Pagi hari Aneska sudah bersiap. Dia mengenakan seragam yang sama dengan para pelayan. Berkumpul di ruang makan dan makan sepuasnya tanpa harus berbicara satu sama lain.
Teng nong teng nong lonceng waktu sarapan telah selesai. Aneska sudah paham dengan rutinitas di ruang makan. Dia ikut membawa piring kosongnya dan meletakkan di dapur. Dari jauh sudah ada ibu Tatik yang sedang bersandar pada dinding sambil melipat tangannya.
Aneska menghampiri wanita paruh baya itu.
"Ikut saya." Ucap ibu Tatik.
Aneska mengikuti dari belakang mereka berhenti di depan lift. Ibu Tatik mengeluarkan sebuah kain hitam.
"Balik." Perintah ibu Tatik. Aneska membalikkan tubuhnya. Wanita paruh baya itu meletakkan kain hitam itu ke mata Aneska.
"Kok di tutup bu." Tanya Aneska bingung.
"Banyak tanya, mau di hukum tidak dapat makan siang." Ucap bu Tatik marah.
Aneska tidak bertanya lagi, dia tidak mengerti kenapa matanya harus di tutup. Ada rasa ngeri dan takut ketika matanya di tutup. Tapi dia lebih memilih tidak bertanya karena hukuman akan menyambutnya.
Ibu Tatik menuntun Aneska masuk ke dalam lift. Aneska sudah tau dari oma kalau dia akan merawat seseorang di lantai lima. Ting pintu lift terbuka. Ibu Tatik membawa Aneska ke luar dari lift.
"Aw." Aneska menabrak sesuatu.
"Kalau jalan itu liat." Omel ibu Tatik.
"Bagaimana mau lihat, mata saya kan di tutup." Jawab Aneska.
"Enggak usah jawab." Ucap bu Tatik ketus.
Dasar telur dadar.
Gerutu Aneska dalam hati.
"Stop." Bu Tatik memegang bahu Aneska, agar perawat itu berhenti berjalan.
Ibu Tatik membuka penutup mata Aneska. Pandangan Aneska terlihat buram, dia berhenti tepat di depan pintu dan di kanan kirinya ada dua orang pria yang menjaga pintu.
Salah satu pria memutar kunci pintu.
"Masuk." Perintah ibu Tatik.
Aneska hanya memasukkan sebagian kepalanya ke dalam ruangan itu. Tapi bu Tatik mendorong tubuhnya. Kemudian pintu di tutup dan di kunci dari luar.
"Bu kenapa di kunci." Ucap Aneska sambil menggedor pintu berkali-kali. Bulu kuduknya merinding, ruangan itu gelap tidak ada penerangan sama sekali.
"Duh, ini ruangan apa sih." Gumam Aneska.
"Halo, apa ada orang di sini." Ucap Aneska. Dari jauh Aneska bisa melihat ada sosok yang mendekatinya.
"Saya Aneska perawat baru." Ucap Aneska dengan jantung yang berdebar kencang. Sosok itu semakin mendekat. Dan dengan cepat leher Aneska di cengkram kuat dan di pojokkan ke dinding. Dia berusaha untuk memukul tangan yang mencengkram lehernya. Tenaganya tidak cukup kuat, hampir lima menit lehernya di cengkram kemudian cengkraman itu melonggar.
"Uhuk-uhuk." Aneska batuk, dia mencoba mengatur nafasnya.
Belum selesai dia mengatur nafasnya, kepalanya sudah di jedutkan ke dinding.
"Ampun, aku enggak mau mati konyol, hiks hiks." Aneska menangis. Dahinya berdarah, pria itu menghentikan aksinya. Dia mundur beberapa langkah dan menghilang di dalam kegelapan.
Di tempat lain di ruang monitor, nyonya Rona dan Zidan melihat kejadian itu semua.
"Nyonya sebaiknya perawat itu kita keluarkan. Kalau tidak dia bisa mati." Ucap Zidan.
