Zidan keluar dari kamar Aneska dan lagi-lagi perawat itu memanggilnya.
"Hei tunggu." Ucap Aneska.
"Apa lagi." Zidan membalikkan badannya menghadap Aneska.
"Kenapa kamu sudah berada di luar tadi, jangan-jangan kamu memata-mataiku." Tebak Aneska.
"Iya, memang aku memataimu. Aku tau kamu sedang mencari cara agar bisa kabur dari sini. Dan ternyata benar, tapi sayang aksimu gagal." Ucap Zidan sambil tersenyum mengejek.
"Cih, aku pastikan aku akan kabur dari sini. Lihat saja nanti." Ucap Aneska yakin.
"Silahkan, ke lubang semut pun kamu akan aku cari." Ucap Zidan sambil melambaikan tangannya ke arah Aneska, pria itu pergi meninggalkannya.
"Mati aku, besok pasti babak belur lagi ni muka." Gumam Aneska sambil melihat wajahnya dari dalam cermin.
"Wajahku udah babak belur gini tapi kok masih cantik ya." Aneska memuji dirinya sendiri, dia melakukan itu untuk menghilangkan rasa khawatirnya akan siksaan yang akan di terimanya dari Abian.
Waktu sudah semakin larut, Aneska buru-buru memejamkan matanya untuk tidur. Waktu terus bergerak dengan sangat cepat dan tanpa di sadari jam weker yang ada di meja rias kamar Aneska berbunyi. Dia mematikan jam weker sambil terus menguap.
"Ngantuk banget." Gumam Aneska sambil masuk ke kamar mandi. Setelah selesai dia kembali mengenakan seragamnya.
"Pantas seragam pekerja warnanya hitam. Ternyata setiap hari selalu berduka di sini." Gumam Aneska.
Dia mulai memikirkan cara agar tidak masuk ke kamar Abian.
"Kalau aku pura-pura sakit, otomatis aku baring di kamar. Terus enggak sarapan. Walah malah sakit beneran nanti." Gumam Aneska lagi.
"Lebih baik aku makan dulu, setelah perut kenyang pasti bisa mikir." Gumam Aneska lagi sambil keluar dari kamarnya menuju ruang makan.
Karena waktu sarapan pagi telah tiba ruang makan itu sudah di padati para pekerja.
Menu makan siang pagi itu, lontong sayur, nasi goreng dan nasi uduk. Menu yang di sajikan menggugah selera para pekerja. Begitupun Aneska. Dia mengambil dua piring dan satu mangkok.
Para pekerja wanita yang ada memperhatikannya, karena belum pernah ada pekerja wanita yang mempunyai napsu makan sepertinya. Beda halnya dengan pekerja pria, mereka mempunyai selera makan yang lumayan besar.
"Jangan kaget, aku makan banyak karena nanti akan kena siksa, entah masih hidup atau tidak nanti. Yang jelas makan dulu." Ucap Aneska kepada para pekerja wanita yang memperhatikannya. Ibu Tatik melihatnya dari jauh, dia masih kesal dengan sikap pembangkang Aneska.
"Dia memang tidak takut dengan hukuman, lihat saja mungkin pak Zidan membelamu tapi aku akan melaporkan kepada nyonya Rona." Gumam bu Tatik.
Waktu sarapan telah habis, Aneska buru-buru ke dapur meletakkan piring kotor dan langsung berlari menuju kamarnya.
"Ok aku harus membuat rencana agar gagal masuk ke dalam kamar Abian. Bagaimanapun harus gagal." Gumam Aneska.
"Aha aku ada ide." Gumam Aneska senang. Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.
"Pasti si telur dadar." Gumam Aneska sambil membuka pintu kamarnya.
"Waktunya kerja." Ucap ibu Tatik ketus.
"Enggak mau." Jawab Aneska.
"Berani-beraninya kamu membangkang." Ucap bu Tatik sambil menarik salah tangan Aneska, dan tangan Aneska yang lainnya berpegangan pada handle pintu. Dia bersikeras agar tidak masuk ke dalam kamar Abian.
"Penjaga." Teriak bu Tatik yang kewalahan karena tidak bisa membawa Aneska.
"Penjaga." Teriak bu Tatik kencang. Tidak berapa lama ada dua orang pria yang berbadan besar dan berkumis tebal datang.
"Iya bu." Ucap salah satu penjaga.
"Jangan diam aja, bantu saya membawanya ke kamar tuan Abian." Ucap bu Tatik sambil terus menarik tangan Aneska. Dan akhirnya pertahanan Aneska lepas. Badannya dengan sangat gampang di angkat penjaga.
Dua pria itu membawanya menuju lift.
"Lepaskan." Ucap Aneska memberontak.
"Tunggu." Ucap bu Tatik. Kedua penjaga langsung berhenti. Wanita paruh baya itu mengambil kain dan ingin menutup mata Aneska.
