Lonceng sudah berbunyi semua pekerja kembali melanjutkan pekerjaannya. Aneska berjalan ke taman, dia mengelilingi pagar yang menjulang tinggi.
"Duh tinggi banget lagi temboknya." Gumam Aneska. Dia terus memutari tembok saking besarnya dia tidak tau ada yang mengawasinya.
Aneska berhenti di dekat tembok yang mana ada pohon besar di dekat tembok dan di luar tembok juga ada pohon besar.
"Ok, aku akan keluar dari sini. Urusan panjat memanjat kecil. Aku juaranya panjat pinang." Gumam Aneska pelan.
"Tunggu kalau aku keluar dari sini tujuanku kemana? Aku saja enggak tau ini di mana. Ponsel di sita lagi. Duh gimana dong." Gerutu Aneska.
Aneska memutar otaknya.
"Aku tanya sama oma saja. Pasti oma mau memberitahukan." Gumam Aneska sambil berjalan menuju taman bunga.
Perkiraan Aneska memang tepat, di dalam ruangan kaca itu sudah ada oma yang sibuk dengan tanamannya.
"Oma." Panggil Aneska.
Oma mengangkat kepalanya, dia mencari suara orang yang memanggilnya.
"Ya ampun Aneska wajah kamu kenapa seperti ini. Hampir saja oma tidak mengenalimu. Kalau bukan suaramu oma tidak akan tau kalau ini kamu." Ucap oma prihatin.
"Wajahku hancur banget ya oma." Tanya Aneska.
"Iya seperti di sengat tawon, pada bengkak semua." Ucap oma.
"Idih jelek banget di sengat tawon." Ucap Aneska.
"Kamu kenapa ke sini, bukannya seharusnya kamu beristirahat." Ucap oma.
"Yang aku rawat Abian, dia cucu oma kan?" Ucap Aneska langsung.
"Iya."
"Kenapa oma tidak mengatakan kepadaku kemaren siang, kalau cucu oma stres." Ucap Aneska.
"Dari mana kamu tau kalau Abian stres." Tanya oma.
"Dari pak Zidan." Ucap Aneska.
"Tidak biasanya dia melakukan itu." Gumam oma.
Gumaman oma terdengar Aneska.
"Memang dia seperti apa oma." Tanya Aneska lagi.
"Dia orangnya dingin dan tidak banyak bicara." Ucap oma.
"Es kali dingin." Ceplos Aneska.
"Oma heran kenapa dengan kamu dia mau menceritakan masalah Abian." Ucap oma bingung.
"Mungkin karena aku cantik." Ceplos Aneska lagi.
"Mungkin juga, soalnya perawat yang dulu-dulu tidak secantik kamu." Ucap oma.
Mendengar kata perawat yang dulu, Aneska ingat surat yang di buat Tami. Dia ingin mengorek informasi dari wanita sepuh itu.
"Sebelum aku, ada berapa perawat di sini." Tanya Aneska.
Oma diam sesaat, kemudian menjawab ucapan Aneska.
"Kamu perawat kelima." Ucap oma.
"Apa perawat yang lainnya juga mengalami hal yang sama denganku." Tanya Aneska lagi.
Oma Zulfa menganggukkan kepalanya pelan.
"Apa yang mereka lakukan ketika mendapatkan perlakuan yang sama dari Abian."
"Yang jelas mereka ketakutan." Ucap oma sambil menatap wajah gadis di depannya.
"Kenapa kamu seperti tidak ada rasa takut sama sekali." Ucap oma penasaran.
"Oma salah, aku malah udah nangis bombay di kamar. Tapi tidak mungkin aku menangis terus." Ucap Aneska.
"Kamu anak yang pemberani." Ucap oma sambil mengelus pipi Aneska.
"Aw." Ucap Aneska.
"Eh copot eh copet." Oma latah.
Melihat oma latah seperti itu, Aneska tertawa lucu.
"Oma sekarang perawat semuanya ada dimana?" Selidik Aneska.
Oma menghela nafasnya dengan sangat berat. Tidak mungkin dia menutupi semuanya.
"Ada yang bertahan selama tiga bulan dan ada juga yang." Oma diam.
"Apa oma." Desak Aneska.
"Bunuh diri." Ucap oma pelan.
Aneska kaget, dia mencoba menanyakan kembali sama oma.
"Oma jangan bercanda. Apa yang bunuh diri itu Tami." Selidik Aneska.
"Bukan, Tami perawat sebelum kamu. Dia malah yang berhasil kabur." Ucap oma.
Aneska sedikit lega, karena temannya selamat.
"Syukurlah kalau dia bisa kabur." Ucap Aneska lagi.
"Iya, dia perawat yang pertama berhasil kabur."
"Oma coba ceritakan kepadaku. Berapa perawat yang bunuh diri." Tanya Aneska.
"Satu orang, perawat yang pertama tidak tahan dengan siksaan yang di lakukan Abian. Dia stress, luka belum sembuh tapi sudah mendapatkan siksaan terus menerus. Akhirnya dia bunuh diri di atas pohon." Ucap oma.
Tiba-tiba Aneska merinding.
"Perawat yang kedua bagaimana oma." Tanya Aneska lagi.
"Dia ikut stres dan akhirnya gila. Sekarang dia di rawat di rumah sakit jiwa." Ucap oma lagi.
"Perawat ketiga yang bisa bertahan, dia mengalami pukulan dan hantaman berkali-kali, tapi dia tetap bertahan sampai kontraknya habis. Setelah kontrak habis dia di bebaskan. Tapi dengan luka yang sembuh dan perjanjian yang baru." Ucap oma.
"Perjanjian baru? Bukannya setelah tiga bulan habis kontrak tidak ada perjanjian lagi." Tanya Aneska bingung.
"Ada, perjanjian ini isinya kalau perawat itu tidak boleh memberitahukan semua hal yang terjadi di dalam istana kepada siapapun. Dan harus di rahasiakan." Ucap oma.
"Wah kok seperti itu sih." Ucap Aneska bingung.
"Uang yang berbicara, perawat itu mendapatkan uang satu milyar untuk menutup mulutnya." Ucap oma lagi.
"Apa satu milyar." Jiwa miskin Aneska langsung meronta-ronta.
"Kalau dia bisa menyembuhkan Abian mungkin bisa mendapatkan lebih dari itu." Ucap oma lagi.
"Tapi karena kontrak pertama tiga bulan dan ternyata dia tetap belum bisa menyembuhkan Abian, jadi dia hanya mendapatkan satu milyar." Ucap oma lagi.
"Hanya?" Aneska menggelengkan kepalanya secara berulang.
"Apa kamu sudah baca isi kontraknya." Tanya oma.
"Belum." Ucap Aneska singkat.
"Semua ada di dalam kontrak bacalah." Ucap oma. Aneska melupakan sesuatu tentang maksud kedatangannya menemui oma Zulfa.
"Oma istana ini ada di mana?" Ucap Aneska pura-pura.
Oma memandangi wajah gadis di depannya.
"Kenapa oma memandangiku seperti itu." Tanya Aneska lagi.
"Kamu ingin kabur." Ucap oma langsung. Aneska langsung gelagapan, pikirannya bisa terbaca oma.
"Enggak kok." Ucap Aneska mengelak.
"Anes, kamu hampir mirip seperti Tami, dia sebelum kabur juga menanyakan hal itu." Ucap oma langsung.
"Jadi oma tau kalau dia mau kabur." Tanya Aneska lagi.
"Iya, malah oma yang kasih tau di mana dia bisa kabur." Ucap oma.
"Oh ya, apa oma mau memberitahukan kepadaku bagaimana caranya aku bisa kabur." Tanya Aneska lagi.
"Oma tidak suka ada penyiksaan, walaupun Abian dalam keadaan stres oma tetap menentang penyiksaan. Dari pintu gerbang, hitung ke arah kiri ada enam pohon. Kamu bisa panjat pohon itu. Nanti dari situ kamu bisa keluar. Karena di balik tembok ada pohon besar." Ucap oma.
"Jangan-jangan itu pohon yang aku incar tadi." Gumam Aneska.
"Tapi ada rintangannya." Ucap oma.
"Apa oma." Tanya Aneska.
"Pohon itu adalah pohon yang di gunakan perawat pertama untuk bunuh diri." Ucap oma. Bulu kuduk Aneska langsung berdiri.
"Oma bukan mau menakutiku kan." Ucap Aneska.
"Terserah kamu boleh percaya atau tidak. Tapi yang oma dengar dari pelayan sering ada suara perempuan nangis dan suara itu berasal dari pohon itu." Ucap oma lagi.
"Duh oma, aku jadi takut nih." Ucap Aneska merinding.
"Satu lagi, saran oma kalau kamu kabur nanti jangan melewati jalan raya, tapi lewat hutan. Agar kamu tidak ketangkap para penjaga." Ucap oma.
"Sebenarnya ini di mana?" Ucap Aneska.
"Istana ini berada di perbukitan yang mana kalau mau sampai istana harus melewati hutan lindung." Ucap oma.
"Jadi berapa jam kalau sampai ke kota." Tanya Aneska.
"Kalau jalan kaki dan melewati hutan bisa satu harian baru tiba." Ucap oma.
"Waduh jauh banget. Sebelum sampai kota bisa mati kelaparan duluan." Gerutu Aneska.
"Kalau kamu mau kabur, persiapkan bekal yang banyak jadi nanti kamu tidak kelaparan." Ucap oma.
Aneska paham, pembicaraan mereka akhirnya terputus karena sudah ada lonceng yang menunjukkan kalau telah tiba waktunya makan siang.
Apakah Aneska jadi kabur? apa dia bisa melewati rintangan berupa tangisan perempuan? Penasaran?
Bersambung ke episode selanjutnya.
Jangan lupa like, komen dan vote. Dan silahkan mampir ke karya author yang lain "Menikah Karena Ancaman"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Supranti Supranti1
ceritanya kereen....beda dr yg lain
2022-11-04
0
Ryta Maya
deg deg jg
2022-06-24
0
Siti Mutmainah
pilih nyawa atau 1milyar nes🤭
2022-04-23
0