2 - Sekte Gunung Wushi

"Kawan..!" Jing Hao terus memanggil Chu Kai dan berusaha menyusul pemuda itu. Dia tersentak saat melihat Chu Kai berdiri di depan sebuah dinding besar dan menempelkan tubuhnya. Dia terlihat seperti sedang menjadi cicak.

Langkah kaki Jing Hao menjadi lebih tenang saat dia melihat betapa konyol tingkat temannya itu. Dia pun menghela napas dan mulai buka suara.

"Apa yang kau lakukan?" Jing Hao bertanya tanpa nada dan membuat Chu Kai menoleh ke arahnya.

"Oh, kau di sini rupanya. Ayo bantu aku melewati dinding ini,"

Jing Hao berkedip, dia menggaruk pelipisnya dan mulai berdiri di samping Chu Kai. Dia berkata, "Dinding ini setinggi lima meter dan mungkin juga lebih. Kau akan patah tulang bila nekat lewat sini. Sudahlah, ayo cari jalan yang lainnya saja."

Bersamaan ketika ucapan Jing Hao selesai, suara gong disertai gendang kuat membuat mereka tersentak kaget. Chu Kai menarik temannya dan berkata, "Itu pertanda pemilihannya sudah dimulai. Kita akan terlambat..! Ayo bantu aku. Dorong bokongku, cepatlah..!"

Jing Hao berkedip beberapa kali dan kemudian mengembuskan napas. Dia pun tidak punya pilihan untuk membantu teman baiknya melewati dinding yang tinggi ini meski yakin hal tersebut tidak akan berhasil.

"Kai, apa kau sangat menyukai para Pendekar Suci itu? Kau melakukan ini pun mereka tidak akan memujimu, ukh!" Jing Hao berusaha mendorong bokong temannya dan bahkan merelakan bahunya untuk diinjak.

Kai yang berusaha menggapai ujung dinding pun berkata, "Bukankah kau sudah tahu jawabannya? Ayo dorong lagi. Lebih tinggi..!"

"Ya ampun, ini akan sia-sia. Kau tidak akan bisa. Ayo cari jalan lain, aduh..!" Jing Hao merintih dan mengomel karena Chu Kai hampir menginjak wajahnya.

"Sedikit lagi ..." Chu Kai bisa mendengar keriuhan di dalam sana dan dia benar-benar ingin masuk. Tangannya hampir mencapai ujung dinding saat kaki Jing Hao tanpa sengaja menginjak batu dan membuat keseimbangannya oleng.

Kedua pemuda itu terjatuh di mana Jing Hao menjerit karena Chu Kai menimpa perutnya dengan sangat keras. Bahkan nyaris saja 'masa depannya' terancam karena kejadian ini.

"Ba-bangun Kai. Apa kau mau membunuhku?! Aduh.."

"Maaf, aku tidak sengaja. Aduh.." Chu Kai meringis dan baru saja akan membantu temannya saat tatapan matanya teralih pada sebuah pohon.

Jing Hao baru saja mengulurkan tangan dan meminta bantuan Chu Kai saat temannya itu menepis tangannya. Dia berkedip dan melihat Chu Kai bergegas ke salah satu pohon yang cukup dekat dengan dinding.

"Apa dia belum menyerah?" Jing Hao tidak habis pikir dengan pemuda yang sudah lama dikenalnya itu. Dirinya pun mendesah pelan dan kemudian bangun untuk menyusul Chu Kai.

"Ya ampun, apa begitu berharganya nona Xia bagimu hingga temanmu ini pun kau abaikan, huh?" Jing Hao memperhatikan Chu Kai yang berusaha memanjat pohon dengan gaya yang aneh.

"Kau bantu saja aku naik. Apa tidak bisa berbaik hati sedikit?"

"Hmph. Gayamu memanjat itu seperti ulat sawi, apa kau tahu?"

"Kawan?"

"Baiklah! Kau benar-benar merepotkan," Jing Hao membantu Chu Kai kembali. Dia adalah teman akrab pemuda ini dan sangat tahu betapa temannya begitu mengagumi Lima Pendekar Suci, utamanya nona Xia Ling Qing.

Chu Kai berhasil memanjat dan kakinya sekarang menapak di salah satu dahan. Dia pun berusaha naik semakin tinggi dan mencoba meraih dahan yang lain.

Jing Hao menyusul temannya memanjat dan terus membantu Chu Kai sambil tetap merutuk. Mereka mendengar suara gendang ditabuh dan semakin riuh.

Chu Kai berhati-hati saat berjalan di salah satu dahan untuk mencapai bagian atas dinding batu. Dia bahkan merubah posisi dan memeluk dahan besar itu sambil berusaha semakin mendekat. Tindakan ini bila dilihat orang lain kemungkinan akan nampak begitu konyol.

