Chu Kai menelan ludah. Meskipun Tetua Xia Feng Hua mengatakan kepada dua murid Sekte Gunung Wushi untuk menjamunya dengan baik, tetapi dia tidak menyangka jamuan itu akan semewah ini.
"Mengagumkan," Chu Kai kembali menelan ludah. Dia sekarang berada di sebuah ruangan luas yang merupakan kamarnya sendiri di sekte ini. Tepat di depannya adalah sebuah meja besar dengan berbagai hidangan lezat.
Sup teratai dengan kuah bening, mie dengan potongan jamur dan irisan daging sapi tebal di atasnya. Berbagai hidangan daging lainnya dan seluruh makanan lezat ini lebih sesuai untuk jamuan acara pernikahan daripada disajikan hanya untuknya.
Chu Kai tidak bisa menggerakkan sumpit di tangannya dan mulai makan saat melihat bahwa sajian di hadapannya belum bahkan belum putus ditaruh oleh pelayan di tempat ini. Dia berkedip beberapa kali saking tidak percayanya.
"A-apa semua ini ... U-untukku?" Chu Kai tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak bertanya. Dia merupakan pelayan dari sebuah kedai sebelum dibawa kemari, jadi dia tahu bahwa sajian di hadapannya mempunyai harga yang sama sekali tidak murah. Apalagi cukup banyak hidangan daging di hadapannya.
Salah satu murid Sekte Gunung Wushi menyatukan kedua tangan dan dengan hormat berkata, "Semua hidangan ini untuk Anda, tetapi jika masih ada yang kurang atau jenis makanan yang anda inginkan---maka kami akan segera siapkan."
"Ti-tidak perlu, ti-tidak sama sekali. Itu ... Bu-bukan itu maksudku," Chu Kai benar-benar canggung sekali dengan begitu terkejut dengan ini semua. Dia pun menelan ludah dan mengucapkan terima kasih.
Kedua murid dari Sekte Gunung Wushi itu memberi hormat dan mulai berpamitan. Chu Kai yang terkejut pun bertanya, "Kalian mau ke mana? Ka-kalian tidak ikut makan?"
"Sajian ini hanya dikhususkan untuk Pendekar Naga, kami masih ada kelas. Permisi,"
"Ta-tapi ..." Chu Kai melihat kedua murid itu pergi meninggalkannya di dalam ruangan ini bersama dengan banyak makanan. Dia bernapas pelan-pelan dan berusaha menenangkan diri.
"Ya ampun, mereka sebenarnya ingin menjamu atau membesarkan peliharaan menjadi segendut b*bi. A-apa serius aku harus menghabiskan ini semua?"
*
*
Kabar tentang Pendekar Naga menyebar ke seluruh penjuru Sekte Gunung Wushi. Para murid merasa penasaran dengan sosok Sang Pendekar Naga ini, mereka ingin segera melihatnya tetapi terhalang oleh kelas masing-masing.
Namun ada juga di antara para murid itu yang baru saja menyelesaikan kelasnya dan kini mengikuti beberapa rekannya untuk mengunjungi ruangan Pendekar Naga.
Chu Kai yang ada di dalam kamarnya terlihat sudah menyelesaikan makannya. Dia hanya menyentuh dua hidangan dan sudah merasa kenyang. Saat ini, dia duduk bersandar sambil mengusap-usap perutnya.
Chu Kai menatap langit-langit kamar dan mengembuskan napas, "Bagaimana ini? Apa aku akan dikurung di tempat ini selamanya?"
Chu Kai berkedip, makanan yang sebelumnya ada di meja sudah lama dibersihkan oleh pelayan sekte ini dan sekarang dia sendirian di dalam kamar yang luas. Dirinya menatap ke arah pintu dan berpikir untuk melihat-lihat kondisi Sekte Gunung Wushi.
Chu Kai mulai berdiri, dia berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan perlahan. Setelah memastikan tidak ada orang, Chu Kai pun melangkah keluar sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.
