"Loh kenapa Bi? Apa Bibi tidak betah bekerja dengan saya?" tanya Saqila, sedikit terkejut saat mendengar permintaan pengunduran diri dari asisten rumah tangganya yang sudah cukup lama bekerja dengannya
"Tidak Nyonya, saya sangat senang bisa bekerja dengan Nyonya. Anda sangat baik pada saya dan putri saya. Hanya saja, putri saya sudah mendapatkan pekerjaan dan dia meminta saya untuk berhenti bekerja"
Saqila langsung menatap ke arah Ayra yang berada di samping Ibunya. "Loh Ay, dapat kerja dimana?"
Menjadi istri suamimu. Ingin sekali Ayra berteriak seperti itu. Tapi, dia tidak mungkin melakukannya. "Di perusahaan penerbit majalah remaja Bu"
Saqila mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Baiklah jika itu sudah keputusan kalian, aku tidak bisa melarang juga. Kalau begitu tunggu sebentar ya"
Saqila berdiri dan berjalan ke lantai atas, menuju kamarnya. Sementara Tuan Aiden yang sejak tadi hanya diam, menatap ke arah Ayra. Dia tidak menyangka jika gadis itu bisa menemukan cara untuk menjelaskan pada Ibunya secepat ini. Cih. Mungkin karena dia ingin segera menikah denganku dan mendapatkan semua uang dariku. Murahan!
Tak lama kemudian Saqila datang kembali, dengan membawa sebuah amplop berwarna coklat. Dia memberikan amplop itu pada Ibu. "Ini untuk Bibi, semoga kehidupan selanjutnya lebih baik ya. Maaf kalo selama ini aku sedikit bawel sama Bibi"
Ibu menerima amplop itu dengan perasaan tidak enak. Meski sebenarnya yang lebih merasa tidak enak dan merasa bersalah adalah Ayra. Sebentar lagi dirinya akan menjadi perebut suami Nonya Saqila yang sudah baik pada dirinya dan Ibu. Tapi, semuanya sudah terlanjur. Tidak mungkin Ayra membatalkan semua kesepakatan dengan Tuan Aiden yang sangat menyeramkan.
"Terimakasih Nyonya, anda sangat baik. Semoga keluarga kalian akan selalu bahagia"
"Iya Bi, terimakasih do'anya"
Akhirnya hari ini adalah hari terakhir Ibu bekerja di rumah Aiden dan Nyonya Saqila. Ayra langsung membawa Ibunya ke sebuah rumah yang sudah menjadi miliknya. Bahkan surat-surat rumah ini sudah atas namanya. Memang apalagi yang ingin dia tuntut dari Tuan Aiden. Dalam pernikahan ini, dirinya sudah sangat banyak mendapatkan keuntungan. Hanya melahirkan seorang anak untuknya, bukanlah hal yang sebanding dengan semua yang Ayra dapatkan dari Tuan Aiden.
"Ini rumah kita, Nak?" tanya Ibu dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh reaksi Ibu yang seperti ini semakin membuat Ayra merasa bersalah.
"Iya Bu, kita akan tinggal disini. Nah yang itu adalah toko untuk usaha ibu. Jadi, selama aku bekerja Ibu tidak akan kesepian karena bisa melayani pelanggan yang datang ke toko kita ini"
"Ya ampun Nak, terimakasih. Ibu tidak menyangka jika hidup kita akan benar-benar berubah karena kamu. Makasih ya Nak"
Ibu memeluk Ayra dengan tangisan haru. Dia sangat bahagia bisa memiliki usaha sendiri yang hanya diam di rumah saja. Memang ini impian Ibu sejak dulu, punya toko atau warung kecil yang bisa menunjang kehidupannya. Namun, semuanya tidak terwujud karena modalnya yang tidak sedikit. Dan sekarang keinginannya itu terwujud, anaknya telah mewujudkan semuanya.
"Iya Bu, lagian Ibu tidak perlu berterimakasih sama Ayra, semua yang Ay berikan pada Ibu tidak sebanding dengan semua perjuangan Ibu selama ini saat membesarkan aku"
Maafkan aku Bu, aku mendapatkan semua ini karena menyewakan rahimku.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Ayra hanya benar-benar menginap satu hari di rumah baru yang di berikan oleh Tuan Aiden itu. Semalaman dirinya terlelap dengan memeluk Ibunya. Menangis diam-diam tanpa ingin di ketahui oleh Ibunya. Hidupnya akan berubah mulai esok hari. Kehidupannya tidak akan lagi sama setelah dirinya memilih keputusan ini.
Pagi ini, Ayra segera mengompres kelopak matanya yang terlihat sembab. Tidak ingin Ibunya melihat itu.
"Kenapa Nak?"
