Bab 14

Pagi hari Aneska sudah bersiap. Dia mengenakan seragam yang sama dengan para pelayan. Berkumpul di ruang makan dan makan sepuasnya tanpa harus berbicara satu sama lain.

Teng nong teng nong lonceng waktu sarapan telah selesai. Aneska sudah paham dengan rutinitas di ruang makan. Dia ikut membawa piring kosongnya dan meletakkan di dapur. Dari jauh sudah ada ibu Tatik yang sedang bersandar pada dinding sambil melipat tangannya.

Aneska menghampiri wanita paruh baya itu.

"Ikut saya." Ucap ibu Tatik.

Aneska mengikuti dari belakang mereka berhenti di depan lift. Ibu Tatik mengeluarkan sebuah kain hitam.

"Balik." Perintah ibu Tatik. Aneska membalikkan tubuhnya. Wanita paruh baya itu meletakkan kain hitam itu ke mata Aneska.

"Kok di tutup bu." Tanya Aneska bingung.

"Banyak tanya, mau di hukum tidak dapat makan siang." Ucap bu Tatik marah.

Aneska tidak bertanya lagi, dia tidak mengerti kenapa matanya harus di tutup. Ada rasa ngeri dan takut ketika matanya di tutup. Tapi dia lebih memilih tidak bertanya karena hukuman akan menyambutnya.

Ibu Tatik menuntun Aneska masuk ke dalam lift. Aneska sudah tau dari oma kalau dia akan merawat seseorang di lantai lima. Ting pintu lift terbuka. Ibu Tatik membawa Aneska ke luar dari lift.

"Aw." Aneska menabrak sesuatu.

"Kalau jalan itu liat." Omel ibu Tatik.

"Bagaimana mau lihat, mata saya kan di tutup." Jawab Aneska.

"Enggak usah jawab." Ucap bu Tatik ketus.

Dasar telur dadar.

Gerutu Aneska dalam hati.

"Stop." Bu Tatik memegang bahu Aneska, agar perawat itu berhenti berjalan.

Ibu Tatik membuka penutup mata Aneska. Pandangan Aneska terlihat buram, dia berhenti tepat di depan pintu dan di kanan kirinya ada dua orang pria yang menjaga pintu.

Salah satu pria memutar kunci pintu.

"Masuk." Perintah ibu Tatik.

Aneska hanya memasukkan sebagian kepalanya ke dalam ruangan itu. Tapi bu Tatik mendorong tubuhnya. Kemudian pintu di tutup dan di kunci dari luar.

"Bu kenapa di kunci." Ucap Aneska sambil menggedor pintu berkali-kali. Bulu kuduknya merinding, ruangan itu gelap tidak ada penerangan sama sekali.

"Duh, ini ruangan apa sih." Gumam Aneska.

"Halo, apa ada orang di sini." Ucap Aneska. Dari jauh Aneska bisa melihat ada sosok yang mendekatinya.

"Saya Aneska perawat baru." Ucap Aneska dengan jantung yang berdebar kencang. Sosok itu semakin mendekat. Dan dengan cepat leher Aneska di cengkram kuat dan di pojokkan ke dinding. Dia berusaha untuk memukul tangan yang mencengkram lehernya. Tenaganya tidak cukup kuat, hampir lima menit lehernya di cengkram kemudian cengkraman itu melonggar.

"Uhuk-uhuk." Aneska batuk, dia mencoba mengatur nafasnya.

Belum selesai dia mengatur nafasnya, kepalanya sudah di jedutkan ke dinding.

"Ampun, aku enggak mau mati konyol, hiks hiks." Aneska menangis. Dahinya berdarah, pria itu menghentikan aksinya. Dia mundur beberapa langkah dan menghilang di dalam kegelapan.

Di tempat lain di ruang monitor, nyonya Rona dan Zidan melihat kejadian itu semua.

"Nyonya sebaiknya perawat itu kita keluarkan. Kalau tidak dia bisa mati." Ucap Zidan.

