Disalah satu Ruangan Kelas, Anastasya untuk berkonsentrasi mendegarkan di kelas, namun dirinya juga merasa sedikit risih tentang bagaimana pemuda sampingnya itu terus menatap ke arahnya.
Dan lagi, Pemuda itu masih sedikit memilih luka di lehernya, ada aroma darah manis yang samar keluar dari sana.
Sungguh, ini adalah suatu cobaan berat hanya dengan berada di samping pria itu.
Godaan darah manis, yang membuat dirinya hampir kehilangan kendali.
Namun, Anastasya tetap mencoba mengendalikan dirinya sendiri agar tetap waras dan tidak tergoda oleh hasratnya akan darah.
Ya, dirinya tidak boleh termakan oleh hasrat keinginan seperti ini, dirinya harus bisa mengendalikan diri, ini adalah martabat yang dimiliki oleh Vampir Darah Murni, mereka paling bisa untuk mengendalikan diri berbeda dengan jenis-jenis vampir yang lain.
Namun sekarang, dengan Pria ini disampaignya...
Dirinyaa harus bagaimana?
Baik, ini mungkin adalah ide yang bagus, dirinya harus berusaha sabar, untuk tetap mengabaikan orang di sampingnya itu.
Dirinya yakin, jika dirinya tidak menanggapinya, orang itu pasti akan segera pergi, semua masalah pasti akan segera beres.
Namun sampai waktu berlalu dan bahkan ketika dirinya pindah kelas, Calvin tetap mengikutinya, dan duduk di samping Anastasya.
Anastasya mencoba menahan dirinya agar tidak terbawa pancingan dari pria itu, apalagi aroma manis itu...
Akhhhh.....
Ini semua benar-benar membuyarkan konsentrasinya ketika menyimak di kelas.
Kenapa Aroma ini terlalu manis dan mengubah hasratnya?
Singguh, Anastasya tidak pernah merasakan sesuatu seperti ini sebelumnya.
Apakah ini terjadi karena dirinya sudah mencoba darah manis itu?
Sudah, yang penting abaikan saja gangguan Calvin, tenang, dan abaikan saja.
Dirinya tahu, jika dirinya mengajak bicara Calvin, Calvin akan merasa menang, jadi Anastasya tetap bersabar dan memilih untuk tetap mendiamkannya dan tidak menganggap keberadaan Pria itu.
Calvin yang dari tadi didiamkan itu tentu saja merasa kesal, sekarang dirinya mencoba untuk mencari perhatian dari Gadis itu lebih banyak.
Seperti mengambil pulpen yang ada dimejanya yang akan digunakan untuk menulis.
Anastasya melihat pulpennya diambil oleh Calvin, mencoba bersabar.
Memilih, untuk tidak mencatat hari itu.
"Nona Malaikat~"
Anastasya tetap diam.
Sampai akhirnya, kelas berakhir, Calvin lalu segera berkata,
"Ya, Aku ada Acara setelah ini, sampai jumpa nanti lagi, Anastasya,"
Anastasya tidak menjawab itu hanya langsung pergi menuju mobilnya.
Merasa lega karena kelas hari ini selesai.
Setidaknya, jadi dirinya tidak perlu melihat wajah menyebalkan itu, ataupun merasakan aroma manis yang tidak tertahankan itu.
Namun sayang sekali, tepat ketika Anastasya berangkat ke Kampus keesokan harinya, Calvin melakukan hal yang sama seperti kemarin.
"Selamat pagi, Anastasya,"
Anastasya hanya menatap Calvin dengan ekspresi kesal, lalu segera duduk tanpa membalas sapaan Calvin.
Calvin di abaikan, sudah biasa, namun dia tetap tidak menyerah, dan sekarang ketika Anastasya duduk, Calvin mulai mainkan ujung rambut panjang Anastasya.
Anastasya mencoba menahannya, namun Calvin muach semakin asik bermain dengan rambutnya hingga membuat dirinya tidak tahan lagi.
"Berhenti menyentuhku," kata Anastasya sambil menepis tangan Calvin.
"Ah, Akhirnya kamu ingin bicara padaku, Aku senang,"
Anastasya kembali mengabaikan pria itu.
Calvin kali ini, tidak melakukan apapun, dan hanya menatap Anastasya disampingnya, sedangkan Anastasya terlihat mencoba konsentrasi pada pelajaran.
Namun, dirinya melihat Calvin sepertinya mulai membuat suara-suara tidak enak, dengan mengetuk-ngetuk meja.