"Hampir sampai ... Hampir sampai ... Nona Xia, tunggu aku..!"

Jing Hao menghela napas untuk kesekian kalinya. Dia pun berkata, "Selama ini aku selalu mendukung apa pun yang kau lakukan, bahkan juga turut merepotkan diri sendiri untuk melakukan hal yang aneh. Pertanyaannya, kenapa aku bisa begitu baik padamu?"

Jing Hao berkata, "Rasanya seakan-akan aku melihatmu melakukan tindakan yang merugikan dan membiarkannya begitu saja. Kenapa aku membiarkanmu?"

"Jika kau sudah selesai bicara, kenapa tidak segera melompat kemari?" Chu Kai sudah duduk di atas dinding dan nampak mengulurkan tangannya.

Jing Hao berdecak dan terpaksa untuk mengikuti temannya. Dia melompat dan nyaris terjatuh andai Chu Kai tidak segera membantunya.

Jantung Jing Hao berdebar kencang, ini karena apa yang dia lakukan sekarang berisiko sangat tinggi. Tentu saja salah satu risikonya adalah dia kemungkinan dapat mengalami patah tulang hanya karena mengikuti keinginan Chu Kai.

Ketika sedang mengatur napas dan juga menenangkan debaran jantung---suara gendang yang ditabuh menarik perhatian Jing Hao. Dia pun mulai memandang ke depan dan matanya langsung terbelalak.

Bila Jing Hao berespresi penuh rasa keterkejutan dan tidak percaya, maka Chu Kai berbeda lagi. Pemuda berusia 18 Tahun itu nampak terpukau dengan betapa megahnya bangunan yang terlihat.

Halaman luas Sekte Gunung Wushi penuh dengan orang-orang yang saling berdesakan. Chu Kai merasa beruntung karena dia tidak lewat gerbang hingga tak perlu berdesakan semacam itu.

Di posisi ini pun, dia cukup bisa melihat bagaimana indahnya tarian berunsur seni beladiri dari Sekte Gunung Wushi itu.

Semangat Chu Kai membara ketika nama Xia Ling Qing mulai diserukan. Dia bisa melihat orang-orang kembali riuh seakan mereka memang datang untuk menyaksikan gadis yang cantik dan berbakat ini.

"Aku ingin melihatnya lebih dekat," Chu Kai masih terlalu jauh dari panggung arena di mana Xia Ling Qing sedang memperlihatkan keahlian berpedangnya.

Pandangan Chu Kai mengarah ke salah satu atap yang di jadikan tempat duduk oleh beberapa orang berseragam biru muda. Dia pun dengan gembira meminta Jing Hao agar mengikutinya.

Jing Hao sendiri tersentak, tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh temannya ini. Dia memanggil-manggil Chu Kai dan tetap menyusul pemuda tersebut.

"Kai..! Kau mau ke mana?" Jing Hao terbelalak saat temannya mulai berdiri. Dia pun berkata, "Hati-hati. Kau bisa terjatuh..!"

"Aku baik-baik saja," Chu Kai mencari jarak yang lebih dekat agar dia dan temannya bisa naik ke atap. Mereka tentu berhati-hati dan sama sekali tidak ditegur siapa pun karena semua orang sibuk dengan urusan masing-masing.

Chu Kai dan Jing Hao akhirnya berhasil naik ke salah satu atap meski mengalami beberapa kesulitan. Kedua orang itu saat ini mencoba untuk pergi ke atap yang lebih tinggi dan berusaha agar bisa melihat lebih dekat nona Xia Ling Qing.

"Kurasa ini tempat yang bagus," Chu Kai mengembuskan napas dan nampak puas karena bisa menyaksikan panggung arena tanpa ada yang menghalangi.

Chu Kai menoleh ke samping dan tidak jauh darinya juga ada orang-orang yang duduk sambil berbincang membahas tentang pemilihan ini. Dia pun kembali memandang ke arah panggung arena dan terpukau melihat pendekar suci yang dikaguminya.

Chu Kai melihat Xia Ling Qing, gadis yang cantik dan berambut panjang itu terlihat bertarung melawan lima orang murid yang sama dengannya. Pertarungan itu sengit dan bahkan menghasilkan suara debaman serta percikan api.

Jing Hao melihat ekspresi temannya dan berkata tanpa nada, "Apa kau sudah melihatnya?"

"Mn," Chu Kai menjawab tanpa menoleh, bibirnya membentuk sebuah senyuman dan dia pun berkata, "Nona Xia Ling Qing jauh lebih cantik daripada yang kulihat di dalam lukisan. Selain itu, dia juga sangat hebat dan mengagumkan."

