Seminggu sudah pernikahan di atas perjanjian ini. Ayra pulang ke rumah Ibunya di akhir pekan. Memberikan cerita paling menyenangkan pada Ibunya agar dia senang. Ayra tidak bisa untuk menginap di rumah Ibunya meski sebenarnya dia sangat ingin semalam saja bersama Ibu. Tapi, mengingat kondisi Aiden yang masih kehilangan istrinya membuat Ayra tidak mungkin untuk tidak kembali ke apartemen. Karena sejak Saqila hilang, maka Aiden menetap di apartemen bersamanya. Mungkin dia tidak ingin pulang ke rumah karena memang rumah itu selalu menjadi kenangan bersama Saqila.
Akhirnya sore hari Ayra baru pulang ke apartemen. Aiden sudah menunggunya di ruang tengah. Dia memang sangat ingin mengantar dan menjemput Ayra untuk pergi menjenguk Ibunya. Tapi, Ayra menolaknya karena tidak mau membuat Ibu curiga. Saat ini mereka masih menyembunyikan tentang pernikahan ini.
"Tuan sudah makan?" tanya Ayra, dia duduk di sofa sambil menyimpan tas selempangnya di atas meja.
"Belum, aku menunggumu pulang. Kenapa lama sekali?"
Aku bahkan ingin menginap, jika dia tidak ada disini.
"Maaf, aku terlalu senang mengobrol dengan Ibu sampai tidak sadar jika waktu sudah sore" Padahal aku sangat ingin menginap karena masih terlalu rindu pada Ibu.
"Aku sendirian di apartemen, menunggumu pulang sampai kelaparan seperti ini"
Ish. Kenapa dia seolah menyalahkan aku. Ya kalau lapar tinggal makan saja, kenapa harus menungguku dulu? Ribet amat hidupnya.
"Baiklah, sekarang mau di masakan apa?"
Aiden menoleh ke arah Ayra, sedikit tersenyum tipis yang hampir tidak terlihat. "Masak apa saja, yang penting kau yang masak"
Hah? Apa? Mungkinkah dia menyukai masakan ku. Syukurlah kalau dia suka.
"Baiklah, tunggu sebentar ya"
Ayra pun segera ke dapur untuk memasak makanan untuk suaminya. Semnetara Aiden hanya memperhatikan gerak Ayra dari ruang tengah. Menatap gadis itu dengan lekat. Entah kenapa ucapan Rega beberapa waktu lalu membuatnya terus teringat sampai saat ini.
"Kau tidak sedang jatuh cinta lagi 'kan?"
Aiden sedang tidak jatuh cinta lagi, tidak mungkin dia jatuh cinta pada gadis itu. Gadis yang dia bayar hanya untuk melahirkan seorang anak untuknya. Aiden hanya mencintai Saqila dan dia yakin akan hal itu. Hatinya tidak mungkin goyah dengan waktu sesingkat ini.
"Makanannya sudah siap Tuan"
Aiden menoleh saat suara Ayra menyadarkannya dari lamunan. Gadis itu sedang menata makanan di atas meja makan. Aiden segera menghampirinya dan mereka pun kembali makan bersama dalam keheningan.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Satu bulan berlalu sejak kepergian Saqila yang tidak ada kabarnya sampai saat ini. Hubungan Ayra dan Aiden pun masih sama, melakukan hubungan hampir setiap malam hanya untuk segera mendapat anak. Tapi berbedanya, sejak saat itu Aiden jadi tidur bersama Ayra. Mau dia melakukannya atau tidak pun, dia tetap tidur di kamar Ayra. Bersama dengan istri keduanya itu. Aiden seolah mendapatkan kenyamanan yang tidak dia dapatkan dari Saqila.
Malam ini setelah selesai melakukannya, Aiden memeluk tubuh Ayra dari belakang. Menciumi punggung istrinya yang polos tanpa busana.
"Terimakasih Ay sudah melayaniku dengan baik" Aiden mengelus perut istrinya. "...Semoga anak kita akan segera hadir dalam perutmu ini"
Ayra tersenyum lirih, dia memang menginginkan kehadiran anak di antara mereka. Tapi secepatnya dia hamil, maka waktunya semakin sebentar untuk bisa merasakan ini bersama Aiden. Ayra tidak bisa membohongi hatinya, satu bulan lebih selalu bersama suaminya ini telah membuatnya jatuh cinta. Ayra merasakan kenyamanan pada suaminya. Apalagi dengan seringnya mereka melakukan hal itu. Ayra jatuh cinta pada sikap lembut Aiden saat melakukan hal itu padanya. Dia tidak berbuat kasar, hanya satu kali saja dia berlaku kasar saat melakukannya. Yaitu saat dia kehilangan Saqila.