"Anakku belum puas dengan mainan barunya." Ucap nyonya Rona ketus.

"Nyonya sepertinya perawat itu sudah terluka." Zidan tidak tega melihat Aneska di siksa seperti itu.

"Bukalah, besok masukkan lagi dia ke kamar anakku." Perintah nyonya Rona sambil berlalu meninggalkan ruang monitor. Zidan buru-buru menghubungi penjaga yang ada di depan pintu dengan handy talky.

"Buka pintu dan keluarkan perawat itu." Ucap Zidan.

Pintu di buka, Aneska di keluarkan dari ruangan itu. Ibu Tatik tersenyum mengejek, dia melihat wajah Aneska sudah babak belur.

Mata Aneska kembali di tutup, wanita paruh baya itu menuntun Aneska kembali ke kamarnya.

"Bagaimana hari pertama kamu bekerja." Ucap bu Tatik senang.

"Sungguh luar biasa nikmatnya." Jawab Aneska berani.

"Kamu ya, berani menjawabku. Lihat saja akan aku laporkan sama pak Zidan, agar kamu dapat hukuman berat." Ucap bu Tatik.

"Bilang saja aku enggak takut." Ucap Aneska marah.

Zidan datang ke kamar Aneska dengan seorang pelayan.

"Pak, tadi perawat ini berani menjawab saya." Ibu Tatik mengadu.

Zidan tidak menghiraukan aduan kepala pelayan itu. Dia menyuruh seorang pelayan mengobati luka Aneska.

"Pak." Ucap bu Tatik

"Diammmm! Kamu keluar, kalau kamu masih bising, aku kirim ke kamar tuan Abian!" Bentak Zidan.

Bu Tatik kaget, ini adalah pertama kalinya dia di bentak Zidan. Dia keluar dari kamar Aneska dengan wajah yang cemberut.

"Obati lukanya." Perintah Zidan kepada pelayan.

"Enggak perlu, biarkan luka ini kering sendiri. Toh masih ada tiga bulan aku di sini." Ucap Aneska marah.

"Tinggalkan kami." Ucap Zidan. Pelayan keluar dari kamar Aneska. Zidan duduk bersebelahan dengan perawat itu.

"Kamu seorang perawat pasti bisa menggunakan peralatan medis ini." Ucap Zidan sambil menunjuk kotak P3K.

Aneska mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya.

"Namanya Abian Bassam." Ucap Zidan menceritakan.

Flashback on

Abian Bassam anak kedua dari Tuan Bassam dan nyonya Rona Bassam. Berperawakan tinggi, mempunyai badan yang atletis dan wajah yang tampan.

Karirnya cukup cemerlang di luar negeri, dia mempunyai usaha sendiri di bidang IT, karena kepintarannya dia bekerja sama dengan salah satu perusahaan ternama di luar negeri.

Sampai tidak disadarinya kalau dia telah di manfaatkan perusahaan itu. Yang mana perusahaan itu mengatasnamakan karya Abian menjadi karya perusahaan itu. Akhirnya dia di keluarkan di pecat secara tidak hormat.

Abian kembali ke istananya. Tuan Bassam sangat senang menyambut sang putra, karena yang bisa meneruskan perusahaan Bassam adalah Abian. Sudah cukup lama tuan Bassam menanti kehadiran anaknya. Sampai putranya kembali sendiri dan itu merupakan sesuatu yang sangat di tunggu-tunggunya.

Abian akhirnya menjadi presiden direktur dan mengurusi semua perusahaan Bassam. Hari-harinya habis di kantor sampai dia terjalin cinta dengan sekertarisnya.

Kisah percintaan mereka tidak di ketahui keluarga Bassam, karena peraturan di istana itu yang mengharuskan anak dari keluarga Bassam harus menikah dengan seorang keluarga bangsawan. Abian menutupi asmaranya dengan sekertarisnya. Sampai akhirnya nyonya Rona mengetahui gelagat anaknya yang tidak baik. Di mana Abian menolak perjodohan yang telah di atur dari dia masih kecil. Nyonya Rona mengirim seorang mata-mata untuk anaknya. Dan terbukti kalau Abian menjalin hubungan dengan sekertarisnya.

