Chu Kai terkejut mendapat tantangan dari seorang bocah berusia 14 Tahun. Meski dia pemuda yang tidak suka perkelahian, namun bukan berarti dia akan membiarkan hal semacam ini terjadi padanya.
Sambil meniup poni rambut depannya, Chu Kai pun mulai meraih pedang yang menancap di depannya dan kemudian menariknya.
Dia pun tersentak karena pedang ini berat dan saat diperhatikan baik-baik, ini benar-benar pedang asli yang sangat tajam. Chu Kai tanpa sadar menahan napas dan berkedip beberapa kali, dia menatap anak laki-laki di hadapannya sejenak sebelum mengarahkan perhatian pada pedang di tangannya kembali.
Liang Yimu mendengus dan dengan isyarat tangan---dia pun menyuruh Chu Kai untuk mengikutinya. Kabar bahwa dirinya akan bertarung dengan Pendekar Naga terpilih langsung tersebar ke seluruh pelosok Sekte Gunung Wushi, bahkan sampai di telinga kelima Pendekar Suci.
Di atas panggung arena, Chu Kai merasa sangat gugup harus berdiri sambil disaksikan oleh para murid Sekte Gunung Wushi. Dia beberapa kali menelan ludah dan berusaha keras untuk mengatur detakan jantungnya.
"Ada banyak orang di sini? Kenapa tidak ada yang melerai kami? Apa serius aku akan bertarung dengan seorang anak kecil?!" wajah Chu Kai terlihat pucat.
Dia tidak meragukan lawannya meskipun usia sosok di depannya masih sangat muda. Yang dia khawatirkan adalah dirinya sendiri. Dia tidak pernah memakai pedang untuk melukai orang lain, bahkan untuk membayangkannya pun tidak pernah.
!!
Chu Kai tersentak saat melihat Liang Yimu mulai mengangkat pedangnya. Bilah senjata anak laki-laki itu berkilat dan begitu tajam hanya dengan tertimpa cahaya matahari.
Saat tatapan tajam anak laki-laki itu terlihat dan sosok tersebut baru akan melesat, dengan cepat Chu Kai berseru. "Tunggu dulu!"
Liang Yimu mengerutkan kening, namun posisi kakinya tetap siap menerjang. Suaranya dingin saat berujar, "Ada apa? Apa kau takut?"
"Tentu saja takut," Chu Kai tidak mungkin mengatakannya. Jadi dia berpura-pura dan kemudian tersenyum, "Aku tahu yang kau inginkan adalah mengujiku. Jadi bagaimana jika begini saja, tidak boleh menyerang organ vital atau membunuh. Dan kau juga jangan tiba-tiba menghilang lalu muncul di hadapanku begitu saja,
"Hah, apa?"
"Kenapa? Kau tidak mau aturan seperti ini? Apa kau takut kalah jika tidak memakai kekuatan aneh itu untuk menghadapiku?" Chu Kai menaikkan alisnya, terlihat begitu angkuh tetapi dalam hati dia sebenarnya menahan gemetar pada kedua lututnya.
Liang Yimu mengepalkan tangannya dan memegang kuat pedangnya saat ini. Dia benar-benar tidak suka pada pemuda di hadapannya karena beberapa alasan dan melihat betapa percaya dirinya orang ini ... Dia pun menjadi semakin kesal.
"Baiklah! Akan kulakukan," Liang Yimu mengusap bilah pedangnya dan dengan suara dingin berkata, "Sebaiknya kau tidak mengecewakan."
"Astaga, bocah laki-laki ini sangat serius." Chu Kai menelan ludah dan memegang pedangnya dengan dua tangan. Posisi kakinya begitu canggung, dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang teknik berpedang atau sejenisnya.
Tubuh Chu Kai memang besar, cukup berotot untuk pemuda berusia 18 Tahun pada umumnya. Otot pada tubuhnya itu terbentuk dari kebiasaannya yang selalu melakukan pekerjaan berat, membantu ayahnya membawa air, menebang pohon dan yang lainnya.
Otot tubuh Chu Kai tidak pernah terlatih mengayunkan pedang atau untuk bela diri, karenanya dia terlihat sangat kaku bahkan ketika memegang senjata.
Liang Yimu mulai bergerak. Meski tanpa memakai energi alam untuk melesat secara mengejutkan, namun gerakannya masih begitu lincah. Chu Kai yang hanya manusia bisa tentu bukan tandingannya meski usia dan bentuk tubuh mereka terpaut jauh.
Para murid Sekte Gunung Wushi nampak menaruh perhatian pada Liang Yimu. Tidak sedikit yang tersentak sebab melihat posisi tubuh Chu Kai yang sama sekali tidak nampak seperti seorang pendekar.
Jangankan posisi kaki dan tubuhnya, Chu Kai bahkan memegang senjata dengan kedua tangan sambil menutup mata. Ada di antara para murid Sekte Gunung Wushi yang berseru dan memintanya untuk melawan.
"Ya ampun, dia bisa terluka parah. Hei..! Buka matamu!"
"Kau tidak bisa bertarung jika menutup mata! Astaga.."
"Bukan begitu caranya. Apa kau tidak tahu caranya memakai pedang, huh?!"
!!!
Para murid Sekte Gunung Wushi yang berada di luar arena terkejut saat Liang Yimu menggerakkan pedangnya dan hampir saja membelah pedang Chu Kai serta melukai pemuda itu andai sesuatu yang mengejutkan tidak terjadi.
Entah bagaimana, ketika pedang Liang Yimu sengaja membentur pedang lawan---secara mengejutkan dia terpental seolah ada angin kuat yang mendorong tubuhnya. Kejadian ini membuat para murid lainnya kaget hingga tidak sedikit yang tercengang.
Chu Kai sendiri merasakan kebas pada tangannya bersamaan saat mendengar suara yang nyaring. Dia baru membuka mata ketika merasakan ada angin yang cukup kencang menerpanya dan tentu saja dia kaget melihat Liang Yimu saat ini tersungkur di lantai. Anak laki-laki itu merutuk dan sangat kesal padanya.
"Ba-Bagaimana dia bisa melakukannya?"
"Pemuda itu ... Dia hebat,"
"Kurasa dia menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya,"
"Pendekar Naga, hm?"
Banyak suara yang terdengar, tetapi Chu Kai lebih fokus pada apa yang dia alami. Sungguh, apa yang terjadi pada Liang Yimu bukan ulahnya. Dia sama sekali tidak tahu, lututnya bahkan masih gemetar saat ini. Dia sampai tidak bisa bergerak saking gugupnya.
Ada tiga orang yang menapak di lantai arena dan membuat Chu Kai tersentak. Dua di antara orang itu membantu Liang Yimu berdiri dan membawanya keluar arena, sementara satu lainnya berjalan lebih dekat pada Chu Kai.
Sosok laki-laki yang terlihat berusia 19 Tahun itu memakai pakaian yang sama seperti murid Sekte Gunung Wushi yang lain.
Sosok itu tersenyum ramah dan menyatukan kedua tangan dengan hormat. Dia pun buka suara, "Tian Zhuang, berharap dapat bertukar seni bela diri dengan Pendekar Naga."
!!
Chu Kai terkejut, pemuda ini sopan tapi kenapa juga menginginkan pertarungan dengannya?! Tidakkah ada orang yang harus menghentikan ini sekarang?
"Pendekar Suci Wei Zhang Zihan..?!"
!!
"Pendekar Suci Wei..!"
"Tu-Tuan Muda Wei..!!"
Chu Kai berbalik ketika seseorang berjalan di sampingnya. Dia terbelalak saat melihat yang datang memang adalah Wei Zhang Zihan, pemuda yang sudah menyeretnya ke tempat ini.
"............." Wei Zhang Zihan hanya sekilas menatap Chu Kai dan kemudian berjalan ke arah Tian Zhuang. Ekspresinya tenang dan tidak tergoyahkan. Kehadirannya di tempat ini sudah membuat suasana langsung tegang dan sunyi.
Tanpa nada, Wei Zhang Zihan buka suara. "Kalian dibubarkan,"
Hanya satu perintah itu, Tian Zhuang dan para murid Sekte Gunung Wushi yang ada di tempat itu memberi hormat dan langsung membubarkan diri. Bahkan tidak ada satu orang pun di antara mereka yang membalas ucapan Wei Zhang Zihan.
Chu Kai yang menyaksikan semua itu tidak bisa untuk menyembunyikan rasa kekagumannya. Dia sampai tercengang dengan mulut yang terbuka lebar. Dia entah sadar atau tidak---tetapi Chu Kai berjalan mendekati Wei Zhang Zihan dan berdecak kagum.
"Kau keren, mengagumkan." Chu Kai menggeleng dan berkata, "Bagaimana caramu melakukan itu? 'Kalian dibubarkan' waah! Kau seperti ... Seperti .. Ehm... Oh! Ketua geng, kau paham maksudku. Kau seperti itu,"
Wei Zhang Zihan memperhatikan sosok di sampingnya. Ekspresi wajahnya tidak berubah, namun suaranya berubah dingin saat dia mendengus. "Hmph, kau bodoh."
!!
Chu Kai nyaris terjatuh saat mendengar ucapan itu. Dia pun menatap Wei Zhang Zihan dan berkata, "Aku baru saja memujimu dan ini balasannya? Oh, mengagumkan."
Chu Kai menjatuhkan pedang yang dia pegang sebelumnya dan kemudian berjalan menjauh. Dia berkata, "Aku tidak tahu bagaimana bocah laki-laki yang tadi bisa terjatuh, tapi sepertinya itu ulahmu. Aku berterima kasih untuk itu dan selamat tinggal--aduh!"
"Kau pikir akan ke mana?" Wei Zhang Zihan menahan kerah belakang pakaian Chu Kai dan membuat pemuda itu terkejut.
