Pagi ini Aneska tidak terlambat, dia datang lebih awal. Dan ibu ratu untuk julukan yang diberikannya kepada ibu Susan juga belum datang. Dia menyapa para perawat yang bekerja di shift malam. Mereka akan berganti shift ketika semua perawat sudah datang. Sebelum pergantian shift dia menyempatkan diri bertemu dengan pasien kesayangannya. Pasien itu bernama oma Nely dan di rawat di ruang VIP. Dia mengetuk pintu ruang rawat inap.
“Masuk.” Ucap seseorang dari dalam ruang rawat inap.
Aneska membuka pintu ruangan sambil memberikan senyuman kepada wanita sepuh itu.
“Pagi oma.” Sapa Anes.
“Pagi Anes.” Jawab Oma Nely.
“Bagaimana keadaan oma?”
“Sudah lebih baik.” Jawab oma Nely.
“Oma jadi keluar hari ini.” Tanya Anes.
“Jadi sayang, oma masih menunggu dokter visit.”
Aneska manggut-manggut sambil melihat isi ruangan rawat inap tersebut. Oma Nely memperhatikannya.
“Kenapa Nes?”
“ Eh enggak oma, apa keluarga oma tidak datang? Soalnya aku perhatikan oma selalu sendiri di kamar ini.”
“Ada Nes, cucu oma datang menjenguk setiap malam sepulang kerja dia menyempatkan waktunya untuk menjenguk oma.”
“Oh, mungkin karena aku masuk shift pagi jadi tidak pernah melihat kehadiran cucu oma.”
Ada suara pintu di buka, seorang pria masuk sambil tersenyum kepada oma Nely.
“Pagi oma.” Sapa pria itu sambil mengecup pipi wanita sepuh itu.
“Pagi sayang.” Ucap oma Nely.
“Nes kenalkan ini cucu oma, namanya Luky.” Ucap oma Nely.
Pria itu mengulurkan tangannya kehadapannya. Aneska menyambut tangan pria itu sambil tersenyum kik kuk.
Oh Tuhan ganteng banget.
Oma Nely memperhatikan sikap Aneska yang gugup, dia tersenyum melihat raut wajah Aneska yang malu-malu. Dia menyadari kesalahannya yang terus menggenggam tangan Luky. Aneska buru-buru melepaskan tangannya dari tangan pria di depannya.
“Maaf oma, saya harus kembali bersama teman yang lain, permisi.” Ucap Aneska sambil pura-pura melihat jam di pergelangan tangannya.
Oma Nely menganggukkan kepalanya. Wanita itu langsung meninggalkan oma dengan cucunya.
“Namanya Aneska, cantikkan.” Ucap oma Nely.
“Kenapa oma mengatakann itu kepadaku.” Tanya Luky.
“Luky sayang sampai kapan kamu sendiri, oma sudah tua. Sebelum Oma meninggal menikahlah.”
“Sstt, oma jangan berkata seperti itu.” Luky duduk di sebelah pinggir kasur.
“Oma tidak akan meninggal, aku ingin oma melihatku menikah dan punya bayi. Jangan pernah berkata seperti itu lagi.” Ucap Luky sambil memegang tangan omanya.
“Ya sudah menikahlah, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Mau sampai kapan kamu menyendiri.” Ucap oma.
“Iya oma, aku nanti akan menikah, ketika menemukan jodoh yang tepat.”
“Apa Aneska bukan jodoh yang tepat. Dia baik rajin cantik lagi. Dia sama seperti kamu belum mempunyai kekasih.”
“Oma.” Ucap Luky.
Dia tidak suka di jodohkan, walaupun dia mengakui kalau perawat tadi cantik. Tapi dia tetap belum memikirkan pernikahan.
Di ruang perawat.
Aneska sudah bergabung dengan teman seprofesinya. Ibu Susan selaku kepala perawat di bagian itu memberikan briefing kepada semua perawat yang masuk shift pagi. Setelah selesai briefing perawat mengambil posisinya masing-masing dengan mengecek para pasien di dalam ruang rawat inap.
Aneska, Tiara dan Aldo melakukan rutinitasnya dengan mengecek pasien dari tekanan darah, melihat botol infus sampai menanyakan keluhan yang di rasakan para pasien. Keluhan pasien akan di catat di buku dan akan diberitahukan kepada dokter setelah dokter visit.
Mereka berjalan beriringan kembali ke ruang perawat.
“Kamu dari mana saja tadi.” Tanya Tiara.
“Aku baru melihat oma Nely.”
“Oh.” Ucap Tiara singkat.
“Kamu tau tidak kalau oma Nely punya cucu gantengnya enggak ketulungan.” Ucap Aneska antusias.
“Udah tau.” Ucap Tiara.
Aneska melihat ke arah temannya sambil tetap berjalan.
“Kok kamu enggak bilang kalau oma punya cucu ganteng.” Tanya Anes.
“Ye, memang aku harus memberitahukan semuanya kepadamu.” Ucap Tiara sambil memonyongkan mulutnya.