Jing Hao tahu bahwa Chu Kai sama sekali tifak mengerti ucapaannya barusan. Dia pun berkata, "Yang aku tanyakan adalah tentang bagaimana kau dan nona Xia Ling Qing. Coba lihatlah, jarak antara dirimu dengan gadis itu sangat jauh."

Jing Hao menarik napas dan kemudian berkata, "Nona Xia Ling Qing adalah putri dari Tetua Sekte. Sementara dirimu hanya putra dari pemilik kedai makan yang tidak terlalu terkenal. Satu ini saja sudah menjadi perbedaan antara kau dan gadis itu, jadi apa kau masih bisa bermimpi?"

Jing Hao berujar, "Ada banyak sekali perbedaan antara kau dengan nona Xia dan yang paling mencolok adalah status kalian. Sadarlah kawan, kau hanya manusia biasa. Sementara nona Xia adalah sosok pendekar yang dikagumi."

Chu Kai hanya sejenak mendengarkan temannya bicara, dia terlalu terpukau dengan apa yang disaksikannya saat ini.

Jauh di hadapannya, di atas panggung arena terlihat seorang gadis berusia 17 Tahun dengan pedang pusaka di tangan kanannya. Gadis itu mempunyai wajah yang cantik, menawan dan memiliki aura yang tidak main-main. Dia merupakan kebanggaan dari Sekte Gunung Wushi.

Xia Ling Qing merupakan pendekar Tingkat Ahli dan pencapaian ini sangat hebat di usia yang masih begitu muda. Selain itu, lima dari inderanya mempunyai kemampuan yang lebih tajam dari para pendekar lainnya. Dia bahkan memiliki inti spiritual api yang sempurna.

Xia Ling Qing melatih kultivasi pertamanya di usia 5 Tahun, dua tahun lebih cepat dari anak yang lain. Kepribadiannya terbentuk dengan hasil latihan serta didikan keluarganya, dia adalah anak emas yang membuat terpukau orang-orang dengan bakatnya.

Inti Spiritual Api yang dia miliki bahkan tergolong langka dan dikatakan bahwa itu adalah inti spiritual Pendekar Naga yang melegenda. Karenanya di dalam pemilihan kali ini, banyak orang yang yakin bahwa Pendekar Naga selanjutnya adalah Xia Ling Qing. Gadis itu mempunyai kualifikasi yang tidak terbantahkan dan sama sekali bukan kultivator yang memiliki kecacatan dalam hal apa pun.

Untuk pertarungan Xia Ling Qing, gadis cantik itu bahkan mampu mengalahkan lawannya hanya dalam beberapa gerakan saja. Teknik berpedangnya sempurna dan Aliran Tiga Lingkaran Api merupakan salah satu jurus paling hebat yang belum bisa dipatahkan oleh lawan-lawannya.

Gaya bertarung Xia Ling Qing mengagumkan dan begitu indah, bahkan di mata orang biasa seperti Chu Kai. Pemuda itu tidak mengerti tentang tingkat praktik atau apa pun yang berhubungan dengan kultivasi, dia hanya tahu bahwa nona Xia Ling Qing-nya sangat cantik dan penuh pesona.

Ketika Chu Kai mulai membayangkan masa depan dengan Xia Ling Qing, suara gong kembali terdengar. Kali ini yang naik ke atas panggung adalah seorang pemuda yang juga merupakan salah satu dari Lima Pendekar Suci, keriuhan bahkan lebih besar lagi.

*

*

Jing Hao nampak berdecak kagum melihat salah satu dari Lima Pendekar Suci mempertontonkan kebolehannya dalam berlatih seni bela diri.

"Hebat sekali. Mereka adalah manusia yang diberkahi oleh langit. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tetapi saat melihat ada seseorang yang bisa melesat secepat kilat dan menebas hanya dalam sekali ayunan pedang rasanya .... Seakan manusia dewa sudah terlahir ke bumi."

Jing Hao menarik napas, "Aku tidak pernah merasa bosan mengagumi kemampuan para pendekar itu. Kadang aku berpikir, bagaimana caranya mereka bisa melayang di udara dan bahkan sampai bertarung di langit. Rasanya begitu mustahil jika kau tidak melihatnya sendiri, benar kan?"

Jing Hao tertegun saat menoleh. Chu Kai yang duduk di sampingnya terlihat sangat antusias, tetapi hanya pada nona Xia Ling Qing. Padahal dia sudah bicara panjang lebar dan menanyakan pendapat temannya ini.

Jing Hao mengembuskan napas sebelum kembali buka suara, "Kai? Apa kau mendengarku? Kai...!"

"Ha? Kau bilang apa?" Chu Kai hanya menoleh sejenak sebelum melihat Xia Ling Qing yang sedang berdiri tenang. Dia pun kembali senyum-senyum sendiri.