"Tuan Muda Wei, aku hanya ingin pulang. Ayahku pasti sedang butuh bantuan, di saat semacam ini---pelanggan di kedaiku akan semakin banyak, jadi biar--aduh!"
"Tidak bisa pergi,"
"Apa?! Tapi kenapa? Hei..!" Chu Kai kaget karena kerah belakang pakaiannya ditarik dan dia terpaksa harus mengikuti Wei Zhang Zihan. Masalahnya, dia seakan diperlakukan seperti kucing jika kerah belakang pakaiannya ditarik seperti ini.
"Tuan Muda Wei, kau harus mengerti. Ada kesalahan dan itu adalah bagaimana kalian melihatku. Aku sama sekali bukan Pendekar Naga atau apa pun itu. Aku hanya manusia biasa," Chu Kai berusaha melepaskan diri dan terus membujuk Wei Zhang Zihan.
Chu Kai berkata, "Aku datang ke sekte ini untuk melihat nona Xia Ling Qing. Sungguh! Hanya itu. Aku ini pengagum berat nona Xia. Tapi siapa yang tahu akan ada orang yang melemparku hingga ke tempat pemilihan. Untung saja aku tidak sampai jatuh menghantam tanah. Jika itu terjadi ... Haiiih... Tamatlah sudah,"
"..............."
"Jadi, Tuan Muda Wei. Intinya ada kesalahan. Master siapalah namanya itu bukan menunjukku sebagai Pendekar Naga, hanya kebetulan aku berdiri di sana dan tanpa sengaja menghalangi orang lain. Kalian semua salah paham. Kau mendengarku, kan? Aku bukan Pendekar Naga. Memegang pedang saja aku baru pertama kali ini melakukannya, sungguh."
"..............."
"Tuan Muda Wei--"
"Kau bisa tanyakan langsung,"
"Apa?" Chu Kai tersentak mendengar ucapan Wei Zhang Zihan. Dia akhirnya dilepaskan dan baru sadar bahwa saat ini dia berada di bagian lain dari Sekte Gunung Wushi.
Selain rerumputan, pohon-pohon, dan Wei Zhang Zihan yang berdiri di depannya---Chu Kai juga melihat anakan tangga yang entah mengarah ke mana.
"Tempat ... Tempat apa ini?" Chu Kai bertanya dengan suara yang hati-hati, "Aku dibawa ke mana?"
"....... Master Zhuang, Beliau yang sudah memilihmu." Wei Zhang Zihan berujar tanpa nada, "Jika kau ingin pergi dari tempat ini, maka berpamitan langsung padanya."
Chu Kai berkedip. Dia mengikuti arah tatapan Wei Zhang Zihan yang melihat ke anakan tangga. Dia berujar, "Master Zhuang ... Apa ada di atas sana?"
"Bukit Bunga Persik. Kau bisa ke sana lewat tangga ini, Master Zhuang sudah menunggumu."
"Be-benarkah?" Chu Kai menelan ludah dan kemudian mulai berjalan ke arah tangga batu di hadapannya.
Dia mengembuskan napas, menoleh sejenak ke arah Wei Zhang Zihan sebelum mengambil satu langkah dan menapak di anak tangga yang pertama.
Tidak ada hal yang terjadi dan ini membuat Chu Kai menginjak anak tangga yang kedua. Dia menaiki satu demi satu anak tangga tersebut dan Wei Zhang Zihan berdiri memperhatikannya.
"..............." ekspresi Wei Zhang Zihan tidak berubah, tetapi ketika melihat Chu Kai sudah berada di tangga ke-sepuluh, tatapan matanya pun mulai berbeda.
Wei Zhang Zihan berjalan mendekati anak tangga yang sebelumnya dipijak oleh Chu Kai. Dia menatap anak tangga itu cukup lama sebelum kakinya mulai dia langkahkan.
Ingatan tentang tangga ini seakan terlintas di depan mata Wei Zhang Zihan seperti sebuah kilas balik.
Ini bukanlah tangga biasa, melainkan sebuah Jalur Tian Chuang. Hanya orang terpilih yang bisa menaikinya tanpa luka sama sekali.
Ketika pemilihan Pendekar Suci, para murid Sekte Gunung Wushi banyak yang menjadi korban di tangga ini. Bahkan mereka yang memaksakan diri untuk naik, meridiannya akan terputus dan ini adalah efek yang luar biasa fatal.
Wei Zhang Zihan tidak menjelaskannya dan Chu Kai sama sekali tidak tahu apa pun. Wei Zhang Zihan menarik kembali langkahnya dan hanya berdiri di ujung anak tangga paling bawah.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
Luo Zan Thian
ayo buat MCnya mencret
2025-02-26
0
Lia Wiliani
mereka mengingatkan saya pada Lanzi dan Shuxiang. (lupa penulisan namanya, udh lama banget)
2024-02-06
2
Anonymous
🤪😗🤪😗
2023-10-04
0