Zidan kembali mengulurkan tangannya ke hadapan Aneska.
"Iya-iya." Ucap Aneska menyerahkan kembali ponselnya kepada Zidan.
"Hemmm aku boleh request lagi tidak?" Ucap Aneska sok manja.
Zidan melirik majikannya nyonya Rona. Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya.
"Apa." Ucap Zidan.
"Kan setiap bulan aku dapat gaji, sembilan belas juta transfer ke rekening bapak dan satu juta cash untukku, boleh." Ucap Aneska sok imut.
"Bagaimana nyonya." Tanya Zidan.
"Ok, tapi selesaikan kerjaanmu dengan baik, karena kerjaan sesungguhnya akan berlangsung besok." Ucap nyonya Rona.
Kemudian wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Aneska.
"Ikuti saya." Ucap Zidan melangkahkan kakinya.
"Kemana." Tanya Aneska.
Zidan berhenti dan melihat kearah gadis yang sedang berdiri di belakangnya.
"Ingat peraturan yang tadi saya sebutkan, tidak boleh bertanya." Ucap Zidan ketus.
"Oh ok." Aneska menutup mulutnya rapat dia mengikuti langkah Zidan dari belakang. Di belakang pria itu dia menjulurkan lidahnya kearah Zidan. Dia mengejek pria itu.
"Kemarin ada yang mengejek saya, lidahnya saya sop." Ucap Zidan sambil terus melangkahkan kakinya.
"Kok dia tau, kalau aku baru mengejeknya apa dia punya mata di belakang kepalanya." Gumam Aneska.
Gumaman Aneska terdengar oleh Zidan. Pria itu membalikkan badannya, dia melihat ke arah gadis di depannya.
"Aku tidak suka dengan wanita manja dan sok imut. Jadi tidak usah menggodaku!"Ucap Zidan.
"Siapa lagi yang menggodamu, aku itu baru mengejekmu." Ucap Aneska judes.
Pria tadi malas meladeni Aneska, dia berjalan dengan langkah lebar dan meninggalkan gadis itu sendirian. Tentu Aneska takut secara itu sebuah istana pasti dia akan kesasar kalau tidak mengikuti pria itu.
"Hey tunggu." Teriak Aneska.
Aneska bingung kemana dia harus pergi, dia berada di persimpangan.
"Aku harus kemana? Ke kanan apa ke kiri." Gumam Aneska.
"Aha, cap cip cup kembang kuncup pilih kanan atau kiri." Jari aneska berhenti di sebelah kiri. Dia melangkahkan kakinya ke arah kiri. Menyusuri lorong itu dan menemukan sebuah ruangan. Aneska melihat kedalam ruangan tapi tidak ada satupun orang di dalam situ. Dia terus berjalan dan jika menemukan ruangan kembali berhenti dan mencari seseorang.
"Sepertinya aku kesasar, aku seharusnya belok ke kanan." Gumam Aneska. Ketika dia mau melangkahkan kakinya kembali ke tempat semula, dia mendengar ada seseorang memainkan sebuah piano. Aneska kembali memutar badannya dan mencari sumber suara itu berasal. Dia terus mencari sumber suara itu dan berhenti pada satu ruangan.
Aneska menempelkan telinganya pada pintu ruangan. Dia mengetuk pintu ruangan. Dan suara piano berhenti. Kemudian pintu ruangan di buka. Ada seorang gadis berdiri di depannya.
"Maaf aku orang baru di sini. Aku mencari keberadaan Zidan." Ucap Aneska.
"Apa kamu tau peraturan di sini?" Ucap gadis itu.
"Iya aku tau, tidak boleh bertanya pada siapapun tapi aku kesasar. Apa kamu boleh mengatakan kepadaku di mana aku bisa menemukan pria aneh itu."
"Hahaha, kamu menyebutnya pria aneh. Belum ada yang berani menyebutnya seperti itu. Tapi sepertinya kamu gadis pemberani. Namaku Aqilah, tapi bisa di panggil Ila." Gadis itu mengulurkan tangannya kehadapan Aneska.
"Aku Aneska, dan aku seorang perawat." Aneska menyambut uluran tangan Ila.
Wajah Ila berubah murung, dan Aneska yang melihat bingung.
"Kamu kenapa." Tanya Aneska.
"Tidak apa-apa. Lebih baik kita tidak banyak bicara, karena itu peraturan."
"Kamu sama saja sama si Zidan, karena peraturan." Ucap Aneska sambil memperaktekkan cara bicara Zidan.
"Kamu lucu, ikuti lorong ini nanti kamu akan menemukannya. Aku yakin dia sedang bersama para pekerja lainnya." Ila hendak menutup pintunya.
"Permainan piano kamu bagus." Puji Aneska.
"Terimakasih."
Aneska lalu pergi meninggalkan Ila, dia mengikuti saran gadis itu untuk mengikuti lorong dan betul sekali dia menemukan Zidan di sana dengan para pekerja.
"Enak kesasar." Sindir Zidan.
"Huh." Ejek Aneska.
Dia memperhatikan semua orang yang ada di situ. Dimana banyak orang yang sedang menikmati berbagai macam kue.
"Ibu Tatik." Zidan melambaikan tangannya kepada wanita paruh baya. Wanita paruh baya itu mendekati Zidan.
"Ini perawat baru, kamu kasih tau dimana kamarnya dan apa saja yang harus dilakukannya selama di sini." Ucap Zidan.
"Baik pak." Wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya kearah Aneska.