"Enggak usah di tutup aku juga udah tau." Jawab Aneska.
"Bagus kalau sudah tau." Jawab bu Tatik ketus.
"Turunkan, aku bisa jalan sendiri." Ucap Aneska.
Ibu Tatik memerintahkan kepada dua penjaga untuk menurunkan Aneska.
Mereka berempat masuk ke dalam lift. Dan menyusuri lorong kemudian berhenti pada salah satu pintu yang terbuat dari kayu jati. Ibu Tatik memberi kode kepada penjaga untuk membuka pintu kamar Abian. Pintu langsung di buka, tapi Aneska tetap tidak mau masuk. Ketika ibu Tatik hendak mendorongnya tangan wanita paruh baya itu di pegang Aneska. Dan dia langsung menarik ibu Tatik masuk ke dalam kamar Abian. Penjaga tidak tau, mereka berpikir kalau yang akan merawat Abian hari ini ibu Tatik dan Aneska. Jadi mereka langsung mengunci pintu kamar Abian.
Ibu Tatik panik, dia terus menggedor pintu kamar sedangkan Aneska tertawa terpingkal-pingkal. Dia senang melihat ekspresi ibu Tatik yang ketakutan.
Dari jauh ada sosok yang mendekati mereka, Aneska karena masih muda dia bisa bergerak cepat dengan lari ke tempat lain. Tapi bu Tatik tidak bisa mengikuti Aneska. Dia mendapatkan pukulan dari Abian. Kepala ibu Tatik dijedutkan ke dinding sama hal yang dilakukan Abian terhadapnya.
Dari ruang monitor nyonya Rona dan Zidan memperhatikan. Karena ruangan dalam keadaan gelap mereka hanya mengandalkan infrared untuk memonitor kamar Abian. Mereka bingung karena ada dua wanita di dalam kamar itu.
"Satu lagi siapa." Tanya nyonya Rona. Zidan memperhatikan monitor yang ada di luar kamar. Di luar hanya terlihat dua penjaga tidak ada bu Tatik di situ.
"Nyonya sepertinya itu ibu Tatik." Ucap Zidan.
Zidan mengambil handy talky dan ingin menghubungi penjaga agar mengeluarkan ibu Tatik dari kamar Abian.
"Tidak perlu." Ucap nyonya Rona terus melihat penyiksaan yang di terima ibu Tatik.
Melihat penyiksaan itu Aneska takut, biasanya dia hanya melihat di layar kaca televisi. Tapi sekarang ada di depan matanya. Aneska terus berjalan dan meraba, dia berusaha untuk menghindari Abian. Karena ruangan dalam keadaan gelap kakinya membentur sesuatu.
"Aw." Ucap Aneska meringis. Abian berhenti menyiksa bu Tatik. Dia mencari sumber suara itu. Karena itu kamarnya, otomatis dia tahu semua isi dan dekorasi kamarnya. Dengan cepat dia dapat menemukan Aneska.
Perawat itu masih meringis kesakitan. Dia mau kabur ke tempat lain tidak bisa, karena benturan di kakinya cukup kuat.
Abian mendekati perawat itu, ketika pria itu mau memukul Aneska. Tiba-tiba Aneska memeluk pria itu.
Nyonya Rona dan Zidan melihat itu. Nyonya Rona kaget sekaligus gemas.
Abian menurunkan tangannya. Dia memeluk erat tubuh Aneska. Terlihat sekali kalau dia merindukan seseorang.
Gila bau banget, ini orang udah enggak mandi berapa tahun. Aku serasa mau muntah. Please jangan muntah, tahan nafas Aneska. Jangan kamu usik dengan muntahmu.
Aneska menahan nafasnya, menurutnya dia harus terbiasa dengan aroma tubuh Abian yang sangat bau. Abian terus memeluk erat tubuh Aneska sambil membelai rambut perawat itu.
"Keluarkan perawat itu." Ucap nyonya Rona ketus.
"Tapi dia sedang mengendalikan tuan muda. Beri waktu dulu nyonya." Ucap Zidan.
Entah kenapa ada rasa cemburu ketika melihat Aneska berpelukan dengan Abian. Tapi Zidan berusaha untuk mengendalikannya.
Bersambung.
Apakah Abian akan sembuh? apa dia akan mencintai Aneska? Penasaran?
Jangan lupa vote sebanyak mungkin ya, dan silahkan baca "Menikah Karena Ancaman"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀ᴅͨɪͧᴀᷡɴͨɴͣᴀᷡᴳᴿ🐅
zidan suka sma anes
2023-01-04
0
Ryta Maya
ihhh Gilinggg orang strezzz di sekep
2022-06-24
0
Siti Mutmainah
zidan mulai mengakui perasaannya secara tidak langsung
2022-04-23
0