"Master Zhuang ..." Chu Kai bergumam pelan dan terus melangkah menaiki setiap anak tangga.
Dia bernapas pelan dan membayangkan pertemuan pertamanya dengan sosok Master Zhuang itu. Chu Kai sebenarnya hanya pernah mendengar rumor tentang sosok Master Zhuang yang begitu kuat.
Dikatakan bahwa Master Zhuang adalah ahli bela diri terbaik yang bahkan lebih hebat dari Tetua Sekte Gunung Wushi. Beliau tidak menetap di suatu tempat, tapi ada yang mengatakan bahwa Master Zhuang hidup menyendiri di atas Gunung Tengkorak yang merupakan tempat paling berbahaya di Daratan Tengah.
Chu Kai baru saja mengingat ucapan orang-orang tentang Master Zhuang saat pijakannya tiba-tiba menjadi licin. Dia tersentak dan nyaris terpeleset.
"A-ada apa ini?" Chu Kai memperhatikan anak tangga yang dipijaknya. Dia pun tanpa ragu melepas sepatu dan kaos kakinya.
"Mn? Tidak licin?" Chu Kai keheranan karena anak tangga yang dipijaknya tanpa alas kaki sama sekali tidak licin, padahal sebelumnya dia nyaris saja terpeleset.
Chu Kai pun kembali melangkah dan baru tiga anak tangga yang dia pihak tanpa alas kaki---dirinya pun langsung terjatuh dengan cara yang sama sekali tidak elegan.
Chu Kai merosot turun sambil berseru, perutnya membentur anakan tangga dan dia berusaha membalik posisi. Sekarang justru bokongnya-lah yang membentur setiap anakan tangga dan tubuhnya tidak bisa ditahan sama sekali.
"Waaa...!"
Wei Zhang Zihan yang berdiri di depan pijakan pertama mendengar suara. Dia mengerutkan kening saat melihat sosok Chu Kai yang merosot dengan cepat.
Wei Zhang Zihan tersentak, dia tidak sempat menghindar. Dia terjatuh akibat terkena kaki Chu Kai dan yang lebih buruk adalah posisi jatuhnya yang justru menimpa pemuda asing ini.
!!!
Chu Kai merintih karena kepala dan bokongnya sakit, apalagi itu semakin menjadi saat sesuatu yang berat menimpanya.
!!!
Mata Chu Kai terbelalak saat menyadari posisinya saat ini dan benda apa yang sudah jatuh menindihnya. Dia terkejut karena benda berat itu tidak lain adalah Wei Zhang Zihan, tubuhnya seketika menjadi kaku.
Wei Zhang Zihan bergerak, dia luar biasa terkejut dengan situasi yang berubah secepat ini.
"....................."
"....................."
"Astaga!!"
Wei Zhang Zihan tersentak mendengar sebuah seruan. Dia pun langsung bangun dan menoleh menatap siapa yang bersuara tadi. Keterkejutan terlihat di wajah sosok yang tidak lain adalah salah satu murid Sekte Gunung Wushi itu.
"Tu-Tuan Muda Wei?!" murid Sekte Gunung Wushi itu menutup mulutnya. Dia membungkuk hormat dan kemudian lari dengan wajah penuh keterkejutan dan juga ketakutan.
Wei Zhang Zihan menepis debu di pakaiannya dan mulai menghadapi penyebab dari semua ini. Dia pun menatap pemuda yang menyebalkan ini.
"Tidak tahu malu. Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?"
Chu Kai terkejut karena suara Wei Zhang Zihan begitu ketus dan dingin. Suaranya pelan saat berkata, "Aku sekarang sedang kesakitan. Bokong, punggung dan kepalaku ini sakit karena terbentur anakan tangga. Kau juga jatuh dan menimpaku, aduuh ... Kupikir aku sudah gepeng,"
"Siapa yang lebih dulu memulainya?"
"Aku tidak sengaja, maaf..."
Wei Zhang Zihan mengepalkan kedua tangannya sebelum mulai menghela napas pelan. Dia pun mengulurkan tangan yang membuat Chu Kai tersentak.
"Tuan Muda Wei ...?" meski belum sehari penuh Chu Kai berada di Sekte Gunung Wushi, namun dia sudah melihat banyak ekspresi tidak suka dari orang-orang padanya.
Beberapa murid sampai menunjukkan kebencian yang jelas dan tidak sedikit yang ingin bertarung untuk membuktikan dia pantas menjadi Pendekar Naga, gelar yang bahkan tidak dia bayangkan sama sekali.
Chu Kai tahu karakter Wei Zhang Zihan, sosok ini adalah Pendekar Suci yang tidak tersentuh. Semua orang sangat kagum dan hormat padanya. Ada rumor yang mengatakan bahwa kedisiplinan Wei Zhang Zihan membuatnya menjadi penegak hukum yang paling terpercaya dan rumor bahwa dia berasal dari keluarga kekaisaran adalah yang paling besar.
