Aneska ketiduran dia bangun sudah lewat dari jam empat sore.
"Waduh aku ketiduran, hah bakal kelaparan sampai pagi." Gerutu Aneska.
Aneska pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah itu dia keluar dari kamarnya. Semua pekerja telah selesai menikmati coffee timenya. Hanya Aneska yang tidak menikmati.
Dia berjalan menyusuri lorong dan tidak berapa lama dia berpapasan dengan Serik. Tanpa di sadari dari jauh Serik mengedipkan mata dan pura-pura menyenggol lengan Aneska sambil memberikan kertas kecil ketangannya.
Aneska sadar kalau itu cara berkomunikasi mereka. Aneska memilih pergi ke perkarangan istana, dia ingin membaca isi kertas itu di sana. Dia duduk di kursi yang ada di perkarangan istana.
*Terima kasih karena kamu telah menyelamatkanku dari hukuman. Tengah malam oma Zulfa dan nona Ila akan mengantarkan makanan untukmu. Kamu tunggu di kamar.
Tidak usah khawatir tentang kamera, oma akan mengatasinya. Serik*
"Semoga oma dan Ila tidak ketahuan, dan aku harus terjaga sepanjang malam, ya harus demi makan." Gumam Aneska menyemangati dirinya sendiri.
Ada suara seseorang yang terdengar cukup nyaring.
"Hey sini." Ucap Farid sambil menjentikkan jarinya ke arah Aneska.
Aneska melihat sekelilingnya, di pikirannya siapa yang sedang di panggil Farid. Mobil yang di kendarai Farid berhenti tidak jauh dari tempat Aneska duduk. Dia sengaja berhenti untuk melihat perawat baru itu.
"Tuan memanggil saya." Teriak Aneska sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, sini." Ucap Farid sambil melambaikan tangannya.
Aneska menggenggam kertas yang di berikan Serik dengan salah satu tangannya. Dia khawatir kalau pria di dalam mobil itu mengetahui kalau ada sesuatu yang di sembunyikannya. Dia berjalan mendekati mobil itu.
"Kamu perawat baru." Ucap Farid sambil memperhatikan penampilan Aneska dari atas sampai bawah.
Cantik juga.
"Iya tuan saya perawat baru." Ucap Aneska sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu mau tau rahasia di istana ini." Ucap Farid.
Anesk diam, dia tidak mau menjawab ucapan pria di depannya. Karena dia belum kenal dengan pria yang ada di hadapannya. Dan namanya saja dia belum tau.
"Maaf tuan saya tidak bisa banyak bicara." Ucap Aneska sambil tetap menunduk.
"Ok ok, aku kasih saran lebih baik kamu kabur dari istana ini, karena hidupmu akan di pertaruhkan besok." Ucap Farid sambil melajukan mobilnya.
Bulu kuduk Aneska tiba-tiba berdiri, dia merasa ucapan Farid seperti bukan candaan belaka.
"Kenapa aku jadi takut, apa maksud dari ucapannya hidupmu di pertaruhkan besok." Aneksa memegang tangannya yang merinding.
"Ya Allah ada apa sebenarnya dengan istana ini, kenapa istana ini seperti menyimpan sejuta misteri." Gumam Aneska pelan.
Dari jauh ada seorang pelayan lari mendekatinya.
"Aneska kamu di panggil pak Zidan." Ucap pelayan itu sambil ngos-ngosan.
"Baik." Aneska tidak mau bertanya untuk apa dia di panggil. Dia lebih mencari aman untuk dirinya sendiri.
Waduh sepertinya mereka tau kalau aku dapat surat dari Serik. Duh bagaimana ini.
Aneska panik harus menyimpan di mana kertas itu. Secara dia tau kalau kamera ada di mana-mana.
"Cepat." Ucap pelayan itu lagi sambil berlalu meninggalkan Aneska.
"Iya." Aneska membalikkan badannya dan menyimpan gulungan kertas yang sudah di remasnya ke dalam bra.
"Semoga enggak ketahuan dan tidak di geledah." Gumam Aneska sambil berjalan masuk ke dalam istana.
Pelayan membawa Aneska menuju ruang monitor kamera.
"Waduh mati aku." Gumam Aneska.
"Masuk, ibu Tatik dan pak Zidan sudah di dalam." Ucap pelayan tadi kemudian meninggalkan Aneska yang masih berdiri di depan pintu. Dengan perlahan dia masuk ke dalam ruang monitor dan berjalan lagi menuju ruangan satu lagi. Dia sudah paham kalau Zidan dan ibu Tatik sedang menunggunya di ruangan itu.
Tok tok tok
"Masuk." Ucap Zidan.