Saat berjalan, dia baru menyadari bahwa koridor tempat kamarnya berada begitu luas dan mengagumkan. Dia terpukau, apalagi saat menyaksikan ada halaman dengan kolam ikan dan pohon bunga haitang di tempat ini.
Chu Kai berdecak kagum, dia baru akan memuji tempat ini saat mendengar suara langkah kaki dan melihat ada beberapa orang yang berjalan menghampirinya.
!!
Chu Kai sebenarnya ingin pergi diam-diam, tetapi mengingat dia baru saja dijamu dengan sangat baik---maka dia mengurungkan niat tersebut. Dirinya bermaksud untuk berpamitan dengan sopan kepada Tetua Sekte Gunung Wushi, tetapi niat itu sepertinya harus tertunda saat ini.
"Ehm ...." tidak tahu harus bagaimana di depan empat orang murid yang ada di hadapannya. Chu Kai merasa canggung.
Salah seorang murid Sekte Gunung Wushi bernama Mu Fang, sosok dengan penampilan seperti tuan muda manja yang hanya sombong ketika membawa beberapa perisai hidup bersamanya.
Chu Kai sendiri yang bekerja di kedai tentu sudah biasa melihat jenis orang seperti ini, dan sebagai respon---dirinya pun tersenyum serta menundukkan kepala sebagai pemberian hormat.
Karakter kesombongan terlihat jelas di wajah Mu Fang. Dia tersenyum dan sambil berkacak pinggang mulai berkata, "Hmph, kau ternyata tahu diri. Memang seharusnya orang sepertimu sadar dengan posisimu,"
"Aku tidak mengerti, tapi sepertinya dia sangat senang." Chu Kai membatin dan dia pun memilih untuk menundukkan kepalanya kembali.
"Siapa namamu?" Mu Fang sebenarnya ingin menindas pemuda di hadapannya, tapi respon sosok ini yang mudah sekali menundukkan kepala membuat dirinya merasa bahwa aura kewibawaannya memang adalah sebuah pengaruh yang besar.
"Maaf tidak memperkenalkan diri, Tuan Muda. Nama saya, Kai. Dari keluarga Chu."
"Ha ha ha, bagus. Bagus sekali. Kau pemuda yang sopan, aku menyukainya. Namaku Mu Fang, murid terbaik di sekte ini dengan kemampuan yang setara Pendekar Suci. Yaah ... Bisa dibilang aku adalah Pendekar Suci yang identitasnya disembunyikan."
Chu Kai tertegun selama beberapa saat, penilaiannya tentang Mu Fang adalah orang ini merupakan pemuda pembual dengan rasa kesombongan yang tinggi.
Meskipun menutup mata, Chu Kai tahu dengan sangat jelas bahwa Pendekar Suci hanya ada 5 orang. Mereka terdiri dari Chen Fuyi, Nalan Shu, Liu Han Ying, Wei Zhang Zihan, dan tentu saja Nona Xia Ling Qing. Tidak ada yang bernama Mu Fang di antara pendekar yang dia sebutkan tadi.
Chu Kai tentu saja tidak akan protes meski dia tahu pemuda di hadapannya berbohong. Dia menyakinkan diri bahwa satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menghindari sebuah pertengkaran dan menghindari membuat musuh adalah dengan tidak membongkar kebohongan lawan bicara.
Sebagai respon, Chu Kai dengan sangat terampil memalsukan perhatiannya. Dia memulai dengan kata, "Oh" sambil mengerutkan alis seakan memberi isyarat bahwa dia keheranan dan tertarik.
Mu Fang yang melihat reaksi demikian bertambah semangat untuk berbicara lebih banyak tentang kehebatannya. Chu Kai pun membuka mata lebar-lebar dan mengeluarkan kata "waah" yang lebih panjang disertai decakan kagum.
