Bab 20

Aneska sudah berada di tengah lapangan. Tubuhnya habis di lempari bola kasti. Zidan yang melihat itu merasa tidak tega.

"Nyonya, menurut saya akhiri semuanya, dia bisa mati." Ucap Zidan khawatir.

Nyonya Rona melihat orang kepercayaannya.

"Kenapa kamu bisa lembek seperti bubur, biasanya kamu yang paling lantang." Ucap nyonya Rona curiga.

"Maaf nyonya, saya bukan lembek. Tapi hanya dia harapan kita." Ucap Zidan mengalihkan pembicaraan agar rasa khawatirnya tidak terbaca oleh nyonya Rona.

Dan apa yang di khawatirkan Zidan terjadi. Aneska jatuh ke tanah.

"Stop." Teriak Zidan sambil berlari ke tengah lapangan.

Aneska pingsan tubuhnya sudah pucat. Zidan langsung menggendong tubuh perawat itu dan membawanya ke dalam istana meletakkan di kamar.

Nyonya Rona memperhatikan sikap orang kepercayaannya yang cukup sigap membawa Aneksa.

"Hai mami lihat apa." Ucap Farid menyapa mertuanya.

"Kalian sudah pulang." Ucap nyonya Rona melihat anak sulungnya dengan suaminya ada di hadapannya.

"Sudah mam." Jawab Tanisa.

"Mami kenapa berada di sini." Tanya Farid.

"Apa baru ada yang kena hukum." Tebak Tanisa.

"Iya, perawat itu baru mami hukum." Jawab nyonya Rona.

"Kenapa mam? apa dia melakukan kesalahan." Ucap Tanisa.

"Iya." Jawab nyonya Rona singkat.

"Wah bagus itu mam, jadi dia tidak suka-suka di sini." Ucap Farid senang.

"Seharusnya hukuman itu tidak perlu mam, kasihan." Ucap Tanisa.

Nyonya Rona langsung menatap anak sulungnya.

"Jangan ajarkan mami tentang apapun. Peraturan ini untuk mendisiplinkan semua penghuni istana. Dan kalian berdua jika melakukan kesalahan akan mami hukum juga." Ucap nyonya Rona tegas sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam istana.

***

Di rumah sakit

Dokter Arif sedang memeriksa pasiennya. Banyak pasien yang kontrol dan ada juga pasien baru yang mengeluhkan penyakitnya.

Oma Nely sedang kontrol penyakitnya kepada dokter Arif. Setelah konsultasi dengan dokter ganteng itu. Wanita sepuh itu menanyakan Aneska.

"Dok, apa Aneska hari ini masuk pagi." Tanya oma Nely.

"Aneska sudah pindah." Jawab dokter Arif.

"Pindah kemana? padahal saya kangen sama dia." Ucap oma Nely sedih.

"Sudah beberapa hari dia pindah." Ucap dokter Arif.

"Ya sudah dok, tapi kalau ketemu sama dia, sampaikan salam untuknya." Ucap oma kemudian keluar meninggalkan ruangan dokter Arif.

Tiba-tiba ponselnya berdering, Zidan menghubunginya.

"Halo." Ucap dokter Arif.

"Kamu datang sekarang ke istana." Ucap Zidan cepat.

"Kenapa? apa terjadi sesuatu dengan Abian." Tanya dokter Arif lagi.

"Ini bukan tentang Abian tapi tentang Aneska. Cepat ke sini." Kemudian panggilan terputus.

"Abian, apa lagi yang kamu perbuat." Ucap dokter Arif geram sambil mengepalkan tangannya.

Kebetulan waktu praktek dokter Arif sudah selesai dan waktu juga menunjukkan jam makan siang.

Dokter ganteng itu keluar dari ruangannya, dia tidak menuju kantin tapi dia menuju ke loby rumah sakit. Ada seseorang meneriakkan namanya.

"Dokter Arif." Teriak Tiara.

Dokter itu langsung menghentikan langkahnya dan melihat ke arah seseorang yang memanggil namanya.

Tiara sudah berada di depan dokter itu.

"Dok, kenapa nomor ponsel Aneska tidak bisa di hubungi, apa terjadi sesuatu dengannya."

Dokter Arif diam, dia tidak mungkin mengatakan kalau ponsel Aneska di sita dan tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kalau perawatnya sedang dalam keadaan tidak aman.

"Oh, peraturan di sana yang tidak boleh menggunakan ponsel." Ucap dokter Arif sambil melihat jam tangannya.

"Tapi kenapa tiap malam tidak bisa di hubungi." Ucap Tiara curiga.

"Saya tidak tau, maaf saya harus pergi." Ucap dokter Arif sambil berlalu meninggalkan Tiara.

Dokter Arif sudah melajukan mobilnya menuju istana.

***

Tubuh Aneska terlihat pucat badannya panas. Zidan merasa khawatir melihat keadaan perawat itu. Sambil menunggu dokter Arif datang dia mondar-mandir di dalam kamar Aneska.

Oma Zulfa datang ke kamar Aneska. Dia menemukan sosok Zidan di dalam kamar perawat itu.

"Apa yang terjadi dengannya." Tanya oma Zulfa sambil menghampiri Aneska dan meletakkan tangannya di dahi perawat itu.

"Badannya panas, apa yang kalian lakukan!" Ucap oma marah.

"Dia menggantikan temannya Tami." Ucap Zidan.

"Jadi Tami sudah ketemu dan kalian menghukum Tami lalu Aneska menggantikannya, begitu!" Ucap. oma marah.

"Iya."

