Hari itu, Calvin berangkat ke kampus bersama dengan Sepupunya, Lucas, namun jelas Lucas lihat bahwa belakangan ini wajah sepupunya itu terlihat cukup buruk, Lucas mencoba tidak ingin tahu terlalu banyak karena sepertinya sepupunya itu tidak mau bercerita.
Namun, melihat Sepupunya ini, kan terlihat berjalan linglung dan kan memiliki nafsu makan menurun itu membuat dirinya cemas.
"Sungguh, Calvin ada apa sih dengan mu? Apa kamu terlihat lebih seperti ini selama beberapa hari?"
"Ini bukan apa-apa," kata Calvin coba menghindari pertanyaan itu.
"Ayolah, kamu itu dari kemarin bilang tidak apa-apa namun lihatlah wajahmu dan penampilannya sendiri terlihat seperti tak bernyawa dan tidak memiliki nafsu untuk hidup,"
Calvin mendengar itu segera menatap kearah sepupunya itu dan bertanya lagi,
"Apakah Aku benar-benar terlihat seperti itu?"
"Itu benar, kamu lihat seperti itu. Benar-benar seolah kehilangan jiwamu, apakah kamu habis putus cinta atau bagaimana?"
Ekpersi Calvin setelah mendengar itu tentu saja berubah, yah kurang lebih yang dikatakan sepupunya itu benar, dirinya semacam putus cinta.
Tidak melihat Anastasya selama beberapa hari ini, membuat dirinya merasa frustasi.
Hah...
Dirinya selalu kepikiran soal gadis itu, kemanapun dirinya pergi pikirannya penuh dengan gadis itu.
Merasa tidak bisa menahan diri lagi, Calvin segera berkata,
"Aku hari ini pergi jangan mencariku,"
Setelah mengatakan itu dia langsung pergi dari sana mencoba mencari keberadaan Anastasya.
Dirinya sangat merindukan gadis itu rasa rindu di hatinya ini benar-benar menguras seluruh energinya, membuat dirinya tidak tahan ingin bertemu.
Itu bener masih ada berbagai macam alasan agar dirinya bertemu dengan gadis itu.
Misalnya saja soal darah...
Ya, Vampir Cantik itu pasti tidak akan menolak jika dirinya memberikan darahnya.
Dengan pemikiran seperti itu, Calvin benar-benar berminat untuk menemui Anastasya.
Dan benar saja mereka kebetulan bertemu di lorong.
Tatapan mereka bertemu, terlihat dari tatapan itu ada kerinduan di baliknya.
Namun jelas, Anastasya terlihat langsung memalingkan wajahnya dan berjalan memutar memilih untuk tidak bertemu dengan Calvin.
Calvin, yang melihat bahwa kasih itu terlihat mengabaikan nya dan sengaja menghindarinya itu jelas aja merasa tidak senang.
Dia buru-buru langsung mengejar gadis itu dan memegang tangannya.
"Apa-apaan sih, kamu, Calvin!" Kata Anastasya marah.
Namun, Calvin bukannya menjawab pertanyaan itu dirinya segera menarik dan membawa Anastasya pergi dari sana, menuju ke sebuah ruangan yang terlihat kosong, segera membawa Anastasya masuk, dan mengunci pintu.
"Calvin!! Aku sudah bilang sebelumnya jangan pernah menemui ku lagi!!"
"Tidak, Aku tidak bisa untuk tidak menemuimu,"
Melihat nada keputusasaan ketika mengatakan itu.
Anastasya jelas tidak tahu harus merespon seperti apa, hatinya sebenarnya dirinya sangat senang akhirnya bisa melihat wajah pemuda itu.
Pemuda itu yang selama ini terus berada dalam pikirannya.
Hah....
Memang sangat susah ditebak, Anastasya menjadi kesulitan untuk mengontrol perasaannya ini.
"Tidak. Sudah bilang sebelumnya tidak ada yang baik jika kita terus berhubungan,"
Calvin jelas mendengar nada penolakan disana, tidak menyerah, dan segera melukai tangannya sendiri sehingga darah segera keluar.
Anastasya menjadi kaget dengan gerakan tiba-tiba itu segera menjauhkan dan mendorong Calvin.
"Calvin!! Apaan sih yang kamu lakukan!!"
Calvin lalu hanya menaikkan tangannya mendekat ke arah bibir gadis di depannya.
"Minimalah, ini adalah cara kita bertemu selama ini, Aku yakin kamu menginginkan darahku,"
Tamparan segera tiba di pipi Calvin.
"Omong kosong!! Aku tidak pernah menginginkan darahmu!! Kamu yang selalu memaksaku untuk meminumnya!!"
Mata Anastasya bila sudah berubah menjadi warna merah dan terlihat jelas hasrat penuh keinginan dibalik mata itu.
Calvin mengunakan cara lama, megambil tangannya sendiri, menghisap darah di tangannya, dan segera mencium Anastasya.
Sekali lagi membiarkan darah yang ada di mulutnya itu bisa dirasakan oleh Anastasya.
Dan sekali lagi, Anastasya mencoba mendorong Calvin, namun pelukan Calvin terlalu kuat.
Dan lagi, aroma darah dan rasa dari darah ini benar-benar adalah sesuatu yang tidak bisa dirinya tahan....
Tidak!!
Anastasya tidak bisa seperti ini.
Walaupun, Anastasya mencoba melawan instingnya, namun Anastasya tetap saja mengiginkan darah lagi, hasratnya terhadap darah begitu kuat, terutama karena akhir-akhir ini dirinya kesulitan mendapatkan pasokan darah yang cukup.
