Setelah makan siang Aneska datang ke ruangan dokter Arif. Dia mengetuk pintu ruangan itu secara perlahan. Terdengar ada suara perintah dari dalam ruangan.
Aneskan membuka pintu ruangan secara perlahan sambil memasukkan sebagian kepalanya ke dalam ruangan itu.
"Masuk." Ucap dokter Arif yang sibuk dengan pekerjaannya. Dokter itu terlihat serius dengan terus menatap file di atas mejanya.
Aneska masih berdiri mematung. Dia mengagumi ciptaan Tuhan di depannya.
Oh Tuhan kalau seandainya aku jadi istrinya. Pasti aku akan menjadi wanita paling bahagia. Dan setiap hari pasti kami main dokter-dokteran.
"Aneska." Ucap dokter Arif menyadarkannya dari lamunan gilanya.
"Eh iya." Ucap Aneska gugup.
"Kamu melamun?"
"Iya dok, eh tidak." Aneska gugup. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya harus satu ruangan dengan dokter ganteng itu.
"Duduk." Ucap dokter Arif.
Aneska menarik kursi lebih jauh dari meja kerja dokter Arif. Dia merasa gugup jika harus dekat-dekat dengan dokter ganteng itu.
"Jauh sekali kamu menarik kursinya." Tanya dokter Arif.
"Social distancing dok." Ucap Anes pelan.
"Ok ok." Dokter Arif paham.
"Hemmm bagaimana cara ngomongnya ya." Ucap dokter Arif terlihat ragu.
Kenapa dia terlihat ragu, apa mungkin dokter Arif mau melamarku. Oh Tuhan semoga ini bukan mimpi.
"Kenapa dok, anda seperti kurang yakin. Apa anda khawatir kalau saya menolak anda." Anes menutup mulutnya.
Busyet ini mulut lancip banget. Ingat Anes jangan obral.
Dokter Arif menatap tajam wajah gadis di depannya. Dia masih mondar-mandir diruangannya dengan berkacak pinggang.
"Maaf dok, sampai kapan anda mondar-mandir seperti itu. Saya melihatnya capek." Aneska kembali menutup mulutnya yang suka asal dalam berbicara.
Dokter Arif duduk kembali ke kursinya. Dia menghembuskan nafasnya sebelum berbicara kepada gadis di depannya.
"Saya melakukan ini bukan mau mengasingkan kamu, tapi." Dokter Arif berat untuk mengatakan kepada Aneska. Tapi dia harus melakukannya.
Gadis itu masih menunggu dengan harap-harap cemas.
"Apa kamu mau saya pindah tugas kan." Ucap dokter Arif.
"Pindah tugas? Apa penempatannya sama dengan mbak Tami." Tanya Aneska.
Dokter Arif tidak menjawab dia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Gaji yang di tawarkan empat kali lipat gaji di sini."
Di dalam pikirannya tempat baru ini pasti bareng temannya mbak Tami.
"Bagaimana." Tanya dokter Arif.
"Kalau boleh tau di rumah sakit apa saya bekerja dan siapa yang akan saya rawat." Tanya Aneska.
"Maaf untuk hal itu saya tidak bisa memberitahukan kepada kamu."
"Kok seperti itu dok. Bukannya kalau pindah tugas harus ada surat pindahnya. Dan nama rumah sakitnya. Tapi kenapa dokter seperti menutupi." Ucap Aneska berani.
"Baik menurut saya kamu menolak tawaran ini. Dan tawaran ini akan saya berikan ke perawat lain." Ucap dokter Arif tegas.
Aneska menimbang-nimbang tawaran yang di berikan kepadanya.
"Dok, bisa beri saya waktu satu hari untuk berpikir."
"Baiklah, saya beri kamu waktu satu hari."
Aneska keluar dari ruangan itu dengan pikiran yang bingung. Dia kembali ke ruang perawat, di mana ada temannya Tiara dan Aldo.
"Bagaimana? Apa kamu jadi di lamar dokter Arif." Tanya Tiara.
"Mana ada, aku itu bukan di lamar tapi mau di pindah tugaskan sama dia." Gerutu Anes.
"Wah bagus dong, kamu bisa kaya mendadak. Gajinya sama kan sama mbak Tami." Tebak Tiara.
"Iya sama."
"Ya udah terima saja. Kalau aku jadi dirimu langsung ku terima tawaran itu."
"Tapi menurutku lebih baik kamu pikirkan dulu. Kamu masih ragu kan." Tanya Aldo.
Aneska menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah pikirkan dulu matang-matang, jangan terpengaruh dengan ucapan kami." Ucap Aldo.
Aneska setuju, dia harus memikirkan tawaran itu dengan matang agar tidak menyesal nantinya.
Sore hari waktunya para perawat shift pagi pulang. Aneska jalan beriringan dengan Tiara menuju mes mereka.
"Kenapa kamu terlihat murung." Tanya Tiara.
"Kenapa dokter Arif mau memindahkan ku. Apa dia tidak suka aku bekerja di rumah sakit itu." Ucap Aneska murung.
"Kamu orangnya perasa banget sih. Belum tentu yang kamu pikirkan itu benar. Bisa jadi memang ini rezekimu." Ucap Tiara.
