Ibu Tatik menunjukkan kamar Aneska.
"Ini kamar kamu. Ingat jam dua belas siang waktunya makan siang." Ucap bu Tatik.
Aneska masuk ke kamarnya, ada satu tempat tidur dan lemari. Dan meja rias yang berada di pojok kamar. Ada beberapa helai pakaian di atas kasur itu.
"Bu, ini apa." Tanya Aneska.
"Itu seragam kamu." Ucap bu Tatik.
Aneska mengambil pakaian itu dan memperhatikan bentuk dan warnanya yang sama dengan para pelayan.
"Bu, ini bukannya seragam pelayan." Ucap Aneska lagi.
"Iya."
"Saya kan perawat bukan pelayan." Ucap Aneska.
"Pelayan dan perawat pakaiannya sama tidak ada perbedaan hanya pekerjaannya saja yang berbeda. Kenapa? Apa kamu tidak suka dengan seragam itu." Ucap bu Tatik sambil menunjuk ke arah seragam yang di pegang Aneska.
"Suka bu, tapi warnanya aja yang saya tidak suka." Ucap Aneska jujur.
"Kenapa dengan warnanya." Tanya bu Tatik ketus.
"Warna hitam cenderung panas, terus kami seperti mau ke pemakaman." Ucap Aneska jujur.
"Kamu ya, belum satu hari sudah buat saya kesal. Saya tidak meminta pendapatmu tentang seragam ini. Kalau saya mau bisa saja warna ini di ganti dengan warna yang lebih bagus seperti merah."
Aneska menahan tawanya, ingin sekali dia tertawa lepas tapi mengingat akan ada hukuman jika dia terus ngeyel. Maka dia memilih untuk menahan tawanya.
"Ya udah bu, saya pakai seragam ini saja. Kalau ada warna merah lebih bagus lagi." Sindir Aneska.
"Nanti saya pikirkan." Ucap bu Tatik judes.
Bu Tatik meninggalkan kamarnya Aneska.
"Bu, saya mulai bekerja kapan? Dan mana pasien yang akan saya rawat." Ucap Aneska dari depan pintu karena wanita paruh baya sudah meninggalkan kamarnya.
"Besok pagi kamu akan bertemu dengannya."
"Waktu makan siang masih lama, boleh saya berkeliling dan main di taman." Tanya Aneska.
"Hemmm, tapi ingat jangan ke lantai lima. Kamu hanya di perbolehkan sampai lantai empat. Bisa menggunakan tangga atau lift khusus pelayan." Ucap bu Tatik menjelaskan.
"Terima kasih bu." Ucap Aneska senang. Dia kembali ke kamarnya dan menyusun pakaiannya dalam lemari. Setelah rapi dia memanfaatkan waktu untuk berkeliling.
Dapur dan kamar pelayan berada di lantai satu, jadi dia berkeliling dulu di lantai satu. Pertama yang di lihatnya dapur. Dapur yang sangat besar di mana terdapat para chef di dalamnya. Mereka terlihat sibuk menyiapkan makanan untuk para pekerja dan keluarga Bassam.
"Aku teringat kampungku, biasanya kalau masak besar seperti ini pasti karena ada hajatan, hehehe." Aneska tertawa ringan.
Aneska meninggalkan dapur dan menuju lantai dua, di lantai dua terdapat ruang keluarga dan ada televisi dengan ukuran besar di situ. Dan ruang itu hanya untuk keluarga. Sedangkan ruang menonton untuk pekerja ada di lantai satu.
Kemudian dia naik ke lantai tiga dan naik ke lantai empat. Di lantai empat banyak ruangan-ruangan lainnya yang dia sendiri tidak tau ruangan apa saja itu. Karena ibu Tatik hanya membawanya untuk melihat tapi tidak membuka setiap ruangan.
Tiba-tiba ada salah satu pintu di buka. Sosok yang paling dingin yaitu Zidan. Pria itu menoleh ke arah Aneska.
"Ngapain kamu di sini." Tanya Zidan.
"Berkeliling." Ucap Aneska singkat.
"Kamu pikir ini di pasar. Seenaknya aja berkeliling." Ucap Zidan ketus.
"Ok aku ralat, bukan berkeliling tapi lagi bertamasya." Ucap Aneska sambil memonyongkan bibirnya ke arah Zidan. Pria itu ingin sekali memarahi gadis itu seperti yang sering dilakukannya kepada para pelayan tapi entah kenapa dia tidak melakukannya kepada gadis itu.
"Itu ruangan apa." Tanya Aneska sambil menunjuk ke arah ruangan di belakang Zidan.
"Kamu tau peraturan di sini." Ucap Zidan merapatkan giginya.
"Tidak boleh banyak bertanya dan berbicara." Ucap Aneska sambil manyun.
"Pintar, sekarang pergi aku tidak suka melihat kamu berkeliaran di sini. Mataku sakit, kamu seperti anak ayam yang kehilangan induknya."
"Iya aku anaknya kamu induk ayamnya." Ucap Aneska sambil pergi meninggalkan lantai empat.
