Sampai di apartemen Rista segera mandi, lalu mulai menyiapkan masakan untuk makan malam. Aiden duduk di sofa kursi meja makan dengan sesekali melirik ke arah istrinya yang sedang sibuk dengan masakan di dalam wajan. Entahlah, Aiden merasa nyaman saja sekarang. Meski fikirannya masih memikirkan Saqila yang hilang. Tapi, entah kenapa dia malah merasa nyaman bersama istri keduanya ini.
Aiden menggeleng pelan mengusir fikiran yang ada di kepalanya. Bagaimana bisa dia malah merasa kenyamanan lebih saat bersama istri bayarannya. Sementara istri pertamanya sedang hilang entah dimana. Aiden merasa dirinya terlalu naif karena melupakan istri pertamanya yang jelas-jelas sudah bersamanya dengannya selama ini, hanya karena wanita baru yang baru saja hadir dalam hidupnya.
"Tuan, ini makanannya. Maaf menunggu lama" Ayra menata masakannya di atas meja makan. Aiden yang sedang melamun itu pun langsung tersadar dan mengangguk saja menanggapi ucapan Ayra. Memperhatikan gadis itu mengambilkan makanan untuknya. Gadis itu tidak cantik, hanya saja dia memiliki senyum yang manis dengan gigi gingsul yang dia miliki.
"Ini Tuan, selamat makan" Ayra tersenyum manis padanya. Membuat Aiden langsung memalingkan wajahnya. Dia tidak bisa terlalu lama menatap senyuman itu. Aiden tidak ingin terjebak dengan perjanjian yang dia buat sendiri. Aiden masih ingin mempertahankan pernikahannya bersama Saqila. Tidak mau perjuangannya selama 3 tahun ini harus kandas karena kesalahannya.
"Terimakasih"
Mereka pun makan malam dengan tenang.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Pagi ini Ayra sedikit takut untuk berangkat kuliah. Takut jika kejadian kemarin akan tersebar luas di kampusnya. Bagaimana Ayra bisa menjelaskan akanhal itu jika ada yang bertanya padanya.
"Kau kenapa?" tanya Aiden saat melihat istrinya gelisah.
Ayra menoleh ke arah suaminya yang sedang mengemudi itu. "Tidak papa Tuan"
Aiden masih fokus pada kemudinya, tidak sedikit pun menoleh ke arah Ayra. "Apa kau takut dengan kejadian kemarin? Kau tenang saja, jika kedua temanmu itu berani membocorkan kejadian kemarin dan menyebarkan gosip tidak benar tentangmu. Maka kau hanya perlu memberitahu aku, akan aku berikan pelajaran pada mereka"
Ayra hanya mengangguk, dia tahu siapa suaminya. Aiden Narendra, dia pria kaya yang memiliki perusahaan cukup besar di kota ini. Dia mungkin bisa melakukan apa saja jika hidupnya terganggu. Tapi situasinya berbeda, bagaimana bisa Ayra menceritakan semuanya pada Aiden jika memang dirinya tidak seberani itu padanya. Aiden hanya orang kaya yang memberinya kehidupan yang berbeda. Sosok baik yang membantu Ayra dalam kesulitan ekonomi dalam hidupnya. Ayra hanya bersyukur karena dia tidak lagi melihat Ibunya bingung dan terus bekerja keras hanya demi biaya kuliahnya. Ayra hanya ingin menghentikan penderitaan Ibunya.
Sampai di kampus, Ayra berjalan pelan menyusuri lorong kampus. Dia berjalan dengan menundukan wajahnya, dia takut jika banyak orang-orang yang akan menanyakan soal kejadian kemarin. Tapi hingga sampai di kelas, Ayra tidak mendapatkan pertanyaan yang dia takutkan itu. Apa mungkin jika kedua seniornya memang benar-benar menepati janjinya pada Aiden. Mungkin karena pesona dan kekuasaan suaminya yang membuat mereka takut jika harus mengingkari janjinya. Sejenak Ayra merasa beruntung memiliki Aiden di saat seperti ini. Bagaimana seniornya saja bisa dia taklukan begitu saja. Senior yang selama ini selalu mengganggu Ayra.
"Pagi Ay"
Sapaan sahabatnya yang sudah duduk di bangkunya membuat Ayra tersenyum. "Pagi juga Tami"
Ternyata memang tidak ada yang tahu tentang kejadian kemarin. Bahkan Ayra tidak mendapatkan pertanyaan yang dia takutkan dari teman kuliahnya. Tapi ternyata ketakutannya itu tidak terbukti. Suaminya benar-benar telah merubah kehidupan Ayra sehingga dia bisa menjalankan kuliah dengan tenang setelah kejadian kemarin.