Ya, Vampir kebetulan memiliki pendengaran yang baik, dan gerakan konstan itu, jelas membuyarkan konsentrasi Anastasya.
Dirinya mulai menatap Calvin sekali lagi, hanya tersenyum kearahnya.
Menurut Anastasya, itu adalah sebuah senyuman yang bodoh.
Dirinya benar-benar tidak mengerti dengan pemuda disampingnya itu.
Hal-hal semacam ini akhirnya, bertahan selama beberapa hari lagi.
Ada banyak kesempatan Calvin, untuk selalu mengagu Anastasya, bahkan ketika Anastasya pergi ke Perpustakaan, Pria itu tetap mengikutinya, seperti saat ini.
Anastasya semakin kehilangan kesadarannya, sarah dengan pria ini secara empat mata.
Dirinya harus mengembalikan dia peringatan agar tidak dekat-dekat lagi dengannya dan mengaggunya seperti ini.
Anastasya segera berkata pada Calvin,
"Ikut Aku,"
Calvin yang tiba-tiba diajak bicara itu jelas menjadi terkejut.
"Kemana?"
Anastasya tidak menjawab, hanya lalu segera menyeret tangan Calvin, agar mengikuti dirinya.
Mereka berjalan menuju ke daerah yang cukup sepi, di ujung lorong perpustakaan, dekat dengan taman yang sepi.
Calvin melihat daerah sekitar yang ternyata sepi dirinya ternyata memiliki pemikiran lainnya.
Owh?
Mungkin Nona Vampir Cantik didepannya ini menjadi kelaparan?
Mungkin saja dia lagi lagi ingin meminum darahnya?
Setelah memiliki kesimpulan ini, segera Calvin mengerti apa yang harus dirinya lakukan.
Anastasya segera berhenti, dan berniat bicara pada Calvin, namun dirinya kaget melihat apa yang Calvin lakukan!
Itu benar, saat ini Calvin tengah melepaskan kancing kemeja bajunya.
"A... Apa yang coba kamu lakukan?"
Calvin, yang sudah melepaskan kancing kemejanya itu, segera menujukan leher putihnya, disana ada juga bekas gigitan sebelumnya, yang sudah cukup sembuh, hanya meninggalkan titik merah yang terlihat sangat mencolok di leher itu.
Anastasya yang menatap itu, hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
Karena tiba-tiba hasrat dalam dirinya mulai muncul.
Jadinya bisa merasakan dari balik leher putih itu, ada nadi-nadi darah, dan darah segar mengalir.
Mari sini saja sejujurnya dirinya merasa tidak tahan ketika ada Calvin disampaignya.
Mungkin karena dirinya vampir, jadi dia bisa mendengarkan detak jantung Calvin, dan merasakan darah itu bergerak.
Darah yang sangat manis dan lezat yang pernah dirinya rasakan...
Apalagi saat ini ketika, Calvin mulai membuka kancing bajunya, dan memperlihatkan kulit itu secara langsung.
Seolah-olah sedikit aroma terpancar dari balik kulit itu.
Aroma yang manis.
Walaupun tidak ada darah yang terasa di luar, namun dirinya sudah bisa merasakan aroma dari darah yang ada di dalam tubuh Calvin.
"Aku tahu kamu ingin darahku...."
"Tidak.... Tidak... Apa yang kamu lakukan?"
Calvin semakin mendekat ke arah Anastasya.
"Memberikan darahku, minumlah jika kamu ingin, kamu selalu boleh meminumnya..."
"Tidak!! Berhentilah bicara omong kosong seperti ini!!"
Calvin tahu, gadis didepannya itu ternyata cukup keras kepala dan menahan diri.
"Tidak apa-apa...." Kata Calvin lalu segera memeluk Anastasya, membiarkan gadis itu untuk mencoba mengigit lehernya.
Anastasya juga mulai merasakan rasa haus yang mulai menggila dalam dirinya.
Jadinya mencoba menahan diri dan segera mendorong Calvin menjauh.
Dirinya lalu segera ingat tujuannya membawa pria itu kesini.
"Kamu!? Sebenarnya apa maumu menggangguku selama ini? Dan kenapa kamu bahkan menawarkan darahmu padaku? Kamu adalah Seorang Werewolf!! Aku benar-benar tidak mengerti!!"
Calvin yang mendengar pertanyaan beruntung itu juga segera terdiam.
Seolah sedang memikirkan kenapa dirinya seperti ini...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments