Jing Hao cukup lama menunggu Wei Zhang Zihan. Dia sesekali menatap ke arah mayat wanita yang nampak mengerikan itu dan menelan ludah kembali.
Dengan hati-hati, Jing Hao mulai mendekat. Hanya saja tidak butuh waktu lama sampai angin yang berhembus di sekitarnya menjadi terasa aneh, begitu menekan.
Insting bertahan hidup Jing Hao muncul dan dia bergegas lari. Pemuda itu melompat ke arah semak-semak untuk bersembunyi saat merasakan bahaya mendekat. Dia bahkan sampai menahan napas.
Firasat Jing Hao benar. Dia bersembunyi dan tidak berlangsung lama seseorang yang entah datang dari mana mulai menapak di tanah, tepat di samping mayat wanita tadi.
Jing Hao mengintip sedikit, dia melihat sosok itu merupakan pria dengan tubuh yang besar dan berotot. Pakaiannya berwarna hitam dengan sebuah lukisan bulan sabit di lengan sebelah kirinya.
"Tidak disangka seorang Xiao Yi Fei bisa berakhir mengenaskan seperti ini," suara pria itu berat. Dia nampak menyeringai dan lantas berujar, "Ini bagus. Aku jadi penasaran dengan kekuatan orang yang sudah membunuhmu,"
Jing Hao menyaksikan mayat wanita itu dibawa pergi oleh pria tersebut. Dia pun baru keluar dari persembunyiannya saat merasa situasi sudah aman. Detakan jantung Jing Hao langsung berpacu kencang saat itu juga.
Wei Zhang Zihan baru datang setelah Jing Hao menunggu cukup lama. Wei Zhang Zihan terlihat mengerutkan kening ketika menyadari bahwa mayat wanita asing tadi sudah tidak ada.
Jing Hao yang mengerti langsung buka suara. Nadanya pelan, terdengar agak gemetar. "Aku tidak tahu apa pun, tapi setelah Tuan Muda Wei pergi... Tidak lama muncul seorang pria besar dan dia membawa mayat itu pergi."
Wei Zhang Zihan menatap Jing Hao dan lantas membuat pemuda itu berkata, "Aku sama sekali tidak mengenal orang itu. Wajahnya tidak terlihat, tetapi yah..! Aku ingat! Dia punya tanda bulan sabit di lengan kanannya."
"................." Wei Zhang Zihan tidak bicara, tetapi reaksi yang nampak terkejut terlihat jelas pada tatapan matanya. Dia pun merangkul Jing Hao dan membawa pemuda itu melesat pergi.
*
*
"Apa dia masih belum bangun?" Chu Tian baru saja datang dari mengambil air hangat. Raut wajahnya nampak gelisah, apalagi saat melihat kondisi Chu Kai yang tidak sadarkan diri dan dengan wajah yang pucat.
Seorang wanita yang merupakan pelayan kedai nampak menggeleng pelan. Dia menarik napas dan berkata, "Masih belum. Aku berusaha membangunkannya, tapi tetap tidak bisa."
Chu Tian mengusap-usap wajahnya dan lalu berjalan ke tempat tidur Chu Kai. Dia menatap putranya ini dan menghela napas. Pandangan matanya mengandung kesedihan.
Wanita yang merupakan pelayan di kedai ini pun berujar, "Terakhir kali aku melihat Kai seperti ini adalah saat usianya 10 Tahun. Lukanya sangat parah waktu itu dan wajahnya pun benar-benar pucat. Kupikir dia tidak akan dapat bertahan hidup,"
"................" Chu Tian menatap wanita yang bernama Lin Si Yi ini. Dia pun menurunkan pandangannya sebelum matanya terpejam.
Chu Tian menarik napas. Suaranya pelan saat dia bicara, "Aku menemukan Kai di bibir sungai Bai Lu yang terhubung dengan Hutan Móguǐ [Iblis]. Dia masih anak-anak, namun dengan banyak luka cakaran di tubuhnya. Rasanya iblis itu menandainya dengan cakaran mereka,"
"Aku tidak pernah mengungkit ini," Chu Tian meraih tangan pemuda yang masih terbaring di hadapannya dan berkata, "Aku menjaganya dan bahkan memberinya nama keluargaku. Dia sekarang adalah putraku,"
"Tapi apa kau pernah bertanya kenapa Kai bisa ada di sana?"
"Aku tidak ingin menggali lukanya. Dia bisa menceritakan semuanya saat dia sendiri benar-benar siap," Chu Tian mengulurkan tangan. Dia mengusap kepala Chu Kai ketika suara langkah kaki terdengar.
