Keesokan harinya Aneska sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Dia berjalan dari mes ke rumah sakit. Banyak perawat lain yang juga ikut berjalan menuju rumah sakit.
"Anes." Teriak Tiara yang sedang berjalan di belakangnya tidak jauh dari tempatnya.
Aneska membalikkan badannya dan berhenti seketika untuk menunggu temannya agar mereka bisa jalan bersama-sama ke rumah sakit.
"Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan jawabannya." Tanya Tiara.
"Jawaban apa." Tanya Aneska bingung.
"Idih masih muda tapi udah pikun. Itu loh tentang pemindahan tugas yang di tawarkan dokter Arif." Ucap Tiara sambil tetap berjalan beriringan.
"Oh yang itu, aku kirain kamu tanya tentang lamaran dokter Arif." Canda Anes.
"Serius kamu? Dokter Arif kemaren melamarmu." Ucap Tiara penasaran.
"Hahaha, bercanda lagi. Mana ada dia melamar ku. Kalaupun ada pasti langsung aku terima. Tapi ini hanya menawarkan tentang pemindahan tugas."
"Kamu seperti enggak laku saja. Mengharap cinta seorang dokter. Hey bangun jangan kebanyakan mimpi. Kita hidup di dunia nyata bukan di negeri dongeng. Dokter Arif kalau mau mencari calon istri pasti yang seprofesi sepertinya bukan perawat seperti kita." Ucap Tiara.
"Iya aku tau, apa salahnya bermimpi punya kekasih seorang pria kaya raya."
"Iya-iya bermimpilah sebelum mimpi itu di larang. Moga-moga mimpimu menjadi kenyataan. Bukan di lamar dokter Arif tapi di lamar seorang pangeran." Ucap Tiara.
"Aamiin." Ucap Aneska.
Mereka masih berjalan beriringan menuju rumah sakit.
"Apa kamu sudah mengambil keputusan dengan pemindahan tugas." Tanya Tiara.
"Sudah, sepertinya aku akan menerimanya." Ucap Aneska.
"Apa kamu yakin." Tanya Tiara.
"Memang aku masih ragu. Tapi aku harus melakukannya dengan alasan keluargaku. Kamu kan tau kalau keluargaku ada hutang di bank. Hutang itu untuk membiayai pendidikanku. Gaji sebesar itu tidak mungkin aku tolak. Dengan gaji sebesar itu aku bisa melunasi semua hutang kami." Ucap Aneska.
"Iya sih, tapi apa kamu tidak curiga dengan nominalnya yang sangat besar."
"Curiga sih curiga. Tapi mungkin saja aku bekerja di istana."
"Mana ada istana di sini." Ucap Tiara cepat.
"Ada, istana negara." Ucap Aneska.
"Iya deh percaya dan semoga kamu memang bekerja di istana." Ucap Tiara.
Mereka telah sampai di rumah sakit. Seperti perawat lainnya, keduanya melalukan absensi dengan finger print .
Menaiki lift khusus perawat dan berhenti di lantai tepat bagian ruangan khusus pasien dewasa.
Di dalam ruang perawat sudah banyak perawat shift pagi datang. Dan perawat shift malam juga masih berada di situ. Mereka akan melakukan pergantian shift.
Ibu Susan sudah datang, dia melakukan briefing kepada semua perawatnya. Setelah briefing selesai, para perawat masuk ke dalam ruang rawat inap dan melakukan rutinitas biasanya di dalam ruangan itu. Dari mengecek botol infus, mengecek suhu tubuh, mengecek tensi darah pasien dan hal lainnya.
Setelah selesai dengan rutinitasnya mereka kembali ke ruang perawat.
"Kalau seandainya aku tidak mengabari kalian berarti aku sudah meninggal ya." Ucap Anes.
"Kamu ngomong apaan sih." Ucap Tiara sewot.
"Kamu kenapa Nes? Kayak buang tabiat aja." Celetuk Aldo.
"Aku akan menerima tawaran dokter Arif."
"Apa kamu yakin?" Ucap Aldo.
"Yakin Do, uang segitu sangat berarti buatku. Walaupun dokter Arif tidak menyebutkan detail tempat aku bekerja. Tapi setidaknya kalian akan tau kalau aku akan pindah tugas, dan jika aku tidak mengabari kalian mungkin aku sudah di kubur." Ucap Aneska.
"Kamu kalau ngomong jangan seperti itu. Mana mungkin dokter Arif mengirim perawatnya untuk mati. Bisa di penjara dia kalau ternyata melakukan rencana ini. Buang jauh pikiran kotormu." Ucap Tiara.
"Apa yang di ucapkan Tiara benar. Dokter Arif pasti tidak melakukan itu. Bisa jadi dokter Arif menyembunyikan tempatnya. Karena dengan alasan rahasia. Mana tau kamu di suruh merawat pasien perang." Ucap Aldo.
