Bab 4

Keesokan harinya Aneska sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Dia berjalan dari mes ke rumah sakit. Banyak perawat lain yang juga ikut berjalan menuju rumah sakit.

"Anes." Teriak Tiara yang sedang berjalan di belakangnya tidak jauh dari tempatnya.

Aneska membalikkan badannya dan berhenti seketika untuk menunggu temannya agar mereka bisa jalan bersama-sama ke rumah sakit.

"Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan jawabannya." Tanya Tiara.

"Jawaban apa." Tanya Aneska bingung.

"Idih masih muda tapi udah pikun. Itu loh tentang pemindahan tugas yang di tawarkan dokter Arif." Ucap Tiara sambil tetap berjalan beriringan.

"Oh yang itu, aku kirain kamu tanya tentang lamaran dokter Arif." Canda Anes.

"Serius kamu? Dokter Arif kemaren melamarmu." Ucap Tiara penasaran.

"Hahaha, bercanda lagi. Mana ada dia melamar ku. Kalaupun ada pasti langsung aku terima. Tapi ini hanya menawarkan tentang pemindahan tugas."

"Kamu seperti enggak laku saja. Mengharap cinta seorang dokter. Hey bangun jangan kebanyakan mimpi. Kita hidup di dunia nyata bukan di negeri dongeng. Dokter Arif kalau mau mencari calon istri pasti yang seprofesi sepertinya bukan perawat seperti kita." Ucap Tiara.

"Iya aku tau, apa salahnya bermimpi punya kekasih seorang pria kaya raya."

"Iya-iya bermimpilah sebelum mimpi itu di larang. Moga-moga mimpimu menjadi kenyataan. Bukan di lamar dokter Arif tapi di lamar seorang pangeran." Ucap Tiara.

"Aamiin." Ucap Aneska.

Mereka masih berjalan beriringan menuju rumah sakit.

"Apa kamu sudah mengambil keputusan dengan pemindahan tugas." Tanya Tiara.

"Sudah, sepertinya aku akan menerimanya." Ucap Aneska.

"Apa kamu yakin." Tanya Tiara.

"Memang aku masih ragu. Tapi aku harus melakukannya dengan alasan keluargaku. Kamu kan tau kalau keluargaku ada hutang di bank. Hutang itu untuk membiayai pendidikanku. Gaji sebesar itu tidak mungkin aku tolak. Dengan gaji sebesar itu aku bisa melunasi semua hutang kami." Ucap Aneska.

"Iya sih, tapi apa kamu tidak curiga dengan nominalnya yang sangat besar."

"Curiga sih curiga. Tapi mungkin saja aku bekerja di istana."

"Mana ada istana di sini." Ucap Tiara cepat.

"Ada, istana negara." Ucap Aneska.

"Iya deh percaya dan semoga kamu memang bekerja di istana." Ucap Tiara.

Mereka telah sampai di rumah sakit. Seperti perawat lainnya, keduanya melalukan absensi dengan finger print .

Menaiki lift khusus perawat dan berhenti di lantai tepat bagian ruangan khusus pasien dewasa.

Di dalam ruang perawat sudah banyak perawat shift pagi datang. Dan perawat shift malam juga masih berada di situ. Mereka akan melakukan pergantian shift.

Ibu Susan sudah datang, dia melakukan briefing kepada semua perawatnya. Setelah briefing selesai, para perawat masuk ke dalam ruang rawat inap dan melakukan rutinitas biasanya di dalam ruangan itu. Dari mengecek botol infus, mengecek suhu tubuh, mengecek tensi darah pasien dan hal lainnya.

Setelah selesai dengan rutinitasnya mereka kembali ke ruang perawat.

"Kalau seandainya aku tidak mengabari kalian berarti aku sudah meninggal ya." Ucap Anes.

"Kamu ngomong apaan sih." Ucap Tiara sewot.

"Kamu kenapa Nes? Kayak buang tabiat aja." Celetuk Aldo.

"Aku akan menerima tawaran dokter Arif."

"Apa kamu yakin?" Ucap Aldo.

"Yakin Do, uang segitu sangat berarti buatku. Walaupun dokter Arif tidak menyebutkan detail tempat aku bekerja. Tapi setidaknya kalian akan tau kalau aku akan pindah tugas, dan jika aku tidak mengabari kalian mungkin aku sudah di kubur." Ucap Aneska.

"Kamu kalau ngomong jangan seperti itu. Mana mungkin dokter Arif mengirim perawatnya untuk mati. Bisa di penjara dia kalau ternyata melakukan rencana ini. Buang jauh pikiran kotormu." Ucap Tiara.

"Apa yang di ucapkan Tiara benar. Dokter Arif pasti tidak melakukan itu. Bisa jadi dokter Arif menyembunyikan tempatnya. Karena dengan alasan rahasia. Mana tau kamu di suruh merawat pasien perang." Ucap Aldo.

"Kamu kalau ngomong jangan ngaco deh. Mana ada perang di jaman sekarang." Ucap Aneska.

