Bab 8

Zidan kembali mengulurkan tangannya ke hadapan Aneska.

"Iya-iya." Ucap Aneska menyerahkan kembali ponselnya kepada Zidan.

"Hemmm aku boleh request lagi tidak?" Ucap Aneska sok manja.

Zidan melirik majikannya nyonya Rona. Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya.

"Apa." Ucap Zidan.

"Kan setiap bulan aku dapat gaji, sembilan belas juta transfer ke rekening bapak dan satu juta cash untukku, boleh." Ucap Aneska sok imut.

"Bagaimana nyonya." Tanya Zidan.

"Ok, tapi selesaikan kerjaanmu dengan baik, karena kerjaan sesungguhnya akan berlangsung besok." Ucap nyonya Rona.

Kemudian wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Aneska.

"Ikuti saya." Ucap Zidan melangkahkan kakinya.

"Kemana." Tanya Aneska.

Zidan berhenti dan melihat kearah gadis yang sedang berdiri di belakangnya.

"Ingat peraturan yang tadi saya sebutkan, tidak boleh bertanya." Ucap Zidan ketus.

"Oh ok." Aneska menutup mulutnya rapat dia mengikuti langkah Zidan dari belakang. Di belakang pria itu dia menjulurkan lidahnya kearah Zidan. Dia mengejek pria itu.

"Kemarin ada yang mengejek saya, lidahnya saya sop." Ucap Zidan sambil terus melangkahkan kakinya.

"Kok dia tau, kalau aku baru mengejeknya apa dia punya mata di belakang kepalanya." Gumam Aneska.

Gumaman Aneska terdengar oleh Zidan. Pria itu membalikkan badannya, dia melihat ke arah gadis di depannya.

"Aku tidak suka dengan wanita manja dan sok imut. Jadi tidak usah menggodaku!"Ucap Zidan.

"Siapa lagi yang menggodamu, aku itu baru mengejekmu." Ucap Aneska judes.

Pria tadi malas meladeni Aneska, dia berjalan dengan langkah lebar dan meninggalkan gadis itu sendirian. Tentu Aneska takut secara itu sebuah istana pasti dia akan kesasar kalau tidak mengikuti pria itu.

"Hey tunggu." Teriak Aneska.

Aneska bingung kemana dia harus pergi, dia berada di persimpangan.

"Aku harus kemana? Ke kanan apa ke kiri." Gumam Aneska.

"Aha, cap cip cup kembang kuncup pilih kanan atau kiri." Jari aneska berhenti di sebelah kiri. Dia melangkahkan kakinya ke arah kiri. Menyusuri lorong itu dan menemukan sebuah ruangan. Aneska melihat kedalam ruangan tapi tidak ada satupun orang di dalam situ. Dia terus berjalan dan jika menemukan ruangan kembali berhenti dan mencari seseorang.

"Sepertinya aku kesasar, aku seharusnya belok ke kanan." Gumam Aneska. Ketika dia mau melangkahkan kakinya kembali ke tempat semula, dia mendengar ada seseorang memainkan sebuah piano. Aneska kembali memutar badannya dan mencari sumber suara itu berasal. Dia terus mencari sumber suara itu dan berhenti pada satu ruangan.

Aneska menempelkan telinganya pada pintu ruangan. Dia mengetuk pintu ruangan. Dan suara piano berhenti. Kemudian pintu ruangan di buka. Ada seorang gadis berdiri di depannya.

"Maaf aku orang baru di sini. Aku mencari keberadaan Zidan." Ucap Aneska.

"Apa kamu tau peraturan di sini?" Ucap gadis itu.

"Iya aku tau, tidak boleh bertanya pada siapapun tapi aku kesasar. Apa kamu boleh mengatakan kepadaku di mana aku bisa menemukan pria aneh itu."

"Hahaha, kamu menyebutnya pria aneh. Belum ada yang berani menyebutnya seperti itu. Tapi sepertinya kamu gadis pemberani. Namaku Aqilah, tapi bisa di panggil Ila." Gadis itu mengulurkan tangannya kehadapan Aneska.

"Aku Aneska, dan aku seorang perawat." Aneska menyambut uluran tangan Ila.

Wajah Ila berubah murung, dan Aneska yang melihat bingung.

"Kamu kenapa." Tanya Aneska.

"Tidak apa-apa. Lebih baik kita tidak banyak bicara, karena itu peraturan."

"Kamu sama saja sama si Zidan, karena peraturan." Ucap Aneska sambil memperaktekkan cara bicara Zidan.

"Kamu lucu, ikuti lorong ini nanti kamu akan menemukannya. Aku yakin dia sedang bersama para pekerja lainnya." Ila hendak menutup pintunya.

"Permainan piano kamu bagus." Puji Aneska.

"Terimakasih."

Aneska lalu pergi meninggalkan Ila, dia mengikuti saran gadis itu untuk mengikuti lorong dan betul sekali dia menemukan Zidan di sana dengan para pekerja.

"Enak kesasar." Sindir Zidan.

"Huh." Ejek Aneska.

Dia memperhatikan semua orang yang ada di situ. Dimana banyak orang yang sedang menikmati berbagai macam kue.

"Ibu Tatik." Zidan melambaikan tangannya kepada wanita paruh baya. Wanita paruh baya itu mendekati Zidan.

"Ini perawat baru, kamu kasih tau dimana kamarnya dan apa saja yang harus dilakukannya selama di sini." Ucap Zidan.

"Baik pak." Wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya kearah Aneska.

"Ibu Tatik, saya kepala pelayan di sini." Ucap wanita paruh baya itu.

