Pria yang menjemputnya berdiri di sebelah wanita paruh baya itu. Dan meletakkan setumpuk kertas di atas meja.
"Itu adalah peraturan yang harus kamu taati." Ucap wanita paruh baya itu.
Aneska memegang setumpuk kertas yang sudah di jilid. Dia membuka perlembar demi perlembar dalam keadaan berdiri.
"Gila ini peraturan tebal banget seperti skripsi saja." Gumam Aneska pelan.
"Kamu mau membaca sambil berdiri?" Ucap wanita paruh baya itu.
Aneska langsung duduk di kursi, dia membuka peraturan itu satu persatu. Kemudian meletakkannya kembali ke atas meja.
"Maaf bisa jelaskan semuanya kepada saya. Siapa anda dan apa saja pekerjaan yang harus saya lakukan." Ucap Aneska berani.
Wanita paruh baya itu menghela nafasnya.
"Saya adalah pemilik dari istana ini. Nama saya nyonya Rona Bassam." Kemudian wanita itu melirik pria yang ada di sebelahnya.
"Dia adalah Zidan, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan saya." Ucap nyonya Rona.
Ternyata tebakkanku salah dia bukan seorang supir.
Wanita paruh baya itu berhenti berbicara, dia melihat lekat wajah gadis di depannya.
"Saya Aneska." Ucap Anes ramah.
"Maaf nyonya kalau boleh tau apa saja peraturan yang harus saya taati. Karena mengingat peraturan anda seperti skripsi, ops. Maaf peraturan anda sangat tebal. Jadi bisa beritahu poin-poinnya saja." Ucap Aneska.
Nyonya Rona melirik asisten pribadinya. Pria itu langsung paham.
"Peraturan yang pertama kamu tidak boleh menggunakan ponsel dan tidak boleh memberitahukan tentang semua hal yang ada di sini."
"Kenapa saya tidak boleh menggunakan ponsel?"
"Karena itu peraturan di sini." Ucap Zidan.
"Ok selama masih bekerja saya tidak akan menggunakan ponsel, saya juga melakukan hal yang sama ketika di rumah sakit. Tapi setelah jam kerja selesai saya boleh menggunakan ponsel kan." Ucap Aneska.
Pria di depannya menggelengkan kepala.
"Serius? Tapi bagaimana saya mau menghubungi keluarga saya, kalau ponsel di sita." Ucap Aneska.
"Kamu bisa menggunakan telepon itu." Pria itu menunjuk sebuah telepon yang ada di atas meja sudut ruangan.
"Dan hanya bisa menghubungi sebulan sekali." Ucap Zidan.
"Busyet ngeri banget peraturannya. Ponsel di sita dan hanya boleh menghubungi keluarga sebulan sekali." Gerutu Aneska.
"Bagaimana, apa kamu setuju dengan peraturan yang saya sebutkan barusan." Tanya Zidan.
Sabar Aneska hanya ponsel, zaman dulu tidak ada ponsel bisa hidup.
"Baik saya sanggup dengan peraturan itu." Ucap Aneska mantap.
"Peraturan selanjutnya. Tidak boleh bertanya atau berbicara sama siapapun. Baik itu pemilik rumah atau pelayan. Dan hanya boleh berbicara jika pemilik rumah bertanya kepada anda dan membutuhkan jawaban dengan segera."
Aneska membelalakkan matanya. Menurutnya peraturan yang barusan di ucapkan Zidan sungguh tidak bisa di terima akal sehatnya.
"Maaf, kenapa saya tidak boleh bertanya atau berbicara kepada siapapun di istana ini. Kalau saya kesasar di istana ini bagaimana?" Tanya Aneska.
"Karena itu peraturannya." Ucap Zidan santai.
Aneska mendengus kesal, dia benar-benar bingung dengan segala peraturan yang baru di sebutkan. Dan jawaban Zidan tetap sama karena ini peraturan.
"Apa masih ada." Tanya Aneska.
"Sudah saya sebutkan. Dan penjelasan ada di dalam situ." Ucap Zidan sambil menunjuk kearah tumpukan kertas.
Kalau cuma segitu kenapa juga harus di buat setebal ini.
"Jika kamu setuju silahkan tanda tangani dan kontrak kerja kamu hanya tiga bulan, jika tiga bulan kamu bisa melakukan tugasmu dengan baik maka akan kontrak kerjamu akan di perpanjang." Ucap Zidan menjelaskan.
Ogah setelah tiga bulan aku akan keluar dari istana penjara ini. Karena setelah tiga bulan hutangku sudah lunas. Bye istana Bassam.
"Silahkan tanda tangan di sini." Ucap Zidan menunjukkan lembar terakhir dalam tumpukan kertas itu.
Tanpa pikir panjang Aneska langsung membubuhi tanda tangannya. Zidan langsung mengambil tumpukan kertas itu. Dan menyerahkan salinannya kepada Aneska.
"Apa ini." Tanya Aneska.
"Salinannya, kamu bisa membaca semua penjelasan tentang peraturan di istana ini." Ucap Zidan sambil mengulurkan tangannya kehadapan Aneska.
"Apa?" Ucap Aneska bingung.
"Ponsel." Ucap Zidan. Aneska mendengus kesal sambil mengambil ponselnya dalam tas ranselnya.
