Aneska semakin penasaran dengan cerita oma dan Serik.
"Maaf oma, saya masih belum mengerti, hukuman dan membela semua pekerja. Sebenarnya istana seperti apa ini." Ucap Aneska.
"Kamu tau kontrak kerja yang sudah kamu tanda tangani?" Ucap oma.
Aneska menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu melanggar peraturan itu maka hukuman yang akan di dapat." Ucap oma.
"Apa saja hukumannya." Tanya Aneska.
Oma Zulfa dan Serik saling pandang. Mereka tidak mau mengatakan tentang jenis hukuman yang di terima pekerja jika melanggar peraturan.
"Saran oma, jangan di langgar semua peraturan itu. Kamu dapat salinannya kan?" Ucap oma.
"Dapat." Ucap Aneska singkat.
"Nah baca dan hafalkan." Ucap oma.
"Hafalkan? Seperti mau ujian aja." Gerutu Aneska.
"Ya begitulah, daripada hukuman mendekatimu." Ucap oma.
"Baik oma, terima kasih atas sarannya."
Aneska teringat sesuatu tentang lantai lima.
"Maaf oma mengenai lantai lima, sebenarnya tempat apa itu." Ucap Aneska.
"Hemmm, lantai lima tempat kediaman keluarga Bassam. Semua kamar anak-anak Bassam ada di lantai lima. Hanya beberapa pelayan yang di izinkan untuk menginjakkan kaki di lantai itu. Tapi besok kamu juga akan menginjakkan kaki dilantai itu." Oma Zulfa tidak menceritakan semuanya. Menurutnya akan shock jika Aneska harus mendengar semua kejadian di istana itu.
"Oh seperti itu, tapi kenapa ibu Tatik melarangku menginjakkan kaki di lantai itu. Padahal aku akan bekerja di lantai itu." Ucap Aneska.
"Kamu akan tau besok, jangan terlalu percaya dengan Tatik, dia mata-mata untuk keluarga Bassam." Ucap Oma.
"Baik oma, terima kasih." Ucap Aneska lagi.
Dia ikut membantu oma untuk memetik bunga, bunga itu akan di letakkan di vas bunga dalam istana. Di sela-sela kegiatan itu, dia mulai bertanya lagi.
"Oma, ada berapa anggota keluarga Bassam." Ucap Aneska.
"Cucu oma ada tiga, dua perempuan dan satu laki-laki. Besok kamu akan bertemu dengan mereka."
"Yang bermain piano siapa? Dari penampilannya dia tidak seperti pelayan." Ucap Aneska.
"Oh kamu sudah bertemu dengan si bungsu." Ucap oma.
"Oh itu Ila anak nyonya Rona." Ucap Aneska.
"Iya, dia yang paling kecil. Nomor satu Tanisa Bassam, kedua Abian Bassam." Ucap Oma.
"Maaf oma saya banyak tanya. Apa teman saya Tami bekerja di sini juga." Tanya Aneska.
Oma berhenti dengan kegiatannya, wanita sepuh itu melihat ke arah Serik. Aneska memandangi dua wanita di depannya.
Teng nong teng nong.
"Waktunya makan siang, kalian harus segera ke ruang makan, kalau telat maka kalian tidak mendapatkan makanan." Ucap oma mengingatkan.
"Oma bagaimana? Apa oma tidak makan?" Ucap Aneska.
"Saya bisa makan kapan pun kalau kalau kalian tidak." Ucap oma.
"Baik oma kami pergi, besok saya ke sini lagi. Saya mau bertanya tentang semuanya." Ucap Aneska sambil berlalu meninggalkan taman.
Semua pekerja ikut keluar dari taman bunga, hanya oma saja yang masih berada di sana.
"Aneska, oma kasihan sama kamu. Tidak seharusnya kamu berada di sini." Gumam oma Zulfa.
Aneska mengimbangi jalan Serik yang begitu cepat. Wanita itu melangkahkan kaki lebih cepat dari Aneska.
"Serik tunggu." Ucap Aneska.
Dia dan Serik jalan beriringan.
"Menjauh dariku, kita sudah memasuki kawasan penuh kamera. Jangan terlihat akrab. Kalau tidak hukuman menanti kita." Ucap Serik merapatkan giginya agar tidak terlihat dari kamera kalau dia sedang berbicara dengan Aneska.
Aneska paham, dia melambatkan langkah kakinya. Dia berjalan sedikit menjauh dari Serik. Mereka sudah tiba di ruang makan. Ruang makan sudah di penuhi para pekerja. Aneska mengambil piring yang ada di atas meja. Dan memilih makanan yang menggugah seleranya.
Semua makanan yang di hidangkan terlihat lezat, Aneska memperhatikan para pekerja mengambil dua piring sekaligus. Mereka mengisi berbagai macam makanan di dalamnya.
Kenapa mereka seperti terlihat kelaparan.
Setelah mengisi piringnya dengan makanan, dia bergabung dengan para pekerja wanita. Dia tersenyum kepada para pekerja wanita yang duduk di samping dan depannya. Dia mulai paham dengan situasi di ruang makan yaitu tidak boleh berbicara.