"Iya Tuan semoga saja"
Jujur Ayra takut dengan kehamilan yang akan datang. Karena jika pada kebanyakan orang, kehadiran seorang anak adalah penguat hubungan mereka. Tapi berbeda dengan Ayra. Kehadiran anak adalah pemisah dirinya dan Aiden. Karena pernikahan ini akan berakhir setelah kelahiran anak mereka.
Ayra merasakan hembusan nafas hangat Aiden di belakangnya. Mungkin pria itu telah terlelap dengan tangan yang masih memeluknya. Ayra mengangkat perlahan tangan Aiden yang berada di perutnya. Lalu dia berbalik menjadi menghadap suaminya itu. Wajah tampan dengan hidung mancung dan bulu mata yang lentik. Aiden memang lelaki tampan yang tidak mungkin jika Ayra mengatakan tidak menyukainya. Tapi rasa ini tidak hanya sekedar menyukai, Ayra telah jatuh cinta pada Aiden. Meski dia sudah berusaha menahan hatinya untuk tidak jatuh cinta pada suami sementara dalam hidupnya ini. Tapi, kebaikan Aiden dan segala perhatian kecil yang di berikan suaminya padanya, berhasil membuat hati Ayra goyah juga.
Pagi ini Ayra terbangun karena merasa terganggu dengan sesuatu yang mengusik tidurnya. Saat Ayra membuka matanya, ternyata suaminya sudah berada di atas tubuhnya dan sedang menciumi leher dan bagian dadanya yang memang masih polos. Karena semalam Ayra langsung tertidur tanpa memakai lagi pakaiannya.
"Tuan"
Aiden mendongakan wajahnya saat dia sedang fokus dengan leher Ayra. Memberikan tanda kepemilikan di beberapa bagian. "Kebanguh ya Ay, maaf aku mengganggu tidurmu"
"Tidak papa Tuan, ini memang sudah waktunya bangun" Tapi kenapa Tuan malah berada di atasku seperti ini. Ini sudah pagi, jangan lagi.
"Sekali lagi ya Ay, aku sudah tidak tahan"
Benar dugaan Ayra, tidak mungkin Aiden berada di atasnya dan terus menciumi leher dan dadanya jika dia tidak menginginkannya lagi. Ayra ingin menolak, tapi dia tidak berani karena ini adalah kewajibannya dan sudah ada dalam perjanjian pernikahan mereka. Ini adalah bentuk tugasnya agar bisa segera mendapatkan anak untuk Aiden.
"Sudah pagi Tuan, saya harus kuliah"
"Aku akan mengantarmu, lagian ini tidak akan lama. Hanya sebentar"
"Tapi saya harus membuat sarapan juga" Ayolah semalam sudah selama itu, masa masih di lanjutkan di pagi hari. Aku lelah.
"Kita pesan saja, jadi kau tidak perlu memasak sarapan"
Akhirnya Ayra tidak bisa lagi mencari alasan lain. Dia hanya bisa pasrah saat Aiden memulai aksinya di pagi hari ini.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Ayra keluar dari kamarnya setelah dia bersiap untuk kuliah. Aiden sudah menunggunya di meja makan untuk sarapan. Ayra benar-benar tidak memasak, karena dia benar-benar kelelahan dan waktu yang tidak akan cukup jika dia memasak sarapan. Dia akan terlambat ke kampus. Janji Aiden yang hanya sebentar, nyatanya sebentar dalam artian satu jam lebih. Bagaimana Ayra bisa mengatakan itu adalah sebentar.
"Makan dulu Ay, aku sudah siapkan"
Ayra berjalan ke meja makan, merasa tidak enak karena malah suaminya yang menyiapkan sarapan untuknya. "Maaf Tuan karena malah Tuan yang menyiapkan sarapan untuk saya"
"Tidak papa, sesekali tidak papa menyiapkan sarapan untuk istriku. Lagian aku hanya menyiapkan ke atas piring saja. Tidak memasak dulu sepertimu"
Ayra tersenyum, istriku? Lagi-lagi kata itu bagaikan kata semu untuk Ayra. Benarkan Aiden menganggapnya sebagai istri. Atau hanya sebatas istri bayaran untuk melahirkan anak saja.
"Ayo makan"
"I-iya Tuan"
Bersambung
like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..
Yuk mampir di karya temanku nih..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Dara Muhtar
Saqila kemana yahh...lama² aja ilangnya biar Aiden sama Ayra merasa nyaman 😜
2023-02-02
0
suharwati jeni
jaga hatimu ayra.
nti kamu sakit
2023-01-15
0
uyhull01
seiring berjalannya waktu ya pasti ada rasa nyaman lah,
2022-12-19
0