Aneska masih terpesona dengan kegantengan dokter Arif.
"Anes." Ucap dokter Arif menyadarkan gadis di depannya.
"Eh iya dok." Ucap Aneska gugup.
"Ketika kamu berada di sana, peraturan harus kamu jalankan."
"Salah satunya apa dok." Tanya Aneska.
"Maaf Nes, saya tidak berhak mengatakannya kepadamu. Karena peraturan ini di buat untuk semua perawat yang akan bekerja di sana." Ucap dokter Arif.
"Maaf dok, sebenarnya saya bekerja di tempat seperti apa?" Ucap Aneska.
Dokter Arif diam.
"Kenapa dok? Apa terlalu berat untuk dokter mengatakan kepada saya. Atau semua perawat yang pindah ke sana juga dokter perlakukan seperti ini." Ucap Aneska.
"Maaf Nes, saya tidak bisa memberitahukan kepadamu. Untuk gaji tenang saja. Walaupun kamu akan di pindahkan dan mengingat belum satu bulan, gaji akan tetap di bayar full." Ucap dokter menjelaskan.
"Baik dok, lalu kapan saya mulai bekerja ke sana." Tanya Aneska.
"Besok saya akan mengirimkan alamatnya via chat." Dokter Arif mengambil sesuatu dari dalam laci meja, dia meyerahkan sebuah amplop putih kehadapan Anes.
"Apa ini dok." Tanya Aneska.
"Ini riwayat penyakit pasien. Dan kamu hanya boleh membukanya ketika sudah berada di sana." Ucap dokter Arif.
"Baik dok." Aneska mengambil amplop putih itu. Dia memandang amplop itu. Benda itu di rekatkan dengan lem.
"Saya akan datang ke sana paling lama sebulan sekali." Ucap dokter Arif.
"Sebulan sekali?"
"Iya, tapi kalau kamu mau saya bisa datang seminggu sekali." Ucap dokter Arif seperti ada rasa khawatir dengan gadis di depannya.
Heran kenapa dokter Arif datangnya sebulan sekali. Sebenarnya aku bekerja di tempat apa, kenapa bulu kudukku merinding seperti ini.
"Oh iya berapa nomor ponsel kamu." Tanya dokter Arif.
Aneska memberitahukan nomor ponselnya. Dokter itu menyimpan nomornya di dalam ponselnya. Kemudian pria di depannya langsung menghubunginya. Ponsel Aneska berdering.
"Itu nomor saya. Kamu bisa menghubungi saya kapanpun kamu mau." Ucap dokter Arif.
Aneska menyimpan nomor dokter Arif dengan memberikan nama di ponselnya dokter ganteng.
"Kamu boleh pulang lebih awal. Bersiaplah, besok pagi kamu akan berangkat dan tiba di sana sebelum tengah hari." Ucap dokter Arif.
Aneska beranjak dari kursinya dan hendak keluar dari ruangan itu. Kemudian dia membalikkan badannya.
"Dok, apa tempat saya bekerja ada di kota ini? Atau beda kota." Tanya Aneska.
Dokter itu diam, dia melihat wajah Aneska.
"Halo dokter? Anda melamun ya." Ejek Aneska
"Eh tidak." Ucap dokter Arif.
"Nanti malam akan saya kabari. Kamu bisa pulang sekarang dan mempersiapkan keperluan kamu dari sekarang. Dan jangan lupa kalau sudah sampai sana kabari saya."
"Baik dok." Ucap Aneska kemudian keluar dari ruangan itu.
Aneska kembali ke ruang perawat, Aldo dan Tiara menunggunya. Mereka melihat amplop di tangan temannya.
"Wah kamu sudah dapat gaji." Celetuk Tiara.
"Di pikiranmu uang saja. Apa tidak ada selain uang di pikiranmu." Ucap Anes.
"Heleh kamu pun sama, kamu menerima tawaran ini karena gajinya yang besar. Berarti kamu juga memikirkan uang." Ucap Tiara.
"Iya memang aku menerima tawaran ini karena nominalnya yang besar tapi ini bukan uang." Ucap Aneska sambil menunjukkan amplop pemberian dokter Arif kepada temannya.
Tiara dan Aldo melihat amplop putih itu.
"Apa isinya." Tanya Aldo.
"Kata dokter Arif, surat keterangan riwayat pasien." Ucap Anes.
"Kok di segel sih." Protes Tiara.
"Enggak tau, ini kan rahasia pasien. Kamu kan tau kode etik kita sebagai perawat." Ucap Anes.
"Iya-iya. Terus kapan surat ini kamu buka." Tanya Tiara.
"Menurut dokter Arif di buka ketika sudah sampai sana."
"Kapan kamu berangkat." Tanya Aldo.
"Besok pagi aku sudah berangkat, aku mau pulang sekarang mau beberes dulu." Ucap Aneska sambil mengambil barang-barangnya di ruang perawat.
Sebelum pulang Aneska memeluk temannya Tiara, dan juga menyalami Aldo.
"Hati-hati ya. Kasih kabar sama kami jangan hilang seperti mbak Tami." Ucap Tiara.
"Iya-iya aku akan mengabari kalian. Doakan semoga aku betah di tempat baru dan selalu di lindungi Allah." Ucap Aneska.
"Aamiin, kami mendoakan yang terbaik buatmu." Ucap Aldo.
