Aneska sudah berada di tengah lapangan. Tubuhnya habis di lempari bola kasti. Zidan yang melihat itu merasa tidak tega.
"Nyonya, menurut saya akhiri semuanya, dia bisa mati." Ucap Zidan khawatir.
Nyonya Rona melihat orang kepercayaannya.
"Kenapa kamu bisa lembek seperti bubur, biasanya kamu yang paling lantang." Ucap nyonya Rona curiga.
"Maaf nyonya, saya bukan lembek. Tapi hanya dia harapan kita." Ucap Zidan mengalihkan pembicaraan agar rasa khawatirnya tidak terbaca oleh nyonya Rona.
Dan apa yang di khawatirkan Zidan terjadi. Aneska jatuh ke tanah.
"Stop." Teriak Zidan sambil berlari ke tengah lapangan.
Aneska pingsan tubuhnya sudah pucat. Zidan langsung menggendong tubuh perawat itu dan membawanya ke dalam istana meletakkan di kamar.
Nyonya Rona memperhatikan sikap orang kepercayaannya yang cukup sigap membawa Aneksa.
"Hai mami lihat apa." Ucap Farid menyapa mertuanya.
"Kalian sudah pulang." Ucap nyonya Rona melihat anak sulungnya dengan suaminya ada di hadapannya.
"Sudah mam." Jawab Tanisa.
"Mami kenapa berada di sini." Tanya Farid.
"Apa baru ada yang kena hukum." Tebak Tanisa.
"Iya, perawat itu baru mami hukum." Jawab nyonya Rona.
"Kenapa mam? apa dia melakukan kesalahan." Ucap Tanisa.
"Iya." Jawab nyonya Rona singkat.
"Wah bagus itu mam, jadi dia tidak suka-suka di sini." Ucap Farid senang.
"Seharusnya hukuman itu tidak perlu mam, kasihan." Ucap Tanisa.
Nyonya Rona langsung menatap anak sulungnya.
"Jangan ajarkan mami tentang apapun. Peraturan ini untuk mendisiplinkan semua penghuni istana. Dan kalian berdua jika melakukan kesalahan akan mami hukum juga." Ucap nyonya Rona tegas sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam istana.
***
Di rumah sakit
Dokter Arif sedang memeriksa pasiennya. Banyak pasien yang kontrol dan ada juga pasien baru yang mengeluhkan penyakitnya.
Oma Nely sedang kontrol penyakitnya kepada dokter Arif. Setelah konsultasi dengan dokter ganteng itu. Wanita sepuh itu menanyakan Aneska.
"Dok, apa Aneska hari ini masuk pagi." Tanya oma Nely.
"Aneska sudah pindah." Jawab dokter Arif.
"Pindah kemana? padahal saya kangen sama dia." Ucap oma Nely sedih.
"Sudah beberapa hari dia pindah." Ucap dokter Arif.
"Ya sudah dok, tapi kalau ketemu sama dia, sampaikan salam untuknya." Ucap oma kemudian keluar meninggalkan ruangan dokter Arif.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Zidan menghubunginya.
"Halo." Ucap dokter Arif.
"Kamu datang sekarang ke istana." Ucap Zidan cepat.
"Kenapa? apa terjadi sesuatu dengan Abian." Tanya dokter Arif lagi.
"Ini bukan tentang Abian tapi tentang Aneska. Cepat ke sini." Kemudian panggilan terputus.
"Abian, apa lagi yang kamu perbuat." Ucap dokter Arif geram sambil mengepalkan tangannya.
Kebetulan waktu praktek dokter Arif sudah selesai dan waktu juga menunjukkan jam makan siang.
Dokter ganteng itu keluar dari ruangannya, dia tidak menuju kantin tapi dia menuju ke loby rumah sakit. Ada seseorang meneriakkan namanya.
"Dokter Arif." Teriak Tiara.
Dokter itu langsung menghentikan langkahnya dan melihat ke arah seseorang yang memanggil namanya.
Tiara sudah berada di depan dokter itu.
"Dok, kenapa nomor ponsel Aneska tidak bisa di hubungi, apa terjadi sesuatu dengannya."
Dokter Arif diam, dia tidak mungkin mengatakan kalau ponsel Aneska di sita dan tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kalau perawatnya sedang dalam keadaan tidak aman.
"Oh, peraturan di sana yang tidak boleh menggunakan ponsel." Ucap dokter Arif sambil melihat jam tangannya.
"Tapi kenapa tiap malam tidak bisa di hubungi." Ucap Tiara curiga.
"Saya tidak tau, maaf saya harus pergi." Ucap dokter Arif sambil berlalu meninggalkan Tiara.
Dokter Arif sudah melajukan mobilnya menuju istana.
***
Tubuh Aneska terlihat pucat badannya panas. Zidan merasa khawatir melihat keadaan perawat itu. Sambil menunggu dokter Arif datang dia mondar-mandir di dalam kamar Aneska.
Oma Zulfa datang ke kamar Aneska. Dia menemukan sosok Zidan di dalam kamar perawat itu.
"Apa yang terjadi dengannya." Tanya oma Zulfa sambil menghampiri Aneska dan meletakkan tangannya di dahi perawat itu.
"Badannya panas, apa yang kalian lakukan!" Ucap oma marah.
"Dia menggantikan temannya Tami." Ucap Zidan.
"Jadi Tami sudah ketemu dan kalian menghukum Tami lalu Aneska menggantikannya, begitu!" Ucap. oma marah.
"Iya."