Sementara disisi lain ada dua senior Ayra yang sedang menatap ponselnya dengan tangan gemetar. Pesan yang baru saja masuk dari nomor yang tidak dia kenal, benar-benar membuat keduanya ketakutan bukan main.
Tepati janjimu kemarin, jika kau berani mengganggu Ayra. Maka habislah masa depanmu dan keluargamu. Ingat! Kelanjutan perusahaan Ayahmu ada ditanganku!
Keduanya mendapatkan pesan dengan isi yang sama. Saat mereka mencoba menghubungi nomor posel itu, namun nomornya sudah tidak lagi aktif. Ini hanya nomor yang di pakai sekali saja. Hanya untuk mengirimkan ancaman untuk mereka.
"Sial, dia pasti suruhannya Tuan Aiden. Ayolah kita diam saja, jangan membuat masalah lagi"
Akhirnya kesepakatan itu yang keduanya ambil. Tidak mau hidupnya hancur, apalagi ancaman itu sudah menuju pada keluarganya juga.
Di tempat yang berbeda, Rega sedang menatap atasannya dengan bingung. Kenapa Aiden sampai melakukan ini hanya karena ingin istri keduanya tenang dalam menjalani kuliahnya. Membeli kartu baru hanya untuk meneror kedua senior yang telah membuat Ayra tersiksa kemarin dan takut berangkat kuliah hari ini.
"Kau tidak sedang jatuh cinta lagi 'kan?"
Aiden langsung menatap asisten sekaligus sahabatnya itu. Tidak mungkin dia jatuh cinta lagi. Dalam hidupnya dia hanya akan jatuh cinta sekali, yaitu pada Saqila.
"Ya, aku tahu jika prinsip hidupmu hanya ingin jatuh cinta sekali saja. Tapi, apa kau bisa mengatur perasaan dan hatimu itu. Aku tidak percaya jika kau mengatakan jika kau tidak jatuh cinta pada gadis itu. Kau terlihat berbeda setelah bersamanya"
"Tidak, aku tidak mungkin jatuh cinta lagi selain pada Saqila. Aku hanya kasihan saja padanya. Lagian selama dia terikat perjanjian denganku, tidak mungkin kalau aku tidak memberikan sedikit saja perhatianku padanya"
Rega menyipitkan matanya, menatap Aiden dengan lekat. Seolah dia sedang sangat tidak percaya dengan omongan Aiden. "Kau yakin? Aku rasa kau sudah terjebak dengan perjanjian yang kau buat sendiri"
"Sudahlah, kenapa kau malah membahas hal tidak jelas seperti itu. Aku menyuruhmu kesini untuk menanyakan tentang kabar Saqila" Prioritas utamanya masih Saqila, Aiden tidak mau menjadi pria kejam yang melupakan istri pertamanya yang sedang hilang entah kemana hanya karena kehadiran wanita baru dalam hidupnya.
"Belum ada petunjuk apapun tentang Nyonya. Jadi, kau hanya perlu bersabar saja. Apa kau sudah mencoba menghubungi orang tuanya?"
"Sudah, dia tidak ada disana. Tapi aku tidak langsung menanyakan keberadaan Saqila, karena takut jika orang tuanya akan ikut khawatir dengan keadaan putrinya yang hilang. Dan memang Saqila tidak ada disana"
Rega mengangguk mengerti, dia terlihat santai dengan kehilangan Nyonya dari sahabatnya ini. Rega seolah tidak mengkhawatirkan Saqila. Entah apa yang membuatnya bisa bersikap santai seperti itu dengan kepergian Saqila yang tidak tahu kemana. Apa mungkin Rega mengetahui sesuatu tentang Saqila yang tidak di ketahui oleh Aiden? Entahlah.
"Tunggu saja, aku yakin istrimu bukan hilang. Dia hanya pergi untuk dirinya sendiri, dia akan kembali setelah di puas dengan kehidupannya sendiri"
Aiden cukup bingung dengan asistennya ini. Kenapa Rega terlihat begitu tenang dan selalu menyuruh hanya untuk menunggu istrinya kembali. Apa yang di katakan Rega seolah Saqila pergi hanya karena ingin punya waktu untuk dirinya sendiri.
"Lakukan saja apa yang aku katakan, percaya padaku!" Rega berdiri dan berlalu keluar dari ruangan Aiden.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..
Yuk mampir juga di karya temanku ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Dara Muhtar
Saqila kemana Rega...bikin penasaran aja
2023-02-02
0
suharwati jeni
Saqilakamu kenapa?
2023-01-15
0
uyhull01
woahhh ada apa d balik saqila??
2022-12-19
0