"Kawan..!" Jing Hao terus memanggil Chu Kai dan berusaha menyusul pemuda itu. Dia tersentak saat melihat Chu Kai berdiri di depan sebuah dinding besar dan menempelkan tubuhnya. Dia terlihat seperti sedang menjadi cicak.
Langkah kaki Jing Hao menjadi lebih tenang saat dia melihat betapa konyol tingkat temannya itu. Dia pun menghela napas dan mulai buka suara.
"Apa yang kau lakukan?" Jing Hao bertanya tanpa nada dan membuat Chu Kai menoleh ke arahnya.
"Oh, kau di sini rupanya. Ayo bantu aku melewati dinding ini,"
Jing Hao berkedip, dia menggaruk pelipisnya dan mulai berdiri di samping Chu Kai. Dia berkata, "Dinding ini setinggi lima meter dan mungkin juga lebih. Kau akan patah tulang bila nekat lewat sini. Sudahlah, ayo cari jalan yang lainnya saja."
Bersamaan ketika ucapan Jing Hao selesai, suara gong disertai gendang kuat membuat mereka tersentak kaget. Chu Kai menarik temannya dan berkata, "Itu pertanda pemilihannya sudah dimulai. Kita akan terlambat..! Ayo bantu aku. Dorong bokongku, cepatlah..!"
Jing Hao berkedip beberapa kali dan kemudian mengembuskan napas. Dia pun tidak punya pilihan untuk membantu teman baiknya melewati dinding yang tinggi ini meski yakin hal tersebut tidak akan berhasil.
"Kai, apa kau sangat menyukai para Pendekar Suci itu? Kau melakukan ini pun mereka tidak akan memujimu, ukh!" Jing Hao berusaha mendorong bokong temannya dan bahkan merelakan bahunya untuk diinjak.
Kai yang berusaha menggapai ujung dinding pun berkata, "Bukankah kau sudah tahu jawabannya? Ayo dorong lagi. Lebih tinggi..!"
"Ya ampun, ini akan sia-sia. Kau tidak akan bisa. Ayo cari jalan lain, aduh..!" Jing Hao merintih dan mengomel karena Chu Kai hampir menginjak wajahnya.
"Sedikit lagi ..." Chu Kai bisa mendengar keriuhan di dalam sana dan dia benar-benar ingin masuk. Tangannya hampir mencapai ujung dinding saat kaki Jing Hao tanpa sengaja menginjak batu dan membuat keseimbangannya oleng.
Kedua pemuda itu terjatuh di mana Jing Hao menjerit karena Chu Kai menimpa perutnya dengan sangat keras. Bahkan nyaris saja 'masa depannya' terancam karena kejadian ini.
"Ba-bangun Kai. Apa kau mau membunuhku?! Aduh.."
"Maaf, aku tidak sengaja. Aduh.." Chu Kai meringis dan baru saja akan membantu temannya saat tatapan matanya teralih pada sebuah pohon.
Jing Hao baru saja mengulurkan tangan dan meminta bantuan Chu Kai saat temannya itu menepis tangannya. Dia berkedip dan melihat Chu Kai bergegas ke salah satu pohon yang cukup dekat dengan dinding.
"Apa dia belum menyerah?" Jing Hao tidak habis pikir dengan pemuda yang sudah lama dikenalnya itu. Dirinya pun mendesah pelan dan kemudian bangun untuk menyusul Chu Kai.
"Ya ampun, apa begitu berharganya nona Xia bagimu hingga temanmu ini pun kau abaikan, huh?" Jing Hao memperhatikan Chu Kai yang berusaha memanjat pohon dengan gaya yang aneh.
"Kau bantu saja aku naik. Apa tidak bisa berbaik hati sedikit?"
"Hmph. Gayamu memanjat itu seperti ulat sawi, apa kau tahu?"
"Kawan?"
"Baiklah! Kau benar-benar merepotkan," Jing Hao membantu Chu Kai kembali. Dia adalah teman akrab pemuda ini dan sangat tahu betapa temannya begitu mengagumi Lima Pendekar Suci, utamanya nona Xia Ling Qing.
Chu Kai berhasil memanjat dan kakinya sekarang menapak di salah satu dahan. Dia pun berusaha naik semakin tinggi dan mencoba meraih dahan yang lain.
Jing Hao menyusul temannya memanjat dan terus membantu Chu Kai sambil tetap merutuk. Mereka mendengar suara gendang ditabuh dan semakin riuh.