".............." Jing Hao menggeleng pelan. Dia lantas berkata, "Kau menatap nona Xia sampai bola matamu keluar pun, gadis itu tidak akan menoleh. Dia berasal dari dunia yang sama sekali berbeda dengan kita,"

"Apa maksudmu? Kita sama-sama berada di bawah atap langit yang sama, menghirup udara yang sama, jadi mana mungkin berbeda."

"Kai, kau sudah dibutakan oleh cinta. Coba lihat baik-baik, nona Xia Ling Qing adalah pendekar. Kau tahu artinya? Dia tidak sama dengan wanita biasa. Dia kuat, hebat, dan dihormati. Tentu saja untuk pasangan hidup, dia akan mencari pria yang setara dengannya. Bukan orang sepertimu,"

Chu Kai menoleh saat mendengar Jing Hao bicara, dia memperhatikan teman baiknya dengan saksama dan berkata. "Jadi menurutmu nona Xia akan memilih seorang pendekar untuk menikahinya?"

"Benar, kenyataannya memang begitu. Tidak mungkin dia akan memilih seorang pelayan kedai,"

Chu Kai menatap langit sejenak sebelum bergumam, "Menjadi pendekar ... Tapi siapa yang tahu, mungkin saja tanpa menjadi pendekar pun---aku dan nona Xia ditakdirkan bersama oleh langit."

"Hah," Jing Hao mendengus. Dia pun menggeleng pelan dan menggaruk kepalanya. Temannya ini memang sudah dibutakan pesona seorang gadis.

Di sisi lain, pandangan mata Chu Kai hanya mengarah pada Xia Ling Qing, dia memang mengagumi pendekar suci yang lain, tetapi rasa kekagumannya lebih banyak ditujukan kepada Xia Ling Qing.

Jing Hao memperhatikan teman yang duduk di sampingnya ini dan beberapa kali menggeleng pelan. Dia pun berkata, "Apa kau tidak melihatnya? Hmph, Kai. Aku tidak mau meledekku, tapi sadarlah. Nona Xia Ling Qing berada di sana, sementara kau ada di tempat ini. Jarak kalian begitu jauh dan kau tahu keadaannya seperti apa? Bagaikan matahari dan sebutir pasir. Bahkan tanah pun merupakan perumpamaan yang terlalu besar untukmu,"

Faktanya, seberapa keras pun Jing Hao berbicara dan menyadarkan Chu Kai. Pemuda itu kembali tidak mendengarkan dan perhatiannya hanya tertuju pada sosok Xia Ling Qing yang nampak berdiri tenang.

Chu Kai tanpa menoleh berkata dengan senyuman, "Menurutmu akan seperti apa anakku dan nona Xia nanti?"

Jing Hao terkejut, nyaris terjatuh. Dia pun menghela napas dan berkata, "Anakmu dengan nona Xia adalah kemustahilan. Kau sudah terlalu jauh, hentikanlah Kawan. Aku tidak melarangmu bermimpi, tapi mimpimu ini terlalu tinggi-"

Suara keras bagai sambaran petir tiba-tiba terdengar dari panggung arena. Jing Hao dan Chu Kai terkejut bukan main. Keduanya merasa bahwa jantung mereka nyaris saja runtuh.

Pemuda berpakaian biru muda yang sedang berdiri di panggung arena terlihat menyarungkan kembali pedangnya. Dia menyatukan kedua tangan dan lantas memberi hormat pada Tetua Sekte Gunung Wushi. Pemuda tampan berusia 23 Tahun itu bernama Wei Zhang Zihan.

Pendekar suci yang lain kemudian naik ke panggung arena dan siap untuk menunjukkan kemampuannya. Semua orang terpukau, bersorak menyerukan namanya.

Di sisi lain, Xia Ling Qing sama sekali tidak terpengaruh dengan orang-orang di sekitarnya. Dia fokus memperhatikan rekannya yang bertarung melawan para murid Istana Gunung Wushi.

Liu Han Ying, salah seorang pendekar suci nampak menyilangkan tangan dan berujar tenang di samping Xia Ling Qing. Dia berkata, "Bagi semua orang ini adalah hiburan, tapi sebenarnya kita sedang berlatih dan menunjukkan kemampuan di depan Master Zhuang."

Xia Ling Qing mendengarnya dan melihat beberapa orang yang nampak begitu bersemangat. Ekspresi wajahnya tenang, tetapi sorot matanya mengandung hal yang lain.

Tetua Sekte Gunung Wushi sekaligus ayah dari Xia Ling Qing mengangguk pelan ketika muridnya memberi hormat. Dia adalah tetua yang berusia 40 Tahun bernama Xia Feng Hua.

Di sampingnya berdiri seorang pria berpakaian serba putih yang nampak berusia 37 Tahun. Pria itu mempunyai wajah ramah dan menenangkan dengan mata yang terus tertutup.