"Abian, papi dan mami tau kalau kamu menjalin hubungan dengan sekertarismu." Ucap nyonya Rona.

"Oh, mata-mata mami sudah melapor." Jawab Abian santai.

"Dia tidak cocok dengan keluarga kita." Ucap nyonya Rona.

"Apa karena dia bukan seorang bangsawan." Ucap Abian.

Prak, nyonya Rona menampar anaknya.

"Asal kamu tau dia bukan perempuan baik-baik." Ucap nyonya Rona marah.

Wanita paruh baya itu membuat rencana untuk memisahkan anaknya dari Vania. Orang suruhan nyonya Rona mengikuti mobil Abian, di mana di dalam mobil itu ada Vania.

Abian mengantarkan Vania sampai ke loby apartemennya.

"Bye sayang." Ucap Vania sambil turun dari mobil. Setelah Vania turun Abian melajukan mobilnya. Vania sudah di intai oleh orang suruhan nyonya Rona. Sesampainya di dalam apartemennya ada suara pintu di ketuk.

Tok tok tok.

Vania melihat ada seorang wanita hamil di depan pintunya. Dia membuka pintu apartemennya.

"Cari siapa." Tanya Vania.

"Cari Vania." Ucap wanita itu.

"Aku Vania, tapi aku tidak kenal denganmu." Ucap Vania bingung.

"Boleh aku masuk." Ucap wanita itu.

Vania mengizinkan wanita itu masuk. Ketika wanita itu masuk, dua pria ikut masuk dan langsung menutup pintu apartemennya.

"Siapa kalian, apa yang kalian lakukan di apartemenku." Ucap Vania takut.

Mulut Vania di tutup dengan kain yang ada obat tidur. Setelah tidur bajunya di lucuti dan di buat seolah Vania sedang berhubungan badan dengan seorang pria.

Keesokan harinya Vania membuka matanya dan kaget karena tubuhnya tidak ada sehelai benang. Dan foto dia sedang tidur dengan seorang pria berserakan di apartemennya.

Vania bingung dan takut, dia tidak tau siapa yang melakukan itu kepadanya. Sampai suara ponselnya berbunyi.

"Tinggalkan Abian, atau foto bugilmu akan tersebar sampai seantero jagad. Cepat pergi dari sini, menghilang selamanya. Ada cek di atas meja itu bisa membiayai semua kebutuhanmu selama bertahun-tahun." Ucap nyonya Rona.

Setelah kejadian itu Vania menghilang, dia tidak mengambil cek tersebut. Dia menyobek cek itu dan pergi dengan hati yang hancur.

Abian mencari keberadaan Vania tapi dia tidak menemukan gadis itu.

"Dia bukan gadis yang baik buatmu." Ucap nyonya Rona sambil menunjukkan foto Vania dengan seorang pria.

Abian marah dan kecewa. Nyonya Rona berhasil dengan rencananya tapi karena ulahnya sendiri anaknya mengalami stres dan hampir seperti orang gila.

Flashback off

Bersambung.

Apakah Abian akan sembuh? Dan bagaimana dengan Aneska? Sanggupkah dia mengalami siksaan setiap hari. Penasaran???

Mampir ke karya author yang lain ya "Menikah Karena Ancaman"

Jangan lupa vote yang banyak terima kasih

Terpopuler

Comments

𝐀⃝🥀ᴅͨɪͧᴀᷡɴͨɴͣᴀᷡᴳᴿ🐅

𝐀⃝🥀ᴅͨɪͧᴀᷡɴͨɴͣᴀᷡᴳᴿ🐅

licik sekali nyonya rona ini

2023-01-04

0

Drake02c

Drake02c

Orang tuanya sendri yang bodoh dan kejam

2022-07-19

0

Siti Mutmainah

Siti Mutmainah

kejam😭

2022-04-23

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!