Chu Kai berhati-hati saat berjalan di salah satu dahan untuk mencapai bagian atas dinding batu. Dia bahkan merubah posisi dan memeluk dahan besar itu sambil berusaha semakin mendekat. Tindakan ini bila dilihat orang lain kemungkinan akan nampak begitu konyol.
"Hampir sampai ... Hampir sampai ... Nona Xia, tunggu aku..!"
Jing Hao menghela napas untuk kesekian kalinya. Dia pun berkata, "Selama ini aku selalu mendukung apa pun yang kau lakukan, bahkan juga turut merepotkan diri sendiri untuk melakukan hal yang aneh. Pertanyaannya, kenapa aku bisa begitu baik padamu?"
Jing Hao berkata, "Rasanya seakan-akan aku melihatmu melakukan tindakan yang merugikan dan membiarkannya begitu saja. Kenapa aku membiarkanmu?"
"Jika kau sudah selesai bicara, kenapa tidak segera melompat kemari?" Chu Kai sudah duduk di atas dinding dan nampak mengulurkan tangannya.
Jing Hao berdecak dan terpaksa untuk mengikuti temannya. Dia melompat dan nyaris terjatuh andai Chu Kai tidak segera membantunya.
Jantung Jing Hao berdebar kencang, ini karena apa yang dia lakukan sekarang berisiko sangat tinggi. Tentu saja salah satu risikonya adalah dia kemungkinan dapat mengalami patah tulang hanya karena mengikuti keinginan Chu Kai.
Ketika sedang mengatur napas dan juga menenangkan debaran jantung---suara gendang yang ditabuh menarik perhatian Jing Hao. Dia pun mulai memandang ke depan dan matanya langsung terbelalak.
Bila Jing Hao berespresi penuh rasa keterkejutan dan tidak percaya, maka Chu Kai berbeda lagi. Pemuda berusia 18 Tahun itu nampak terpukau dengan betapa megahnya bangunan yang terlihat.
Halaman luas Sekte Gunung Wushi penuh dengan orang-orang yang saling berdesakan. Chu Kai merasa beruntung karena dia tidak lewat gerbang hingga tak perlu berdesakan semacam itu.
Di posisi ini pun, dia cukup bisa melihat bagaimana indahnya tarian berunsur seni beladiri dari Sekte Gunung Wushi itu.
Semangat Chu Kai membara ketika nama Xia Ling Qing mulai diserukan. Dia bisa melihat orang-orang kembali riuh seakan mereka memang datang untuk menyaksikan gadis yang cantik dan berbakat ini.
"Aku ingin melihatnya lebih dekat," Chu Kai masih terlalu jauh dari panggung arena di mana Xia Ling Qing sedang memperlihatkan keahlian berpedangnya.
Pandangan Chu Kai mengarah ke salah satu atap yang di jadikan tempat duduk oleh beberapa orang berseragam biru muda. Dia pun dengan gembira meminta Jing Hao agar mengikutinya.
Jing Hao sendiri tersentak, tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh temannya ini. Dia memanggil-manggil Chu Kai dan tetap menyusul pemuda tersebut.
"Kai..! Kau mau ke mana?" Jing Hao terbelalak saat temannya mulai berdiri. Dia pun berkata, "Hati-hati. Kau bisa terjatuh..!"
"Aku baik-baik saja," Chu Kai mencari jarak yang lebih dekat agar dia dan temannya bisa naik ke atap. Mereka tentu berhati-hati dan sama sekali tidak ditegur siapa pun karena semua orang sibuk dengan urusan masing-masing.
Chu Kai dan Jing Hao akhirnya berhasil naik ke salah satu atap meski mengalami beberapa kesulitan. Kedua orang itu saat ini mencoba untuk pergi ke atap yang lebih tinggi dan berusaha agar bisa melihat lebih dekat nona Xia Ling Qing.
"Kurasa ini tempat yang bagus," Chu Kai mengembuskan napas dan nampak puas karena bisa menyaksikan panggung arena tanpa ada yang menghalangi.
Chu Kai menoleh ke samping dan tidak jauh darinya juga ada orang-orang yang duduk sambil berbincang membahas tentang pemilihan ini. Dia pun kembali memandang ke arah panggung arena dan terpukau melihat pendekar suci yang dikaguminya.
Chu Kai melihat Xia Ling Qing, gadis yang cantik dan berambut panjang itu terlihat bertarung melawan lima orang murid yang sama dengannya. Pertarungan itu sengit dan bahkan menghasilkan suara debaman serta percikan api.