Dia seorang ahli, lagipula membuat para pelanggan kedainya nyaman untuk terus tinggal lebih lama dan membicarakan banyak hal merupakan keahlian yang patut dimiliki oleh seorang pelayan kedai. Chu Kai tentunya sudah sangat berpengalaman dalam hal ini.
"Tuan Muda Mu sangat mengagumkan. Aku sama sekali tidak mengira akan memiliki keberuntungan untuk bisa bertemu denganmu sedekat ini," Chu Kai kembali berdecak kagum dan itu membuat Mu Fang semakin besar kepala.
Salah seorang rekan Mu Fang nampak menyilangkan tangan dan mendengus. Dia dengan sombong berkata, "Bagus. Kau ternyata bisa melihat keagungan dari Tuan Muda Mu Fang. Kami datang kemari sebenarnya untuk melihat sosok dari Pendekar Naga yang terpilih, tapi ... Setelah melihatmu, kau nampak seperti orang yang penurut."
Chu Kai jelas tahu nada suara itu. Orang ini seakan memberi isyarat bahwa dirinya merupakan sosok yang akan menjadi pesuruh dibandingkan dengan seorang Pendekar Naga.
"Langsung saja, Kai." Mu Fang buka suara dan bertanya. "Apa yang sudah kau lakukan hingga Master Zhuang memilih dirimu menjadi Pendekar Naga? Apa yang kau janjikan padanya?"
?!
Chu Kai jelas saja tersentak. Ucapan Mu Fang entah sengaja ingin meledeknya atau ingin memprovokasinya agar ada alasan untuk memberinya pelajaran.
Chu Kai yang tahu jelas watak orang seperti ini pun tidak akan memakan umpan Mu Fang. Dia tersenyum dan bersikap begitu canggung. Dia bahkan melambai-lambaikan tangannya sambil menggelengkan kepala.
Chu Kai berkata, "Aku sama sekali tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Aku rasa ada kesalahan karena bagaimana mungkin orang sepertiku bisa dipilih menjadi Pendekar Naga, ha ha ha. Itu hal yang mustahil,"
Mu Fang memperhatikan sosok di depannya dengan saksama dan kemudian mengangguk setuju, "Kau benar. Master Zhuang mana mungkin memilih pria bodoh, lemah, dan tidak berkharisma sepertimu. Jika kau menjadi Pendekar Naga, maka tempat ini akan menemui kehancurannya."
Chu Kai mengangguk beberapa kali, tidak akan mendebat orang ini meskipun dia sangat kesal dengan ucapan pemuda di hadapannya.
Sambil menggaruk tengkuknya, Chu Kai pun berkata. "Tuan Muda Mu Fang benar, aku lemah dan bahkan tidak berbakat. Jadi karena itulah jika bisa, aku berniat menemui Master Zhuang dan berbicara padanya tentang kesalahpahaman ini."
Mu Fang dan rekan-rekannya tersentak saat pemuda di hadapannya mempunyai niatan untuk bertemu Master Zhuang. Dia pun mendengus dan berkata, "Sobat. Master Zhuang bukanlah orang yang mudah kau temui begitu saja. Bahkan aku pun hanya sekali pernah melihatnya, kau tidak akan bisa menemuinya."
Salah satu murid Sekte Gunung Wushi mengangguk, "Itu benar. Kau lebih baik langsung pergi saja dari sekte ini,"
Chu Kai tersenyum pahit, "Niatku memang begitu. Tapi ... Bagaimana jika aku dibawa paksa lagi kemari? Aku harus menemui Master Zhuang karena hanya Beliaulah hingga kesalahpahaman ini bisa segera diakhiri,"
Mu Fang mengusap-usap dagunya dan kemudian berujar, "Aku pernah dengar bahwa Master Zhuang selalu berada di Bukit Bunga Persik. Tapi aku sendiri tidak pernah melihatnya ketika pergi ke sana. Kau bisa pergi dan mencarinya,"
Chu Kai tersentak dan memperhatikan Mu Fang dengan saksama. Dia pun tersenyum dan membungkuk hormat sambil berpamitan. Dalam hati dirinya merasa lega sebab bisa lolos dari pemuda yang angkuh ini.