"Anakku belum puas dengan mainan barunya." Ucap nyonya Rona ketus.
"Nyonya sepertinya perawat itu sudah terluka." Zidan tidak tega melihat Aneska di siksa seperti itu.
"Bukalah, besok masukkan lagi dia ke kamar anakku." Perintah nyonya Rona sambil berlalu meninggalkan ruang monitor. Zidan buru-buru menghubungi penjaga yang ada di depan pintu dengan handy talky.
"Buka pintu dan keluarkan perawat itu." Ucap Zidan.
Pintu di buka, Aneska di keluarkan dari ruangan itu. Ibu Tatik tersenyum mengejek, dia melihat wajah Aneska sudah babak belur.
Mata Aneska kembali di tutup, wanita paruh baya itu menuntun Aneska kembali ke kamarnya.
"Bagaimana hari pertama kamu bekerja." Ucap bu Tatik senang.
"Sungguh luar biasa nikmatnya." Jawab Aneska berani.
"Kamu ya, berani menjawabku. Lihat saja akan aku laporkan sama pak Zidan, agar kamu dapat hukuman berat." Ucap bu Tatik.
"Bilang saja aku enggak takut." Ucap Aneska marah.
Zidan datang ke kamar Aneska dengan seorang pelayan.
"Pak, tadi perawat ini berani menjawab saya." Ibu Tatik mengadu.
Zidan tidak menghiraukan aduan kepala pelayan itu. Dia menyuruh seorang pelayan mengobati luka Aneska.
"Pak." Ucap bu Tatik
"Diammmm! Kamu keluar, kalau kamu masih bising, aku kirim ke kamar tuan Abian!" Bentak Zidan.
Bu Tatik kaget, ini adalah pertama kalinya dia di bentak Zidan. Dia keluar dari kamar Aneska dengan wajah yang cemberut.
"Obati lukanya." Perintah Zidan kepada pelayan.
"Enggak perlu, biarkan luka ini kering sendiri. Toh masih ada tiga bulan aku di sini." Ucap Aneska marah.
"Tinggalkan kami." Ucap Zidan. Pelayan keluar dari kamar Aneska. Zidan duduk bersebelahan dengan perawat itu.
"Kamu seorang perawat pasti bisa menggunakan peralatan medis ini." Ucap Zidan sambil menunjuk kotak P3K.
Aneska mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya.
"Namanya Abian Bassam." Ucap Zidan menceritakan.
Flashback on
Abian Bassam anak kedua dari Tuan Bassam dan nyonya Rona Bassam. Berperawakan tinggi, mempunyai badan yang atletis dan wajah yang tampan.
Karirnya cukup cemerlang di luar negeri, dia mempunyai usaha sendiri di bidang IT, karena kepintarannya dia bekerja sama dengan salah satu perusahaan ternama di luar negeri.
Sampai tidak disadarinya kalau dia telah di manfaatkan perusahaan itu. Yang mana perusahaan itu mengatasnamakan karya Abian menjadi karya perusahaan itu. Akhirnya dia di keluarkan di pecat secara tidak hormat.
Abian kembali ke istananya. Tuan Bassam sangat senang menyambut sang putra, karena yang bisa meneruskan perusahaan Bassam adalah Abian. Sudah cukup lama tuan Bassam menanti kehadiran anaknya. Sampai putranya kembali sendiri dan itu merupakan sesuatu yang sangat di tunggu-tunggunya.
Abian akhirnya menjadi presiden direktur dan mengurusi semua perusahaan Bassam. Hari-harinya habis di kantor sampai dia terjalin cinta dengan sekertarisnya.