Jing Hao melihat ekspresi temannya dan berkata tanpa nada, "Apa kau sudah melihatnya?"
"Mn," Chu Kai menjawab tanpa menoleh, bibirnya membentuk sebuah senyuman dan dia pun berkata, "Nona Xia Ling Qing jauh lebih cantik daripada yang kulihat di dalam lukisan. Selain itu, dia juga sangat hebat dan mengagumkan."
Jing Hao tahu bahwa Chu Kai sama sekali tifak mengerti ucapaannya barusan. Dia pun berkata, "Yang aku tanyakan adalah tentang bagaimana kau dan nona Xia Ling Qing. Coba lihatlah, jarak antara dirimu dengan gadis itu sangat jauh."
Jing Hao menarik napas dan kemudian berkata, "Nona Xia Ling Qing adalah putri dari Tetua Sekte. Sementara dirimu hanya putra dari pemilik kedai makan yang tidak terlalu terkenal. Satu ini saja sudah menjadi perbedaan antara kau dan gadis itu, jadi apa kau masih bisa bermimpi?"
Jing Hao berujar, "Ada banyak sekali perbedaan antara kau dengan nona Xia dan yang paling mencolok adalah status kalian. Sadarlah kawan, kau hanya manusia biasa. Sementara nona Xia adalah sosok pendekar yang dikagumi."
Chu Kai hanya sejenak mendengarkan temannya bicara, dia terlalu terpukau dengan apa yang disaksikannya saat ini.
Jauh di hadapannya, di atas panggung arena terlihat seorang gadis berusia 17 Tahun dengan pedang pusaka di tangan kanannya. Gadis itu mempunyai wajah yang cantik, menawan dan memiliki aura yang tidak main-main. Dia merupakan kebanggaan dari Sekte Gunung Wushi.
Xia Ling Qing merupakan pendekar Tingkat Ahli dan pencapaian ini sangat hebat di usia yang masih begitu muda. Selain itu, lima dari inderanya mempunyai kemampuan yang lebih tajam dari para pendekar lainnya. Dia bahkan memiliki inti spiritual api yang sempurna.
Xia Ling Qing melatih kultivasi pertamanya di usia 5 Tahun, dua tahun lebih cepat dari anak yang lain. Kepribadiannya terbentuk dengan hasil latihan serta didikan keluarganya, dia adalah anak emas yang membuat terpukau orang-orang dengan bakatnya.
Inti Spiritual Api yang dia miliki bahkan tergolong langka dan dikatakan bahwa itu adalah inti spiritual Pendekar Naga yang melegenda. Karenanya di dalam pemilihan kali ini, banyak orang yang yakin bahwa Pendekar Naga selanjutnya adalah Xia Ling Qing. Gadis itu mempunyai kualifikasi yang tidak terbantahkan dan sama sekali bukan kultivator yang memiliki kecacatan dalam hal apa pun.
Untuk pertarungan Xia Ling Qing, gadis cantik itu bahkan mampu mengalahkan lawannya hanya dalam beberapa gerakan saja. Teknik berpedangnya sempurna dan Aliran Tiga Lingkaran Api merupakan salah satu jurus paling hebat yang belum bisa dipatahkan oleh lawan-lawannya.
Gaya bertarung Xia Ling Qing mengagumkan dan begitu indah, bahkan di mata orang biasa seperti Chu Kai. Pemuda itu tidak mengerti tentang tingkat praktik atau apa pun yang berhubungan dengan kultivasi, dia hanya tahu bahwa nona Xia Ling Qing-nya sangat cantik dan penuh pesona.
Ketika Chu Kai mulai membayangkan masa depan dengan Xia Ling Qing, suara gong kembali terdengar. Kali ini yang naik ke atas panggung adalah seorang pemuda yang juga merupakan salah satu dari Lima Pendekar Suci, keriuhan bahkan lebih besar lagi.
*
*
Jing Hao nampak berdecak kagum melihat salah satu dari Lima Pendekar Suci mempertontonkan kebolehannya dalam berlatih seni bela diri.
"Hebat sekali. Mereka adalah manusia yang diberkahi oleh langit. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tetapi saat melihat ada seseorang yang bisa melesat secepat kilat dan menebas hanya dalam sekali ayunan pedang rasanya .... Seakan manusia dewa sudah terlahir ke bumi."
