Bab 15

"Kalau dia sakit kenapa tidak di bawa ke rumah sakit." Tanya Aneska.

"Nyonya Rona tidak mau orang lain tau kalau anaknya stres. Semua pelayan yang bekerja di sini tau, tentang keadaan Abian. Tapi mereka harus menutup mulut sama halnya sepertimu. Jangan pernah kamu bicarakan hal ini nantinya. Karena akan menyulitkan kamu kedepannya." Ucap Zidan.

"Aku tau kenapa nyonya Rona menutupi ini semua. Karena dia malu, benar kan?" Ucap Aneska.

Zidan tidak menjawab ataupun membantah, dia hanya diam.

"Obati lukamu, besok kamu harus masuk kembali ke dalam kamar tuan Abian." Ucap Zidan.

"Kalian salah telah menyekapnya di kamar, itu sama saja kalian membuatnya tambah stres." Gerutu Aneska.

"Tugasmu hanya merawatnya bukan menggurui kami." Ucap Zidan.

"Kamu bilang merawat? Apanya mau di rawat, begitu aku masuk leherku sudah di cekik. Kepala di bentur ke dinding. Dia bukan lagi manusia tapi hewan." Ucap Aneska marah.

"Kamu terlalu banyak bicara, aku bisa saja menghukummu." Ucap Zidan.

"Hukum saja, biar aku mati dengan cepat. Tapi ingat kalau aku mati arwahku akan penasaran. Semua penghuni istana ini akan aku datangi." Ucap Aneska berani.

"Obati lukamu!" Perintah Zidan.

"Enggak." Ucap Aneska berani.

"Lukanya masih berdarah kalau tidak di obati dan tidak di tutup akan infeksi." Ucap Zidan khawatir.

"Enggak usah sok perhatian." Ucap Aneska ketus.

Zidan membuka kotak P3K, dia mengambil perban kecil dan betadine. Dia meletakkan di tempat yang terluka.

"Enggak usah." Ucap Aneska sambil menepis tangan Zidan. Tangan mereka saling bersentuhan, keduanya saling pandang satu sama lain. Zidan buru-buru memalingkan pandangannya. Dia takut terjebak pesona Aneska.

"Bersihkan lukamu." Ucap Zidan sambil berlalu keluar dari kamar Aneska.

"Tunggu." Ucap Aneska.

Zidan berhenti, dia membalikkan badannya sambil kembali melihat Aneska.

"Apa saja yang harus aku lakukan dalam merawat Abian?"

"Rawat dia seperti kamu merawat pasien di rumah sakit. Aku tau kamu ada pelatihan khusus untuk itu." Ucap Zidan.

"Kalau aku bisa menyadarkannya kembali, apa aku bisa keluar dari istana ini?"

"Setelah tiga bulan kamu bisa keluar, tapi kalau kontrak kerja di perpanjang kamu tidak bisa keluar dari sini." Ucap Zidan menjelaskan.

"Aku tidak akan mau di perpanjang." Ucap Aneska ketus.

"Kalau nyonya Rona yang minta kamu tidak bisa berbuat apapun." Ucap Zidan lagi.

"Memangnya bisa seperti itu." Tanya Aneska lagi.

"Bisa, apapun bisa dilakukannya."

"Baik, aku akan menyembuhkan orang gila itu. Kalau perlu aku buat dia jatuh cinta samaku." Ucap Aneska tanpa ragu.

"Jangan." Zidan spontan mengucapkan kata itu.

"Kenapa?" Ucap Aneska bingung.

"Lupakan, cepat obati lukamu." Ucap Zidan. Pria itu kembali ke luar kamar Aneska.

"Tunggu." Ucap Aneska lagi.

"Apa lagi?" Zidan kembali membalikkan badannya dan berdiri di depan pintu kamar Aneska.

"Sebelum aku, ada berapa perawat yang menangani Abian?"

Zidan diam, dia tidak menjawab pertanyaan perawat itu.

"Kenapa kamu diam? Jawab aku ada berapa perawat yang menangani Abian dan aku perawat ke berapa? Apa mereka juga mengalami hal yang sama denganku." Aneska mengajukan pertanyaan beruntun.

Zidan lagi-lagi tidak menjawab, dia pergi meninggalkan perawat itu.

Aneska menggerutu sambil melihat wajahnya yang sudah babak belur. Dia mengambil kotak P3K, tidak mungkin dia membiarkan lukanya terbuka seperti itu. Di bersihkan lukanya kemudian di berikannya betadine untuk luka yang terbuka, dan untuk yang memar di olesinya salep.

"Ya Allah kuatkan aku, hiks hiks." Aneska menangis, dia menyesali keputusannya menerima tawaran dokter Arif.

Aneska mencoba mengingat di mana dokter ganteng itu menawarkan kepadanya tentang pemindahan tugas, yang mana dokter itu terlihat ragu untuk mengatakan kepadanya.

