Xia Ling Qing mengatakan bahwa dia datang ke Desa Bai Nang untuk menjalankan misi dan tanpa sengaja bertemu Wei Zhang Zihan serta Chu Kai, nyatanya gadis itu tetap menunggu kedua pemuda tersebut pulih, utamanya Chu Kai.
Wei Zhang Zihan sendiri tahu bagaimana karakter dari Xia Ling Qing. Tetapi tidak dengan Chu Kai. Karena itulah, pemuda tersebut sangat keheranan karena Xia Ling Qing tetap tinggal di penginapan bersama mereka.
Di hari saat kondisi Chu Kai sudah benar-benar pulih dan tubuhnya tidak lagi sakit, dia pun kembali ke Sekte Gunung Wushi bersama Wei Zhang Zihan dan Xia Ling Qing.
Dalam perjalanan, Chu Kai berada di samping Wei Zhang Zihan sambil menatap punggung Xia Ling Qing yang berjalan jauh di depannya. Dia pun setengah berbisik, "Pendekar Wei. Apa kau tahu misi apa yang dijalankan Nona Xia di desa tadi? Kupikir setelah kejadian waktu itu, Nona Xia terlihat cukup senggang. Dia bahkan jarang meninggalkan penginapan."
Chu Kai bernapas pelan dan semakin berbisik saat berkata, "Nona Xia juga selalu ada di samping tabib saat tiba waktunya aku minum obat. Aku bahkan takut menyisakan satu tetes cairan pahit itu karena Nona Xia terus di sana dan mengawasiku."
"Masalahnya.." Chu Kai menahan napas, "Mata Nona Xia seperti ingin menghabisiku. Sungguh, aku tidak berbohong."
Wei Zhang Zihan tanpa menoleh menjelaskan, suaranya pelan saat berkata. "Berburu roh jahat sebenarnya adalah misi murid yang berada di Tingkat Kultivasi Duniawi, minimal mereka sudah mencapai tingkatan 六 [liù]. Misi ini bukan tugas yang dijalankan oleh mereka yang merupakan pendekar suci. Jadi sudah jelas tujuan Xia Ling Qing kemari,"
"Tujuan?" Chu Kai keheranan.
"Kau,"
?!
"Aku?" Chu Kai berkedip. Dia meringis saat mendapat sentilan di dahi oleh Wei Zhang Zihan.
Tanpa nada, Wei Zhang Zihan berkata. "Nona Xia mengawasimu. Dia memang bermulut pedas dan sikapnya kasar, tapi sebenarnya dia gadis yang baik. Jika kau sudah lama kenal dengannya, kau akan tahu seperti apa dia."
"Ah.. Sama sepertimu," Chu Kai tersenyum. "Kau terlihat seperti pemuda yang dingin dan berwibawa, tapi sebenarnya sangat kasar dan suka menjitak--aduh! Hei..!"
"Bodoh,"
"A-apa kau bilang?!" Chu Kai kaget saat Wei Zhang Zihan mengatainya dan langsung berjalan pergi begitu saja. Dia mengusap-usap kepalanya dan kemudian menyusul pemuda itu sambil bersungut-sungut.
"Pendekar Wei, tarik kembali ucapanmu itu. Aku sudah menyelamatkan hidupmu, tahu! Aduuh... Shh. Pendekar Wei..!"
*
*
Saat berada di kamarnya, Chu Kai berdiri di depan cermin dengan tubuh bagian atas yang telanjang. Dia berusaha melihat luka di punggungnya yang ternyata berbekas.
Jika diperhatikan baik-baik, tubuh Chu Kai mempunyai bekas luka di beberapa bagian. Bahkan ada tiga bekas cakaran di punggung bagian bawahnya yang ternyata tersambung dengan bekas cakaran di lengan kirinya.
Luka itu sudah bertahun-tahun lamanya dan kedalaman cakaran itu bukan dibuat oleh hewan buas biasa. Rasanya seperti Chu Kai pernah mengalami kejadian dengan hewan paling buas yang pernah ada atau sejenisnya.
Sambil menggeleng pelan, Chu Kai kembali memakai pakaiannya lagi. Hanya saja jika diperhatikan baik-baik, terdapat siluet putih berukiran naga pada bagian pinggang kanan hingga sedikit ke bagian perut Chu Kai. Entah pemuda ini mengetahuinya atau tidak, tetapi siluet itu hanya sesekali muncul ketika terkena cahaya matahari.
!!