Jing Hao menarik napas, "Aku tidak pernah merasa bosan mengagumi kemampuan para pendekar itu. Kadang aku berpikir, bagaimana caranya mereka bisa melayang di udara dan bahkan sampai bertarung di langit. Rasanya begitu mustahil jika kau tidak melihatnya sendiri, benar kan?"
Jing Hao tertegun saat menoleh. Chu Kai yang duduk di sampingnya terlihat sangat antusias, tetapi hanya pada nona Xia Ling Qing. Padahal dia sudah bicara panjang lebar dan menanyakan pendapat temannya ini.
Jing Hao mengembuskan napas sebelum kembali buka suara, "Kai? Apa kau mendengarku? Kai...!"
"Ha? Kau bilang apa?" Chu Kai hanya menoleh sejenak sebelum melihat Xia Ling Qing yang sedang berdiri tenang. Dia pun kembali senyum-senyum sendiri.
".............." Jing Hao menggeleng pelan. Dia lantas berkata, "Kau menatap nona Xia sampai bola matamu keluar pun, gadis itu tidak akan menoleh. Dia berasal dari dunia yang sama sekali berbeda dengan kita,"
"Apa maksudmu? Kita sama-sama berada di bawah atap langit yang sama, menghirup udara yang sama, jadi mana mungkin berbeda."
"Kai, kau sudah dibutakan oleh cinta. Coba lihat baik-baik, nona Xia Ling Qing adalah pendekar. Kau tahu artinya? Dia tidak sama dengan wanita biasa. Dia kuat, hebat, dan dihormati. Tentu saja untuk pasangan hidup, dia akan mencari pria yang setara dengannya. Bukan orang sepertimu,"
Chu Kai menoleh saat mendengar Jing Hao bicara, dia memperhatikan teman baiknya dengan saksama dan berkata. "Jadi menurutmu nona Xia akan memilih seorang pendekar untuk menikahinya?"
"Benar, kenyataannya memang begitu. Tidak mungkin dia akan memilih seorang pelayan kedai,"
Chu Kai menatap langit sejenak sebelum bergumam, "Menjadi pendekar ... Tapi siapa yang tahu, mungkin saja tanpa menjadi pendekar pun---aku dan nona Xia ditakdirkan bersama oleh langit."
"Hah," Jing Hao mendengus. Dia pun menggeleng pelan dan menggaruk kepalanya. Temannya ini memang sudah dibutakan pesona seorang gadis.
Di sisi lain, pandangan mata Chu Kai hanya mengarah pada Xia Ling Qing, dia memang mengagumi pendekar suci yang lain, tetapi rasa kekagumannya lebih banyak ditujukan kepada Xia Ling Qing.
Jing Hao memperhatikan teman yang duduk di sampingnya ini dan beberapa kali menggeleng pelan. Dia pun berkata, "Apa kau tidak melihatnya? Hmph, Kai. Aku tidak mau meledekku, tapi sadarlah. Nona Xia Ling Qing berada di sana, sementara kau ada di tempat ini. Jarak kalian begitu jauh dan kau tahu keadaannya seperti apa? Bagaikan matahari dan sebutir pasir. Bahkan tanah pun merupakan perumpamaan yang terlalu besar untukmu,"
Faktanya, seberapa keras pun Jing Hao berbicara dan menyadarkan Chu Kai. Pemuda itu kembali tidak mendengarkan dan perhatiannya hanya tertuju pada sosok Xia Ling Qing yang nampak berdiri tenang.
Chu Kai tanpa menoleh berkata dengan senyuman, "Menurutmu akan seperti apa anakku dan nona Xia nanti?"
Jing Hao terkejut, nyaris terjatuh. Dia pun menghela napas dan berkata, "Anakmu dengan nona Xia adalah kemustahilan. Kau sudah terlalu jauh, hentikanlah Kawan. Aku tidak melarangmu bermimpi, tapi mimpimu ini terlalu tinggi-"
Suara keras bagai sambaran petir tiba-tiba terdengar dari panggung arena. Jing Hao dan Chu Kai terkejut bukan main. Keduanya merasa bahwa jantung mereka nyaris saja runtuh.
Pemuda berpakaian biru muda yang sedang berdiri di panggung arena terlihat menyarungkan kembali pedangnya. Dia menyatukan kedua tangan dan lantas memberi hormat pada Tetua Sekte Gunung Wushi. Pemuda tampan berusia 23 Tahun itu bernama Wei Zhang Zihan.
Pendekar suci yang lain kemudian naik ke panggung arena dan siap untuk menunjukkan kemampuannya. Semua orang terpukau, bersorak menyerukan namanya.
