Aneska masih di peluk Abian. Kepalanya berada di dada pria itu. Pria itu seperti tidak mau melepaskannya.
Gila tapi masih ingat gym, duh atletis banget.
Aneska bisa menebak kalau badan Abian ateltis, karena dadanya Abian mengganjal di pipinya.
Bagaimana cara melepaskan pelukannya. Aku udah enggak tahan sama baunya. Bisa-bisa sampai satu harian aku di peluknya.
Ada suara seseorang membuka pintu kamar. Dua penjaga masuk mengeluarkan ibu Tatik. Ketika penjaga membuka pintu kamar. Abian tidak bergeming sama sekali. Dia terbuai dengan aroma tubuh Aneska.
Setelah mengeluarkan bu Tatik, dua penjaga itu memegang tangan Abian dan memberi kode kepada Aneska untuk keluar dari kamar. Ketika melihat Aneska pergi. Abian berteriak.
"Vaniaaaaa." Teriak Abian.
Aneska sudah keluar dari kamar itu. Tapi penjaga memegang lengannya.
"Aku mau di bawa ke mana." Tanya Aneska bingung. Penjaga membawanya ke salah satu ruangan yang di dalamnya sudah ada nyonya Rona dan Zidan.
Ruangan itu bukan ruang monitor tapi ruangan itu seperti ruang baca. Karena ada begitu banyak buku yang tersusun rapi di rak buku. Rak itu menjulang tinggi sampai ke langit-langit ruangan. Aneska tertegun melihat ruangan itu. Ruangan itu sudah seperti perpustakaan.
"Duduk." Perintah nyonya Rona.
Aneska langsung duduk tepat di hadapan wanita paruh baya itu. Mereka hanya di batasi sebuah meja besar.
"Kenapa kamu memeluk Abian." Tanya nyonya Rona.
"Saya tidak sengaja melakukannya. Itu spontanitas saja." Ucap Aneska membela diri.
"Tapi saya tidak suka." Ucap nyonya Rona.
"Maaf nyonya saya tidak akan mengulanginya lagi. Tapi kalau saya masih mendapatkan pukulan dari Abian, jangan salahkan kalau saya memeluknya kembali." Jawab Aneska berani.
"Kamu!" Nyonya Rona menuding jarinya ke hadapan Aneska.
"Nyonya, anda yang minta perawat ini menyembuhkan tuan muda. Mungkin dengan seperti ini tuan Abian bisa sembuh." Bisik Zidan.
Mendengar penuturan Zidan, wanita paruh baya itu diam.
"Baik, aku izinkan kamu memeluknya dengan alasan untuk melindungi dirimu sendiri. Tapi kamu harus janji kepada saya."
"Jangan sampai kamu jatuh cinta kepada anakku dan sebaliknya. Kamu tidak boleh membuat Abian mencintaimu." Ucap nyonya Rona ketus.
Helo mak erot, gue enggak akan suka sama orang gila.
"Tenang saja, saya pastikan anak anda tidak akan suka sama saya, begitupun saya tidak akan menaruh hati sama Abian. Nyonya bisa memegang kata-kata saya." Ucap Aneska tegas.
"Baik saya pegang perkataan kamu." Jawab nyonya Rona.
Mendengar perkataan perawat itu, Zidan merasa sedikit lega. Tiba-tiba ada penjaga datang ke ruangan itu.
"Ada apa." Tanya Zidan cepat.
"Ada yang kesurupan." Ucap penjaga.
Zidan langsung bergerak keluar, semua ikut keluar istana, begitupun Aneska dia penasaran dengan ucapan penjaga.
Di luar istana tepatnya di dekat pohon yang terkenal angker itu. Seorang pria menangis dengan mengeluarkan suara wanita.
Suara tangisan itu seperti suara yang tadi malam di dengar Aneska.
"Wah itu memang kesurupan." Gumam Aneska pelan.
"Pak bagaimana cara mengeluarkan arwah yang ada di dalam diri parto." Ucap salah satu penjaga.
Zidan bingung, dia pun tidak tau cara mengeluarkan arwah.
"Kamu cari orang pintar." Perintah Zidan.
"Baik tuan." Ucap penjaga, dia berjalan beberapa langkah, kemudian kembali lagi.
"Maaf pak pintar apa ya." Tanya penjaga.
"Dasar oon, pintar...." Zidan belum sempat melanjutkan kalimatnya. Aneska sudah menimpali ucapannya.
"Pintar matematika." Timpal Aneska.
"Oh, carinya di mana." Tanya penjaga lagi.
"Di pasar." Bentak Zidan.
Penjaga hanya manggut, dia masih belum mengerti dengan maksud orang pintar yang di ucapkan Zidan.
"Dukun, kamu tau dukun." Ucap Zidan lagi kepada penjaga.
"Oh dukun tinggal bilang dukun saja kok muter-muter." Ucap penjaga.
Zidan mendengar ucapan penjaga itu. Dan dia kembali marah.
"Cepat!" Bentak Zidan.
"Tunggu." Ucap Aneska. Zidan melihat ke arah perawat itu.
"Coba kamu tanya dokter Arif, soalnya di rumah sakit pernah ada yang kesurupan dan kalau tidak salah di sembuhkan dengan seorang pasien." Ucap Aneska.
