Kedai Bulan Merak merupakan salah satu kedai kecil di Kota Jian Yang. Tidak banyak pengunjung yang mendatangi kedai ini, apalagi Kedai Bulan Merak berseberangan dengan kedai terbesar di kota ini.
Tetapi selama tiga hari belakangan, Kedai Bulan Merah dipenuhi sesak oleh pelanggan. Alasan karena kabar bahwa Pendekar Naga yang terpilih tinggal di tempat ini sudah menyebar hampir ke semua tempat.
"Harusnya hari ini aku membuka kedai dan membiarkan para pelanggan di luar sana masuk. Tetapi ..." Chu Tian menghela napas dan memandangi jendela serta pintu di kedainya yang harus tutup selama tiga hari, entah apakah akan mulai buka besok atau tidak.
"Paman, apa tidak sebaiknya kita buka saja?" Jing Hao nampak duduk di salah satu kursi sambil menaikkan kakinya di atas meja.
Jing Hao berkata, "Di luar sana ada banyak pelanggan. Paman akan mendapat banyak uang dari mereka,"
"Hal yang bagus jika mereka semua datang untuk membeli makanan, tetapi orang-orang di luar itu hanya kemari untuk melihat Pendekar Naga. Belum lagi, orang yang menjadi pusat perhatian masih mengurung diri di kamarnya,"
Jing Hao menggaruk kepalanya dan mendesah pelan, "Apa Kai belum mau keluar kamar?! Dia itu kan bukan anak gadis, kenapa sampai bertindak sejauh ini?!"
"Dia baru saja patah hati, jadi tentu saja mengurung diri." salah seorang pelayan yang juga tinggal di Kedai Bulan Merak ikut dalam pembicaraan tersebut.
Pelayan itu berkata, "Kita semua tahu bagaimana perasaan Kai terhadap nona Xia Ling Qing. Tetapi yang dilakukan gadis itu pada Kai jelas membuat luka di hatinya,"
Jing Hao menggeleng pelan, "Cinta anak muda benar-benar rumit..."
"Kau bicara seperti itu seakan kau ini sudah sangat tua--!!"
Suara ketukan pintu membuat Jing Hao, Chu Tian dan pelayan Kedai Bulan Merak yang lain nampak tersentak. Semuanya spontan menatap ke arah pintu kedai yang kembali diketuk.
"Aku dari Sekte Gunung Wushi, Wei Zhang Zihan datang kemari untuk menjemput Pendekar Naga."
!!?
Jing Hao hampir jatuh dari tempat duduknya saat hendak berdiri. Dia kaget bukan main mendengar suara jantan yang luar biasa itu. Anak kecil bahkan tahu siapa Wei Zhang Zihan, dia adalah salah satu Pendekar Suci yang begitu hebat dan dikagumi.
"Pa-Paman, i-ini ..." Jing Hao berekspresi pucat. Dia menatap Chu Tian dan melihat ekspresi pria tua itu yang juga sama seperti dirinya. Mereka tidak mungkin mengabaikan suara ketukan itu.
"Apa ada orang di dalam?"
!!
Chu Tian tersentak mendengar suara Wei Zhang Zihan dan suara ketukan pintu kedainya. Dia berusaha menarik napas dan mencoba untuk tenang. Dirinya pun berjalan mendekat dan mengulurkan tangan untuk membuka pintu kedai.
Sosok Wei Zhang Zihan terlihat ketika pintu mulai terbuka. Dia mempunyai tatapan mata acuh tak acuh dengan perawakan rapi dan penuh keanggunan.
Alisnya yang tajam terlihat sangat bagus dengan hidung indah. Ini menunjukkan dia berasal dari garis keturunan yang mulia, apalagi dengan aura yang tidak kalah luar biasanya.
Dia masih berusia 23 Tahun, namun sosoknya yang hebat tidak tertandingi dibandingkan dengan pria yang lain. Wei Zhang Zihan mempunyai sesuatu yang membuat orang ingin berlutut dengan satu tatapan matanya.
Di usia yang masih sangat muda, Wei Zhang Zihan memiliki aura intimidasi yang kuat sehingga orang lain tidak berani menegakkan pandangan mereka lebih dari lima detik.
Chu Tian dan Jing Hao kesulitan untuk menelan ludah. Di hadapkan dengan tatapan mata yang tajam ini, keringat dingin membasahi punggung mereka.
"Di mana dia?" suara Wei Zhang Zihan rendah dan menggema, penuh pesona yang tidak terbantahkan.
*
*
Kedai Bulan Merak mempunyai dua lantai dan lantai kedua ini adalah tempat Chu Kai dan ayahnya tinggal.
Pemuda yang memiliki bekas luka cakaran di pelipis sebelah kanannya itu berada di dalam salah satu kamar. Sebuah kamar yang dipenuhi oleh lukisan Kelima Pendekar Suci meski lukisan Xia Ling Qing-lah yang lebih banyak.
Chu Kai terbaring di tempat tidur. Matanya terbuka sudah sejak lama, tetapi dia masih belum mau beranjak dari tempat tidurnya.