Suara ketukan pintu membuat Chu Kai tersentak. Dia pun bergegas membukanya dan seorang murid Sekte Gunung Wushi berdiri di hadapannya.
"..............." Chu Kai tidak tahu siapa nama laki-laki yang nampak berusia 16 Tahun ini. Dia pun berujar, "Apa yang kau inginkan?"
"Sumber daya, setiap murid diberikan oleh perguruan setiap bulannya." suara remaja itu tenang, dia mengangkat kantong kain di tangannya yang spontan diterima oleh Chu Kai.
!!
Chu Kai tersentak sebab kantong kain yang pas di peluk ini ternyata lumayan berat. "Apa ma-maksudnya ini?"
"Sudah kubilang itu sumber daya, isinya tanaman herbal. Ada akar ginseng merah juga. Kau rebus ke dalam air hangat, sebagian rempahnya kau minum dan sebagian lagi kau campurkan ke dalam bak mandimu."
".................."
Menyadari pria di hadapannya hanya menatap membuat kening remaja itu berkedut. "Kau masih tidak mengerti? Haaah..."
Remaja tersebut mengembuskan napas dan menjelaskan, "Murid yang masih pemula dan belum tahu caranya menggunakan energi alam untuk kekuatannya, diberikan tanaman herbal sebagai ganti spirit stone. Tanaman herbal itu Bagus untuk menguatkan tubuhmu, membuat peredaran darah lancar dan membersihkan racun di dalam tubuh. Gunakan tiga hari sekali dan minum ramuannya dua kali sehari. Itu adalah persediaan selama sebulan, jadi gunakan dengan bijak. Sudah, masih banyak barang yang harus kuantar."
!!
Chu Kai belum sempat memberikan respon dan murid itu sudah lebih dulu pergi. Dia pun mengusap tengkuknya dan kembali menutup pintu.
Di dalam kamarnya, Chu Kai terlihat kebingungan. "Tanaman herbal, tapi aku sudah tidak sakit. Lalu apa itu spirit stone? Aneh sekali..."
Chu Kai mulai membuka bungkusan kain yang diberikan padanya. Dia menaruh setiap benda yang diambilnya dalam bungkusan ke dalam meja dan terperangah dengan setiap tanaman yang entah apa namanya ini.
"Ya ampun, baunya menyengat sekali.."Chu Kai bergegas membuka jendela karena aroma herbal yang diberikan padanya. Ekspresinya pucat saat menatap ke arah meja yang dipenuhi berbagai tanaman itu.
"Astaga... Apa yang sebenarnya mereka ingin lakukan padaku?"
"Kawan,"
!!!
Chu Kai terkejut dan spontan berteriak sambil menjauh dari jendela. Jantungnya berdebar sangat kuat kala mendengar suara yang tiba-tiba datang. Responnya sendiri juga mengejutkan orang yang berada di luar jendela.
"Ya ampun, Kawan. Aku hanya menyapamu," laki-laki yang terlihat berusia 23 Tahun itu memakai pakaian biru muda dan nampak mengusap-usap dadanya.
Chu Kai sudah bisa tenang dan akhirnya berjalan mendekat. Dia memperhatikan sosok yang sudah mengagetkannya ini.
"Kau siapa?" Chu Kai buka suara.
"Oh. Namaku Shou, dari keluarga Qin. Aku tetangga sebelahmu," Qin Shou tersenyum dan melompat masuk ke dalam kamar Chu Kai.
"Saudara, jika kau punya pertanyaan tentang apa saja.. Jangan pernah ragu bertanya padaku."
"................." Chu Kai memperhatikan Qin Shou yang terlihat sedang memegang-megang tanaman herbal miliknya. Pemuda itu bahkan duduk di kursi begitu saja dan bersikap seakan ini adalah kamarnya sendiri.
Chu Kai mendekat dan kemudian bertanya, "Jadi kau menginginkan apa di sini?"
Qin Shou menoleh. Dia pun tersenyum dan berkata, "Duduklah dulu. Tidak perlu merasa malu,"
"Yaah.." Chu Kai tertawa getir.
"Kawan. Karena kau baru di sini, maka aku akan langsung saja." Qin Shou berkata, "Sumber Daya di sekte ini adalah yang paling penting bagi pendekar manapun untuk meningkatkan praktik mereka. Dalam satu tahun, kau hanya diberikan empat kali sumber daya dan jumlahnya akan semakin dikurangi setiap kalinya. Jangan percaya jika dia mengatakan sumber daya dibagikan setiap bulan, itu tidak benar."
"................."