Kisah percintaan mereka tidak di ketahui keluarga Bassam, karena peraturan di istana itu yang mengharuskan anak dari keluarga Bassam harus menikah dengan seorang keluarga bangsawan. Abian menutupi asmaranya dengan sekertarisnya. Sampai akhirnya nyonya Rona mengetahui gelagat anaknya yang tidak baik. Di mana Abian menolak perjodohan yang telah di atur dari dia masih kecil. Nyonya Rona mengirim seorang mata-mata untuk anaknya. Dan terbukti kalau Abian menjalin hubungan dengan sekertarisnya.
"Abian, papi dan mami tau kalau kamu menjalin hubungan dengan sekertarismu." Ucap nyonya Rona.
"Oh, mata-mata mami sudah melapor." Jawab Abian santai.
"Dia tidak cocok dengan keluarga kita." Ucap nyonya Rona.
"Apa karena dia bukan seorang bangsawan." Ucap Abian.
Prak, nyonya Rona menampar anaknya.
"Asal kamu tau dia bukan perempuan baik-baik." Ucap nyonya Rona marah.
Wanita paruh baya itu membuat rencana untuk memisahkan anaknya dari Vania. Orang suruhan nyonya Rona mengikuti mobil Abian, di mana di dalam mobil itu ada Vania.
Abian mengantarkan Vania sampai ke loby apartemennya.
"Bye sayang." Ucap Vania sambil turun dari mobil. Setelah Vania turun Abian melajukan mobilnya. Vania sudah di intai oleh orang suruhan nyonya Rona. Sesampainya di dalam apartemennya ada suara pintu di ketuk.
Tok tok tok.
Vania melihat ada seorang wanita hamil di depan pintunya. Dia membuka pintu apartemennya.
"Cari siapa." Tanya Vania.
"Cari Vania." Ucap wanita itu.
"Aku Vania, tapi aku tidak kenal denganmu." Ucap Vania bingung.
"Boleh aku masuk." Ucap wanita itu.
Vania mengizinkan wanita itu masuk. Ketika wanita itu masuk, dua pria ikut masuk dan langsung menutup pintu apartemennya.
"Siapa kalian, apa yang kalian lakukan di apartemenku." Ucap Vania takut.
Mulut Vania di tutup dengan kain yang ada obat tidur. Setelah tidur bajunya di lucuti dan di buat seolah Vania sedang berhubungan badan dengan seorang pria.
Keesokan harinya Vania membuka matanya dan kaget karena tubuhnya tidak ada sehelai benang. Dan foto dia sedang tidur dengan seorang pria berserakan di apartemennya.
Vania bingung dan takut, dia tidak tau siapa yang melakukan itu kepadanya. Sampai suara ponselnya berbunyi.
"Tinggalkan Abian, atau foto bugilmu akan tersebar sampai seantero jagad. Cepat pergi dari sini, menghilang selamanya. Ada cek di atas meja itu bisa membiayai semua kebutuhanmu selama bertahun-tahun." Ucap nyonya Rona.
Setelah kejadian itu Vania menghilang, dia tidak mengambil cek tersebut. Dia menyobek cek itu dan pergi dengan hati yang hancur.
Abian mencari keberadaan Vania tapi dia tidak menemukan gadis itu.
"Dia bukan gadis yang baik buatmu." Ucap nyonya Rona sambil menunjukkan foto Vania dengan seorang pria.
Abian marah dan kecewa. Nyonya Rona berhasil dengan rencananya tapi karena ulahnya sendiri anaknya mengalami stres dan hampir seperti orang gila.
Flashback off
Bersambung.
Apakah Abian akan sembuh? Dan bagaimana dengan Aneska? Sanggupkah dia mengalami siksaan setiap hari. Penasaran???
Mampir ke karya author yang lain ya "Menikah Karena Ancaman"
Jangan lupa vote yang banyak terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀ᴅͨɪͧᴀᷡɴͨɴͣᴀᷡᴳᴿ🐅
licik sekali nyonya rona ini
2023-01-04
0
Drake02c
Orang tuanya sendri yang bodoh dan kejam
2022-07-19
0
Siti Mutmainah
kejam😭
2022-04-23
0