Ayra pulang ke apartemennya, suasana sepi. Tidak ada orang di dalam sana. Ayra masuk ke dalam kamarnya dan bersih-bersih, berendam sejenak dengan air hangat agar fikirannya lebih rileks. Bagaimana dengan Tuan Aiden ya? gumamnya. Ayra benar-benar tidak bisa fokus belajar karena terus memikirkan keadaan suaminya dan istri pertamanya. Ayra tahu bagaimana Aiden begitu mencintai Saqila. Sehingga dia bisa melihat sepanik apa suaminya saat berita itu beredar. Ayra mengelus perut ratanya dia dalam rendaman air hangat dalam batthup.
"Semoga segera hadir seorang anak dalam rahimku. Sehingga tugasku akan segera selesai" lirih Ayra pada dirinya sendiri.
Istri bayaranku.
Rahim bayaran.
Wanita pencetak anak.
Semua kata itu adalah panggilan paling cocok untuk dirinya saat ini. Gadis yang rela menjadikan rahimnya sebagai alat pencetak anak untuk Tuan Aiden yang telah menjanjikan uang dan segala kebutuhan hidupnya akan terjamin. Terlebih lagi karena Ibunya yang kini bisa tenang di rumah. Hanya menunggu warung saja. Tidak perlu lagi capek bekerja di rumah orang. Itu yang paling utama bagi Ayra.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Ayra hanya tiduran di atas tempat tidur. Bahkan untuk memasak makan malam saja, dia sangat malas karena suaminya yang tidak ada. Masak hanya untuk diri sendiri saja saat ini, malah membuat Ayra malas. Jadi dia tidak makan malam saja. Cukup menyibukkan dirinya dengan beberapa tugas kuliah yang belum selesai dia kerjakan.
"Pasti Tuan Aiden sekarang sedang mencoba membujuk Nyonya agar tidak percaya dengan berita yang beredar itu. Kasihan juga kalau sampai Nyonya tahu jika suaminya telah menikah lagi hanya untuk mendapatkan seorang anak, karena dirinya tidak bisa memberikan itu"
Tangannya fokus menulis dan membaca beberapa buku, tapi bibirnya malah terus bergumam tentang suaminya dan istri pertamanya. Ada rasa mengganjal di hatinya. Seolah Ayra tidak suka dengan posisinya yang hanya menjadi istri kedua. Tidak. Posisi itu masih terlalu baik daripada dirinya yang sebenernya hanya menjadi istri bayaran Tuan Aiden. Sebagai alat pencetak anak untuknya.
"Ayra..."
Teriakan itu membuat Ayra mengerjapkan matanya, dia seperti salah dengar sampai mendengar suara Aiden yang memanggil namanya. Sudah jelas jika suaminya berada di rumahnya bersama istri pertamanya.
"Ayra.."
Namun panggilan itu kembali terdengar, Ayra mulai yakin jika itu adalah suaminya yang kembali ke apartemen. Tapi kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi pada Aiden? Tidak mau semakin penasaran, Ayra segera berlari keluar dari kamarnya. Ternyata memang benar, suaminya kembali. Dia sedang duduk menyandar di atas sofa bed di ruang tengah. Kepalanya menyandar pasrah pada sandaran sofa dengan kedua kaki yang berselonjor di atas sofa bed. Bahkan pakaiannya masih sama dengan pakaian yang di pakainya tadi pagi, saat dia pergi untuk ke rumahnya.
Ayra berjalan mendekat pada suaminya itu. Dia bingung sendiri apa yang terjadi. Kenapa suaminya datang kembali ke apartemen, apa istri pertamanya sudah mengetahui tentang pernikahan mereka dan sangat marah hingga mengisir Aiden.
"Tuan" panggil Ayra pelan
Aiden membuka kedua matanya, dia menatap istri keduanya itu dengan tatapan sendu. Sungguh penampilan Aiden yang seperti ini membuat Ayra semakin bingung dan tidak tega juga. Kenapa sampai seperti ini keadaan suaminya. Sebenarnya apa yang telah terjadi?
Ayra mengerjap kaget saat tiba-tiba tangannya di tarik sehingga di terjajuh di pangkuan suaminya. Jantungnya sudah berdebar kencang, apalagi dengan posisi suaminya yang memeluknya dari belakang dengan terus mengecup leher dan bahunya. Ayra sedikit meringis saat kecupan kencang yang Aiden berikan di lehernya, menyisakan bekas kemerahan disana.