"Yang ingin kukatakan adalah.. Kau tidak bisa mengandalkan sumber daya yang diberikan sekte untuk meningkatkan praktikmu. Kau harus pergi mencari sumber daya sendiri,"
"Oh," Chu Kai tidak mengerti, tetapi dia tetap mengangguk. Dia pun tersenyum dan berkata, "Aku akan ingat nasehatmu. Terima kasih,"
"Sesama saudara tidak perlu kata 'terima kasih'," Qin Shou berdiri dan kemudian berkata, "Kau sebaiknya rebus tanaman herbal yang merupakan dedaunan muda dan jangan lupa untuk minum ginsengnya. Itu Bagus untuk kesehatan pria,"
Chu Kai melihat Qin Shou kembali melesat keluar lewat jendela. Dia berkedip karena pria itu datang dan masuk ke kamarnya sesuka hati. Sungguh orang yang aneh.
"Oh, iya. Kai..!"
!?
Chu Kai tersentak saat Qin Shou kembali lagi. Hanya saja pria itu tetap di jendela dan mengeluarkan kantong yang berukuran pas digenggaman.
Qin Shou berkata, "Tanaman herbal terkadang mempunyai bau yang kuat saat direbus. Kau harus mencampurkan bunga cadas ini untuk mengurangi baunya. Aku pergi, ya."
"Mn, baiklah." Chu Kai mengawasi saat Qin Shou sudah tidak terlihat lagi. Dia berjalan ke arah jendela dan mengembuskan napas karena pria itu benar-benar sudah tidak ada. Dia pun mengambil kantong yang diberikan oleh Qin Shou dan melihat isinya.
"................." Chu Kai mengeluarkan bunga cadas dari kantong tersebut dan aroma khas bunga ini memang mengagumkan.
"Ini bunga yang besar," Chu Kai tersenyum. Bunga cadas berwarna putih dengan ujung berwarna ungu. Bunga ini tumbuh menempel di batu dengan daun tipis, namun berduri.
Lokasi tumbuhan ini ada di puncak gunung dan paling sering di pinggiran tebing curam. Karena sulitnya medan untuk menemukan bunga ini, harganya menjadi sangat mahal untuk satu yang belum mekar sempurna. Dan di tangan Chu Kai sekarang adalah bunga cadas yang paling besar dengan bentuk mekar yang sempurna.
Chu Kai awalnya curiga bahwa Qin Shou mempunyai niat buruk padanya, apalagi saat dia ingat cukup banyak murid sekte ini yang tidak menyukainya. Tetapi setelah menerima bunga ini, dia jadi tahu bahwa pemuda itu memang mempunyai niat tulus untuk berteman dengannya.
Chu Kai pun menutup jendela kamarnya dan mulai merebus tanaman herbal beserta bunga pemberian teman barunya. Dia terkesan pada kamarnya ini karena cukup luas dan bahkan mempunyai dapur sendiri. Bahkan tempat ini memiliki peralatan memasak yang lengkap.
Di tempat lain, Qin Shou nampak berjalan sambil menyapa saudara seperguruannya. Dia tidak henti-hentinya tersenyum dan sebenarnya orang ini memang ramah di mata para murid Sekte Gunung Wushi.
!
Qin Shou tIba-tiba berhenti berjalan saat ingat sesuatu. Ekspresi wajahnya menjadi serius saat dia berbalik, "Dia itu... Tahu banyak tentang bunga cadas, kan? Aku tidak sempat memberitahukan bahwa ada beberapa tanaman herbal yang akan menjadi racun jika direbus bersama bunga itu."
Qin Shou ceroboh. Dia hendak ke kamar Chu Kai kembali ketika langkahnya terhenti. Dirinya menarik napas dan berpikir sejenak, "Apa yang kulakukan. Dia adalah Pendekar Naga yang terpilih, jadi pasti sudah tahu banyak tentang tanaman herbal. Lagipula jika di mati, dia tidak akan pantas menjadi Pendekar Naga."
Qin Shou tersenyum dan kembali berjalan. Dia menyapa murid Sekte Gunung Wushi yang ditemuinya di jalan. Tindakan dan sikapnya itu seolah-olah bahwa dia tidak peduli dengan kesalahannya yang mungkin membahayakan orang lain.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
Delima
Bibirku gk berhenti nyengir anjriiiiiitttt
2023-10-21
1
Anonymous
🏦🏕🏘🏗🏘🏘🏗
2023-10-04
0
Achmad Faiz
jos
2023-09-06
0