"Mungkin juga, tapi tadi pada saat di ruangan, dokter Arif terlihat bingung. Dia mau mengatakan tentang pemindahan tugas, ini saja harus drama dengan mondar-mandir di ruangan. Ayo coba kamu tebak kenapa dia harus mondar-mandir seperti itu. Padahal tinggal bilang saja kamu saya pindahkan ke tempat lain." Gerutu Aneska.
"Mungkin dia tidak mau melepaskanmu. Secara kamu perawat tercantik di rumah sakit ini." Puji Tiara.
"Makasih tapi aku enggak punya uang receh."
"Uang besar juga boleh." Ucap Tiara.
"Matre lo." Ejek Aneska.
Mereka sudah sampai mes dan berpisah ke blok masing-masing.
Di dalam kamarnya dia langsung membersihkan tubuhnya yang lengket karena seharian penuh sudah bekerja.
Setelah selesai mandi dia memikirkan tentang tawaran dari dokter Arif.
"Sebaiknya tidak aku terima, karena seingatku dokter Arif tidak mengatakan detail dan malah seperti menghindar." Gumam Aneska.
Dia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi keluarganya.
"Halo ibu, bagaimana kabar ibu dan bapak di sana." Tanya Aneska.
"Alhamdulillah sehat nak, kamu sehat? Jangan menunda makan ya. Jangan makan mie instan." Ucap ibunya menasehati.
"Iya ibu sayang. Bapak mana?"
"Bapak masih kerja." Jawab ibunya.
"Bapak kerja apa sekarang bu?"
"Biasalah serabutan yang penting cukup untuk makan." Ucap ibunya.
"Bu, hutang kita di bank berapa juta lagi." Tanya Aneska.
"Kalau ibu enggak salah dengar lima puluh juta lagi." Ucap ibunya.
POV Aneska
Aneska Afia Mirza anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya bernama Chandani Cyra Mirza. Bapaknya bernama Mirza dan ibunya bernama Desi.
Aneska harus menerima kenyataan pahit kalau bapaknya kena phk. Dan pada saat itu dia masih melanjutkan pendidikan akademi keperawatan di ibu kota. Ketika bapaknya di phk dia memutuskan untuk menghentikan pendidikannya. Karena dia tau sangat berat biaya pendidikan. Dan menurutnya lebih baik dia bekerja agar bisa membantu ekonomi keluarga.Tapi bapaknya melarangnya untuk berhenti kuliah dengan alasan kalau masa pendidikannya sebentar lagi selesai. Dan hanya dia yang bisa di harapkan kelak.
Dengan keputusan yang sangat berat. Bapaknya menggadaikan sertifikat rumah ke bank. Dan uang dari pinjaman itu di gunakan untuk membiayai pendidikan Aneska sampai selesai. Dan sisanya untuk kebutuhan hidup.
Dan setelah Aneska mulai bekerja sebagai perawat dia yang membayar uang pinjaman itu ke bank. Karena hanya dia yang bisa di harapkan. Dengan gaji lima juta dia kirimkan empat juta untuk keluarganya dan sisanya untuk biaya hidupnya selama sebulan.
Aneska tidak pernah mengatakan kesusahannya kepada kedua orang tuanya. Dengan uang satu juta sebulan tidak akan cukup untuk membiayai kehidupannya di ibu kota. Jadi dia mengakali pagi dengan sarapan sereal, malam mie instan. Dan siang dia bisa makan sepuasnya di kantin rumah sakit. Karena itu merupakan fasilitas dari rumah sakit untuk tim medis.
"Ya sudah bu, salam sama Cyra dan bapak. Nanti aku ada rezeki akan aku lunasi semuanya." Ucap Aneska kemudian panggilan terputus.
Aneska memandang langit-langit kamarnya. Ada rasa bosan harus berkurung di kamar terus. Ketika libur kerja temannya sering mengajaknya pergi ke mall. Tapi dia selalu menolak dengan alasan capek. Memang dia capek. Tapi tidak di pungkiri ketika kaum hawa ke mall rasa capek itu pasti hilang.
Untuk menghemat uang dia harus makan seirit-iritnya. Bahkan lebih sering dia makan mie instan di bandingkan makan nasi. Dan syukurnya dia tetap sehat. Mungkin doa kedua orang tuanya yang membuatnya tetap sehat.
"Apa aku terima tawaran itu? Kalau aku terima setidaknya selama tiga bulan hutang keluargaku lunas dan aku bisa keluar dari situ. Tapi bagaimana kalau aku harus merawat pria genit. Atau orang gila." Gumam Aneska.
"Setidaknya aku bisa bertemu dengan mbak Tami."
Bersambung.
“ Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih.”
Ig. anita_rachman83
Bagi yang baru bergabung bisa baca karya author lainnya yang berjudul "Menikah Karena Ancaman"
🌷🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Mama Kastini
wah kak Anita Rachman ada di novel toon jg y, saya fans nya "Alex Smith dan kiran" di fizzo , mampir kesini Krn liat di IG nya kak Anita... wah bakal lbh rajin baca nih...
2022-07-22
0
Tita
Maaf ada yg tau judul novel tentang prempuan bernama indah yg di tugaskan untuk merawat pria dewasa dengan penyakit trauma masa kecil sewaktu di jepang ?
2022-07-09
0
Siti Mutmainah
pemindahan tugas gak jelas tapi gajinya gedhe, serem gak tuh😁
2022-04-20
0