Jing Hao yang berada di atap lebih fokus memperhatikan pendekar suci yang sedang bertarung. Dia berdecak kagum atas kemampuan yang dimiliki oleh para pendekar itu.

"Bagaimana mereka bisa sekuat itu? Luar biasa.." Jing Hao bergumam pelan.

"Tidak hanya kuat, nona Xia juga sangat cantik."

"Kau hanya melihat nona Xia Ling Qing saja, coba perhatikan yang lain-"

"Siapa ini?"

Chu Kai dan Jing Hao tersentak saat mendengar suara asing. Keduanya menoleh dan melihat ada seorang pria berpakaian biru muda yang berdiri di belakang mereka.

Jing Hao berkedip, pria ini mempunyai tatapan yang aneh dan seakan tidak suka pada mereka. Entah kenapa dia merasa bahwa situasi sekarang akan tidak menyenangkan untuk mereka.

"Aku sudah memperhatikanmu sejak tadi. Jadi memang kau yang berani menatap nona Xia dan menaruh niat padanya, huh?"

"Kau ini siapa?" Chu Kai tidak tahu siapa pemuda ini. Dia baru akan bicara ketika tiba-tiba saja kerah pakaiannya ditarik dan dia diangkat hingga berdiri. Jing Hao sangat kaget dengan perubahan yang mengejutkan itu.

"Bukan main, kau hanya pemuda biasa. Berani sekali kau memandangi nona Xia kami,"

Chu Kai memegang kuat tangan yang mencengkeram kerah pakaiannya. Dia pun berkata, "Aku sama sekali tidak mengenalmu. Apa-apaan kau ini?"

"Kau bahkan tidak layak mengetahui namaku, dasar buruk rupa."

"Tu-tunggu dulu, Tuan Muda!" Jing Hao berusaha untuk mencegah pemuda ini melakukan sesuatu kepada temannya. Dia berkata dengan panik, "Temanku hanya melihat nona Xia Ling Qing. Sama sekali tidak bermaksud jahat padanya,"

Pandangan pemuda itu nampak gelap. Suaranya dingin saat berkata, "Melihat? Apa nona Xia Ling Qing adalah hiburan yang patut dilihat olehmu?"

Jing Hao kaget. Bukannya menenangkan pemuda ini, dia justru membuatnya marah. Dirinya benar-benar tidak tahu lagi harus bicara seperti apa. Mereka sudah menyinggung seseorang.

"Apa masalahmu?" Chu Kai membentak, "Aku memperhatikan nona Xia juga tidak ada hubungannya denganmu."

"Kai ..." Jing Hao terperangah dengan keberanian Chu Kai yang gila ini. Apa temannya ingin mati?!

"Tidak tahu malu sekali ... Beraninya kau!" pemuda itu menggeram marah dan langsung melempar tubuh Chu Kai tanpa peringatan. Jing Hao berseru hingga kakinya terpeleset dan nyaris saja jatuh dari atap.

Chu Kai berteriak, dia tidak menyangka akan dilempar tinggi sekali dan juga sangat jauh. Dia akan mati..! Dia pasti akan mati..!

******

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

😝😝😝😝🤑

2023-10-04

1

Aini

Aini

jing hao apakah leluhur dari jing mi

2023-08-24

4

Jimmy Avolution

Jimmy Avolution

Sippp...