Zidan mengikuti perintah perawat itu.
"Kamu tanya sama dia." Ucap Zidan menyerahkan ponselnya kepada Aneska. Panggilan terhubung.
"Ya halo." Ucap dokter Arif dari ujung ponselnya.
"Dokter ini saya Aneska." Ucap Aneska.
"Aneska." Mendengar suara Aneska dokter Arif merasa senang. Itu pertanda kalau perawatnya bisa mengatasi Abian.
Zidan yang berdiri tidak jauh dari Aneska sudah menatap perawat itu dengan tatapan mengintimidasi.
"Dokter saya mau tanya." Ucap Aneska menceritakan semuanya kepada dokter Arif.
Aneska hanya menjawab kata oh dan ya. Setelah itu panggilan terputus.
"Apa katanya." Ucap Zidan.
"Yang membantu mengeluarkan arwah itu namanya Zira, dia pernah jadi pasien di rumah sakit kami. Dia merupakan istri dari pemegang saham di rumah sakit kami yaitu tuan Ziko." Ucap Aneska.
"Kenapa kamu mutar-mutar, jadi apa jawabannya." Ucap Zidan marah.
"Katanya tidak mungkin menghubungi beliau." Ucap Aneska.
"Itu saja." Zidan kembali marah. Tidak berapa lama ada seorang pekerja datang menghampiri penjaga yang kesurupan. Dia membantu mengeluarkan arwah yang menempel pada tubuh penjaga.
"Nah itu ada." Gumam Aneska pelan. Akhirnya keadaan kembali aman. Dan waktu coffee time telah tiba, semua pekerja masuk ke dalam ruang makan.
Para pekerja memperhatikan bentuk wajah Aneska yang tidak ada tambahan babak belur. Tapi mereka kaget melihat bentuk wajah bu Tatik yang babak belur.
Walaupun ada rasa penasaran tapi mereka tetap tidak mau bertanya. Mereka hanya menyimpan rasa penasaran itu dalam hati.
Setelah makan beberapa potong kue. Ada seorang penjaga datang ke ruang makan dan menghampiri bu Tatik. Aneska mendengar sesuatu dari salah satu pekerja yang mengatakan seseorang sedang mendapatkan hukuman.
Setelah lonceng berbunyi. Aneska dan para pekerja meninggalkan ruang makan. Dia merasa penasaran dengan ucapan penjaga. Menyusuri taman dan berhenti di taman belakang.
Aneska melihat ada seseorang yang terduduk di tanah dan di kelilingi para penjaga. Aneska bisa menebak kalau yang mendapatkan hukuman itu seorang wanita. Karena terlihat dari rambutnya yang panjang.
Wanita itu di lempar bola kasti secara berulang. Dan dia tidak boleh bergerak sama sekali.
"Stop, dia bisa mati." Teriak Aneska sambil berlari mendekati wanita itu. Para penjaga tetap melempari bola ke wanita itu. Tubuh Aneska juga kena lemparan bola kasti.
"Mbak Tami." Ucap Aneska.
Tami kabur dari istana dan akhirnya dapat di temukan di tengah hutan. Karena dia sudah menyalahi aturan maka Tami mendapatkan hukuman.
"Stop, aku mohon stop." Ucap Aneska memohon. Zidan memerintahkan para penjaga untuk berhenti.
"Apa hak kamu memerintahkan kami untuk berhenti menghukum wanita itu." Ucap nyonya Rona.
"Nyonya tolong lepaskan, dia sudah cukup lemah." Ucap Aneska memohon.
"Baik saya akan melepaskannya dari hukuman tapi harus ada seseorang yang menggantikan posisinya." Ucap nyonya Rona.
"Aku yang akan menggantikan posisinya." Jawab Aneska lantang.
"Ok." Nyonya Rona memerintahkan kepada penjaga untuk melepaskan Tami dan meletakkan Aneska di tengah-tengah para penjaga.
"Nyonya, dia bisa mati. Apa nyonya lupa, kita memanggil dia ke sini untuk menyembuhkan tuan muda." Ucap Zidan.
"Biarkan dia menerima hukuman ini. Anggap saja ini hukuman untuknya karena telah memeluk anakku."
Bersambung.
Sosok Zira sengaja author masukkan sedikit ke cerita ini. Agar kalian tidak melupakan sosok tersebut.
Apa Aneska bisa selamat dengan hukuman itu? Penasaran?
Jangan lupa vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman dan "Love of a Nurse"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
tukang nyimak
wkwkwkwkwk... aku ngakak bwt bu Tatik yg kena bogem mentah 🤣🤣🤣🤣
jujur aku sempet gk paham alurnya di beberapa bab
tp karena jiwa kesel ku nungguin si cwo nya gk nongol alhasil aku nyimak aja kali2 ada kejutan mustahil bakalan lanjut apa gudbay
ok.. ok.. komenku jg gk penting2 amat..
lanjutlah.. ✌✌👍🏼👍🏼
2023-01-14
0
cinta
aku ngakak ... pas si tatik di tarik brsama anezka , babak belur pula 🤣🤣🤣
2022-11-04
0
pinky_adja
wes mak e ki angel²😑
2022-05-04
0