"Ibu Tatik, saya kepala pelayan di sini." Ucap wanita paruh baya itu.
"Aneska." Sambil membalas uluran tangan ibu Tatik.
Zidan meninggalkan dua wanita itu. Dia menyerahkan semuanya kepada ibu Tatik.
"Sekarang waktunya coffee time, semua pekerja makan di sini. Dan waktu coffee time jam sepuluh pagi dan empat sore. Sarapan jam tujuh pagi, makan siang jam dua belas, dan makan malam jam tujuh malam. Waktu makan hanya tiga puluh menit. Waktu coffee time hanya lima belas menit." Ibu Tatik menjelaskan semuanya.
"Kalau saya terlambat makan bagaimana." Tanya Aneska.
"Kamu tidak akan mendapatkan makanan apapun. Karena setelah tiga puluh menit maka semua makanan akan di angkut oleh para chef. Begitupun untuk coffee time. Jadi pergunakan waktumu dengan baik. Jangan telat bangun karena pak Zidan maupun nyonya Rona tidak segan-segan menghukum." Ucap Ibu Tatik.
Mendengar kata hukuman Aneska merinding. Dia merasa istana tempat dia bekerja seperti sebuah penjara.
"Silahkan nikmati waktu coffee time kamu. Setelah itu akan saya tunjukkan kamar kamu." Ucap ibu Tatik.
Aneska menganggukkan kepalanya. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu secara dia masih lapar. Karena mie goreng yang di pesannya tadi di stasiun belum sepenuhnya habis. Menurutnya lebih baik mengganjal dengan aneka kue dan coffee.
Dia mengambil sebuah piring yang ada di meja prasmanan. Di depannya sudah ada beraneka ragam kue tradisional maupun aneka macam roti. Semuanya menggugah seleranya.
Dia mengambil tiga macam kue yang berbeda dan menuangkan secangkir coffee ke dalam gelasnya. Lalu duduk bersama para pekerja wanita. Semua pekerja wanita maupun para pekerja pria mengenakan seragam berwarna hitam, pakaiannya sendiri yang berbeda. Menurutnya jika sudah mulai bekerja maka pakaiannya tetap akan berbeda secara dia perawat.
"Boleh aku duduk di sini." Ucap Aneska.
Wanita di sebelah dan di depannya hanya menganggukkan kepala. Aneska langsung duduk sambil tersenyum ramah.
"Aku Aneska."
Kedua wanita di depan dan di sebelahnya hanya menganggukkan kepalanya. Aneska bingung semua yang makan di situ terlihat hening tanpa ada bicara satu sama lain.
Teng nong teng nong. Ada suara yang begitu nyaring, Aneska baru menghabiskan satu kue masih ada dua kue lagi belum di makannya. Dia melihat sekelilingnya di mana para pekerja langsung beranjak dari kursi sambil membawa piring kosong dan gelas coffee masing-masing.
"Aku simpan saja kue ini dalam tasku. Soalnya mubazir kalau di buang." Gumam Aneska pelan.
Dia mengikuti para pekerja sambil tetap membawa piring dan cangkir kopinya. Semua pekerja meletakkan piring dan cangkir kotor di dapur. Setelah itu semua pekerja kembali melakukan pekerjaannya masing-masing.
Ibu Tatik menghampirinya sambil mengulurkan tangannya kehadapan Aneska. Dan dia langsung menyalami kepala pelayan itu.
"Bukan ini. Keluarkan kue yang kamu simpan." Ucap ibu Tatik.
"Kue?"
"Mau saya geledah atau?"
"Bu, saya baru makan satu kue, kan mubazir kalau di buang." Ucap Aneska.
"Kamu tidak memanfaatkan waktumu dengan baik. Kamu bisa makan sepuasnya. Tapi kalau waktu sudah habis, makanan yang kamu ambil dan belum tersentuh kembalikan ke tempat semula. Dan jika sudah di sentuh buang. Seperti itu peraturannya."
Aneska menyerahkan kue itu kepada ibu Tatik. Walaupun kesal tapi dia tetap mengikuti peraturan.
"Dan satu lagi jangan banyak bicara." Ucap ibu Tatik.
"Baik bu."
"Ikut saya." Aneska mengikuti ibu Tatik, wanita paruh baya itu mengajaknya berkeliling istana. Semua ruangan ditunjukkannya.
"Kamu tidak boleh naik ke lantai paling atas. Hanya sampai lantai empat saja."
"Kenapa?" Ucap Aneska.
"Berapa kali saya bilang jangan banyak tanya." Ucap ibu Tatik marah.
"Maaf bu, karena ibu tidak memberikan alasannya." Ucap Aneska.
"Sepertinya kamu mau minta hukum." Ucap ibu Tatik ketus.
"Enggak bu, maaf saya janji tidak akan mengulangi lagi." Aneska merapatkan kedua tangannya di hadapan wanita itu.
Bersambung.
“ Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih.”
Ig. anita_rachman83
Bagi yang baru bergabung bisa baca karya author lainnya yang berjudul "Menikah Karena Ancaman"
🌷🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Indra Listiana
di hukum aja bu ...
2023-06-25
0
Indra Listiana
thur ..knp di kasih yg kek gimi....tny mulu.. secara sdh di ksh tau ... haduuh
2023-06-25
0
ahyuun.e
kek tong kosong nyaring bunyi melambangkan aneska, perwat yg asli gak bnyak omong dan tertib aturan dan sllu bicara sesuai arahan, lah ini nyasar dri planet mana si aneska ini
2023-01-10
0