2023-07-09

3

lihat semua
Episodes
1 1 - Chu Kai
2 2 - Sekte Gunung Wushi
3 3 - Pemilihan Pendekar Naga
4 4 - Xia Ling Qing
5 5 - Wei Zhang Zihan
6 6 - Tidak terduga
7 7 - Tetua Xia Feng Hua
8 8 - Murid Sekte Gunung Wushi
9 9 - Tantangan
10 10 - Master Zhuang
11 11 - Tingkat Kultivasi
12 12 - Nalan Shu
13 13 - Misi Pertama
14 14 - Bai Nang
15 15 - Monster Laba-Laba
16 16 - Pertolongan
17 17 - Kembali Ke Sekte Gunung Wushi
18 18 - Tetua Wang Zhong Xian
19 19 - Musuh Yang Asing
20 20 - Chu Tian
21 21 - Pengungkapan
22 22 - Tekad
23 23 - Pelatihan Pertama
24 24 - Kediaman Tetua Wei Ji Han
25 25 - Kekacauan di Kota Lianyi
26 26 - Si Kembar Meng
27 27 - Pertolongan (2)
28 28 - Penyembunyian
29 29 - Kota Lianyi
30 30 - Anggota Sekte Bulan Mati
31 31 - Yi Zhi Jian
32 32 - Penculikan
33 33 - Tekad (2)
34 34 - Kepergian
35 35 - Pertemuan
36 36 - Perjalanan Bersama
37 37 - Pelatihan dari Wei Zhang Zihan
38 38 - Menuju Kota Chang'An
39 39 - Jebakan
40 40 - Pertemuan
41 41 - Xia Ling Qing (2)
42 42 - Paviliun Merak Putih
43 43 - Keberanian
44 44 - Siasat
45 45 - Diao Lin Wang
46 46 - Permintaan
47 47 - Tujuan Baru
48 48 - Menuju Kota Bian Xi
49 49 - Serangan Kejutan
50 50 - Ruan Zhao Sheng
51 51 - Kelahiran Pendekar Naga
52 52 - Kota Bian Xi
53 53 - Pertemuan (2)
54 54 - Pertarungan
55 55 - Long Yang Wang
56 56 - Menuju Sekte Tianzhi
57 57 - Sekte Tianzhi
58 58 - Jiang Mu Bai
59 59 - Tetua Sekte Tianzhi
60 60 - Wang Xiao Cheng
61 61 - Perangkap
62 62 - Penyembunyian
63 63 - Awal Dari Badai
64 64 - Perburuan
65 65 - Laba-Laba Kabut
66 66 - Dasar Tebing Juéwàng
67 67 - Ular Kalajengking
68 68 - Gua Makam Kuno
69 69 - Pertemuan (3)
70 70 - Huan Shui
71 71 - Pertarungan Wei Zhang Zihan
72 72 - Xue Xiaowen
73 73 - Wang Xiao Cheng [2]
74 74 - Inti Makam Kuno
75 75 - Pedang Pendekar Naga
76 76 - Kejutan
77 77 - Pedang Iblis
78 78 - Alam Ilusi
79 79 - Wei Shezi
80 80 - Kerjasama
81 81 - Pedang Pendekar Naga [2]
82 82 - Wei Shezi [2]
83 83 - Kesepakatan
84 84 - Xia Ling Qing [2]
85 85 - Ancaman
86 85 - Kota Lianyi [2]
87 87 - Liu Han Ying
88 88 - Ketenangan Sebelum Badai
89 89 - Alur Awal
90 90 - Permintaan Bantuan
91 91 - Feng Huang Lin
92 92 - Kekacauan Kota Lianyi
93 93 - Pertarungan
94 94 - Akhir Pertarungan
95 95 - Kondisi Setelah Kota Hancur
96 96 - Pengakhiran Hubungan
97 97 - Persiapan
98 98 - Pelatihan Tertutup
99 99 - Teknik Berpedang
100 100 - Tingkat Kultivasi Surgawi
101 101 - Kota Xiang Yu
102 102 - Lembah Tanah Berapi
103 103 - Lima Sekte Besar
104 104 - Menjarah Makam