Benar saja, Ibu malah datang di saat dia belum selesai mengompres matanya. "Tidak papa Bu, semalam aku susah tidur karena terlalu senang untuk bekerja hari ini. Jadi mata aku kayak panda deh, jadi kompres dulu sebelum pergi. Kan harus tampil rapi dong, hari pertama kerja"
Berbohong lagi akhirnya..
Ayra jadi kesal sendiri dengan dirinya, kenapa dia jadi pandai sekali berbohong. Ibu adalah orang yang selalu mengajarkannya agar menjadi anak yang jujur. Tapi, kini Ayra malah berbohong pada Ibunya sendiri.
Akhirnya selesai sarapan, Ayra langsung pamit pada Ibunya. Rega telah mengirimkan nomor pesan yang mengancam dirinya jika datang telat maka dia akan mendapatkan hukuman. Ayra tahu jika ucapan Rega bukan sekedar ancaman belaka. Dia benar-benar serius dengan setiap ucapannya.
"Bu, Ay harus langsung pergi karena sudah harus mulai bekerja. Mungkin akan pulang seminggu sekali karena Ayra harus fokus sama pekerjaan dan kuliah. Disana juga di sediakan tempat seperti asrama untuk para pekerjanya"
Tuhan, pandai sekali aku berbohong dan mengarang cerita pada Ibu. Maaf Bu.
"Iya Nak, kamu kerja yang baik dan kuliah yang benar biar kamu bisa menjadi orang sukses"
Ayra mengangguk dengan air mata yang dia tahan sekuat tenaga agar tidak meluncur begitu saja di depan Ibunya ini. "Iya Bu, Ibu baik-baik di rumah ya. Nanti Ayra akan pulang seminggu sekali kalau sedang tidak banyak pekerjaan"
Ayolah Ayra, pekerjaan apa? Kau hanya bekerja sebagai alat pencetakan anak.
Akhirnya Ayra pergi dengan perasaan bersalah. Pada Ibunya dan juga Nyonya Saqila. Bagaimana wanita cantik itu sudah begitu baik padanya, tapi dia malah akan merebut suaminya. Meski mungkin hanya raganya saja, karena hatinya tidak mungkin bisa Ayra rebut. Hati Aiden sudah sepenuhnya untuk Saqila. Tidak mungkin Ayra bisa memiliki hati pria dingin itu.
Ayra turun dari ojek onlien yang di tumpanginya di persimpangan jalan. Disana Rega sudah berdiri menyandar di mobilnya dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Wajah datar tanpa ekspresi, membuat tidak ada satu orang pun yang akan berani mendekat padanya atau hanya sekedar menyapa. Sebenarnya Ayra juga takut untuk menemui pria itu. Namun, ini sudah menjadi perintah yang tidak bisa dia bantah.
"Selamat pagi Tuan"
"Masuk! Saya tidak punya banyak waktu"
Ayra mengangguk tanpa membantah, dia segera masuk ke dalam mobil Rega. Hanya keheningan yang menakutkan bagi Ayra di dalam mobil ini. Sejak mobil melaju, benar-benar sepi dan tidak ada percakapan apapun. Sebenarnya Ayra ingin bertanya, kemana Rega akan membawanya. Tapi, dia tidak seberani itu saat melihat wajah dingin Rega.
Hingga tanpa terasa mobil yang dia tumpangi di tengah keheningan itu berhenti di sebuah parkiran apartement mewah yang dia tidak bisa hitung berapa harga sewa sebulannya. Apalagi kalau membelinya.
"Turun, lantai 30 apartemen nomor 108"
Ayra mengerjap lalu dia menatap ke arah punggung tegap Rega yang duduk di kursi kemudi. "Saya turun sendiri Tuan?"
"Lalu, kau fikir aku harus menemanimu. Pekerjaan saya di kantor masih lebih penting daripada menemanimu"
Iya, iya. Ayra tahu jika dirinya tidak sepenting itu. Ayra turun dari mobil Rega dan segera berjalan menuju lobby apartemen itu. Masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai 30 sesuai yang di jelaskan oleh Rega. Hati Ayra semakin dag dig dug saat nomor di lift itu semakin dekat dengan lantai yang di tujunya.
Ting...
Pintu lift terbuka dan Ayra mulai berjalan keluar dari dalam kotak besi itu dengan perasaan yang gelisah dan tak tenang.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
վմղíα | HV💕
Aiden kok dia bilang ayra murahan.
lah dia yg maksa,
2023-03-25
0
Dara Muhtar
Murahan tapi mau juga kann Aiden buat mencetak anak
2023-02-02
0
suharwati jeni
nasibmu arya.
ingat jangan jatuh cinta
2023-01-15
0