Chu Kai berkedip, dia menahan napas ketika menerima uluran tangan dari pemuda ini. Dia tidak menyangka akan dibantu berdiri setelah diomeli.
"Bagaimana keadaanmu?" Wei Zhang Zihan bertanya tanpa nada dan tindakan tersebut kembali mengejutkan Chu Kai.
"Ehm ... Masih sakit." Chu Kai meringis dan yakin bahwa punggungnya pasti lecet.
"Jadi sekarang ... Kau tetap akan naik ke sana atau menundanya menemui Master Zhuang?"
"Tidak, tidak, tidak." Chu Kai menggeleng pelan, "Aku tetap harus naik. Aku mau pulang,"
Chu Kai berkata, "Lagipula ... Master Zhuang bukankah sedang menungguku?"
"Hmph, ternyata masih ingat. Ayo naik," Wei Zhang Zihan melangkah lebih dahulu dan disusul oleh Chu Kai yang membawa sepatu serta kaos kakinya.
"Tuan Muda Wei, kau harus berhati-hati. Saat semakin ke atas, tangganya entah bagaimana menjadi licin."
Wei Zhang Zihan mengerutkan kening saat mendengar ucapan Chu Kai. Dia pun tidak mengatakan apa-apa dan terus berjalan.
Jalur Tian Chuang tidak sebaik itu hanya dengan menjadi licin. Setiap anakan tangga ini akan terasa menyakitkan dan berat bagi siapa pun yang menginjaknya. Bahkan Wei Zhang Zihan ingat salah satu murid Sekte Gunung Wushi yang merasa seperti tertusuk jarum saat menginjak tangga Jalur Tian Chuang.
Tetapi ada apa dengan pemuda bernama Chu Kai ini? Dia bahkan melepas alas kakinya begitu saja dan berpijak pada setiap anak tangga seolah tidak ada hal yang terjadi. Keluhannya pun berbeda dari para murid Sekte Gunung Wushi yang biasanya.
"Tuan Muda Wei, di sini. Aku terpeleset di sini," Chu Kai menjadi agak takut jika dia sampai terjatuh lagi.
Wei Zhang Zihan bernapas pelan, dia memakai energi spiritualnya agar Chu Kai tidak lagi mengalami hal yang sama. Mereka terus berjalan sampai tiba di puncak Bukit Bunga Persik.
Hal pertama yang dilihat Chu Kai ketika tiba di puncak bukit adalah meja duduk yang terbuat dari batu. Meja itu berada di bawah sebuah pohon persik dengan bunga yang lebat. Ada seorang pria yang duduk di depan meja itu dan dengan penampilan yang mengagumkan. Chu Kai bahkan sempat berpikir bahwa sosok itu baru keluar dari dalam lukisan.
Wei Zhang Zihan menyatukan kedua tangannya dan membungkuk memberi hormat. Chu Kai yang melihat tindakan tersebut juga mulai meniru Wei Zhang Zihan meski masih terlalu canggung.
"Kau akhirnya datang,"
Chu Kai tertegun selama beberapa saat. Suara pria yang terus menutup matanya itu terdengar jernih dan menenangkan. Dia tersentak saat melihat isyarat mata dari Wei Zhang Zihan yang menyuruhnya ke tempat Master Zhuang. Dirinya pun langsung mengangguk.
Tanpa menoleh, Master Zhuang terlihat tersenyum. Dia pun mempersilahkan tamu yang datang menemuinya untuk duduk. Chu Kai nampak meletakkan sepatu miliknya dan berjalan mendekat.
"Teh bunga persik, apa kau tertarik mencobanya?" Master Zhuang begitu sopan dan bahkan menyedihkan teh untuk Chu Kai. Dia membuat pemuda yang mempunyai bekas luka di pipi sebelah kanannya itu tersentak.
Wei Zhang Zihan kembali memberi hormat sebelum berjalan pergi. Chu Kai terlambat menyadarinya dan dia kaget karena ditinggal begitu saja bersama dengan sosok Master Zhuang ini. Bisa dipastikan kegugupannya makin terasa sekarang.
"Kau mencariku?" suara Master Zhuang begitu tenang. Ekspresi wajahnya adalah lambang dari kedamaian.
Chu Kai menelan ludah. Dia berusaha untuk menenangkan diri dan mulai buka suara. "A-aku ... Aku sebenarnya sangat senang bisa melihat Master Zhuang sedekat ini. Ta-tapi ..."
"Kau tidak suka di tempat ini?"