"Dasar gila, kalau sampai Tami dan Aneska meninggal bagaimana? Apa kalian tidak mengambil pelajaran dari kejadian bunuh diri dulu." Ucap oma marah.
"Maaf oma saya sudah melarang nyonya Rona tapi nyonya tetap bersikeras menghukum Aneska." Ucap Zidan pelan.
"Rona sampai kapan kamu seperti ini." Ucap oma kesal. Wanita sepuh itu merasa khawatir dan cemas. Dia duduk di pinggir kasur sambil mengelus rambut perawat itu.
"Kamu sudah menghubungi Arif." Tanya oma.
"Sudah, dia sedang menuju ke sini."
"Ambilkan air hangat dan handuk kecil. Oma mau mengompresnya." Perintah oma. Zidan berlari keluar kamar dan menuju dapur. Dia memerintahkan pelayan untuk membawa yang di minta oma.
Zidan kembali dengan pelayan, di tangan pelayan ada wadah yang di dalamnya ada air hangat dan handuk kecil.
"Serahkan sama oma." Ucap oma kepada pelayan. Pelayan itu menyerahkan kepada oma. Kemudian Zidan memerintahkan pelayan itu kembali ke dapur.
Dengan telaten oma mengompres dahi Aneska. Dan di bagian bawah hidung Aneska di beri minyak angin, Zidan memperhatikan.
"Untuk apa minyak angin itu." Tanya Zidan.
"Untuk menyadarkannya harus pakai minyak angin. Kenapa? kamu pikir oma mau meracuninya." Jawab oma ketus.
Yang di ucapkan oma benar. Aneska sadar dia membuka matanya secara perlahan.
"Oma." Aneska hendak bangun tapi oma melarangnya.
"Kamu baring saja." Ucap oma. Aneska kembali baring. Dia melirik ke arah Zidan dengan tatapan marah.
"Di sini kamarnya." Ucap salah seorang pelayan mengantar dokter Arif menuju kamar Aneska. Di dalam kamar dia menemukan Zidan dan oma Zulfa.
"Anes." Ucap dokter Arif merasa khawatir sambil mendekati perawatnya.
"Kamu tidak apa-apa." Ucap dokter Arif.
"Bagaimana tidak apa-apa, dia baru di lempari bola kasti, belum lagi kemaren kena pukul sama Abian." Timpal oma.
Dokter Arif langsung menolehkan kepalanya ke arah Zidan. Dia tau yang melakukan hal itu Zidan dan nyonya Rona.
Dokter itu memeriksa tubuh Aneska dan memberikan beberapa salep untuk wajah Aneska.
"Anes, ini obat penurun panas. Kamu harus meminumnya agar tubuhmu kembali pulih." Ucap dokter Arif.
Perawat itu tidak menjawab dia memalingkan wajahnya.
"Bisa tinggalkan kami sebentar." Ucap dokter Arif. Zidan dan oma keluar dari kamar Aneska. Mereka memberikan kesempatan untuk dokter dan perawat itu berbicara.
"Anes maafkan saya." Ucap dokter Arif.
"Dokter jahat, dokter sengaja mengirim aku dan mbak Tami ke sini. Pasti dokter mendapatkan imbalan dari nenek lampir itu, hiks hiks." Aneska menangis.
"Tidak Anes, saya tidak mendapatkan apapun. Saya hanya berhutang budi sama pemilik istana ini." Ucap dokter Arif.
"Kalau dokter mau membalas jasa mereka kenapa mengorbankan semua perawat. Dokter sama saja seperti mereka.
Dokter Arif diam, memang dia salah karena mengorbankan perawatnya untuk menyembuhkan dan merawat Abian.
"Kamu salah Aneska, saya menyayangi semua perawat, termasuk kamu."
"Kalau dokter sayang, bawa kami balik." Ucap Aneska lantang.
"Baik, saya akan membicarakan hal ini sama pemilik istana. Saya akan mengabari kamu secepatnya." Dokter Arif keluar kamar. Ketika dokter itu keluar kamar, oma langsung masuk ke dalam kamar Aneska.
Dokter Arif mendorong tubuh Zidan.
"Kalian selalu menyiksa perawatku, puas kalian!" Teriak dokter Arif. Zidan tidak membalas dia hanya diam.
"Kalau sampai terjadi sesuatu lagi dengan perawatku. Akan aku bongkar kekejiaan di istana ini." Ucap dokter Arif marah. Dokter Arif hendak berjalan meninggalkan Zidan.
"Apa yang aku dengar di dalam semuanya benar." Tanya Zidan.
Dokter itu kembali dan berdiri berhadapan dengan Zidan.
"Apa kamu menguping pembicaraanku dengan Aneska." Ucap dokter Arif ketus.
"Iya, dan aku mau bertanya apa kamu serius dengan perkataanmu yang mengatakan sayang kepada semua perawatmu termasuk Aneska." Tanya Zidan.
"Iya aku tidak pernah bercanda dalam hal ini. Aku mau mengeluarkan perawatku dari neraka ini. Dan asal kamu tau karena keseriusanku. Setelah perawatku keluar, aku akan mempersunting Aneska." Ucap dokter Arif sambil berlalu meninggalkan Zidan.
Bersambung.
Apakah dokter Arif bisa membawa perawatnya keluar dari istana? Penasaran?
Jangan lupa vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman dan "Love of a Nurse"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Mira Fitriani
horor banget tu istana......ampun dah🫣
2023-11-02
0
Siti Mutmainah
ada berapa calon nih buat aneska
2022-04-23
0
Kireina
yg perlu di rawat itu si nenek lampir rona
2022-03-22
0