Bab 16

Lonceng sudah berbunyi semua pekerja kembali melanjutkan pekerjaannya. Aneska berjalan ke taman, dia mengelilingi pagar yang menjulang tinggi.

"Duh tinggi banget lagi temboknya." Gumam Aneska. Dia terus memutari tembok saking besarnya dia tidak tau ada yang mengawasinya.

Aneska berhenti di dekat tembok yang mana ada pohon besar di dekat tembok dan di luar tembok juga ada pohon besar.

"Ok, aku akan keluar dari sini. Urusan panjat memanjat kecil. Aku juaranya panjat pinang." Gumam Aneska pelan.

"Tunggu kalau aku keluar dari sini tujuanku kemana? Aku saja enggak tau ini di mana. Ponsel di sita lagi. Duh gimana dong." Gerutu Aneska.

Aneska memutar otaknya.

"Aku tanya sama oma saja. Pasti oma mau memberitahukan." Gumam Aneska sambil berjalan menuju taman bunga.

Perkiraan Aneska memang tepat, di dalam ruangan kaca itu sudah ada oma yang sibuk dengan tanamannya.

"Oma." Panggil Aneska.

Oma mengangkat kepalanya, dia mencari suara orang yang memanggilnya.

"Ya ampun Aneska wajah kamu kenapa seperti ini. Hampir saja oma tidak mengenalimu. Kalau bukan suaramu oma tidak akan tau kalau ini kamu." Ucap oma prihatin.

"Wajahku hancur banget ya oma." Tanya Aneska.

"Iya seperti di sengat tawon, pada bengkak semua." Ucap oma.

"Idih jelek banget di sengat tawon." Ucap Aneska.

"Kamu kenapa ke sini, bukannya seharusnya kamu beristirahat." Ucap oma.

"Yang aku rawat Abian, dia cucu oma kan?" Ucap Aneska langsung.

"Iya."

"Kenapa oma tidak mengatakan kepadaku kemaren siang, kalau cucu oma stres." Ucap Aneska.

"Dari mana kamu tau kalau Abian stres." Tanya oma.

"Dari pak Zidan." Ucap Aneska.

"Tidak biasanya dia melakukan itu." Gumam oma.

Gumaman oma terdengar Aneska.

"Memang dia seperti apa oma." Tanya Aneska lagi.

"Dia orangnya dingin dan tidak banyak bicara." Ucap oma.

"Es kali dingin." Ceplos Aneska.

"Oma heran kenapa dengan kamu dia mau menceritakan masalah Abian." Ucap oma bingung.

"Mungkin karena aku cantik." Ceplos Aneska lagi.

"Mungkin juga, soalnya perawat yang dulu-dulu tidak secantik kamu." Ucap oma.

Mendengar kata perawat yang dulu, Aneska ingat surat yang di buat Tami. Dia ingin mengorek informasi dari wanita sepuh itu.

"Sebelum aku, ada berapa perawat di sini." Tanya Aneska.

Oma diam sesaat, kemudian menjawab ucapan Aneska.

"Kamu perawat kelima." Ucap oma.

"Apa perawat yang lainnya juga mengalami hal yang sama denganku." Tanya Aneska lagi.

Oma Zulfa menganggukkan kepalanya pelan.

"Apa yang mereka lakukan ketika mendapatkan perlakuan yang sama dari Abian."

"Yang jelas mereka ketakutan." Ucap oma sambil menatap wajah gadis di depannya.

"Kenapa kamu seperti tidak ada rasa takut sama sekali." Ucap oma penasaran.

"Oma salah, aku malah udah nangis bombay di kamar. Tapi tidak mungkin aku menangis terus." Ucap Aneska.

"Kamu anak yang pemberani." Ucap oma sambil mengelus pipi Aneska.

"Aw." Ucap Aneska.

"Eh copot eh copet." Oma latah.

Melihat oma latah seperti itu, Aneska tertawa lucu.

"Oma sekarang perawat semuanya ada dimana?" Selidik Aneska.

Oma menghela nafasnya dengan sangat berat. Tidak mungkin dia menutupi semuanya.

"Ada yang bertahan selama tiga bulan dan ada juga yang." Oma diam.

"Apa oma." Desak Aneska.

"Bunuh diri." Ucap oma pelan.

Aneska kaget, dia mencoba menanyakan kembali sama oma.

"Oma jangan bercanda. Apa yang bunuh diri itu Tami." Selidik Aneska.

"Bukan, Tami perawat sebelum kamu. Dia malah yang berhasil kabur." Ucap oma.

Aneska sedikit lega, karena temannya selamat.

"Syukurlah kalau dia bisa kabur." Ucap Aneska lagi.

"Iya, dia perawat yang pertama berhasil kabur."

"Oma coba ceritakan kepadaku. Berapa perawat yang bunuh diri." Tanya Aneska.

"Satu orang, perawat yang pertama tidak tahan dengan siksaan yang di lakukan Abian. Dia stress, luka belum sembuh tapi sudah mendapatkan siksaan terus menerus. Akhirnya dia bunuh diri di atas pohon." Ucap oma.

Tiba-tiba Aneska merinding.

"Perawat yang kedua bagaimana oma." Tanya Aneska lagi.