"Istilah saja Nes, mungkin kamu merawat para mata-mata negara." Ucap Aldo lagi.

"Kalian kalau ngomong pada ngaco. Mana mungkin aku merawat mata-mata negara. Kayak enggak ada perawat lain aja." Gerutu Aneska.

"Ada benarnya yang di ucapkan Aldo. Bisa jadi mbak Tami merawat orang penting. Makanya keberadaannya di rahasiakan." Ucap Tiara.

"Ah sudahlah, apapun itu semoga aku selalu di lindungi Allah."

"Aamiin." Ucap kedua temannya.

Waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Mereka mendapatkan istirahat pertama. Semua perawat yang mendapatkan istirahat pertama menuju ke kantin.

Di dalam kantin ada banyak perawat. Mereka semua perawat di rumah sakit itu. Hanya bagiannya saja yang berbeda dan berkumpul semua di dalam kantin.

Untuk para dokter ada tempat khusus. Dimana ruang makan dokter di dalam ruang kaca yang transparan.

Aneska melihat ada dokter Arif. Dokter itu sedang makan siang bersama dengan para dokter lainnya. Setelah beberapa menit makan siang, dokter Arif keluar dari kantin, dan Aneska memperhatikannya. Dia langsung makan dengan cepat. Bahkan makanannya tidak di habiskan.

"Kamu mau kemana." Tanya Tiara melihat temannya sudah beranjak dari kursi makan.

"Aku mau menemui dokter Arif." Ucap Aneska.

"Nanti saja, habiskan dulu makananmu." Ucap Tiara.

Aneska kembali duduk, dia menghabiskan makanannya. Setelah selesai dia langsung berdiri.

"Aku duluan ya." Ucap Aneska kepada dua temannya.

Dia keluar dari kantin dan berjalan menuju lift. Lalu menekan tombol lift. Setelah pintu lift terbuka dia langsung masuk dan kembali menekan tombol lantai tempat ruangan para dokter berada. Tidak berapa lama pintu lift terbuka.

Aneska keluar dari lift dengan perasaan yang resah. Dia berhenti tepat di depan pintu ruangan dokter Arif.

Tok tok tok

"Masuk." Ucap pria yang di dalam ruangan.

Ceklek pintu ruangan terbuka.

"Aneska mari masuk." Ucap dokter itu ramah.

Aneska masuk dan masih tetap dengan posisi berdiri. Dia tidak berani duduk sebelum ada perintah dari yang punya ruangan.

"Duduk Nes." Ucap dokter Arif.

Aneska menganggukkan kepalanya sambil menarik kursi yang ada di hadapannya. Dia tetap menarik jauh kursi itu. Karena dia masih sangat gugup jika harus duduk terlalu dekat dengan dokter ganteng itu.

"Dok, saya sudah mengambil keputusan."

Dokter Arif mendengarkan sambil melipat tangannya ke atas meja.

"Kalau saya menerima tawaran dokter." Ucap

Aneska

Dokter Arif tidak menunjukkan reaksi suka tapi dia terdengar mendengus kesal. Aneska masih menunggu dokter itu berbicara.

"Saya tidak bisa menahan kamu untuk menolak dan mengikuti kemauan saya. Jujur saya senang karena kamu mau menerima tawaran ini. Tapi ada rasa kecewa ketika tidak bisa melihatmu." Ucap dokter Arif.

"Maksud dokter apa." Ucap Aneska bingung.

"Saya sedih harus kehilangan perawat seperti kamu."

"Kenapa dok." Tanya Aneska.

Dokter Arif tidak mau mengatakan dengan jujur, kalau dia mengakui bahwa Aneska perawat tercantik di rumah sakit itu dan dia kagum pada wanita di depannya. Banyak dokter yang belum menikah selalu membicarakan perawat itu.

"Hemmm, ya karena kamu perawat saya." Ucap dokter Arif gugup.

"Oh gitu. Saya kirain dokter mau bilang kalau saya perawat yang cantik, ops." Aneska langsung menutup mulutnya yang suka sembrono dalam bicara.

Dokter Arif tersenyum tipis. Menurutnya Aneska wanita yang lucu dan suka asal dalam berbicara.

Ya ampun dokter ini kalau mingkem saja sudah cakep, apalagi tersenyum seperti itu tambah meleleh adik bang.

“ Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih.”

Ig. anita_rachman83

Bagi yang baru bergabung bisa baca karya author lainnya yang berjudul "Menikah Karena Ancaman"

🌷🌷🌷

Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014

Terpopuler

Comments

𝐀⃝🥀ᴅͨɪͧᴀᷡɴͨɴͣᴀᷡᴳᴿ🐅

𝐀⃝🥀ᴅͨɪͧᴀᷡɴͨɴͣᴀᷡᴳᴿ🐅

aneska nyusul Mbk tami

2023-01-03

0

Ashika ruhab

Ashika ruhab

lucu & kalau ngomong suka nyablak ajh ni anes....😅🤣🤭

2022-02-04

0

V3

V3

aneska orang nya ngebanyol trs yaaa

2021-10-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!