"Kalau dia sakit kenapa tidak di bawa ke rumah sakit." Tanya Aneska.
"Nyonya Rona tidak mau orang lain tau kalau anaknya stres. Semua pelayan yang bekerja di sini tau, tentang keadaan Abian. Tapi mereka harus menutup mulut sama halnya sepertimu. Jangan pernah kamu bicarakan hal ini nantinya. Karena akan menyulitkan kamu kedepannya." Ucap Zidan.
"Aku tau kenapa nyonya Rona menutupi ini semua. Karena dia malu, benar kan?" Ucap Aneska.
Zidan tidak menjawab ataupun membantah, dia hanya diam.
"Obati lukamu, besok kamu harus masuk kembali ke dalam kamar tuan Abian." Ucap Zidan.
"Kalian salah telah menyekapnya di kamar, itu sama saja kalian membuatnya tambah stres." Gerutu Aneska.
"Tugasmu hanya merawatnya bukan menggurui kami." Ucap Zidan.
"Kamu bilang merawat? Apanya mau di rawat, begitu aku masuk leherku sudah di cekik. Kepala di bentur ke dinding. Dia bukan lagi manusia tapi hewan." Ucap Aneska marah.
"Kamu terlalu banyak bicara, aku bisa saja menghukummu." Ucap Zidan.
"Hukum saja, biar aku mati dengan cepat. Tapi ingat kalau aku mati arwahku akan penasaran. Semua penghuni istana ini akan aku datangi." Ucap Aneska berani.
"Obati lukamu!" Perintah Zidan.
"Enggak." Ucap Aneska berani.
"Lukanya masih berdarah kalau tidak di obati dan tidak di tutup akan infeksi." Ucap Zidan khawatir.
"Enggak usah sok perhatian." Ucap Aneska ketus.
Zidan membuka kotak P3K, dia mengambil perban kecil dan betadine. Dia meletakkan di tempat yang terluka.
"Enggak usah." Ucap Aneska sambil menepis tangan Zidan. Tangan mereka saling bersentuhan, keduanya saling pandang satu sama lain. Zidan buru-buru memalingkan pandangannya. Dia takut terjebak pesona Aneska.
"Bersihkan lukamu." Ucap Zidan sambil berlalu keluar dari kamar Aneska.
"Tunggu." Ucap Aneska.
Zidan berhenti, dia membalikkan badannya sambil kembali melihat Aneska.
"Apa saja yang harus aku lakukan dalam merawat Abian?"
"Rawat dia seperti kamu merawat pasien di rumah sakit. Aku tau kamu ada pelatihan khusus untuk itu." Ucap Zidan.
"Kalau aku bisa menyadarkannya kembali, apa aku bisa keluar dari istana ini?"
"Setelah tiga bulan kamu bisa keluar, tapi kalau kontrak kerja di perpanjang kamu tidak bisa keluar dari sini." Ucap Zidan menjelaskan.
"Aku tidak akan mau di perpanjang." Ucap Aneska ketus.
"Kalau nyonya Rona yang minta kamu tidak bisa berbuat apapun." Ucap Zidan lagi.
"Memangnya bisa seperti itu." Tanya Aneska lagi.
"Bisa, apapun bisa dilakukannya."
"Baik, aku akan menyembuhkan orang gila itu. Kalau perlu aku buat dia jatuh cinta samaku." Ucap Aneska tanpa ragu.
"Jangan." Zidan spontan mengucapkan kata itu.
"Kenapa?" Ucap Aneska bingung.
"Lupakan, cepat obati lukamu." Ucap Zidan. Pria itu kembali ke luar kamar Aneska.
"Tunggu." Ucap Aneska lagi.
"Apa lagi?" Zidan kembali membalikkan badannya dan berdiri di depan pintu kamar Aneska.
"Sebelum aku, ada berapa perawat yang menangani Abian?"
Zidan diam, dia tidak menjawab pertanyaan perawat itu.
"Kenapa kamu diam? Jawab aku ada berapa perawat yang menangani Abian dan aku perawat ke berapa? Apa mereka juga mengalami hal yang sama denganku." Aneska mengajukan pertanyaan beruntun.
Zidan lagi-lagi tidak menjawab, dia pergi meninggalkan perawat itu.
Aneska menggerutu sambil melihat wajahnya yang sudah babak belur. Dia mengambil kotak P3K, tidak mungkin dia membiarkan lukanya terbuka seperti itu. Di bersihkan lukanya kemudian di berikannya betadine untuk luka yang terbuka, dan untuk yang memar di olesinya salep.
"Ya Allah kuatkan aku, hiks hiks." Aneska menangis, dia menyesali keputusannya menerima tawaran dokter Arif.
Aneska mencoba mengingat di mana dokter ganteng itu menawarkan kepadanya tentang pemindahan tugas, yang mana dokter itu terlihat ragu untuk mengatakan kepadanya.
