Dua hari ini Ayra benar-benar pergi dan pulang dari kampus dengan taxi online. Dia merasa biasa saja karena memang biasanya juga dia menggunakan angkutan umum atau bahkan ojek. Tapi, hal ini tidak biasa bagi Aiden. Satu bulan lebih hidup bersama istri keduanya membuat Aiden merasakan hal berbeda. Ada kenyamanan tersendiri dalam hatinya. Di saat kebiasaannya mengantarkan Ayra dan juga menjemputnya. Dan dua hari ini dia tidak melakukannya, justru terasa ada yang berbeda.
Aiden masuk ke dalam apartemennya, setelah seharian penuh berkutat dengan pekerjaan di kantor. Ayra sudah menyambutnya dengan senyuman manis. Entahlah senyuman yang mampu membuat Aiden sedikit rindu. Hah.. Rindu? Benarkah?
"Sudah pulang Tuan" Seperti biasa Ayra yang selalu mencium punggung tangannya setiap dia akan pergi atau baru saja sampai di rumah. Hal itu selalu membuat Aiden merasakan getaran berbeda dalam hatinya.
Aiden mengelus kepala Ayra dengan senyuman tipis di bibirnya. "Bagaimana hari ini?"
"Baik-baik saja seperti biasanya"
Aiden mengangguk mengrti, dia lalu berjalan menuju sofa bed di ruang tengah. Terlihat beberapa buku berserakan di atas meja dan lantai. Aiden menatap Ayra sekilas. "Kau sedang mengerjakan tugas"
Ayra menghampiri suaminya dan duduk di sampingnya. "Iya Tuan... Em.. Kalau boleh saya mau pinjam laptop Tuan, saya belum sempat ke warnet untuk mengerjakan tugas saya"
Warnet? Tempat penyelewaan komputer itu masih sering digunakan oleh Ayra. Istrinya bahkan tidak mempunyai laptop sendiri untuk kebutuhan dalam mengerjakan tugas kuliah. Di jaman sekarang ini, Aiden merasa tidak percaya karena masih ada yang menggunakan warnet untuk mengerjakan tugas.
"Kau tidak mempunyai laptop sendiri?"
Ayra menggeleng "Tidak Tuan, saya suka pergi saja ke warnet jika ada tugas. Tapi saat ini gak keburu"
"Yaudah sekarang kau pakai saja punyaku, besok aku akan belikan yang baru untukmu"
"Emm. Tidak perlu Tuan, saya masih bisa pergi ke...."
"Aku memberimu uang tiap bulan, kenapa kau tidak bilang kalau kau tidak mempunyai laptop"
"Jatah bulanan yang Tuan berikan sudah lebih dari cukup untuk saya. Tapi saya...."
"Apa? Kau tidak sedang malu karena meminta barang padaku. Ya ampun Ayra, kau itu istriku. Kau bisa menikmati semua fasilitas yang aku punya"
Ayra tahu itu, tapi dia hanya tidak enak hati saja. Bagaimana pun dirinya hanyalah sebatas istri bayaran untuk bisa melahirkan seorang anak. Bukan istri sah yang benar-benar di cintai oleh suaminya. Yang dicintai Aiden adalah Saqila bukan dirinya.
"Sudahlah, kau tidak perlu banyak berfikir"
Aiden berdiri dan berlalu ke kamarnya, selama ini dia masih di kamar yang terpisah dari Ayra. Hanya jika dia sedang menunaikan kewajibannya saja maka dia selalu tidur bersama Ayra di kamarnya.
Malam ini Ayra hanya di sibukan dengan tugasnya yang belum juga selesai. Hingga dia tertidur sendirinya di atas meja di ruang tengah. Dengan kedua tangan yang menjadi tumpuan kepalanya. Ayra terlelap tanpa sadar karena sudah terlalu lelah mengerjakan semua tugas yang menumpuk.
Hampir tengah malam, Aiden keluar dari kamarnya karena merasa haus. Dia mengambil minum dari dapur. Saat dia baru saja akan kembali ke kamarnya. Aiden tidak sengaja melihat Ayra yang ketiduran di ruang tengah. Aiden segera menghampirinya.
Dia ketiduran ya..
Aiden merapikan anak rambut Ayra yang menutupi sebagian wajahnya. Gadis ini manis dengan hidung mungil dan bibir ranum yang dia miliki. Aiden membereskan buku-buku yang berserakan dan menutup laptop yang masih menyala. Lalu dia menggendong istrinya dan membawanya ke kamar. Menidurkan Ayra di atas tempat tidur dengan perlahan, lalu menarik selimut sampai ke dadanya. Ini naluri atau apa, tapi tiba-tiba saja Aiden mengecup kening Ayra.