Setelah berpelukan dan pamit dengan teman-teman perawatnya. Aneska kembali ke mes dengan berjalan kaki. Sesampai di mes dia menyusun semua barang dan memasukkan semuanya ke dalam kopernya.
Waktu sudah petang tapi dokter Arif belum menghubunginya.
"Aku jadi pindah enggak sih, sampai sekarang alamat saja belum di share dokter Arif." Gerutu Aneska.
Selang dua jam ponselnya berdering.
"Hah video call? Mukaku lecek begini." Aneska langsung menjawab panggilan video call dari dokter Arif.
"Halo dokter." Ucap Aneska. Dokter Arif sedang berada di rumahnya itu terlihat ketika mereka melakukan video call.
"Ya halo. Aneska besok pagi kamu naik bis turun di stasiun sampai sana akan ada yang menjemputmu." Ucap dokter Arif.
"Baik dokter." Ucap Aneska.
Tapi dia masih ragu dan ingin bertanya siapa yang akan menjemputnya.
"Dokter kalau boleh tau siapa kira-kira yang menjemput saya." Tanya Aneska.
"Nanti supir akan menjemputmu, kamu tidak perlu khawatir foto kamu sudah saya kirim ke sana."
"Foto? Dari mana dokter dapat foto saya? Apa dokter diam-diam memotret saya." Tanya Aneska langsung.
"Anes anes foto yang saya kirim ke sana sebuah foto dengan ukuran tiga di kali empat dengan background warna merah."
"Hehehe maaf dok, saya pikir dokter pengagum saya dalam diam." Ucap Aneska tanpa malu.
"Hahaha, memang saya pengagummu." Ucap dokter Arif.
"Serius dokter." Tanya Aneska.
"Enggak usah di bahas. Kamu istirahat yang cukup jangan terlalu capek." Ucap dokter Arif menghindar.
"Selamat malam." Ucap dokter Arif kemudian panggilan terputus.
Aneska memandang langit-langit kamarnya agar matanya dapat terpejam tapi matanya tak kunjung mau terpejam. Ada rasa senang ketika dokter itu mengatakan sebagai pengagumnya.
"Apa benar dokter Arif mengagumiku, atau dia hanya bergurau kepadaku. Tapi kenapa dia seperti menghindar." Gumam Aneska.
Karena matanya tak kunjung mau di pejamkan. Dia mencoba menghubungi keluarganya melalui ponsel adiknya Cyra.
Panggilan terhubung.
"Halo dek." Ucap Aneska.
"Iya kak." Suara adiknya terdengar berat.
"Kamu lagi tidur?"
"Hemmm." Ucap adiknya.
"Ibu sama bapak udah tidur ya." Tanya Aneska lagi.
"Enggak tau, aku tadi pulang sore terus ketiduran." Jawab adiknya dari ujung ponselnya.
"Kemana saja kamu? Kok pulang sore? Bukannya seharusnya kamu pulang siang. Mana ada anak sekolah pulang sore." Ucap Aneska dengan mengajukan pertanyaan beruntun.
"Ah kakak ini, aku itu ada kegiatan ekskul di sekolah, jangan berpikiran yang aneh-aneh deh. Adikmu ini bisa jaga diri." Ucap Cyra.
"Iya kakak tau, tapi kamu harus tetap hati-hati. Coba mana bapak sama ibu, kakak mau bicara." Ucap Aneska.
Cyra keluar dari kamarnya. Dia mencari keberadaan ibu dan bapaknya.
"Kak sepertinya bapak sama ibu sudah tidur. Apa mau aku bangunkan." Tanya Cyra.
"Enggak usah, kakak cuma mau bilang saja kalau besok kakak pindah kerja."
"Pindah kerja? Jadi kakak tidak berkerja di rumah sakit lagi." Tanya Cyra.
"Kakak di pindahkan ke tempat yang lain, memang belum jelas tempat seperti apa kakak bekerja. Tapi menurut kakak pasti rumah sakit juga. Cuma yang mengherankan kalau rumah sakit kenapa bayarannya besar sekali." Ucap Aneska.
"Memangnya berapa gaji yang di tawarkan." Tanya adiknya.
"Empat bulan gaji kakak yaitu sebesar dua puluh juta." Ucap Aneska.
"Busyet besar banget gajinya.".
"Gede kan, makanya kakak ambil biar bisa melunasi hutang kita." Ucap Aneska.
"Iya kak, kakak jaga diri jangan lupa makan. Awas kalau makan mie instan terus. Aku kasih tau ibu entar." Ucap adiknya.
"Hust jangan bilang sama ibu kalau kakak senang makan mie instan, nanti bisa kena ceramah satu kali dua puluh empat jam." Ucap Aneska.
"Hahaha." Keduanya tertawa dan setelah percakapan itu panggilan terputus. Matanya Aneska sudah cukup berat dengan cepat dia langsung masuk ke alam mimpinya.
Bersambung.
“ Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih.”
Ig. anita_rachman83
Bagi yang baru bergabung bisa baca karya author lainnya yang berjudul "Menikah Karena Ancaman"
🌷🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Puteri Siliwangi
lanjut Thor jngn lupa visual nya y😊🥰
2022-11-25
0
Krea25
jadi penasaran
2022-05-20
0
이카
deg degan saya sumpah
2022-03-27
0