Zidan hanya menggelengkan kepalanya, belum pernah dia melihat ada seorang pekerja yang berani dengannya, tapi anak baru ini benar-benar membuatnya jengkel.
Aneska memilih bermain di taman. Rumput hijau terbentang luas dan banyak pepohonan besar di situ. Dia berjalan memutari istana itu, di bagian belakang ada sebuah bangunan yang transparan dari kejauhan terlihat kalau itu taman bunga. Aneska masuk ke dalam ruangan itu, berbagai jenis bunga ada di situ. Ada beberapa orang yang bekerja di situ, merawat semua tanaman itu. Karena pakaiannya berwarna hitam, bisa di pastikan semua orang yang berada di taman bunga adalah pekerja dengan tugas sebagai tukang kebun.
Sesuatu yang ganjil terlihat di matanya, ada seorang wanita sepuh sedang memotong beberapa bunga dan meletakkannya di dalam tempat khusus. Menurutnya wanita sepuh itu pasti senior karena tidak memakai seragam.
"Kamu orang baru di sini." Ucap wanita sepuh itu sambil tetap fokus dengan tanamannya.
Aneska melihat sekelilingnya, kira-kira siapa yang di ajak bicara oleh wanita sepuh itu.
"Apa ibu bicara sama saya." Ucap Aneska.
"Memangnya siapa lagi, hanya kamu yang paling dekat dengan saya." Ucap wanita sepuh itu tanpa melihat ke arah Aneska.
"Eh iya bu, saya orang baru." Ucap Aneska gugup.
"Ibu di bagian taman ya? Kalau saya di bagian khusus merawat pasien." Ucap Aneska.
"Bukan, saya tidak di bagian apapun."
"Maksud ibu apa." Aneska bingung.
"Panggil saya oma Zulfa, saya ibu dari Rona." Ucap wanita sepuh itu.
"Maafkan saya oma, saya tidak tau kalau anda pemilik dari istana ini. Jangan hukum saya karena saya banyak bertanya dan berbicara." Ucap Aneska panik.
"Hahaha, siapa yang mau menghukummu. Saya bukan seperti Zidan dan Rona."
"Oh syukurlah." Aneska mengelus dadanya.
Tapi jangan-jangan ini hanya sandiwara si oma, pura-pura akrab denganku.
"Maaf oma, saya harus kembali ke kamar." Aneska hendak pergi meninggalkan wanita sepuh itu, dia tidak mau cari masalah dengan pemiliknya.
"Apa kamu tidak mau dengar tentang kehidupan di istana ini." Ucap oma Zulfa.
Aneska menghentikan langkahnya, kemudian dia berbalik sambil melihat wanita sepuh itu. Memang dia penasaran dengan kehidupan istana yang seperti penjara. Dan penasaran dengan lantai lima. Tapi dia khawatir kalau ini hanya jebakan dari oma Zulfa.
"Kenapa? Apa kamu berpikir saya sama dengan anak saya." Ucap oma Zulfa.
Aneska menganggukkan kepalanya pelan.
"Hahaha, kamu bisa bertanya kepada tukang kebun di sini. Siapa yang lebih mengenal para pekerja dan lebih menganggap mereka semua manusia, coba kamu tanya kepada salah satu tukang kebun di sini." Ucap oma Zulfa.
Aneska terlihat ragu, oma Zulfa memanggil salah satu tukang kebunnya namanya Serik.
"Serik ke sini." Panggil oma Zulfa.
Seorang wanita yang umurnya kira-kira sama dengannya datang menghampiri mereka berdua.
"Serik, jelaskan siapa saya dan bagaimana perlakuan saya kepada para pekerja di sini." Perintah oma Zulfa
"Baik oma, oma Zulfa lebih akrab sama para pekerja, dan selalu menentang tentang peraturan di istana ini. Dan jika para pekerja mendapatkan hukuman, beliau yang selalu membela kami semua." Ucap Serik.
"Tapi saya tidak bisa membela mereka semua, karena faktor usia yang sudah sepuh." Ucap oma Zulfa.
"Maaf oma, saya tadi sempat berpikir untuk tidak bicara dengan oma karena peraturannya seperti itu." Ucap Aneska.
"Itu di istana, kalau di sini kami bebas berbicara, iya kan Serik." Ucap oma.
"Iya, kami tidak seperti orang bisu di sini. Kalau di istana kami harus menutup rapat mulut kami." Ucap Serik.
"Kenapa bisa seperti itu." Tanya Aneska.
"Karena tidak ada kamera di sini." Ucap Serik.
Bersambung.
“ Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih.”
Ig. anita_rachman83
Bagi yang baru bergabung bisa baca karya author lainnya yang berjudul "Menikah Karena Ancaman"
🌷🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Indra Listiana
thur . ampuun...di mn mn seorg yg kerja di tmpt ..hrs ikuti atur yg berlaku.. jg soal seragam .....
2023-06-25
0
𝐀⃝🥀ᴅͨɪͧᴀᷡɴͨɴͣᴀᷡᴳᴿ🐅
bnyk cctv
2023-01-04
0
Puteri Siliwangi
sopan santun nya gc ada
2022-11-25
0