Chu Kai menggeleng, "Bu-bukan begitu. Ehm... Jujur saja, aku masih tidak menyangka akan berada di tempat ini. Aku sama sekali tidak pernah bermimpi menjadi Pendekar Naga, jadi ... Saat aku yang hanya orang biasa ini terpilih rasanya ... Benar-benar mengejutkan."
Master Zhuang tersenyum tipis dan lantas berkata, "Manusia tidak akan tahu seperti apa masa depan yang digariskan langit padanya. Namun satu hal yang harus diketahui bahwa apa pun yang kau lakukan sekarang, akan menentukan masa depanmu nanti. Takdirmu ... Bisa saja baru dimulai,"
Chu Kai menunduk dan memikirkan beberapa hal sebelum mengembuskan napas. Dia pun berujar pelan, "Aku belum sehari berada di sini. Tapi aku sudah melihat sikap para murid di tempat ini. Ada yang secara terang-terangan tidak menyukaiku, ada yang menantangku bertarung karena merasa bahwa aku tidak pantas untuk gelar itu. Ada juga yang menunjukkan ketidaksukaan mereka dan menghindariku. Bahkan ada yang terpaksa bersikap baik karena mendapat perintah dari Tetua mereka,"
Chu Kai menghela napas dan berkata, "Aku sendiri juga merasa bahwa tempatku bukanlah di sini. Karena itulah aku ingin menemui Anda dan bertanya apa mungkin ada sebuah kesalahan,"
"Selalu seperti itu,"
"Apa?" Chu Kai tersentak mendengar ucapan singkat Master Zhuang. Dia berkedip dan memperhatikan sosok di hadapannya ini.
Master Zhuang berkata, "Selalu seperti itu. Orang yang kuat, orang yang istimewa, orang yang mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang lain akan sulit diterima manusia pada umumnya. Jika mereka tidak kagum, maka mereka pasti akan iri. Menjadi iri hati ... Akan membuat mereka membenci dirimu,"
Chu Kai menatap sosok di hadapannya, dia tidak bicara. Master Zhuang yang menyadari hal ini pun dengan tenang bertanya, "Apa yang kau inginkan dalam hidup ini?"
"Apa?" Chu Kai tersentak, dia berkedip beberapa kali dan menggumamkan pertanyaan dari sosok di hadapannya.
Chu Kai mengusap pelan tengkuknya dan berkata, "Aku tidak pernah memikirkan tentang itu sebelumnya. Kupikir aku hanya ... Ingin hidup tenang dan damai. Begitulah,"
"Lalu apa lagi?"
Chu Kai menengadah sejenak, dia kembali berpikir dan dengan malu-malu berkata. "Aku ... Juga sebenarnya ingin lebih dekat dengan nona Xia Ling Qing, tapi yah ... Aku tahu itu sama sekali tidak mungkin. Lagipula pertemuan pertamaku dengannya itu ..."
Chu Kai mendadak menjadi pucat saat teringat dengan tendangan Xia Ling Qing dan ucapan bernada kasar gadis itu padanya. Dia menelan ludah dan menjadi agak takut.
Master Zhuang tersenyum tipis dan lantas berujar pelan, "Kehidupan tenang dan damai tidak akan bisa didapatkan dengan mudah. Kau harus membuat itu terwujud dan inilah tugas yang diemban para pendekar,"
"Kau mungkin pernah melihat dan mungkin pernah mengalaminya sendiri ... Ada banyak binatang iblis yang datang dan menyerang pemukiman. Mereka tidak hanya merusak, tetapi juga membunuh siapa pun dan tidak semua orang mampu melindungi diri serta keluarganya."
Master Zhuang berkata, "Inilah tugas bagi para pendekar untuk melindungi orang-orang seperti kalian. Menjaga perdamaian agar semuanya dapat hidup dengan tenang. Namun saat dunia para pendekar terancam bahaya, siapa yang bisa melindungi mereka?"
Chu Kai menatap sosok di hadapannya. Dia bukannya tidak tahu bahaya yang selama ini dihadapi oleh para pendekar. Mereka tidak hanya melawan binatang iblis, tetapi juga menghadapi pendekar lain yang mempunyai niatan jahat.
Chu Kai bernapas pelan dan kemudian buka suara, "Aku ... Sangat mengagumi para pendekar, tapi aku tidak pernah memikirkan untuk menjadi bagian dari mereka karena aku tahu ... Itu adalah dunia di mana aku tidak akan bisa hidup dengan tenang."
"Untuk menciptakan kehidupan yang tenang, ada orang-orang yang bersedia mempertaruhkan nyawa mereka. Ada juga yang bersedia terjaga sepanjang malam untuk membuat orang-orang yang dikasihinya bisa tidur dengan nyenyak. Kami melindungi, terus melindungi dan akan tetap seperti itu untuk sebuah perdamaian."