"Kamu kalau ngomong jangan ngaco deh. Mana ada perang di jaman sekarang." Ucap Aneska.
"Istilah saja Nes, mungkin kamu merawat para mata-mata negara." Ucap Aldo lagi.
"Kalian kalau ngomong pada ngaco. Mana mungkin aku merawat mata-mata negara. Kayak enggak ada perawat lain aja." Gerutu Aneska.
"Ada benarnya yang di ucapkan Aldo. Bisa jadi mbak Tami merawat orang penting. Makanya keberadaannya di rahasiakan." Ucap Tiara.
"Ah sudahlah, apapun itu semoga aku selalu di lindungi Allah."
"Aamiin." Ucap kedua temannya.
Waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Mereka mendapatkan istirahat pertama. Semua perawat yang mendapatkan istirahat pertama menuju ke kantin.
Di dalam kantin ada banyak perawat. Mereka semua perawat di rumah sakit itu. Hanya bagiannya saja yang berbeda dan berkumpul semua di dalam kantin.
Untuk para dokter ada tempat khusus. Dimana ruang makan dokter di dalam ruang kaca yang transparan.
Aneska melihat ada dokter Arif. Dokter itu sedang makan siang bersama dengan para dokter lainnya. Setelah beberapa menit makan siang, dokter Arif keluar dari kantin, dan Aneska memperhatikannya. Dia langsung makan dengan cepat. Bahkan makanannya tidak di habiskan.
"Kamu mau kemana." Tanya Tiara melihat temannya sudah beranjak dari kursi makan.
"Aku mau menemui dokter Arif." Ucap Aneska.
"Nanti saja, habiskan dulu makananmu." Ucap Tiara.
Aneska kembali duduk, dia menghabiskan makanannya. Setelah selesai dia langsung berdiri.
"Aku duluan ya." Ucap Aneska kepada dua temannya.
Dia keluar dari kantin dan berjalan menuju lift. Lalu menekan tombol lift. Setelah pintu lift terbuka dia langsung masuk dan kembali menekan tombol lantai tempat ruangan para dokter berada. Tidak berapa lama pintu lift terbuka.
Aneska keluar dari lift dengan perasaan yang resah. Dia berhenti tepat di depan pintu ruangan dokter Arif.
Tok tok tok
"Masuk." Ucap pria yang di dalam ruangan.
Ceklek pintu ruangan terbuka.
"Aneska mari masuk." Ucap dokter itu ramah.
Aneska masuk dan masih tetap dengan posisi berdiri. Dia tidak berani duduk sebelum ada perintah dari yang punya ruangan.
"Duduk Nes." Ucap dokter Arif.
Aneska menganggukkan kepalanya sambil menarik kursi yang ada di hadapannya. Dia tetap menarik jauh kursi itu. Karena dia masih sangat gugup jika harus duduk terlalu dekat dengan dokter ganteng itu.
"Dok, saya sudah mengambil keputusan."
Dokter Arif mendengarkan sambil melipat tangannya ke atas meja.
"Kalau saya menerima tawaran dokter." Ucap
Aneska
Dokter Arif tidak menunjukkan reaksi suka tapi dia terdengar mendengus kesal. Aneska masih menunggu dokter itu berbicara.
"Saya tidak bisa menahan kamu untuk menolak dan mengikuti kemauan saya. Jujur saya senang karena kamu mau menerima tawaran ini. Tapi ada rasa kecewa ketika tidak bisa melihatmu." Ucap dokter Arif.
"Maksud dokter apa." Ucap Aneska bingung.
"Saya sedih harus kehilangan perawat seperti kamu."
"Kenapa dok." Tanya Aneska.
Dokter Arif tidak mau mengatakan dengan jujur, kalau dia mengakui bahwa Aneska perawat tercantik di rumah sakit itu dan dia kagum pada wanita di depannya. Banyak dokter yang belum menikah selalu membicarakan perawat itu.
"Hemmm, ya karena kamu perawat saya." Ucap dokter Arif gugup.
"Oh gitu. Saya kirain dokter mau bilang kalau saya perawat yang cantik, ops." Aneska langsung menutup mulutnya yang suka sembrono dalam bicara.
Dokter Arif tersenyum tipis. Menurutnya Aneska wanita yang lucu dan suka asal dalam berbicara.
Ya ampun dokter ini kalau mingkem saja sudah cakep, apalagi tersenyum seperti itu tambah meleleh adik bang.
“ Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih.”
Ig. anita_rachman83
Bagi yang baru bergabung bisa baca karya author lainnya yang berjudul "Menikah Karena Ancaman"
🌷🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀ᴅͨɪͧᴀᷡɴͨɴͣᴀᷡᴳᴿ🐅
aneska nyusul Mbk tami
2023-01-03
0
Ashika ruhab
lucu & kalau ngomong suka nyablak ajh ni anes....😅🤣🤭
2022-02-04
0
V3
aneska orang nya ngebanyol trs yaaa
2021-10-14
0