105 105 - Anggota Sekte Bulan Mati
106 106 - Xia Ling Qing [3]
107 107 - Dimensi Ruang Makam Kuno
108 108 - Wujud Sesungguhnya
109 109 - Kejutan [2]
110 110 - Wei Zhang Zihan [2]
111 111 - Zhi Mei
112 112 - Naga dari Klan Kuno
113 113 - Ling Xian Shu
114 114 - Kerjasama
115 115 - Harta Jarahan
116 116 - Firasat
117 117 - Hambatan
118 118 - Pertolongan
119 119 - Bagian Paling Dalam Makam
120 120 - Kecurigaan
121 121 - Dimensi Bagian Inti Makam Kuno
122 122 - Teknik Manifestasi
123 123 - Kejutan Lainnya
124 124 - Target Serangan
125 125 - Siasat
126 126 - Kekejaman
127 127 - Kejutan [3]
128 128 - Rasa Takut
129 129 - Pelatihan di Dalam Makam
130 130 - Penyembunyian [2]
131 131 - Sekte Menara Rufeng
132 132 - Informasi Bencana Besar
133 133 - Chu Kai [2]
134 134 - Pulau Yèzi
135 135 - Menyeberangi Lautan
136 136 - Feng Hao Yan
137 137 - Kedatangan Yang Tidak Diduga
138 138 - Menantang Feng Hao Yan
139 139 - Pertarungan [2]
140 140 - Akhir Pertarungan
141 141 - Teknik Pernapasan Naga
142 142 - Penyembunyian [3]
143 143 - Siasat [2]
144 144 - Perjalanan
145 145 - Kembali Ke Sekte Gunung Wushi
146 146 - Pelatihan
147 147 - Pertemuan Tidak Terduga
148 148 - Chu Kai [3]
149 149 - Awal Mula
150 150 - Xu Huan
151 151 - Kegaduhan
152 152 - Chu Kai [4]
153 153 - Wei Zhang Zihan [3]
154 154 - Perjalanan Bersama
155 155 - Hóng Shuǐ
156 156 - Pertolongan [2]
157 157 - Serigala Bayangan
158 158 - Bantuan
159 159 - Fang Tie Zhu
160 160 - Pertikaian Dua Perguruan
161 161 - Bimbingan Tetua Fang
162 162 - Melawan Wei Zhang Zihan
163 163 - Melanjutkan Perjalanan
164 164 - Kota Yanshi
165 165 - Pertemuan (3)
166 166 - Yao Zhijia
167 167 - Kedatangan Yang Tidak Terduga
168 168 - Alam Ilusi [2]
169 169 - Dua Pemuda Asing
170 170 - Bentang Alam Ilusi
171 171 - Chu Kai [5]
172 172 - Teknik Manifestasi [2]
173 173 - Xia Ling Qing [4]
174 174 - Pertemuan (4)
175 175 - Bentang Alam Mimpi
176 176 - Penghalang Iblis Mimpi
177 177 - Iblis Mimpi
178 178 - Chu Kai [6]
179 179 - Pertarungan [3]
180 180 - Akhir Pertarungan
181 181 - Target Pembalasan Dendam
182 182 - Sekte Gunung Wushi [2]
183 183 - Dua Anggota Pilar Bulan
184 184 - Firasat [2]
185 185 - Kondisi Sekte Gunung Wushi
186 186 - Hutan Daxing
187 187 - Penyelamatan
188 188 - Tekad
189 189 - Kekhawatiran
190 190 - Permintaan
191 191 - Shuang Ling Feng
192 192 - Desa Mati
193 193 - Perangkap
194 194 - Kecurigaan
195 195 - Awal Mula [2]
196 196 - Kota Luòxià
197 197 - Chu Kai [7]
198 198 - Xia Ling Qing
199 199 - Penyembunyian
Episodes

