Chu Kai baru saja menyelesaikan kelas pertama yang dia ikuti dan cukup banyak mempelajari hal baru. Ini adalah kelas teori di mana dirinya akan lebih banyak duduk daripada bergerak. Sejujurnya, dia mulai bisa merasakan ngilu di bagian bokong dan punggungnya.
"Astaga ... Jika setiap hari seperti ini, maka aku benar-benar akan mati." Chu Kai memilih berbaring di rerumputan sebelum pergi ke Aula Tong Fu untuk makan siang.
Di hari pertamanya menjadi murid Sekte Gunung Wushi, tenaga dan mentalnya sudah terkuras sangat banyak. Dirinya bahkan terlalu lelah untuk pergi mengisi perut.
"............." Chu Kai menarik napas dan menggunakan lengannya sebagai bantalan. Dia menatap langit di sela-sela dedaunan dan lalu mengembuskan napas.
"Aku tidak menyangka bahwa dunia para pendekar itu serumit ini. Kupikir mereka hanya bertarung seperti berandalan, menghajar siapa pun yang menyinggung dan sebagainya. Haah ... Apa aku bisa bertahan?"
"Apa yang sedang kau lakukan?"
?!
Chu Kai tersentak mendengar suara manis nan menggemaskan. Dia langsung menoleh dan terlonjak kaget dengan kehadiran seorang anak perempuan yang entah datang dari mana.
!!
Anak perempuan tersebut ikut tersentak karena reaksi pria dewasa ini. Dia bahkan sempat berpikir bahwa orang ini sudah melihatnya sebagai hantu.
"Ya ampun, jantungku ..." Chu Kai mengusap-usap dadanya. Dia duduk dan kemudian memperhatikan sosok anak kecil yang nampak berusia 10 Tahun itu.
Ekspresi wajahnya sedikit memburuk. Chu Kai membatin, "Sebelumnya aku sekelas dengan liliput. Sekarang aku bertemu dengan bocil lagi? Ada apa ini sebenarnya? Apakah pertanda langit bahwa aku harus segera punya anak? Istri saja bahkan belum kucari, aiih."
"Kakak ini kenapa begitu terkejut. Apa ada yang aneh di wajahku?"
Chu Kai menggeleng pelan dan lantas tersenyum, "Sama sekali tidak. Aku hanya tidak menyadari kedatanganmu-!!"
Chu Kai melebarkan matanya saat mulai menyadari dengan siapa dia bicara. Mulutnya bahkan terbuka lebar saking terkejutnya.
"Ka-Kau ..." Chu Kai mengusap-usap matanya dan yakin bahwa dia tidak salah lihat. "Kau Pendekar Suci Nalan Shu, kan?!"
"Oh, jadi Kakak tahu aku?"
Siapa pun tidak akan bisa melupakan seorang Nalan Shu dan Chu Kai adalah penggemar dari kelima Pendekar Suci. Tentu saja dia tahu wajah mereka semua dan bahkan lebih dari itu.
"Mengagumkan, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Kau sungguh Pendekar Suci Nalan Shu!"
Senyuman terlihat di wajah Nalan Shu, tapi hal berbeda mengisi pikirannya. Dia merasa bahwa pria berwajah jelek ini adalah orang bodoh dan mesum pada anak kecil.
"Nona Nalan, apa yang kau lakukan di tempat ini? Apa kau sekelas denganku?" Chu Kai terlihat begitu gembira, "Aku seharusnya bisa mengenalimu dengan cepat. Ya ampun, aku bodoh sekali."
"Kakak, apa kau mau bertarung denganku?" Nalan Shu sama sekali tidak tertarik dengan apa pun yang dikatakan oleh orang ini. Dia datang hanya untuk memberi seseorang pelajaran.
"Kau tadi bilang apa?" Chu Kai berkedip. Senyuman belum memudar di wajahnya, dia menatap anak manis di hadapannya ini dengan perasaan yang seolah-olah tenaganya pulih kembali.
Nalan Shu tersenyum dan dengan cepat menarik pedang tanpa bilah miliknya. Dia pun langsung menodongkannya ke arah leher Chu Kai dan membuat senyuman pemuda itu membeku.
Nalan Shu kembali bicara, "Aku ingin menantangmu bertarung. Bukankah kau Pendekar Naga yang terpilih itu?"
!!!
Suara petir menyambar tiba-tiba didengar oleh Chu Kai. Dia bahkan tanpa sadar menahan napas. Suaranya gugup ketika berkata, "Be-bertarung?"
*
*
Chu Kai menghela napas untuk yang k sekian kalinya. Dia sekarang kembali ke dalam arena pertarungan dan saat ini sedang menjadi pusat perhatian para murid Sekte Gunung Wushi.
Jauh dari lubuk hatinya, dia sama sekali tidak ingin bertarung. Namun Nalan Shu mengancam dengan memakai pedang. Siapa Chu Kai hingga dia bisa menolak ancaman seorang Nalan Shu?
Anak perempuan itu memang masih berusia 10 Tahun, tetapi sepak terjang dalam dunia para pendekar bukanlah isapan jempol belaka. Buktinya bahkan terlihat dengan posisi Nalan Shu yang menjadi salah satu dari lima Pendekar Suci.