"Tu-Tuan" Ayra semakin bingung, suaminya hanya terus menciumnya dan memeluknya dari belakang. Tidak berbicara apapun.
"Layani aku sampai puas"
Deg..
Hanya itu yang di katakan suaminya, sebelum Ayra terkejut karena tiba-tiba Aiden menggendongnya. Membawanya ke kamar dan menidurkan Istrinya di atas tempat tidur. "Tu-Tuan.."
Ayra mulai merasa tidak nyaman saat melihat tatapan Aiden yang berbeda dari biasanya. Pria itu terlihat sangat bergairah, bahkan menarik celananya saja dengan sangat kasar. Aiden tidak seperti biasanya, dia selalu bersikap lembut saat melakukannya. Tapi malam ini berbeda, dia bahkan mencium Ayra dengan kasar.
Ayra mulai takut, dia tidak mengenali suaminya saat ini. Air mata mulai menetes begitu saja tanpa bisa dia tahan. Dengan perlahan Aiden benar-benar melakukannya lebih kasar dari biasanya. Pria itu memang sedang sangat kacau hingga dia tidak sadar telah melukai istri keduanya hanya karena permasalahan yang sedang dia hadapi saat ini.
"Tuan"
Aiden ambruk di samping Ayra setelah puas dengan kegiatannya. Mendengar suara lirih yang diiringi isak tangis itu, mulai membuat Aiden tersadar. Dia menoleh ka sampingnya, dimana istri keduanya masih terdiam di posisinya. Tidur melentang, menatap langit-langit kamar dengan matanya yang basah. Aiden mulai merasa bersalah karena melampiaskan semua kegelisahannya pada sang istri. Padahal Ayra belum tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
Aiden beringsut dan memeluk istrinya itu. Mencium pipi Ayra dengan lembut, dia benar-benar merasa bersalah pada istrinya itu. "Maaf"
Hiks..Hiks...
"Tu-Tuan, Ay hanya takut dengan perlakuan Tuan kali ini. Kenapa Tuan berubah menjadi kasar" lirih Ayra
"Maaf Ayra, aku benar-benar minta maaf. Aku sedang frustasi karena Saqila hilang, dia pergi dari rumah"
Ayra langsung menoleh ke arah suaminya yang masih memeluknya. Menatap wajah lelah dan frustasi itu. "Tuan, kenapa Nyonya bisa pergi? Apa mungkin Nyonya marah karena sudah tahu tentang pernikahan ini. Tuan, saya harus bagaimana?"
Aiden melepaskan pelukannya di tubuhnya Ayra, dia berbalik dan tidur terlentang dengan menatap langit-langit kamar. "Aku rasa tidak, karena kau ingat sendiri 'kan jika dia sempat menghubungiku sebelum aku melihat berita di tv. Aku rasa ada masalah lain yang membuat Saqila pergi"
Ya ampun, kenapa semuanya jadi seperti ini? Kasihan Tuan Aiden jika harus di tinggalkan oleh istri tercintanya. Dia terlihat sangat frustasi.
"Apa Tuan sudah mencoba mencarinya? Atau mungkin mencari ke keluarga Nyonya"
"Orang tuanya berada di luar sejak beberapa bulan yang lalu, aku belum sempat bertanya pada mereka"
"Coba saja Tuan tanyakan dulu, tapi jangan membuat mereka curiga dulu jika Nyonya pergi dari rumah. Takutnya, Nyonya memang tidak datang pada orang tuanya"
Aiden menoleh, dia kembali memeluk istrinya itu. Mencium bahunya yang polos. "Iya, akan aku coba"
Entah karena terlalu lelah seharian mencari keberadaan Saqila, tapi tetap tidak ketemu. Akhirnya Aiden terlelap dengan memeluk tubuh Ayra. Keduanya sama-sama bertubuh polos, tanpa sehelai benang yang menutupinya. Ayra juga ikut terlelap, berpelukan sampai pagi. Dan malam ini untuk petama kalinya Aiden tidur di kamarnya sampai pagi. Tidak bangun tengah malam dan pindah ke kamarnya.
Bersambung
Like komen di setiap chapter... Kasih hadiahnya dan votenya..
Ada karya temanku lagi nih..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Dara Muhtar
Udah mulai ada rasa nihh kayaknya Tuan Aiden
2023-02-02
1
suharwati jeni
ingat ayra jangan baper.
nti kamu sakit hati
2023-01-15
0
uyhull01
tanpa sadar kmu mulai memendam rasa Aiden,
2022-12-17
0