“Ya enggak sih, tapi apa salahnya info ke teman, hehehe.” Ucap Anes.
Aneska teringat sesuatu tentang pesan yang di terimanya dari mbak Tami.
“Coba kalian lihat ini.” Aneska menunjukkan ponselnya yang berisi pesan dari mbak tami. Kedua temannya membaca isi pesan tersebut.
Jangan pernah mengirimkan pesan apapun kepadaku, aku dalam keadaan baik. Dan jangan pernah menghubungiku.
Kedua temannya Tiara dan Aldo saling pandang.
“Kok mbak Tami mengirim pesan seperti ini.” Ucap Tiara.
“Itulah yang aku pikirkan, apa sebenarnya yang terjadi dengan mbak Tami. Karena pesan ini bukan seperti darinya.” Ucap Aneska.
“Iya, mbak Tami selalu lemah lembut dan tidak pernah berkata kasar. Dari kalimat ini bukan seperti keluar dari mulutnya.” Timpal Aldo.
“Kenapa aku memikirkan hal-hal yang aneh ya.” Ucap Tiara.
“Sama, aku juga memikirkan hal yang sama. Sepertinya telah terjadi sesuatu dengan mbak Tami. Tapi apa?”
Kedua temannya mengangkat bahunya. Mereka juga tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi dengan mbak Tami.
Waktunya dokter visit. Ada beberapa dokter yang visit ke ruang rawat inap. Dokter yang visit bukan hanya satu tapi ada beberapa dokter. Mereka mengunjungi pasiennya masing-masing. Dokter bisa visit lebih dari satu pasien. Tapi ada juga hanya dengan satu pasien.
Beberapa dokter visit ke ruang rawat inap di dampingi beberapa perawat. Dan ada salah satu dokter yang juga visit yaitu dokter Arif.
Dokter Arif adalah Dokter spesialis dan pagi itu dia datang ke ruang perawat.
"Pagi dokter." Sapa para perawat.
Dokter yang tidak muda lagi itu duduk di kursi yang sudah di sediakan para perawat. Sebelum visit dia mengecek beberapa file pasiennya.
Kemudian dokter Arif melakukan visit dengan Aneska dan Aldo. Hanya dua perawat yang mengikutinya. Ada beberapa pasien yang dikunjunginya dengan mengecek kondisi pasien dan memastikan pasien sudah bisa pulang atau belum. Salah satu pasien dokter Arif adalah oma Nely.
"Pagi." Sapa dokter
"Pagi dokter." Sapa oma Nely.
Dokter Arif mengecek kondisi pasiennya. Setelah memastikan kondisi pasiennya sudah sembuh. Dokter itu mengizinkan pasiennya untuk pulang.
"Ibu sudah sembuh jadi sudah bisa pulang. Tapi ingat jangan terlalu capek. Tiga hari lagi kontrol." Ucap dokter Arif sambil menulis di berkas pasien.
Oma Nely mempunyai penyakit asma. Dia sering masuk rumah sakit gara-gara asmanya kambuh.
"Terima kasih dokter." Ucap oma Nely dan Luky cucunya.
Setelah dokter Arif mengunjungi semua pasiennya. Beliau kembali ke ruang perawat dengan di dampingi Aneska dan Aldo.
"Selesai jam makan siang kamu datang ke ruangan saya." Ucap dokter Arif.
"Saya dok?" Ucap Aneska sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu." Ucap dokter Arif.
Setelah dokter Arif keluar dari ruang perawat. Tiara dan Aldo langsung menghampiri temannya.
"Suit suit mau di lamar dokter Arif nih." Goda Tiara.
"Sok tau." Ucap Aneska.
"Kamu kalau di lamar mau enggak?" Goda Aldo juga.
"Maulah, hahaha." Ucap Aneska diiringi gelak tawanya.
"Gayanya sok jual mahal tapi nyatanya tidak nolak." Ejek Tiara.
"Siapa juga yang nolak kalau di lamar dokter Arif. Walaupun usianya sudah kepala tiga lebih tapi ganteng tau, mandiri lagi." Ucap Aneska.
"Heran deh, kenapa dokter Arif belum menikah padahal usianya sudah tidak muda lagi." Ucap Tiara.
"Karena calon istrinya ada di sini." Ucap Aneska.
"Heleh semua kamu mau, cucu oma mau, dokter Arif juga. Kamu itu memang tidak laku apa lagi obral sih." Ledek Tiara.
"Hahaha, aku bukan obral ya. Yang mana melamar akan aku terima." Ucap Aneska.
Bersambung.
“ **Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih.”
Ig. anita_rachman83**
Bagi yang baru bergabung bisa baca karya author lainnya yang berjudul "Menikah Karena Ancaman"
🌷🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀ᴅͨɪͧᴀᷡɴͨɴͣᴀᷡᴳᴿ🐅
nes anes,
2023-01-03
0
Anni Zakiyani
spesialis apa
2022-11-12
0
Widy Erny
seperti novel misteri, oke gue suka
2022-06-23
0