu yang terbuka membuat Ayra menoleh, Aiden masuk ke dalam kamarnya. Menghampirinya yang sedang rebahan di atas tempat tidur. Aiden naik ke atas tempat tidur, mengelus kepala Ayra yang masih berbaring dan mengecup keningnya. Entahlah, mungkij karena Ayra yang sedang mengandung anaknya, Aiden merasa lebih menyayangi istri keduanya ini. Tidak mau sampai ada hal buruk terjadi padanya.
"Makan malam dulu yuk, Saqila sudah menunggu di bawah"
Ayra bangun dan Aiden segera membantunya. Dia menatap suaminya, perhatiannya semakin hari semakin besar. Dan hal itu membuat Ayra merasakan kenyamanan yang semakin lebih besar. Perasaan yang tidak bisa dia halangi. Nyatanya dia tidak bisa membangun benteng di hatinya, semuanya tetap runtuh seiring dengan waktu berjalan. Perhatian yang semakin membuat Ayra menyimpan perasaan lebih pada Aiden. Namun, lagi-lagi kenyataan membuatnya sadar jika perasaannya tidak mempunyai harapan apapun.
"Baik Tuan, saya akan segera turun"
"Ayo aku temani, aku takut kau belum terbiasa dengan tangga di rumah ini. Kau harus lebih berhati-hati ya" Aiden mengelus rambut Ayra, membawa kepala istrinya itu mendekat padanya dan mengecupnya dengan lembut. "...Kamu harus lebih menjaga kandungan kamu ini"
Ayra mengangguk, hatinya sudah merasakan debaran berbeda jika Aiden melakukan hal seperti ini. Di saat seperti ini Ayra selalu merasa serakah jika dia hanya ingin memiliki Aiden seorang diri. "Yaudah ayo kita turun, Nyonya pasti sudah menunggu di bawah. Kasihan terlalu lama menunggu"
Aiden mengangguk lalu menuntun Ayra untuk turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Menuntun Ayra dengan hati-hati saat menuruni anak tangga. Takut sekali jika istrinya akan terluka apalagi dengan kehamilannya yang masih sangat rentan.
"Hati-hati"
Ayra menjadi kesal sendiri di perlakukan seperti ini oleh suaminya. "Tuan saya itu sedang hamil, bukan seorang pesakitan. Jadi anda tidak perlu sampai seperti ini"
"Aku hanya takut kau terjatuh Ay"
"Tidak papa Tuan, saya tetap akan berhati-hati saat menuruni anak tangga"
Aiden berheti sejenak membuat Ayra ikut berhenti. Dia menatap hangat istri keduanya itu, lalu dia mengelus kepalanya. "Beneran ya, jangan membuat aku khawatir"
"Iya Tuan"
Dan apa yang mereka lakukan terlihat jelas oleh Saqila. Dia melihat bahagaimana Aiden yang begitu lembut memperlakukan Ayra. Aiden juga melihat perhatian yang lebih dari Aiden pada Ayra. Hal itu membuat Saqila kesal, dia sangat kesal karena semuanya terjadi tanpa bisa dia kendalikan. Mungkin jika dia tahu lebih awal, maka pernikahan Ayra dan suaminya tidak akan pernah terjadi.
Bertahan Sa, hanya menunggu beberapa bulan saja sampai anaknya lahir. Maka Aiden akan kembali menjadi milikmu seorang.
"Hai Ay, ayo cepat makan. Kamu harus memberikan nutrisi terbaik untuk bayimu" Saqila berdiri dan menghampiri Ayra dan Aiden. Seolah sengaja, dia melepast tautan tangan Aiden pada Ayra dan mengambil alih tangan Ayra olehnya.
"Iya Nyonya"
Ayra melirik Aiden yang mengikuti mereka di belakangnya. Dia terlihat bahagia, melihat kedua istrinya yang terlihat sangat akur. Dengan begitu Aiden bisa c
ukup tenang saat dia tidak ada di rumah, karena pasti Saqila akan menjaga Ayra dan calob bayinya.