"Selamat malam Ay"
Aiden keluar dari kamar Ayra, setelah pintu kamar tertutup Ayra membuka matanya. Dia merasakan kecupan suaminya yang terasa begitu hangat. Ayra mengeluarkan tangannya dari dalam selimut dan memegangi keningnya. Hangat dan kenyal bibir Aiden masih terasa menempel di keningnya. Apa artinya ini? Tidak.. Ayra tidak boleh berharap lebih jauh daripada ini.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Ayra menatap pantulan dirinya du cermin. Dua bulan sudah berlalu sejak kepergian Saqila. Dan usia kandungannya pun sudah hampir dua bulan. Perutnya masih rata, belum terlihat dengan jelas. Tapi bagian bawah perutnya sudah mulai mengencang. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan untuk Ayra. Dia pasti harus pergi sendiri. Tapi bagaimana cara meminta izin pada Aiden. Atau masih sama seperti sebelumnya, berbohong jika ada kelas tambahan saja. Entahlah Ayra masih bingung untuk mencari alasan pada Aiden agar dia tidak menjemputnya hari ini.
Ayra terperanjat kaget saat tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya. Ayra tidak menyadari jika Aiden telah masuk ke kamarnya. Apalagi dia belum mengancingkan kemejanya. Tentu saja perutnya masih terlihat jelas. Aiden mengelus perut Ayra membuat jantungnya berdebar kencang. Takut jika Aiden menyadari kehamilan yang masih dia sembunyikan itu.
"Apa benihku belum tumbuh?"
Deg..
Ayra menegang, dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin jika dia harus memberi tahu Aiden sekarang. Dia belum siap. Ayra masih butuh waktu untuk mempertahankan hubungan ini. Takut jika dia tidak akan siap untuk meninggalkan anaknya untuk Aiden.
"Emm. Mu-mungkin belum Tuan, karena tidak semudah itu untuk bisa cepat hamil"
Aiden menyandarkan dagunya di bahu Ayra. Bersama gadis ini selama dua bulan lebih, cukup membuatnya nyaman. Bahkan Aiden seolah lupa dengan istrinya yang hilang. Dia hanya menunggu kabar dari orang-orang yang dia suruh untuk mencari istri pertamanya itu.
"Emm. Baiklah aku akan berusaha keras untuk bisa segera membuatmu hamil. Aku sudah tidak sabar untuk memiliki anak"
Ya, karena hanya itu yang dia harapkan dariku.
Ayra harus kembali tersadar pada dunia nyata. Semua perhatian yang Aiden berikan padanya hanya sebatas untuk segera mewujudkan keinginannya itu. Memiliki anak dari Ayra.
"Emm. Tuan, apa Nyonya sudah ada kabar?"
Setiap kali membahas soal anak, Ayra selalu mengalihkan pembicaraan dengan membahas keberadaan Saqila yang belum di ketahui sampai sekarang. Namun, Ayra merasa heran karena suaminya masih terlihat tenang saat sang istri tercinta tidak kunjung kembali sampai saat ini.
"Aku belum tahu dimana dia, orang-orang suruhanku tidak menemukannya dan tidak bisa melacaknya. Tapi Rega memastikan ku jika Saqila hanya ingin menyendiri saja untuk beberapa waktu lalu"
"Tuan, apa Nyonya sudah mengetahui tentang pernikahan kita?"
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya sudah. Mungkin alasan dia pergi juga karena sudah mengetahui tentang kita. Tapi kau tenang saja, karena aku akan menjelaskan semuanya pada Saqila agar dia tidak salah faham lagi"
Menjelaskan? Apa maksudnya menjelaskan? Apa mungkin Aiden akan memberi tahu Saqila jika dia kembali nanti, kalau Ayra hanyalah sebatas istri bayaran untuk alat melahirkan anaknya. Ayra membayangkannya saja sudah membuatnya takut. Dia takut untuk berhadapan dengan Saqila suatu saat nanti. Bagaimama reaksi Nyonya Saqila jika tahu dirinyalah yang telah menjadi istri simpanan suaminya.
Kenapa jadi semakin rumit.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya..
Yuk mampir juga di karya temanku ini..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Dara Muhtar
kenapa sihh Ayra menyembunyikan kehamilannya dari Aiden...
2023-02-03
0
suharwati jeni
apa tujuan ayra menembunyikan kehamilannya pada ayden?
2023-01-15
0
Sri Wahyuni
ayra kmu knp blm blng sm s aiden lgi hmil apa nunggu ada celaka dlu kluar darah baru blng lg hmil
2023-01-14
0