Updated 199 Episodes

1
1 - Chu Kai
2
2 - Sekte Gunung Wushi
3
3 - Pemilihan Pendekar Naga
4
4 - Xia Ling Qing
5
5 - Wei Zhang Zihan
6
6 - Tidak terduga
7
7 - Tetua Xia Feng Hua
8
8 - Murid Sekte Gunung Wushi
9
9 - Tantangan
10
10 - Master Zhuang
11
11 - Tingkat Kultivasi
12
12 - Nalan Shu
13
13 - Misi Pertama
14
14 - Bai Nang
15
15 - Monster Laba-Laba
16
16 - Pertolongan
17
17 - Kembali Ke Sekte Gunung Wushi
18
18 - Tetua Wang Zhong Xian
19
19 - Musuh Yang Asing
20
20 - Chu Tian
21
21 - Pengungkapan
22
22 - Tekad
23
23 - Pelatihan Pertama
24
24 - Kediaman Tetua Wei Ji Han
25
25 - Kekacauan di Kota Lianyi
26
26 - Si Kembar Meng
27
27 - Pertolongan (2)
28
28 - Penyembunyian
29
29 - Kota Lianyi
30
30 - Anggota Sekte Bulan Mati
31
31 - Yi Zhi Jian
32
32 - Penculikan
33
33 - Tekad (2)
34
34 - Kepergian
35
35 - Pertemuan
36
36 - Perjalanan Bersama
37
37 - Pelatihan dari Wei Zhang Zihan
38
38 - Menuju Kota Chang'An
39
39 - Jebakan
40
40 - Pertemuan
41
41 - Xia Ling Qing (2)
42
42 - Paviliun Merak Putih
43
43 - Keberanian
44
44 - Siasat
45
45 - Diao Lin Wang
46
46 - Permintaan
47
47 - Tujuan Baru
48
48 - Menuju Kota Bian Xi
49
49 - Serangan Kejutan
50
50 - Ruan Zhao Sheng
51
51 - Kelahiran Pendekar Naga
52
52 - Kota Bian Xi
53
53 - Pertemuan (2)
54
54 - Pertarungan
55
55 - Long Yang Wang
56
56 - Menuju Sekte Tianzhi
57
57 - Sekte Tianzhi
58
58 - Jiang Mu Bai
59
59 - Tetua Sekte Tianzhi
60
60 - Wang Xiao Cheng
61
61 - Perangkap
62
62 - Penyembunyian
63
63 - Awal Dari Badai
64
64 - Perburuan
65
65 - Laba-Laba Kabut
66
66 - Dasar Tebing Juéwàng
67
67 - Ular Kalajengking
68
68 - Gua Makam Kuno
69
69 - Pertemuan (3)
70
70 - Huan Shui
71
71 - Pertarungan Wei Zhang Zihan
72
72 - Xue Xiaowen
73
73 - Wang Xiao Cheng [2]
74
74 - Inti Makam Kuno
75
75 - Pedang Pendekar Naga
76
76 - Kejutan
77
77 - Pedang Iblis
78
78 - Alam Ilusi
79
79 - Wei Shezi
80
80 - Kerjasama
81
81 - Pedang Pendekar Naga [2]
82
82 - Wei Shezi [2]
83
83 - Kesepakatan
84
84 - Xia Ling Qing [2]
85
85 - Ancaman
86
85 - Kota Lianyi [2]
87
87 - Liu Han Ying
88
88 - Ketenangan Sebelum Badai
89
89 - Alur Awal
90
90 - Permintaan Bantuan
91
91 - Feng Huang Lin
92
92 - Kekacauan Kota Lianyi
93
93 - Pertarungan
94
94 - Akhir Pertarungan
95
95 - Kondisi Setelah Kota Hancur
96
96 - Pengakhiran Hubungan
97
97 - Persiapan
98
98 - Pelatihan Tertutup
99
99 - Teknik Berpedang
100
100 - Tingkat Kultivasi Surgawi
101
101 - Kota Xiang Yu
102
102 - Lembah Tanah Berapi
103
103 - Lima Sekte Besar
104
104 - Menjarah Makam
105
105 - Anggota Sekte Bulan Mati
106
106 - Xia Ling Qing [3]
107
107 - Dimensi Ruang Makam Kuno
108
108 - Wujud Sesungguhnya
109
109 - Kejutan [2]
110
110 - Wei Zhang Zihan [2]
111
111 - Zhi Mei
112
112 - Naga dari Klan Kuno
113
113 - Ling Xian Shu
114
114 - Kerjasama
115
115 - Harta Jarahan
116
116 - Firasat
117
117 - Hambatan
118
118 - Pertolongan
119
119 - Bagian Paling Dalam Makam
120
120 - Kecurigaan
121
121 - Dimensi Bagian Inti Makam Kuno
122
122 - Teknik Manifestasi
123
123 - Kejutan Lainnya
124
124 - Target Serangan
125
125 - Siasat
126
126 - Kekejaman
127
127 - Kejutan [3]
128
128 - Rasa Takut
129
129 - Pelatihan di Dalam Makam
130
130 - Penyembunyian [2]
131
131 - Sekte Menara Rufeng
132
132 - Informasi Bencana Besar
133
133 - Chu Kai [2]
134
134 - Pulau Yèzi
135
135 - Menyeberangi Lautan
136
136 - Feng Hao Yan
137
137 - Kedatangan Yang Tidak Diduga
138
138 - Menantang Feng Hao Yan
139
139 - Pertarungan [2]
140
140 - Akhir Pertarungan
141
141 - Teknik Pernapasan Naga
142
142 - Penyembunyian [3]
143
143 - Siasat [2]
144
144 - Perjalanan
145
145 - Kembali Ke Sekte Gunung Wushi
146
146 - Pelatihan
147
147 - Pertemuan Tidak Terduga
148
148 - Chu Kai [3]
149
149 - Awal Mula
150
150 - Xu Huan
151
151 - Kegaduhan
152
152 - Chu Kai [4]
153
153 - Wei Zhang Zihan [3]
154
154 - Perjalanan Bersama
155
155 - Hóng Shuǐ
156
156 - Pertolongan [2]
157
157 - Serigala Bayangan
158
158 - Bantuan
159
159 - Fang Tie Zhu
160
160 - Pertikaian Dua Perguruan
161
161 - Bimbingan Tetua Fang
162
162 - Melawan Wei Zhang Zihan
163
163 - Melanjutkan Perjalanan
164
164 - Kota Yanshi
165
165 - Pertemuan (3)
166
166 - Yao Zhijia
167
167 - Kedatangan Yang Tidak Terduga
168
168 - Alam Ilusi [2]
169
169 - Dua Pemuda Asing
170
170 - Bentang Alam Ilusi
171
171 - Chu Kai [5]
172
172 - Teknik Manifestasi [2]
173
173 - Xia Ling Qing [4]
174
174 - Pertemuan (4)
175
175 - Bentang Alam Mimpi
176
176 - Penghalang Iblis Mimpi
177
177 - Iblis Mimpi
178
178 - Chu Kai [6]
179
179 - Pertarungan [3]
180
180 - Akhir Pertarungan
181
181 - Target Pembalasan Dendam
182
182 - Sekte Gunung Wushi [2]
183
183 - Dua Anggota Pilar Bulan
184
184 - Firasat [2]
185
185 - Kondisi Sekte Gunung Wushi
186
186 - Hutan Daxing
187
187 - Penyelamatan
188
188 - Tekad
189
189 - Kekhawatiran
190
190 - Permintaan
191
191 - Shuang Ling Feng
192
192 - Desa Mati
193
193 - Perangkap
194
194 - Kecurigaan
195
195 - Awal Mula [2]
196
196 - Kota Luòxià
197
197 - Chu Kai [7]
198
198 - Xia Ling Qing
199
199 - Penyembunyian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!