"Ternyata dokter Arif tau kalau aku akan mengalami hal ini. Berarti mbak Tami dulu berada di sini. Kalau dia pernah merawat Abian, pasti dia masih di sini. Karena dia pindah belum ada tiga bulan. Kemana keberadaanya sekarang." Gumam Aneska sambil menyisir rambutnya. Dia tidak memegang sisirnya dengan kuat sehingga sisir itu terlepas dan jatuh ke lantai.
Aneska mencoba merapikan sisir yang terlepas dari gagangnya. Ketika dia mau memasukkan gagang sisir itu, dia melihat ada gulungan kertas. Dia mengambil gulungan kertas itu dan membuka gulungannya. Ada tulisan di kertas itu.
*Aku seorang perawat, jika kamu juga seorang perawat lebih baik keluar secepatnya dari istana Bassam. Nyawamu bisa melayang kalau kamu masih bisa bertahan di istana.
Aku tidak tau sudah berapa perawat yang ada di istana Bassam. Dan nasibnya juga tidak di ketahui. Istana ini banyak menyimpan rahasia. Jika kamu sayang dengan nyawamu pergilah secepatnya. Dan kalau kamu menemukan ini surat ini mungkin aku sudah tidak bernyawa lagi.
Tami*
"Ya Allah, mbak Tami, hiks hiks." Aneska menangis sejadi-jadinya. Dia tidak membayangkan nasib temannya selama di istana.
"Mbak Tami." Teriak Aneska. Dia meremas surat kecil itu, kemudian dia berdiri. Tulisan itu seperti menyadarkannya agar pergi dari istana Bassam.
"Aneska kamu harus kuat, masih ada orang yang membutuhkanmu." Dia memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
"Bagaimanapun caranya aku harus keluar dari istana penjara ini." Gumam Aneska sambil keluar dari kamar. Pada saat dia keluar lonceng berbunyi yang menunjukkan waktu coffee time telah tiba.
"Lebih baik aku mengisi perutku. Tidak mungkin aku keliaran ketika para pekerja makan, nanti si Tatik curiga lagi." Gumam Aneska pelan sambil masuk ke dalam ruang makan.
Ketika dia masuk ke dalam ruangan itu semua mata tertuju padanya. Tapi para pekerja tidak berani menanyakan atau memberikan perhatian kepadanya. Cuma dari raut wajah mereka terlihat jelas kalau mereka semua prihatin dengan keadaan Aneska.
Mengambil piring dan meletakkan beberapa kue di atasnya. Duduk bersama dengan pekerja wanita lainnya.
Pekerja wanita yang berada di depan dan sampingnya hanya bisa menundukkan kepala saja. Mereka tidak tega melihat bentuk wajah Aneska yang sudah babak belur.
Ketika dia sedang menikmati kuenya, ibu Tatik datang menghampiri mejanya.
"Apa yang kamu lakukan sama pak Zidan sampai dia tidak mendengar aduanku." Ucap ibu Tatik ketus.
Aneska diam, dia tidak menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu.
"Jawab." Ibu Tatik menggebrak meja sehingga minuman yang ada di gelas sebagian keluar dari dalam.
"Peraturan yang menyebutkan kalau aku tidak boleh banyak bicara, jadi lebih baik aku diam saja." Jawab Aneska santai.
"Kamu ya, anak baru sudah pintar menjawab. Akan aku laporkan sama tuan Zidan." Ucap ibu Tatik.
"Laporkan saja aku enggak takut. Paling-paling laporanmu tidak di gubris." Jawab Aneska mengejek.
"Pasti kamu telah memikatnya." Ucap ibu Tatik lagi.
"Jelas dia terpikat, secara aku cantik mulus dan bohai. Semua pria pasti terpikat denganku. Terima kasih telah mengatakan kalau pak Zidan terpikat samaku." Ucap Aneska sombong sambil berlalu meninggalkan ibu Tatik dan menuju dapur.
Dia tidak memperdulikan peraturan yang harus meletakkan piring kotor setelah ada lonceng. Dia pergi begitu saja, semua pekerja salut melihat keberanian Aneska tapi tetap khawatir kalau perawat itu akan mendapatkan hukuman.
Bersambung.
Apakah Aneska bisa kabur dari istana Bassam? Atau malah bunuh diri? Penasaran?
"Like, komen dan vote yang banyak ya. dan mampir ke karya author yang lain Menikah Karena Ancaman"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀ᴅͨɪͧᴀᷡɴͨɴͣᴀᷡᴳᴿ🐅
pak zidan tuhh suka sama aneska
2023-01-04
0
Siti Mutmainah
kayaknya punya 9nyawa si aneska
2022-04-23
0
Made Elviani
setiap saat tiap detik menegangkan
2021-10-19
0