Selama makan siang, ruang makan itu senyap hanya terdengar sendok dan garpu yang saling berperang di dalam piring. Semua pekerja makan dengan lahapnya. Mereka memanfaatkan waktu setengah jam itu, untuk makan sepuasnya.
Setelah tiga puluh menit tanda lonceng berbunyi. Waktunya para pekerja membawa piring kotor dan gelas kotor ke dapur. Aneska mengikuti para pekerja lainnya.
Dari ujung ada ibu Tatik yang sedang berdiri di pojok dengan melipat kedua tangannya dan meletakkan di dadanya.
Semua para pekerja kembali ke rutinitasnya. Tapi tidak dengan Serik, dia di panggil ibu Tatik.
"Serik kenapa di panggil? Atau jangan-jangan dia mau di hukum karena berbicara kepadaku." Gumam Aneska.
Aneska mengikuti ibu Tatik dan Serik. Keduanya menuju sebuah ruangan. Dia mengikuti dengan cara mengendap-ngendap. Ketika pintu di tutup Aneska berdiri di depan pintu. Dia penasaran dengan keadaan Serik. Baru saja pintu di tutup kemudian di buka lagi.
Aneska yang berdiri di depan pintu gugup. Karena dia seperti ketahuan.
"Kamu mau menguping!" Bentak ibu Tatik.
"Enggak bu, saya kesasar." Ucap Aneska bohong sambil celingak celinguk seperti orang bingung.
"Masuk kamu." Ucap ibu Tatik ketus.
"Tapi." Belum selesai Aneska berbicara tangannya sudah di tarik ibu Tatik.
Di dalam ruangan terdapat layar seperti layar televisi. Layar itu di gunakan untuk memonitor para pekerja, dan ada beberapa orang yang bertugas untuk memantau kamera itu.
Aneska melihat sekeliling ruangan itu, ketika melihat ruangan itu dia baru percaya kalau kamera ada di mana-mana. Ibu Tatik membawanya ke ruangan lain yang ada di dalam ruang monitor.
Di dalam ruangan itu sudah ada nyonya Rona, Zidan dan Serik.
Aneska berdiri bersebelahan dengan Serik. Bu Tatik berdiri di belakang mereka. Dan di depannya ada nyonya Rona sendang duduk di kursi kebesarannya. Dan Zidan berdiri di sampingnya.
"Kamu menguping?" Ucap nyonya Rona.
"Enggak nyonya, saya kesasar." Ucap Aneska bohong.
"Kalau kamu kesasar kenapa kamu berdiri di depan pintu!" Ucap nyonya Rona marah.
"Oh saya melihat ibu Tatik masuk ke dalam ruangan ini. Jadi saya mau bertanya kepada beliau di mana letak kamar saya." Ucap Aneksa bohong.
Dua orang yang ada di hadapan Aneska dan Serik terlihat menakutkan. Tatap mata keduanya seperti ingin menelan mereka hidup-hidup.
"Apa yang kamu bicarakan sama si perawat." Tanya nyonya Rona kepada Serik.
Serik takut untuk berbicara.
"Oh dia hanya mengingatkan saya, kalau tidak boleh banyak bicara, benar kan?" Ucap Aneska membela Serik.
"Iya nyonya." Ucap Serik sambil menundukkan kepalanya.
"Baik kalau begitu kamu boleh keluar. Dan kamu masih tetap di sini." Ucap nyonya Rona.
Serik selamat dia aman dari hukuman, tinggal Aneska yang masih menunggu nasibnya.
"Kamu sepertinya tidak bisa di atur. Sudah di sebutkan peraturan di sini. Salah satunya tidak boleh bicara ataupun bertanya sama siapapun tapi kamu terus melanggarnya." Ucap Zidan marah.
"Ya maaf, habis saya belum terbiasa." Ucap Aneska berani.
Nyonya Rona berdiri dari kursinya.
"Kamu urus perawat ini." Ucap nyonya Rona sambil meninggalkan Aneska bersama bu Tatik dan Zidan.
Setelah nyonya Rona keluar yang mengambil alih Zidan.
"Sebagai hukumannya, kamu tidak mendapatkan makan malam." Ucap Zidan.
"Apa! Kenapa saya harus di hukum, apa tidak ada keringanan untuk saya." Ucap Aneska memohon.
"Tidak, itu hukuman yang paling ringan untukmu." Ucap Zidan sambil mengerakkan tangannya mengusir Aneska.
Ibu Tatik membawa gadis itu keluar dari ruangan.
"Anak baru tapi sudah banyak tingkah. Masih mending tidak di kasih makan." Gerutu ibu Tatik.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan vote yang banyak.
🌷🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
dudu sinten-sinten
perawat tp kok bego ya. kalo pelayan masih dimakalumi lah ya, anes kan perawat g pantes
2022-05-23
0
Amilia Indriyanti
KEPO
2022-03-24
0
Kenzi Kenzi
demo aja kalian semua
2022-03-19
0