"Ini, simpan baik-baik. Ponsel ini baru lunas. Jadi jaga dengan sepenuh jiwa." Ucap Aneska jutek. Pria itu hanya tersenyum sinis sambil melihat ponsel Aneska. Menurutnya dia bisa membeli ratusan ponsel seperti itu.
Kemudian Zidan mengeluarkan amplop coklat dari dalam jasnya dan meletakkan di atas meja.
"Apa ini." Tanya Aneska.
"Bukalah." Ucap nyonya Rona.
Aneska membuka amplop itu dan melihat isinya. Ada sejumlah uang yang jika di hitung sebesar dua puluh juta.
"Itu down payment untukmu." Ucap Zidan.
"Tapi saya belum bekerja." Ucap Aneska.
" Anggap saja saya lagi berbaik hati sama kamu." Ucap nyonya Rona sombong.
"Tapi."
"Kalau kamu masih banyak bicara uang itu akan saya ambil kembali." Ucap nyonya Rona ketus.
Aneska mengambil uang tersebut.
"Maaf boleh uang ini di transfer ke orang tua saya. Soalnya mereka sedang membutuhkan." Ucap Aneska.
Dari tempat lain ada yang mendengar percakapan tadi. Yaitu wanita yang sudah sepuh, dia merasa terharu mendengar ucapan Aneska.
Zidan melihat ke arah nyonya Rona. Dan wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya. Asistennya mengambil kembali amplop coklat itu.
"Berapa nomor rekeningnya." Tanya Zidan.
Aneska mengulurkan tangannya kehadapan pria di depannya.
"Apa?" Ucap Zidan.
"Mana ponselku, nomor rekening orang tuaku ada di ponsel." Ucap Aneska ketus.
Zidan menyerahkan ponsel Aneska. Gadis itu membuka ponselnya dan mencari nomor rekening orangtuanya. Lalu dia menyebutkan kepada Zidan.
Pria itu mencatat nomor rekening yang di sebutkan Aneska kemudian mentransfer sesuai nominal yang ada di dalam amplop. Dan menunjukkan bukti transfer kepada Aneska.
"Bisa tidak kamu kirim ke aku buktinya. Agar bukti itu aku kirim balik ke orangtuaku." Ucap Aneska.
Zidan menghela nafasnya secara kasar. Menurutnya gadis di depannya membuatnya susah. Secara dia paling malas jika harus di perintah sama seorang gadis.
"Sudah aku kirim." Ucap Zidan.
Aneska langsung mengirim bukti itu ke ponsel adiknya.
"Boleh aku menghubungi keluargaku sebentar saja." Ucap Aneska lagi.
Zidan melihat nyonya Rona, dia meminta pendapat dari wanita paruh baya itu.
"Waktumu hanya tiga menit." Ucap nyonya Rona.
Aneska menganggukkan kepalanya dan langsung menghubungi nomor adiknya. Panggilan terhubung.
"Cyra."
"Iya kak."
"Kakak ada kirim bukti transfer, coba kamu cek." Ucap Aneska.
Cyra mengecek ponselnya.
"Kak ini uang apa? Kenapa besar sekali, kakak kan baru pindah kerja dari mana uang ini." Cyra mengajukan pertanyaan beruntun.
Ketika Cyra berbicara seperti itu ada orangtuanya. Ibunya langsung menyambar ponsel adiknya.
"Apa yang kamu kirim." Tanya ibunya.
"Uang bu, aku baru pindah kerja dan itu bonusnya." Ucap Aneska.
"Aneska mana ada baru kerja dapat bonus. Uang itu juga tidak sedikit." Ucap ibunya marah.
"Kamu bukan jual diri kan?" Ucap ibunya.
"Astagfirullah bu, mana mungkin Anes jual diri. Anes berkata jujur bu." Ucap Aneska.
Nyonya Rona dan Zidan mendengarkan semua percakapan itu. Dan wanita sepuh yang berada di ruangan berbeda juga mendengarnya.
"Jadi dari mana kamu dapat uang sebanyak itu." Tanya ibunya.
"Ibu, Anes pindah kerja dan bukan di rumah sakit. Anes bekerja di istana." Ucap Aneska.
"Istana? Berarti kamu ketemu dengan bapak presiden ya? Salam ya nak." Ucap ibunya.
Aneska mengerutkan dahinya, ibunya berpikir kalau anaknya bekerja di istana negara. Dia melihat Zidan yang menunjukkan jam tangannya dan itu tanda kalau waktunya habis.
"Ibu sudah dulu ya, nanti tiap bulan Anes transfer. Bayarkan hutang kita ya." Ucap Aneska.
"Iya nak, jangan lupa salam ibu untuk bapak presiden."
" Iya." Ucap Aneska singkat.
Bersambung.
“ Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih.”
Ig. anita_rachman83
Bagi yang baru bergabung bisa baca karya author lainnya yang berjudul "Menikah Karena Ancaman"
🌷🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Siti Mutmainah
jangan lupa salam dari ibu ya anes
2022-04-20
0
Made Elviani
pribadi yg mandiri tegas n berani........good luck Aneska
2021-10-19
0
V3
benar kan klu anes tinggal dstu spt di dlm penjara
2021-10-14
0