Dia melihat atap dari tempat tidurnya dan kain muslin berwarna merah yang lebar, nampak dilambai-lambaikan angin dengan lembut. Ini adalah hari ketiga di mana Chu Kai merasa sangat berat untuk bangun dari tempat tidur.
Setelah kejadian di mana Xia Ling Qing datang kemari, Chu Kai tidak pernah lagi menatap lukisan Pendekar Suci yang ada di dalam kamarnya. Jika tanpa sengaja menatap lukisan tersebut, dirinya akan langsung memalingkan pandangan.
Dia sebenarnya tidak marah atau bahkan memusuhi Xia Ling Qing. Hanya saja saat dia menatap lukisan itu, bayangan tentang mata dingin dan suara yang penuh amarah dari gadis itu langsung memenuhi pikirannya.
"Orang bilang ... Para gadis sangat suka dengan pria tampan bertubuh bagus. Dan demi mewujudkan itu ... Aku sudah berlatih selama dua tahun dan merawat anak-anakku ini."
Chu Kai memijat-mijat lengannya yang memang cukup berotot meski masih belum bisa membuat pujian untuknya. Dia menghela napas dan kemudian mengusap bekas luka di pelipis kanannya.
"Aku akui bukan orang yang tampan, tapi aku juga tidak terlalu jelek. Aku ini punya wajah yang lumayan, tetapi memang tidak bisa dibandingkan dengan para murid Sekte Gunung Wushi yang mengagumkan itu."
"Aku juga sadar diri. Nona Xia Ling Qing pantas mendapatkan pria yang lebih baik. Aku tidak berharap terlalu banyak, tapi dia tidak seharusnya bersikap begitu kasar. Aku kan tidak menginginkan gelar Pendekar Naga atau apa pun itu. Aku tidak berniat merebut gelar itu darinya,"
Chu Kai mengembuskan napas. Suara perutnya tiba-tiba saja terdengar dan merupakan pertanda bahwa dia sudah harus berhenti mengoceh sendiri.
Pemuda itu baru akan menatap ke pintu saat pintu kamarnya tiba-tiba dibuka dan seorang pelayan masuk dengan wajah yang pucat. Kening Chu Kai mengerut dan dia pun bangun dari tempat tidurnya.
"Shen Liang, kau kenapa?" Chu Kai bertanya dan tersentak ketika kedua lengannya di pegang oleh pelayan muda di depannya ini.
Shen Liang menelan ludah dan berkata dengan suara yang gugup. "Kai, tuan muda Wei Zhang Zihan datang dan ingin membawamu ke Sekte Gunung Wushi."
"Apa?" Kai tersentak dan baru ingat bahwa di hari ketika pemilihan Pendekar Naga---dia memang diberi waktu tiga hari mempersiapkan keperluannya untuk nantinya akan dibawa ke Sekte Gunung Wushi.
"Kau harus sembunyi." Shen Liang berujar, "Jika kau pergi ke Sekte Gunung Wushi maka nona Xia akan melihatmu dan dia akan memukulmu lagi. Tempat itu jelas sangat berbahaya,"
Chu Kai mengangguk, dia juga tidak ingin pergi ke sekte itu. Dia bukanlah Pendekar Naga dan dirinya bisa terpilih pasti adalah sebuah kesalahan.
"Cepat sembunyi..! Aku akan berusaha untuk menahan tuan muda Wei Zhang Zihan,"
"Tapi aku harus sembunyi di mana?"
Shen Liang mengedarkan pandangan ke sekeliling sebelum tatapan matanya mengarah pada lemari pakaian Chu Kai. Dia pun menarik pemuda itu dan lantas menyuruhnya bersembunyi di dalam lemari.
"Tetaplah di sini dan jangan keluar. Aku akan memberi tanda jika kondisi sudah aman,"
Chu Kai mengangguk pelan. Retakan jantungnya berpacu kencang dan merasa bahwa keadaan ini akan menjadi buruk bila dia sampai dibawa ke Sekte Gunung Wushi.
*
*
Shen Liang baru saja menutup pintu kamar Chu Kai ketika dirinya dikejutkan dengan sosok pemuda yang tidak lain adalah Wei Zhang Zihan. Dia terkejut bukan main sampai-sampai kepalanya membentur pintu.
"Tu-Tuan Muda Wei ..." keringat dingin membasahi punggung Shen Liang. Dia melihat Jing Hao dan Chu Tian yang baru saja menaiki tangga dengan ekspresi yang jelas begitu pucat. Kedua orang itu ternyata tidak bisa menahan Wei Zhang Zihan.
"Di mana orang itu?" Wei Zhang Zihan bersuara tanpa nada, tatapannya dingin saat menatap pelayan di hadapannya.
"Sa-Saya ti-tidak ..." bibir Shen Liang kelu untuk bicara. Tubuhnya bahkan gemetar saking ketakutannya.
Wei Zhang Zihan melangkah dan lantas membuka pintu kamar Chu Kai. Shen Liang yang sebelumnya berkata akan menahan Wei Zhang Zihan bahkan tidak sanggup bergerak dan justru terjatuh ke lantai.