"Dasar gila, kalau sampai Tami dan Aneska meninggal bagaimana? Apa kalian tidak mengambil pelajaran dari kejadian bunuh diri dulu." Ucap oma marah.

"Maaf oma saya sudah melarang nyonya Rona tapi nyonya tetap bersikeras menghukum Aneska." Ucap Zidan pelan.

"Rona sampai kapan kamu seperti ini." Ucap oma kesal. Wanita sepuh itu merasa khawatir dan cemas. Dia duduk di pinggir kasur sambil mengelus rambut perawat itu.

"Kamu sudah menghubungi Arif." Tanya oma.

"Sudah, dia sedang menuju ke sini."

"Ambilkan air hangat dan handuk kecil. Oma mau mengompresnya." Perintah oma. Zidan berlari keluar kamar dan menuju dapur. Dia memerintahkan pelayan untuk membawa yang di minta oma.

Zidan kembali dengan pelayan, di tangan pelayan ada wadah yang di dalamnya ada air hangat dan handuk kecil.

"Serahkan sama oma." Ucap oma kepada pelayan. Pelayan itu menyerahkan kepada oma. Kemudian Zidan memerintahkan pelayan itu kembali ke dapur.

Dengan telaten oma mengompres dahi Aneska. Dan di bagian bawah hidung Aneska di beri minyak angin, Zidan memperhatikan.

"Untuk apa minyak angin itu." Tanya Zidan.

"Untuk menyadarkannya harus pakai minyak angin. Kenapa? kamu pikir oma mau meracuninya." Jawab oma ketus.

Yang di ucapkan oma benar. Aneska sadar dia membuka matanya secara perlahan.

"Oma." Aneska hendak bangun tapi oma melarangnya.

"Kamu baring saja." Ucap oma. Aneska kembali baring. Dia melirik ke arah Zidan dengan tatapan marah.

"Di sini kamarnya." Ucap salah seorang pelayan mengantar dokter Arif menuju kamar Aneska. Di dalam kamar dia menemukan Zidan dan oma Zulfa.

"Anes." Ucap dokter Arif merasa khawatir sambil mendekati perawatnya.

"Kamu tidak apa-apa." Ucap dokter Arif.

"Bagaimana tidak apa-apa, dia baru di lempari bola kasti, belum lagi kemaren kena pukul sama Abian." Timpal oma.

Dokter Arif langsung menolehkan kepalanya ke arah Zidan. Dia tau yang melakukan hal itu Zidan dan nyonya Rona.

Dokter itu memeriksa tubuh Aneska dan memberikan beberapa salep untuk wajah Aneska.

"Anes, ini obat penurun panas. Kamu harus meminumnya agar tubuhmu kembali pulih." Ucap dokter Arif.

Perawat itu tidak menjawab dia memalingkan wajahnya.

"Bisa tinggalkan kami sebentar." Ucap dokter Arif. Zidan dan oma keluar dari kamar Aneska. Mereka memberikan kesempatan untuk dokter dan perawat itu berbicara.

"Anes maafkan saya." Ucap dokter Arif.

"Dokter jahat, dokter sengaja mengirim aku dan mbak Tami ke sini. Pasti dokter mendapatkan imbalan dari nenek lampir itu, hiks hiks." Aneska menangis.

"Tidak Anes, saya tidak mendapatkan apapun. Saya hanya berhutang budi sama pemilik istana ini." Ucap dokter Arif.

"Kalau dokter mau membalas jasa mereka kenapa mengorbankan semua perawat. Dokter sama saja seperti mereka.

Dokter Arif diam, memang dia salah karena mengorbankan perawatnya untuk menyembuhkan dan merawat Abian.

"Kamu salah Aneska, saya menyayangi semua perawat, termasuk kamu."

"Kalau dokter sayang, bawa kami balik." Ucap Aneska lantang.

"Baik, saya akan membicarakan hal ini sama pemilik istana. Saya akan mengabari kamu secepatnya." Dokter Arif keluar kamar. Ketika dokter itu keluar kamar, oma langsung masuk ke dalam kamar Aneska.

Dokter Arif mendorong tubuh Zidan.

"Kalian selalu menyiksa perawatku, puas kalian!" Teriak dokter Arif. Zidan tidak membalas dia hanya diam.

"Kalau sampai terjadi sesuatu lagi dengan perawatku. Akan aku bongkar kekejiaan di istana ini." Ucap dokter Arif marah. Dokter Arif hendak berjalan meninggalkan Zidan.

"Apa yang aku dengar di dalam semuanya benar." Tanya Zidan.

Dokter itu kembali dan berdiri berhadapan dengan Zidan.

"Apa kamu menguping pembicaraanku dengan Aneska." Ucap dokter Arif ketus.

"Iya, dan aku mau bertanya apa kamu serius dengan perkataanmu yang mengatakan sayang kepada semua perawatmu termasuk Aneska." Tanya Zidan.

"Iya aku tidak pernah bercanda dalam hal ini. Aku mau mengeluarkan perawatku dari neraka ini. Dan asal kamu tau karena keseriusanku. Setelah perawatku keluar, aku akan mempersunting Aneska." Ucap dokter Arif sambil berlalu meninggalkan Zidan.

Bersambung.

Apakah dokter Arif bisa membawa perawatnya keluar dari istana? Penasaran?

Jangan lupa vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman dan "Love of a Nurse"

Terpopuler

Comments

Mira Fitriani

Mira Fitriani

horor banget tu istana......ampun dah🫣

2023-11-02

0

Siti Mutmainah

Siti Mutmainah

ada berapa calon nih buat aneska

2022-04-23

0

Kireina

Kireina

yg perlu di rawat itu si nenek lampir rona

2022-03-22

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!