"Ternyata dokter Arif tau kalau aku akan mengalami hal ini. Berarti mbak Tami dulu berada di sini. Kalau dia pernah merawat Abian, pasti dia masih di sini. Karena dia pindah belum ada tiga bulan. Kemana keberadaanya sekarang." Gumam Aneska sambil menyisir rambutnya. Dia tidak memegang sisirnya dengan kuat sehingga sisir itu terlepas dan jatuh ke lantai.

Aneska mencoba merapikan sisir yang terlepas dari gagangnya. Ketika dia mau memasukkan gagang sisir itu, dia melihat ada gulungan kertas. Dia mengambil gulungan kertas itu dan membuka gulungannya. Ada tulisan di kertas itu.

*Aku seorang perawat, jika kamu juga seorang perawat lebih baik keluar secepatnya dari istana Bassam. Nyawamu bisa melayang kalau kamu masih bisa bertahan di istana.

Aku tidak tau sudah berapa perawat yang ada di istana Bassam. Dan nasibnya juga tidak di ketahui. Istana ini banyak menyimpan rahasia. Jika kamu sayang dengan nyawamu pergilah secepatnya. Dan kalau kamu menemukan ini surat ini mungkin aku sudah tidak bernyawa lagi.

Tami*

"Ya Allah, mbak Tami, hiks hiks." Aneska menangis sejadi-jadinya. Dia tidak membayangkan nasib temannya selama di istana.

"Mbak Tami." Teriak Aneska. Dia meremas surat kecil itu, kemudian dia berdiri. Tulisan itu seperti menyadarkannya agar pergi dari istana Bassam.

"Aneska kamu harus kuat, masih ada orang yang membutuhkanmu." Dia memberikan semangat untuk dirinya sendiri.

"Bagaimanapun caranya aku harus keluar dari istana penjara ini." Gumam Aneska sambil keluar dari kamar. Pada saat dia keluar lonceng berbunyi yang menunjukkan waktu coffee time telah tiba.

"Lebih baik aku mengisi perutku. Tidak mungkin aku keliaran ketika para pekerja makan, nanti si Tatik curiga lagi." Gumam Aneska pelan sambil masuk ke dalam ruang makan.

Ketika dia masuk ke dalam ruangan itu semua mata tertuju padanya. Tapi para pekerja tidak berani menanyakan atau memberikan perhatian kepadanya. Cuma dari raut wajah mereka terlihat jelas kalau mereka semua prihatin dengan keadaan Aneska.

Mengambil piring dan meletakkan beberapa kue di atasnya. Duduk bersama dengan pekerja wanita lainnya.

Pekerja wanita yang berada di depan dan sampingnya hanya bisa menundukkan kepala saja. Mereka tidak tega melihat bentuk wajah Aneska yang sudah babak belur.

Ketika dia sedang menikmati kuenya, ibu Tatik datang menghampiri mejanya.

"Apa yang kamu lakukan sama pak Zidan sampai dia tidak mendengar aduanku." Ucap ibu Tatik ketus.

Aneska diam, dia tidak menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu.

"Jawab." Ibu Tatik menggebrak meja sehingga minuman yang ada di gelas sebagian keluar dari dalam.

"Peraturan yang menyebutkan kalau aku tidak boleh banyak bicara, jadi lebih baik aku diam saja." Jawab Aneska santai.

"Kamu ya, anak baru sudah pintar menjawab. Akan aku laporkan sama tuan Zidan." Ucap ibu Tatik.

"Laporkan saja aku enggak takut. Paling-paling laporanmu tidak di gubris." Jawab Aneska mengejek.

"Pasti kamu telah memikatnya." Ucap ibu Tatik lagi.

"Jelas dia terpikat, secara aku cantik mulus dan bohai. Semua pria pasti terpikat denganku. Terima kasih telah mengatakan kalau pak Zidan terpikat samaku." Ucap Aneska sombong sambil berlalu meninggalkan ibu Tatik dan menuju dapur.

Dia tidak memperdulikan peraturan yang harus meletakkan piring kotor setelah ada lonceng. Dia pergi begitu saja, semua pekerja salut melihat keberanian Aneska tapi tetap khawatir kalau perawat itu akan mendapatkan hukuman.

Bersambung.

Apakah Aneska bisa kabur dari istana Bassam? Atau malah bunuh diri? Penasaran?

"Like, komen dan vote yang banyak ya. dan mampir ke karya author yang lain Menikah Karena Ancaman"

Terpopuler

Comments

𝐀⃝🥀ᴅͨɪͧᴀᷡɴͨɴͣᴀᷡᴳᴿ🐅

𝐀⃝🥀ᴅͨɪͧᴀᷡɴͨɴͣᴀᷡᴳᴿ🐅

pak zidan tuhh suka sama aneska

2023-01-04

0

Siti Mutmainah

Siti Mutmainah

kayaknya punya 9nyawa si aneska

2022-04-23

0

Made Elviani

Made Elviani

setiap saat tiap detik menegangkan

2021-10-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!