Dan akhirnya, Anastasya sekali lagi mengigit leher Calvin.
Ya, namun kali ini gigitan itu berbeda.
Calvin merasakan, lehernya basah...
Seperti tetesan air mata...
Hal ini jelas-jelas membuat dirinya terkejut, dia tidak pernah mengira jika Anastasya sampai menangis seperti ini.
Apakah kali ini dirinya terlalu memaksa gadis itu sehingga membuatnya menangis?
Namun dirinya juga tidak tahu lagi bagaimana cara untuk mendekati gadis di depannya itu, kecuali dengan darahnya....
Ya, dari sini Calvin juga sadar mungkin hubungan antara mereka berdua tidak lebih dari pemburu dan mangsanya, dimana Anastasya hanya megiginkan darahnya.
Ketika memikirkan ini hatinya menjadi sakit.
Dan tidak lama sampai Anastasya selesai, dan begitu Anastasya selesai, Anastasya langsung menampar Cavin lagi.
"Calvin!! Kamu benar-benar menyebalkan!!"
Dan Anastasya cara membuka pintu ruangan itu dan pergi dari sana meninggalkan Calvin yang masih terdiam disana sendirian.
Mulai memikirkan lagi, tentang bagaimana hubungan antara mereka berdua.
Hah...
Dan tepat setelah hari itu, Calvin tidak lagi bisa menemukan Anastasya di Kampus, Calvin juga mencoba mencari Anastasya di Rumahnya, namun rumah itu kosong.
Hal ini, membuat Calvin jatuh pada keputusasaan baru.
"Tidak.... Anastasya.... Jangan kamu bersikap seperti ini padaku...."
Calvin menjadi begitu hancur ketika memikirkan bahwa dirinya tidak akan pernah bisa bertemu dengan Anastasya.
Tidak...
Ini jelas tidak bisa dibiarkan, dirinya harus tetap pergi dan mencari gadis itu entah bagaimana caranya.
####
Disisi lainnya, saat ini Anastasya bersama dengan bawahannya, baru saja selesai berkemas ke sebuah apartemen baru yang akan mereka tinggali.
"Nona Anastasya, kenapa anda ingin segera pindah?"
Anastasya jelas tidak bisa memberitahukan alasan yang sebenarnya, bahwa dirinya hanya ingin mencoba menghindari seorang Pria tertentu.
"Aku rasa, tempat sebelumnya tidak terlalu aman. Kamu tahu sendiri, saat ini Nathan sedang mencari ku aku takut aku malah ketahuan ketika di sana, apalagi sebelumnya Para Werewolf pernah menyerangku, tidak akan lama sampai gosip itu tidak ke telinga Nathan,"
"Ya, Nona. Saya rasa itu adalah keputusan yang bagus dan alangkah lebih baik jika untuk sementara ini Nona jangan keluar atau pergi ke manapun,"
Mendengar usulan dari Chaterine, Anastasya beli memikirkannya jika itu mungkin keputusan yang baik untuk tidak pergi kemana-mana.
"Tentu. Aku tidak akan pergi kemana-mana,"
"Kami akan memastikan memiliki stok darah yang cukup,"
"Ingat, kamu juga bawahan yang lain hati-hati saat mencari stock darah takut takut itu malah akan membawa Nathan ke tempat ini, iya memiliki pengikut yang gila dan berbahaya,"
"Baik, Nona. Ini akan selalu memastikan untuk berhati-hati. Selamat beristirahat,"
Dan begitulah, Anastasya mulai menikmati ruangan baru yang akan di tinggalinya ini.
Dengan dirinya pindah dan mengganti identitasnya lagi, dirinya pasti udah akan pernah bertemu dengan Calvin.
Ya, ini semua jelas untuk kebaikan mereka berdua.
Dan begitulah hari-hari segera berlalu, sayangnya berada di Apartemen terlalu lama, membuat Anastasya begitu bosan.
Jadi kali ini dia mencoba turun ke bawah berniat untuk mencari udara segar.
Namun siapa yang tahu, begitu dirinya sampai di taman yang cukup sepi, Anastasya malah bertemu dengan sosok yang cukup familiar.
"Hay, Anastasya sayang. Aku tidak mengira akan bertemu denganmu disini, wow ini benar-benar membuatku terkejut sampai Aku sangat tersentuh,"
Seorang Pemuda berambut silver tersenyum manis ke arah Anastasya.
Dan wajah Anastasya terlihat menjadi sangat pucat ketika menatap pemuda itu.
"Na... Nathan...."
Pemuda itu tersenyum kearah Anastasya, dan kembali berkata,
"Sangat senang, kamu masih terus mengingatku, Sayangku, Anastasya..."
"Brengsek!!"
Anastasya bila saja merasa sangat muak tentang bagaimana pemuda itu memanggilnya dengan kata 'Sayang'.
Anastasya langsung segera mengeluarkannya kemampuannya untuk menyerang Nathan.
Puluhan jarum segera mengarah pada Nathan, namun jarum-jarum itu, segera bertemu dengan jarum-jarum darah yang lainnya, kemudian ketika bersentuhan semuanya menjadi lenyap dan menyebar menjadi bersihkan darah yang memenuhi seluruh tempat itu.
Tempat itu menjadi penuh dengan darah.
Anastasya, segera kembali ke wujud Vampirnya, dan mengeluarkannya kuku-kukunya, berniat menyerang Nathan.
Jika sudah berhadapan langsung seperti ini, memang tidak ada pilihan selain bertarung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments