Ayra mematung di ambang pintu kamar mandi saat melihat Aiden yang sedang memandangi benda kecil di tangannya. Benda yang susah payah Ayra sembunyikan selama ini. Entah kenapa tiba-tiba Aiden membuka lemari pakaiannya.
"Tu-Tuan"
Aiden menoleh dan menatap dingin pada Ayra. Dia mengangkat benda di tangannya, seolah menunjukan pada istrinya jika dia sudah mengetahui kebohongannya. "Apa ini?"
Ayra melangkah mundur saat Aiden terus melangkah mendekat ke arahnya. Hingga Ayra terhenti di dinding, Aiden mengungkung tubuhnya. Menatap dingin padanya. "Kenapa kau berbohong jika kau sudah hamil?"
"Ak-Aku...."
"Kau mau mengingkari janji yang telah kita sepakati? Ohh.. Pantas saja tingkahmu akhir-akhir ini sangat aneh. Ternyata kau sedang menyembunyikan kehamilanmu ini"
Ayra menunduk, tangannya memegang perutnya seolah melindungi anak dalam kandungannya itu. Aiden mencengkram dagunya, mengangkat wajah Ayra agar menatap ke arahnya. "Ternyata kau sama saja dengan wanita yang lain, hanya ingin uangku dan tidak mau menepati janjimu. Kau tidak lebih dari wanita panggilan! Yang hanya menginginkan uangku"
Deg...
Ayra tidak bisa lagi menahan laju air matanya. Ya, dia memang menganggap dirinya tak beda dari wanita panggilan. Tapi, mendengar kalimat itu yang keluar dari mulut suaminya benar-benar membuat hatinya terluka.
Aiden menghempaskan dagu Ayra dengan kasar. Dia sangat kecewa dengan wanitanya ini. Kehamilan ini adalah yang paling di harapkan oleh Aiden. Tapi kenapa Ayra malah menyembunyikannya. Aiden tidak habis fikir dengan itu. Apa uang yang dia berikan padanya kurang, sampai dia tidak mau memberi tahukan tentang kehamilannya ini.
"Tuan...."
"Apa? Sekarang kau mau mengelak apalagi? Kau memang hanya menginginkan uangku saja. Kau hanya wanita....."
"Cukup Tuan!" Ayra berteriak dengan menatap wajah Aiden dengan mata basahnya. "...Saya melakukan ini karena saya juga seorang Ibu. Saya menyayangi anak ini. Tapi... Hiks.. Perjanjian itu telah membuat saya bimbang. Saya harus menyerahkan anak ini setelah dia lahir. Biarkan anak ini bahagia bersama Tuan. Lalu saya bagaimana? Saya tidak akan baik-baik saja saat harus berpisah dengan anak saya. Ya, saya menyesal karena telah menyetujui perjanjian itu. Nyatanya saya menginginkan anak ini juga. Saya juga menyayanginya"
Ayra terduduk di atas lantai dengan tangis yang semakin kencang. Ya, itu yang dia rasakan. Ayra bimbang antara harus ikhlas menyerahkan anak ini pada Aiden atau dia bersikap egois karena dia juga menginginkan anak ini. Ayra tetap seorang Ibu, berapapun usianya sekarang. Namun, naluri seorang Ibu yang sedang mengandung anaknya tetap akan merasakan hal yang sama. Dia menyayangi anak ini, dia juga menginginkannaya. Lalu, apa dia akan siap jika harus menyerahkan anaknya ini pada Aiden dan dia kembali melanjutkan hidup dengan baik. Tidak.. Hidupnya tidak akan baik-baik saja sejak hari itu.
Aiden berlutut di lantai dan memeluk Ayra yang menangis tersedu-sedu. Mencium puncak kepalanya beberapa kali. Aiden tidak bisa melihat gadis ini menangis. Aiden lemah saat melihat air mata Ayra. "Maaf, maafkan aku. Aku yang terlalu egois tanpa memikirkan perasaanmu. Maafkan aku Ay"
Tangisan Ayra semakin kencang, dia semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia menangis di pelukan Aiden sampai dia kelelahan dan tertidur di pelukan suaminya. Aiden membawanya ke kamar, menidurkan Ayra di atas tempat tidur dan menyelimutinya yang masih memakai jubah mandi.
Cup... Aiden memberikan kecupan hangat di kening istrinya. "Istirahat lah, aku tahu kau lelah dengan semua ini"
Aiden pun keluar dari kamar Ayra. Dia berjalan menuju kamarnya, masuk ke arah balkon kamar. Berdiri disana dengan rokok di tangannya. Aiden bukan pecandu, tapi jika setres seperti ini maka dia selalu melampiaskan nya dengan menghisap rokok. Aiden tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia tidak bisa meninggalkan Saqila, meski sekarang istrinya itu pergi. Tapi Aiden yakin jika istrinya akan kembali. Di sisi lain, Aiden juga merasa kasihan pada Ayra. Aiden tidak bisa membiarkan dia menangis karena harus menyerahkan bayinya pada Aiden. Melihat air matanya saja Aiden sudah tidak bisa. Aiden bingung harus bagaimana. Kini dia terjebak dalam dua pilihan yang sulit. Ada dua hati yang harus dia jaga sekaligus.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Ayra terbangun dengan kepala yang sedikit berat. Dia mengerjap saat merasakan ada yang memeluknya. Ayra sedikit menoleh dan ternyata suaminya terlelap di belakang tubuhnya sambil memeluknya. Ayra kembali mengingatkan pertengkarannya tadi. Memang tidak seharusnya Ayra melanggar perjanjian itu. Dia sudah mendapatkan banyak keuntungan dari perjanjian itu. Meski sakit, Ayra tetap harus menyerahkan bayinya pada Aiden. Karena itulah perjanjiannya. Ini adalah takdirnya, dan Ayra harus menerimanya. Ini juga adalah pilihannya sendiri.
Tangannya mengelus perutnya, Ayra ingin berteriak kencang jika dia juga menginginkan bayinya. Tapi, keadaan tidak mendukungnya. Perjanjian yang telah terlanjur dia sepakati tidak mungkin bisa berubah. Ayra sudah mendapatkan segala keuntungan dalam hidupnya dari perjanjian itu. Lalu, apa dia masih harus egois karena ini. Ayra sedang mencoba meyakinkan dirinya, jika bayi ini akan lebih bahagia jika hidup bersama Aiden.
Maafkan Bunda Nak, Bunda tidak bisa bersamamu selamanya. Bunda hanya akan menikmati masa ini, masa kamu bersama Bunda di dalam perut Bunda. Percayalah, Ayahmu akan lebih membuat hidupmu bahagia.
Hiks..Hiks..
Tangisan pilu itu kembali pecah, Ayra tidak bisa egois. Dia telah mendapatkan semua keuntungannya dalam perjanjian ini. Tidak mungkin dia tidak memberikan apa yang sudah dia janjikan dalam perjanjian ini. Aiden juga berhak mendapatkan apa yang telah dia janjikan di dalam perjanjian.
"Ay, kenapa?" Aiden terbangun saat mendengar isakan Ayra. Dia melihat istrinya yang sedang menangis.
"Tidak papa" Ayra memalingkan wajahnya dan segera menghapus air matanya. Setelahnya dia segera bangun dan berjalan ke ruang ganti untuk memakain pakaiannya karena dirinya masih memakai jubah mandi.
Menutup pintu ruang ganti, Ayra menyandar di pintu dengan tangisan yang kembali pecah. Tubuhnya menurun ke bawah seiring air mata yang mengalir. Ayra duduk di lantai dengan tangis yang tak lagi bisa dia tahan.
Maafkan Ayra Bu, maafkan Bunda Nak. Tuhan.. Aku benar-benar tidak bisa menjadi anak yang baik dan juga Ibu yang baik.
Ayra hanya tidak bisa menolak, ini adalah takdir dan hidup yang telah dia pilih. Jadi biarkan saja Ayra menerima semuanya tanpa harus menyesalinya. Saat ini Ayra hanya ingin menikmati masa ini, masa dimana bayinya masih bersama dengannya.
Setelah cukup lama menghentikan tangisannya. Ayra sudah selesai memakai pakaiannya. Dia keluar dari ruang ganti dan menatap suaminya yang duduk di pinggir tempat tidur. Aiden menatap Ayra dengan lekat.
"Ayo bicara sebentar Ay, kita harus membicarakan semua ini"
"Tidak perlu Tuan, Saya sudah yakin dengan keputusan saya. Ambilah anak ini nanti, dan rawatlah dia dengan kasih sayang. Buatlah dia bahagia"
Deg...
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..
Ada karya temanku lagi nih.. Yuk mampir, ceritanya bagus..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Dara Muhtar
Pasti kamu sama Tuan Aiden dengan anakmu akan hidup bahagia Ayra.... jangan khawatir
2023-02-03
0
uyhull01
nah kan ktauan juga sama Aiden,
lgian ibu mna yng rela anaknya di pisahkan,
2022-12-20
0
Siti Istikomah
lanjuuut
2022-11-26
0