Chu Kai tahu tentang anak perempuan ini. Nalan Shu mungkin terlihat seperti anak yang manis, namun berbeda saat dia mengayunkan pedang. Anak yang menggemaskan ini adalah manusia berdarah dingin. Tidak terhitung berapa jumlah Binatang Iblis dan manusia yang tewas di pedangnya yang kecil itu.
Chu Kai memperhatikan orang-orang di sekitarnya dan kemudian mengarahkan pandangan pada pedang di tangannya. Dia mengusap wajah dan membatin, "Apa tidak ada orang yang akan menolongku kali ini?"
"Apa kau sudah siap?"
"Tunggu dulu, a-aku perlu pemanasan." Chu Kai mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang yang bisa dia mintai bantuan.
Nalan Shu mengerutkan kening, "Kau mencari siapa? Haah ... Tidak perlu takut, pedangku sama sekali tidak berbahaya."
"Aku benar-benar akan menjadi bodoh jika mempercayai ucapanmu," Chu Kai menggumam di sela-sela giginya yang terkatup. Beruntung gumamannya itu tidak didengar oleh Nalan Shu.
"Bagaimana ini," Chu Kai merasa gelisah. "Hanya tetua sekte, Master Zhuang dan Pendekar Wei Zhang Zihan yang bisa menolong sekarang. Tapi di mana mereka? Ya ampun ... Aku benar-benar akan mati."
"Aku tidak punya waktu menunggumu bersiap-siap," Nalan Shu mengalirkan energi spiritual pada pedang miliknya. Tindakan tersebut mengeluarkan suara bagai petir dan membuat Chu Kai kaget.
"Tahan sebentar," Chu Kai berusaha untuk mencari cara. Dia pun dengan gugup berkata, "Seharusnya ada wasit, iya kan? Da-dan kupikir bertarung seperti ini ada aturannya."
"Benar," Nalan Shu tersenyum, "Wasit dan aturannya adalah aku. Kau hanya perlu menahan tiga seranganku. Jika kau bisa menahannya, maka kau menang. Jika tidak bisa, kau mati. Sederhana,"
!!!
"Dia setan cilik," Chu Kai berekspresi pucat. Dia menatap horor anak kecil di hadapannya dan nampak kesulitan saat menelan ludah.
"Baiklah, aku akan memulainya." Nalan Shu tersenyum dan membuat Chu Kai melebarkan mata.
"Gawat,"
*
*
"Kabar mengenai kelahiran pendekar naga sudah menyebar dan sekarang kultivator dari Sekte Aliran Hitam menjadi gelisah. Belum lagi musuh utama kita yang berasal dari kalangan Binatang Iblis pun pasti mengincar pemuda itu sekarang. Aku pun tidak akan menyembunyikannya, namun kita juga perlu waspada dengan kultivator sesama aliran. Mereka semua ... Menginginkan kematian Pendekar Naga."
Wei Zhang Zihan saat ini berada di dalam ruangan Tetua Xia Feng Hua. Dia melihat Shizun-nya itu berdiri di depan jendela dan nampak menengadah ke langit.
"Pemuda itu harus segera tahu posisinya bagi kedamaian dunia ini. Dia harus bisa membangkitkan kekuatannya sebelum semuanya terlambat,"
"................." Wei Zhang Zihan menatap Tetua Xia Feng Hua dan kemudian mulai berdiri. Dia pun berjalan mendekat ke arah Shizun-nya tersebut.
"A-Yan, ambillah sebuah misi di Aula Xing dan bawa pemuda itu bersamamu. Ajari dia akan tanggung jawabnya sebagai seorang pelindung."
Wei Zhang Zihan tersentak, "Tapi dia baru sehari belajar di tempat ini. Apa mungkin membiarkannya ikut pergi?"
"A-Yan, suasana di sekte ini tidak baik. Bukan hanya para murid, tetapi juga para tetua. Meski tidak menemukan adanya kekacauan, tetapi suasana bagai bom waktu mulai terasa. Pemuda itu ... Dia harus segera bisa membuktikan diri bahwa dia memang pantas dengan gelarnya sekarang."
Wei Zhang Zihan memikirkannya dan kemudian memejamkan mata sejenak sebelum menyatukan kedua tangannya. Dia pun memberi hormat dan berkata tanpa nada, "Murid ini mematuhi perintah Shizun."
Wei Zhang Zihan berpamitan dan lalu pergi ke Aula Xing. Sebuah tempat di mana para murid Sekte Gunung Wushi yang sudah pantas dapat mengambil misi dan kemudian menuruni gunung.
Setelah mendapatkan gulungan yang menjadi misinya, Wei Zhang Zihan mulai ke tempat Chu Kai. Hanya saja sebuah keributan membuatnya tersentak, dia pun mendekat dan sangat terkejut dengan apa yang dirinya saksikan.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
Delima
Dunia liliput hkhkhk
2023-10-21
0
Anonymous
🫡🤐🤐🤐
2023-10-04
0
Achmad Faiz
woow
2023-09-05
0