"Aneska." Sambil membalas uluran tangan ibu Tatik.

Zidan meninggalkan dua wanita itu. Dia menyerahkan semuanya kepada ibu Tatik.

"Sekarang waktunya coffee time, semua pekerja makan di sini. Dan waktu coffee time jam sepuluh pagi dan empat sore. Sarapan jam tujuh pagi, makan siang jam dua belas, dan makan malam jam tujuh malam. Waktu makan hanya tiga puluh menit. Waktu coffee time hanya lima belas menit." Ibu Tatik menjelaskan semuanya.

"Kalau saya terlambat makan bagaimana." Tanya Aneska.

"Kamu tidak akan mendapatkan makanan apapun. Karena setelah tiga puluh menit maka semua makanan akan di angkut oleh para chef. Begitupun untuk coffee time. Jadi pergunakan waktumu dengan baik. Jangan telat bangun karena pak Zidan maupun nyonya Rona tidak segan-segan menghukum." Ucap Ibu Tatik.

Mendengar kata hukuman Aneska merinding. Dia merasa istana tempat dia bekerja seperti sebuah penjara.

"Silahkan nikmati waktu coffee time kamu. Setelah itu akan saya tunjukkan kamar kamu." Ucap ibu Tatik.

Aneska menganggukkan kepalanya. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu secara dia masih lapar. Karena mie goreng yang di pesannya tadi di stasiun belum sepenuhnya habis. Menurutnya lebih baik mengganjal dengan aneka kue dan coffee.

Dia mengambil sebuah piring yang ada di meja prasmanan. Di depannya sudah ada beraneka ragam kue tradisional maupun aneka macam roti. Semuanya menggugah seleranya.

Dia mengambil tiga macam kue yang berbeda dan menuangkan secangkir coffee ke dalam gelasnya. Lalu duduk bersama para pekerja wanita. Semua pekerja wanita maupun para pekerja pria mengenakan seragam berwarna hitam, pakaiannya sendiri yang berbeda. Menurutnya jika sudah mulai bekerja maka pakaiannya tetap akan berbeda secara dia perawat.

"Boleh aku duduk di sini." Ucap Aneska.

Wanita di sebelah dan di depannya hanya menganggukkan kepala. Aneska langsung duduk sambil tersenyum ramah.

"Aku Aneska."

Kedua wanita di depan dan di sebelahnya hanya menganggukkan kepalanya. Aneska bingung semua yang makan di situ terlihat hening tanpa ada bicara satu sama lain.

Teng nong teng nong. Ada suara yang begitu nyaring, Aneska baru menghabiskan satu kue masih ada dua kue lagi belum di makannya. Dia melihat sekelilingnya di mana para pekerja langsung beranjak dari kursi sambil membawa piring kosong dan gelas coffee masing-masing.

"Aku simpan saja kue ini dalam tasku. Soalnya mubazir kalau di buang." Gumam Aneska pelan.

Dia mengikuti para pekerja sambil tetap membawa piring dan cangkir kopinya. Semua pekerja meletakkan piring dan cangkir kotor di dapur. Setelah itu semua pekerja kembali melakukan pekerjaannya masing-masing.

Ibu Tatik menghampirinya sambil mengulurkan tangannya kehadapan Aneska. Dan dia langsung menyalami kepala pelayan itu.

"Bukan ini. Keluarkan kue yang kamu simpan." Ucap ibu Tatik.

"Kue?"

"Mau saya geledah atau?"

"Bu, saya baru makan satu kue, kan mubazir kalau di buang." Ucap Aneska.

"Kamu tidak memanfaatkan waktumu dengan baik. Kamu bisa makan sepuasnya. Tapi kalau waktu sudah habis, makanan yang kamu ambil dan belum tersentuh kembalikan ke tempat semula. Dan jika sudah di sentuh buang. Seperti itu peraturannya."

Aneska menyerahkan kue itu kepada ibu Tatik. Walaupun kesal tapi dia tetap mengikuti peraturan.

"Dan satu lagi jangan banyak bicara." Ucap ibu Tatik.

"Baik bu."

"Ikut saya." Aneska mengikuti ibu Tatik, wanita paruh baya itu mengajaknya berkeliling istana. Semua ruangan ditunjukkannya.

"Kamu tidak boleh naik ke lantai paling atas. Hanya sampai lantai empat saja."

"Kenapa?" Ucap Aneska.

"Berapa kali saya bilang jangan banyak tanya." Ucap ibu Tatik marah.

"Maaf bu, karena ibu tidak memberikan alasannya." Ucap Aneska.

"Sepertinya kamu mau minta hukum." Ucap ibu Tatik ketus.

"Enggak bu, maaf saya janji tidak akan mengulangi lagi." Aneska merapatkan kedua tangannya di hadapan wanita itu.

Bersambung.

“ Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih.”

Ig. anita_rachman83

Bagi yang baru bergabung bisa baca karya author lainnya yang berjudul "Menikah Karena Ancaman"

🌷🌷🌷

Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014

Terpopuler

Comments

Indra Listiana

Indra Listiana

di hukum aja bu ...

2023-06-25

0

Indra Listiana

Indra Listiana

thur ..knp di kasih yg kek gimi....tny mulu.. secara sdh di ksh tau ... haduuh

2023-06-25

0

ahyuun.e

ahyuun.e

kek tong kosong nyaring bunyi melambangkan aneska, perwat yg asli gak bnyak omong dan tertib aturan dan sllu bicara sesuai arahan, lah ini nyasar dri planet mana si aneska ini

2023-01-10

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!