Di sisi lain, Xia Ling Qing sama sekali tidak terpengaruh dengan orang-orang di sekitarnya. Dia fokus memperhatikan rekannya yang bertarung melawan para murid Istana Gunung Wushi.
Liu Han Ying, salah seorang pendekar suci nampak menyilangkan tangan dan berujar tenang di samping Xia Ling Qing. Dia berkata, "Bagi semua orang ini adalah hiburan, tapi sebenarnya kita sedang berlatih dan menunjukkan kemampuan di depan Master Zhuang."
Xia Ling Qing mendengarnya dan melihat beberapa orang yang nampak begitu bersemangat. Ekspresi wajahnya tenang, tetapi sorot matanya mengandung hal yang lain.
Tetua Sekte Gunung Wushi sekaligus ayah dari Xia Ling Qing mengangguk pelan ketika muridnya memberi hormat. Dia adalah tetua yang berusia 40 Tahun bernama Xia Feng Hua.
Di sampingnya berdiri seorang pria berpakaian serba putih yang nampak berusia 37 Tahun. Pria itu mempunyai wajah ramah dan menenangkan dengan mata yang terus tertutup.
Jing Hao yang berada di atap lebih fokus memperhatikan pendekar suci yang sedang bertarung. Dia berdecak kagum atas kemampuan yang dimiliki oleh para pendekar itu.
"Bagaimana mereka bisa sekuat itu? Luar biasa.." Jing Hao bergumam pelan.
"Tidak hanya kuat, nona Xia juga sangat cantik."
"Kau hanya melihat nona Xia Ling Qing saja, coba perhatikan yang lain-"
"Siapa ini?"
Chu Kai dan Jing Hao tersentak saat mendengar suara asing. Keduanya menoleh dan melihat ada seorang pria berpakaian biru muda yang berdiri di belakang mereka.
Jing Hao berkedip, pria ini mempunyai tatapan yang aneh dan seakan tidak suka pada mereka. Entah kenapa dia merasa bahwa situasi sekarang akan tidak menyenangkan untuk mereka.
"Aku sudah memperhatikanmu sejak tadi. Jadi memang kau yang berani menatap nona Xia dan menaruh niat padanya, huh?"
"Kau ini siapa?" Chu Kai tidak tahu siapa pemuda ini. Dia baru akan bicara ketika tiba-tiba saja kerah pakaiannya ditarik dan dia diangkat hingga berdiri. Jing Hao sangat kaget dengan perubahan yang mengejutkan itu.
"Bukan main, kau hanya pemuda biasa. Berani sekali kau memandangi nona Xia kami,"
Chu Kai memegang kuat tangan yang mencengkeram kerah pakaiannya. Dia pun berkata, "Aku sama sekali tidak mengenalmu. Apa-apaan kau ini?"
"Kau bahkan tidak layak mengetahui namaku, dasar buruk rupa."
"Tu-tunggu dulu, Tuan Muda!" Jing Hao berusaha untuk mencegah pemuda ini melakukan sesuatu kepada temannya. Dia berkata dengan panik, "Temanku hanya melihat nona Xia Ling Qing. Sama sekali tidak bermaksud jahat padanya,"
Pandangan pemuda itu nampak gelap. Suaranya dingin saat berkata, "Melihat? Apa nona Xia Ling Qing adalah hiburan yang patut dilihat olehmu?"
Jing Hao kaget. Bukannya menenangkan pemuda ini, dia justru membuatnya marah. Dirinya benar-benar tidak tahu lagi harus bicara seperti apa. Mereka sudah menyinggung seseorang.
"Apa masalahmu?" Chu Kai membentak, "Aku memperhatikan nona Xia juga tidak ada hubungannya denganmu."
"Kai ..." Jing Hao terperangah dengan keberanian Chu Kai yang gila ini. Apa temannya ingin mati?!
"Tidak tahu malu sekali ... Beraninya kau!" pemuda itu menggeram marah dan langsung melempar tubuh Chu Kai tanpa peringatan. Jing Hao berseru hingga kakinya terpeleset dan nyaris saja jatuh dari atap.
Chu Kai berteriak, dia tidak menyangka akan dilempar tinggi sekali dan juga sangat jauh. Dia akan mati..! Dia pasti akan mati..!
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
Anonymous
😝😝😝😝🤑
2023-10-04
1
Aini
jing hao apakah leluhur dari jing mi
2023-08-24
4
Jimmy Avolution
Sippp...
2023-07-09
3