"Permisi bapak memanggil saya." Ucap Aneska ramah sambil melihat sekeliling ruangan. Tidak ada ibu Tatik di ruangan itu, jadi dia hanya berdua dengan pria itu.
Zidan menatap wajah Aneska lekat.
"Apa yang kamu bicarakan dengan tuan Farid." Tanya Zidan.
Oh namanya Farid.
"Tidak ada pak, tadi saya lagi duduk di kursi, tuan itu memanggil. Dia hanya bilang lebih baik kalau saya kabur karena hidup saya akan di pertaruhkan besok." Ucap Aneska jujur.
Praaaaakkk Zidan menggebrak meja. Aneska kaget sambil memegang jantungnya.
"Kurang ajar dia." Ucap Zidan marah.
"Maaf pak, boleh saya keluar." Ucap Aneska pelan.
Zidan melihat wajah Aneska.
"Enggak pak tidak baik kalau dua jenis kelamin yang tidak mempunyai hubungan darah berada di dalam satu ruangan. Karena yang ketiga akan muncul setan." Ucap Aneska.
Zidan melotot dia tidak suka di gurui ataupun di ajari orang lain.
"Gila matanya gede banget." Goda Aneska.
"Apa!" Zidan marah.
"Jangan marah kenapa? Saya cuma bercanda kok." Ucap Aneska pelan.
"Seperti itu bercanda." Ucap Zidan marah.
"Iya, sepertinya bapak sudah lupa caranya tertawa sampai tidak bisa membedakan antara bercanda sama serius." Ucap Aneska.
Zidan marah dia memutari meja dan berdiri berhadapan dengan Aneska.
"Kamu tau, sudah berapa peraturan yang kamu langgar di dalam ruangan ini." Ucap Zidan sambil menekan intonasinya.
"Iya pak, hitung aja. Kalau perlu tidak di kasih makan selama tiga bulan. Biar saya cepat mati, jadi keluarga Bassam tidak perlu membayar gaji saya." Ucap Aneska sambil menatap tajam wajah Zidan. Di dalam dirinya tidak ada rasa takut sama sekali.
Keduanya saling bertatap muka, tapi entah kenapa ketika Aneska menatap mata Zidan, pria itu tidak berani matanya. Zidan memalingkan wajahnya.
"Sudah keluar, kamu aman dari hukuman." Ucap Zidan.
"Serius." Ucap Aneska lagi.
"Hemmm." Aneska kegirangan tanpa di sadari, dia mengecup pipi Zidan. Pria itu sampai kaget karena ini adalah pertama kalinya seorang pekerja berani melakukan itu kepadanya.
"Maaf pak, saya kalau senang lupa mengontrol diri." Ucap Aneska meminta maaf.
Aduh dasar obral banget sih gue, sadar Aneska itu bukan abang elo, dan bukan bapak elo. Dasar ganjen.
Karena kebodohannya dia merutuki dirinya sendiri. Aneska sering melakukan itu kepada keluarga dan teman terdekat. Dan dia tidak menyadari kalau pria di depannya adalah musuhnya.
Zidan memegang pipinya sambil bengong.
"Permisi pak." Ucap Aneska sambil melangkahkan kakinya keluar.
"Apa semua pria kamu perlakukan seperti ini." Tanya Zidan. Aneska kembali membalik badannya.
"Ya enggaklah, hanya teman terdekat dan keluarga saja yang saya perlakukan seperti itu." Ucap Aneska.
"Sudah keluar." Usir Zidan. Dia sengaja mengusir Aneska keluar dari ruangannya. Dia takut terpikat akan pesona Aneska. Tidak di pungkirinya kalau gadis itu sangat cantik dan mempunyai aura yang berbeda dari wanita yang di temuinya. Dan dengan kecupan itu dia khawatir kalau dia jatuh cinta sama perawat itu.
Zidan berusaha untuk melupakan kejadian tadi. Dia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
Karena waktu sudah mulai gelap Aneska kembali ke kamarnya. Dia akan menunggu oma Zulfa dan Ila datang ke kamarnya.
Aneska duduk di depan meja rias sambil menepuk bibirnya sendiri.
"Duh, kenapa juga tadi aku mengecup pipinya. Padahal hanya bebas dari hukuman tapi senangnya enggak ketulungan, kayak menang undian saja, dasar norak." Gerutu Aneska.
Dia tidak henti-henti merutuki dirinya sendiri.
Bersambung.
"Like, komen dan vote ya."
Mampir ke karya author "Menikah Karena Ancaman"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Desii
karakternya terlalu agresif banget dab terlalu crewet pingin tahu semuanyaa...
2023-01-09
0
abu😻acii
lucunya
2023-01-08
0
~>🌼Mom NaNa🌼<~
sering2 buat anes kegirangan y zid 😁😁😁
2022-11-13
0