Mu Fang merupakan tuan muda yang sombong, dan cara untuk mengatasi orang jenis ini adalah dengan tidak mendebatnya serta bersikap hormat.
Tidak peduli harus membungkuk sedalam apa, Chu Kai tetap akan melakukannya. Dia adalah pelayan kedai sebelum dibawa kemari dan seorang pelayan tidak akan kehilangan harga diri meskipun membungkuk.
Chu Kai pun berjalan setelah mendapat petunjuk arah dari salah satu murid Sekte Gunung Wushi ke Bukit Bunga Persik. Hanya saja, beberapa kali dirinya harus tertahan oleh para murid yang penasaran dengannya.
Dia tentu bersikap seperti yang dirinya lakukan pada Mu Fang dan teman-teman pemuda itu, namun ada di antara murid Sekte Gunung Wushi yang justru tidak terpengaruh. Mereka bahkan secara terang-terangan menantangnya untuk bertarung.
Sama seperti saat ini. Chu Kai yang berada di bawah sebuah pohon nampak sedang dikerumuni oleh sekitar lima orang murid Sekte Gunung Wushi.
Ada seseorang yang terlihat jauh lebih menyebalkan dan arogan daripada Mu Fang. Murid itu memiliki usia yang muda, remaja dalam masa pertumbuhan yang sepertinya belum pernah mengukur tingginya langit itu. Keangkuhan sosok ini benar-benar lebih tinggi dari tubuhnya dan itu membuat Chu Kai hanya ingin menertawakannya.
"Apa kau berani meledekku?!" suara itu terdengar nyaring disertai mata yang melotot marah.
Chu Kai mengatupkan bibirnya dan lantas menggelengkan kepala. Dia berkata, "A-aku tidak meledek-"
"Bohong!" sanggah laki-laki berusia 14 Tahun itu. Dia merupakan murid Sekte Gunung Wushi yang bernama Liang Yimu, sosok tuan muda yang bahkan Chu Kai tahu seperti apa keluarga 'Liang' itu.
Liang Yimu menarik pedang rekannya dan melemparkannya tepat menangkap di depan ujung kaki Chu Kai. Benar-benar nyaris mengenai jempol kaki pemuda biasa tersebut.
Liang Yimu meniup poni rambutnya dan kemudian berkata, "Aku tidak percaya bahwa kau adalah Pendekar Naga yang terpilih. Aku menantangmu bertarung sekarang juga!"
"Apa?" Chu Kai merasa bahwa keadaan ini sudah mulia kelewatan. Dia bersikap ramah dan tanpa permusuhan selama ini, tetapi mengapa tiba-tiba saja muncul anak yang ingin mengajaknya berkelahi?
"Tuan Muda, ini salah. Tuan Muda tolong tenang dulu-"
"Kau pikir aku akan mendengarkanmu?! Kau datang dan mengambil tempat Nona Xia Ling Qing begitu saja. Kau yang bukan siapa-siapa ini, be-berani sekali..!"
"Ya ampun, bocah ini mengesalkan sekali." Chu Kai berusaha menahan diri untuk tidak menerjang remaja di depannya dan memberikan jitakan yang keras. Dia berusaha mengendalikan diri sebaik mungkin.
Ada beberapa murid yang sebenarnya mencoba untuk menenangkan Liang Yimu, tetapi memang dasar bocah! Remaja menyebalkan itu sama sekali tidak mau mendengarkan siapa pun.
"Tarik pedang itu dan serang aku! Atau kalau tidak, kaulah yang akan kutebas lebih dulu."
!!!
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
Achmad Faiz
huhh
2023-09-05
0
Achmad Faiz
haha
2023-09-05
0
Jimmy Avolution
Yo ..ayo...
2023-07-09
2