"Aku ambilkan makan ya, kamu makan yang banyak. Ini ada sayuran dan ikan. Biar bayi kamu mendapat nutrisi yang baik"
Ayra merasa tidak enak, saat Saqila mengambilkan makanan untuknya. Dia hanya seolah anak dari mantan asisten rumah tangga di rumah ini. Rasanya tidak pantas saat Saqila sampai mengambilkan makanan untuknya.
"Terimakasih Nyonya"
Selesai mengambilkan makanan untuk Ayra, Saqila beralih mengambilkan makanan untuk Aiden. Tentu hal itu membuat Aiden tersenyum padanya sambil mengucapkan terimakasih. Dan itu membuat Ayra merasa tidak nyaman. Hatinya merasa tidak suka melihat itu. Namun, siapa dirinya sampai harus cemburu pada mereka yang jelas-jelas menikah karena saling mencintai. Bukan seperti dirinya yang menikah di atas perjanjian untuk melahirkan seorang anak.
"Honey, besok berangkat bareng ya. Aku mau ngecek penjual selama aku tidak datang ke perusahaan"
"Emm. Yaudah, besok kita berangkat bareng. Aku juga sekalian mau mengantar Ayra kuliah"
"Emm. Tapi aku harus pagi-pagi banget Honey. Aku udah mengumumkan kalau besok pagi ada rapat penting. Jadi aku harus berangkat pagi-pagi"
"Kenapa kamu gak bawa mobil sendiri saja. Kamu 'kan biasanya bawa mobil sendiri"
Saqila cemberut mendengar itu, dia tidak suka dengan jawaban Aiden. "Tega banget kamu, padahal selama ini aku jarang banget loh minta di antar kemana pun. Giliran sekarang minta di antar sebentar saja, kamu gak mau"
"Bukannya gak mau Sa, aku 'kan harus antar Ayra kuliah juga. Dia tidak bisa membawa mobil, lagian kalau pun bisa tidak mungkin karena dia sedang hamil. Aku gak mau apa yang terjadi padamu dulu, terulang pada Ayra"
Saqila yang kecelakaan saat mengendari mobilnya sendirian dalam keadaan hamil muda. Hingga kecelakaan itu terjadi dan membuat dirinya keguguran sampai harus kehilangan rahimnya.
"Yaudah deh, kamu antar saja Ayra. Aku bisa sendiri" Saqila memalingkan wajahnya dengan kesal. Dia mulai merasa jika kedudukannya mulai tergeser oleh Ayra. Bahkan suaminya lebih mementingkan istri keduanya daripada dia.
"Emm. Tuan, tidak papa Tuan antar saja dulu Nyonya ke perusahaannya. Saya bisa naik taxi online saja" Tentu Ayra merasa tidak enak pada Saqila. Perdebatan suami istri di depannya ini menyangkut dengan dirinya. Ayra merasa menghancurkan keharmonisan keluarga ini, dengan kehadirannya dalam keluarga ini.
"Tapi Ay..."
"Tidak papa Tuan, kasihan Nyonya. Lagian Nyonya baru kembali, pasti dia ingin berdua bersama Tuan"
"Begini saja, aku akan mengantarkan Saqila dulu. Kamu tunggu disini dan aku akan menjemputmu untuk mengantar kuliah"
"Tidak papa Tuan, saya beneran bisa naik taxi online saja. Tuan antarkan saja Nyonya"
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga.. kasih bintang rate 5 ya..
Yuk mampir di karya temanku.. Ceritanya bagus ..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Dara Muhtar
Udah mulai jahat kaann Saqila
2023-02-03
0
suharwati jeni
mending balik ke apt aja, ay
2023-01-15
1
uyhull01
emng sngaja kyanya Saqila ini,
2022-12-20
0