Lin Si Yi menoleh. Wanita itu melihat Wei Zhang Zihan masuk dengan disusul oleh Jing Hao. Dia baru akan buka suara kembali saat mendengar suara gumaman dan seruan dari Chu Tian.
"Ka-Kai?" Chu Tian tersentak. Dia menyaksikan kening Chu Kai mulai bergerak dan perlahan mata pemuda ini terbuka.
!!
"Kai..!" Jing Hao bergegas menghampiri teman baiknya saat mengetahui bahwa Chu Kai mulai sadarkan diri.
Di sisi lain, Chu Kai samar-samar mendengar suara yang memanggil namanya. Pandangan matanya masih agak kabur dan saat mulai jelas---hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamar.
"Nak? Kau baik-baik saja?" Chu Tian bertanya saat Chu Kai mulai menoleh dan menatap ke arahnya.
"A-Ayah..."
"Berikan dia air minum dulu,"
"Nak, bangun pelan-pelan. Hati-hati..."
Chu Kai meminum air yang diberikan oleh Chu Tian padanya. Dia melihat ke sekeliling dan menyaksikan bahwa tidak hanya ayahnya yanh berada di tempat ini, tetapi juga Nyonya Lin Si Yi, Jing Hao, dan termasuk Pendekar Suci Wei Zhang Zihan.
!
Chu Kai tersentak. Dia baru sadar bahwa sekarang ini dirinya ada di kedai milik ayahnya. Dia berkedip saat perlahan-lahan teringat dengan kejadian sebelum dirinya jatuh tidak sadarkan diri.
Sebelumnya, dia bertarung dengan seorang wanita asing dan pertukaran serangan itu luar biasa dahsyat. Dia bahkan masih tidak percaya masih hidup setelah semua yang terjadi.
Wei Zhang Zihan sendiri menunggu untuk tidak langsung mengajukan pertanyaan pada Chu Kai, tetapi tidak dengan Jing Hao. Pemuda yang merupakan teman Chu Kai di kedai ini nampak sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Jing Hao berkata, "Kai. Bagaimana kau bisa berakhir seperti ini? Aku mencarimu bersama Pendekar Wei Zhang Zihan dan melihat kau sudah terbaring pingsan di pinggiran sungai. Aku juga melihat pepohonan dan rerumputan nampak mati, serta ada mayat wanita asing yang tersangkut di salah satu dahan pohon. Sebenarnya bagaimana itu semua bisa terjadi?"
!!
Chu Tian dan Lin Si Yi terkejut mendengar ucapan Jing Hao. Mereka sampai menatap pemuda ini sebelum mengarahkan pandangan pada Chu Kai, seolah ingin memastikan kebenaran dari apa yang sudah mereka dengar.
Chu Kai pun nampak tersentak. Dia menatap Jing Hao dan Wei Zhang Zihan secara bergantian. Orang-orang di sekitarnya memang sangat penasaran, tetapi dia masih belum tahu bagaimana harus bercerita.
"Saat itu..." Chu Kai tiba-tiba merasakan sakit pada kepalanya. Dia membuat Chu Tia dan Lin Si Yi tersentak.
"Kai..!"
"Maaf, kepalaku sakit..."
"Kalau begitu tidak perlu mengingat apa-apa dulu," Chu Tian berkata, "Kau istirahatlah sampai kondisimu pulih."
Chu Kai mengangguk pelan dan kembali berbaring. Ayahnya beserta Jing Hao dan juga Lin Si Yi memutuskan untuk membiarkannya istirahat. Mereka pergi dan meninggalkan dirinya, hanya saja Wei Zhang Zihan justru tidak bergeming.
Chu Tian pun tidak memaksa Wek Zhang Zihan pergi. Dia hanya memberi hormat pada pendekar itu dan kemudian menutup ruangan.
"................."
Suasana langsung berubah ketika yang berada di dalam ruangan hanya tinggal Chu Kai dan juga Wei Zhang Zihan.
Meski Chu Kai berbaring, tetapi dia tidak bisa tidur karena gugup dengan kehadiran Wei Zhang Zihan. Apalagi saat ini, Pendekar Suci tersebut nampak menyilangkan tangan dan menatap lurus ke arahnya.
Wei Zhang Zihan mendekat dan tanpa nada berkata, "Di hutan saat itu... Siapa yang sudah membunuhnya?"
!!!
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
Anonymous
🏥🏥🏥🏦
2023-10-04
0
Achmad Faiz
woow
2023-09-06
0
Achmad Faiz
hahh
2023-09-06
0