"Dia ikut stres dan akhirnya gila. Sekarang dia di rawat di rumah sakit jiwa." Ucap oma lagi.

"Perawat ketiga yang bisa bertahan, dia mengalami pukulan dan hantaman berkali-kali, tapi dia tetap bertahan sampai kontraknya habis. Setelah kontrak habis dia di bebaskan. Tapi dengan luka yang sembuh dan perjanjian yang baru." Ucap oma.

"Perjanjian baru? Bukannya setelah tiga bulan habis kontrak tidak ada perjanjian lagi." Tanya Aneska bingung.

"Ada, perjanjian ini isinya kalau perawat itu tidak boleh memberitahukan semua hal yang terjadi di dalam istana kepada siapapun. Dan harus di rahasiakan." Ucap oma.

"Wah kok seperti itu sih." Ucap Aneska bingung.

"Uang yang berbicara, perawat itu mendapatkan uang satu milyar untuk menutup mulutnya." Ucap oma lagi.

"Apa satu milyar." Jiwa miskin Aneska langsung meronta-ronta.

"Kalau dia bisa menyembuhkan Abian mungkin bisa mendapatkan lebih dari itu." Ucap oma lagi.

"Tapi karena kontrak pertama tiga bulan dan ternyata dia tetap belum bisa menyembuhkan Abian, jadi dia hanya mendapatkan satu milyar." Ucap oma lagi.

"Hanya?" Aneska menggelengkan kepalanya secara berulang.

"Apa kamu sudah baca isi kontraknya." Tanya oma.

"Belum." Ucap Aneska singkat.

"Semua ada di dalam kontrak bacalah." Ucap oma. Aneska melupakan sesuatu tentang maksud kedatangannya menemui oma Zulfa.

"Oma istana ini ada di mana?" Ucap Aneska pura-pura.

Oma memandangi wajah gadis di depannya.

"Kenapa oma memandangiku seperti itu." Tanya Aneska lagi.

"Kamu ingin kabur." Ucap oma langsung. Aneska langsung gelagapan, pikirannya bisa terbaca oma.

"Enggak kok." Ucap Aneska mengelak.

"Anes, kamu hampir mirip seperti Tami, dia sebelum kabur juga menanyakan hal itu." Ucap oma langsung.

"Jadi oma tau kalau dia mau kabur." Tanya Aneska lagi.

"Iya, malah oma yang kasih tau di mana dia bisa kabur." Ucap oma.

"Oh ya, apa oma mau memberitahukan kepadaku bagaimana caranya aku bisa kabur." Tanya Aneska lagi.

"Oma tidak suka ada penyiksaan, walaupun Abian dalam keadaan stres oma tetap menentang penyiksaan. Dari pintu gerbang, hitung ke arah kiri ada enam pohon. Kamu bisa panjat pohon itu. Nanti dari situ kamu bisa keluar. Karena di balik tembok ada pohon besar." Ucap oma.

"Jangan-jangan itu pohon yang aku incar tadi." Gumam Aneska.

"Tapi ada rintangannya." Ucap oma.

"Apa oma." Tanya Aneska.

"Pohon itu adalah pohon yang di gunakan perawat pertama untuk bunuh diri." Ucap oma. Bulu kuduk Aneska langsung berdiri.

"Oma bukan mau menakutiku kan." Ucap Aneska.

"Terserah kamu boleh percaya atau tidak. Tapi yang oma dengar dari pelayan sering ada suara perempuan nangis dan suara itu berasal dari pohon itu." Ucap oma lagi.

"Duh oma, aku jadi takut nih." Ucap Aneska merinding.

"Satu lagi, saran oma kalau kamu kabur nanti jangan melewati jalan raya, tapi lewat hutan. Agar kamu tidak ketangkap para penjaga." Ucap oma.

"Sebenarnya ini di mana?" Ucap Aneska.

"Istana ini berada di perbukitan yang mana kalau mau sampai istana harus melewati hutan lindung." Ucap oma.

"Jadi berapa jam kalau sampai ke kota." Tanya Aneska.

"Kalau jalan kaki dan melewati hutan bisa satu harian baru tiba." Ucap oma.

"Waduh jauh banget. Sebelum sampai kota bisa mati kelaparan duluan." Gerutu Aneska.

"Kalau kamu mau kabur, persiapkan bekal yang banyak jadi nanti kamu tidak kelaparan." Ucap oma.

Aneska paham, pembicaraan mereka akhirnya terputus karena sudah ada lonceng yang menunjukkan kalau telah tiba waktunya makan siang.

Apakah Aneska jadi kabur? apa dia bisa melewati rintangan berupa tangisan perempuan? Penasaran?

Bersambung ke episode selanjutnya.

Jangan lupa like, komen dan vote. Dan silahkan mampir ke karya author yang lain "Menikah Karena Ancaman"

Terpopuler

Comments

Supranti Supranti1

Supranti Supranti1

ceritanya kereen....beda dr yg lain

2022-11-04

0

Ryta Maya

Ryta Maya

deg deg jg

2022-06-24

0

Siti Mutmainah

Siti Mutmainah

pilih nyawa atau 1milyar nes🤭

2022-04-23

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!