"..............." Chu Kai memperhatikan pria di hadapannya dan nampak berpikir sebelum kemudian mendengarkan sosok di depannya ini kembali bicara.
Master Zhuang berkata, "Meskipun sangat berbahaya dan nyawa merupakan taruhannya, tetapi masih banyak orang yang tetap memilih untuk menjadi bagian dari para pendekar. Mereka bahkan tanpa ragu meninggalkan kehidupan yang nyaman demi menjaga perdamaian. Mereka ingin menjadi seorang pahlawan. Kau ... Apa tidak mempunyai impian semacam itu?"
Chu Kai berkedip beberapa kali sebelum kemudian menunduk. Dia pun berkata, "Aku pernah mempunyai impian seperti itu juga, tapi hanya mimpi masa kecil. Dan setelah aku dewasa ... Aku berpikir bahwa lebih baik menjalani hidupku yang sederhana,"
"Mimpi tidak mungkin dapat dilupakan dengan mudah. Apa kau sungguh tidak memilikinya lagi?"
Chu Kai tertegun. Dia diam sejenak sebelum mulai menarik napas. Dirinya merendahkan nada suara saat berkata, "Aku sebenarnya ... Ingin sekali menjadi pendekar. Tapi motivasiku lain. Aku ... Ingin menjadi pendekar untuk bisa dilihat oleh nona Xia Ling Qing,"
Menyebut nama gadis cantik itu membuat Chu Kai tersenyum dan dengan sedikit malu berkata, "Master Zhuang tidak boleh mengatakan ini pada siapa pun. Aku sangat menyukai nona Xia, aku begitu mengaguminya. Dia cantik, hebat dan sangat mengagumkan. Kupikir jika aku menjadi pendekar, aku akan bisa lebih dekat dengannya. Nona Xia akan bisa melihatku, tapi ..."
Chu Kai mengembuskan napas dan kemudian melanjutkan, "Jika kukatakan ini ... Aku akan merasa seperti sudah menodai prinsip dunia para pendekar yang berusaha kuat untuk menjaga perdamaian dunia. Jadi kupikir ... Aku tidak akan memikirkan tentang menjadi pendekar selagi aku masih belum memiliki motivasi yang lain."
Master Zhuang mendengus dan tertawa kecil. Tindakannya membuat Chu Kai terkejut. Dia pun tersenyum dan lantas berujar tenang, "Kau sudah mempunyai motivasi yang baik. Bahkan itu adalah motivasi terbaik yang pernah ada,"
"Be-benarkah?!"
"Mn, benar. Para pendekar berusaha keras menjadi kuat untuk menjaga perdamaian dan melindungi orang-orang yang dikasihinya. Sementara kau ingin menjadi pendekar agar bisa diakui oleh seseorang yang istimewa, itu luar biasa menurutku. Kenapa kau mengubur dalam mimpi yang sangat baik ini?"
"Be-benarkah itu mimpi yang baik?" Chu Kai menjadi berbinar. Dia tidak pernah mendapat dukungan sebelumnya. Bahkan saat dia mengatakan tentang mimpinya ini pada temannya, mereka akan mengejek dan menertawakannya.
"Master Zhuang. Anda tidak bercanda, kan?! Apa ini benar-benar mimpi yang baik? Ini bukan karena berhubungan dengan menjadi Pendekar Naga atau semacam itu, kan?"
"Bukan, ini tentangmu." Master Zhuang tersenyum lembut. Dia bernapas pelan dan kemudian berkata, "Bagaimana jika begini saja. Kita lupakan tentang gelar Pendekar Naga terlebih dahulu. Kau tinggallah di sini selama sebulan. Kau bisa menjadi murid dan belajar di bawah naungan para guru di tempat ini. Jika pada akhirnya kau tidak suka, maka aku tidak akan memaksamu lagi. Mn?"
"Sebulan?" Chu Kai berkedip.
"Benar, sebulan. Tapi kau tidak boleh membuat masalah seperti menjadi murid nakal atau berani melarikan diri dari tempat ini sebelum waktunya."
"Sebulan yah ..."
"Sebulan bukanlah waktu yang panjang," Master Zhuang mengangkat cawan di meja dan meminum teh miliknya.
Chu Kai mempertimbangkan ucapan Master Zhuang sebelum menarik napas dalam. Dia menatap pria di hadapannya dan kemudian mengangguk pelan. "Aku akan mencobanya, tapi Master Zhuang harus menepati janji. Master tidak akan mengirim Pendekar Wei Zhang Zihan lagi dan memaksaku tinggal di sini,"
"Mn, sepakat. Ayo minum tehnya,"
"Oh,"
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
Anonymous
😝😝🤑🤑
2023-10-04
1
Achmad Faiz
joss
2023-09-05
0
Achmad Faiz
hmm
2023-09-05
0