"Kau tidak apa-apa?" Jing Hao menepuk bahu Shen Liang dan mengusap-usap punggung temannya itu. Di sisi lain, Chu Tian mengikuti Wei Zhang Zihan yang sudah memasuki kamar Chu Kai.
"..............." pandangan Wei Zhang Zihan mengedar untuk menemukan pemuda yang dicarinya. Dia berhenti saat tiba di salah satu dinding.
Ada sebuah lukisan yang cukup menarik perhatian Wei Zhang Zihan. Ekspresinya tetap tenang ketika memperhatikan lukisan itu. Dia pun kembali melihat-lihat sekeliling dan memang tidak ada sosok yang dicarinya di tempat ini.
Chu Tian sendiri merasa keheranan sebab dia yakin putranya tidak pernah meninggalkan kamar. Dia baru saja akan buka suara ketika pandangan matanya tertuju pada lemari pakaian.
Jing Hao dan Shen Liang baru saja masuk. Chu Tian menoleh dan melihat Shen Liang tertunduk dengan kedua tangan yang saling menggenggam, ini adalah kebiasaan pemuda itu ketika sedang menyembunyikan sesuatu.
"Jangan-jangan Kai ..." Chu Tian menahan napas dan memperhatikan Wei Zhang Zihan. Dia pun bisa merasakan betapa ketegangan yang dialami oleh Shen Liang karena sudah membantu putranya bersembunyi.
Wei Zhang Zihan berbalik dan melihat ke arah Chu Tian sebelum mengarahkan pandangan pada Jing Hao dan Shen Liang. Ketiga orang ini menundukkan kepala dan sama sekali tidak berniat untuk buka suara, mungkin karena takut. Padahal di sama sekali tidak menggertak atau melukai mereka.
Wei Zhang Zihan bukanlah pemula hingga bisa dikelabui oleh orang biasa. Dia yakin ketiga orang yang dilihatnya ini sudah menyembunyikan pemuda yang dicarinya.
Di dalam ruangan ini hanya ada sekat kayu, tetapi saat berjalan ke arah sekat tersebut---tanpa ragu tangan Wei Zhang Zihan langsung terulur dan membuka lemari pakaian yang ada di sampingnya.
!!
Shen Liang, Jing Hao dan Chu Tian terkejut bukan main. Mereka bertiga sudah terlalu bodoh. Harusnya mereka menyediakan tempat agar Chu Kai bisa sembunyi dengan aman. Sekarang ini semua sudah selesai.
Pintu lemari kembali ditutup dan tindakan dari Wei Zhang Zihan membuat Shen Liang tersentak. Rasanya seakan Wei Zhang Zihan tidak menemukan Chu Kai di dalam lemari.
"Ba-bagaimana itu mungkin?" Shen Liang bertanya-tanya dan dia pun membuka lemari saat Wei Zhang Zihan berjalan ke arah sekat.
Lemari yang sebelumnya merupakan dia gunakan untuk menyembunyikan Chu Kai benar-benar kosong. Pemuda itu tidak ada di dalam lemari, entah ke mana dia pergi.
Jing Hao memberi isyarat mata pada Shen Liang dan seakan menanyakan keberadaan Chu Kai. Shen Liang pun menggeleng sebagai jawaban bahwa dia kali ini tidak tahu menahu tentang Chu Kai yang sekarang ada di mana.
Wei Zhang Zihan melihat ada sebuah jendela yang cukup pas untuk seseorang bisa nekat melompat keluar, meski ini adalah lantai dua.
Tanpa basa-basi, Wei Zhang Zihan juga mulai melompat dan mendarat dengan anggun di tanah. Tindakannya jelas saja sangat mengejutkan bagi Chu Tian, Jing Hao, dan Shen Liang.
"Paman, bagaimana ini?!" Jing Hao nampak sangat khawatir, "Apa Kai benar-benar melompat turun?!"
"A-aku sebelumnya meminta Kai untuk bersembunyi di dalam lemari," suara Shen Liang terdengar gemetar, "Ta-tapi sekarang dia tidak ada."
Chu Tian mengembuskan napas. Dia sekarang sudah bisa bernapas dengan lebih baik karena Wei Zhang Zihan sudah tidak ada. Jujur saja untuk ukuran anak muda yang mempunyai wajah tampan, aura Wei Zhang Zihan menakutkan.
Chu Tian berujar pelan, "Aku sangat bangga karena Kai dipilih menjadi Pendekar Naga. Tapi jika belajar di Sekte Gunung Wushi yang murid-muridnya seperti pemuda itu .... Rasanya seakan putraku akan ditindas."
Jing Hao buka suara. "Paman, dunia para pendekar memang keras. Apa Paman tidak lihat pedangnya? Itu bukanlah pedang untuk memotong ayam atau ikan, tetapi menebas leher manusia."
Chu Tian menahan napas dan hanya bisa mendukung apa pun keputusan putranya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
Delima
Gimana c ceritanya blm paham
2023-10-20
0
KaZuYa
sambil menunggu shuxiang seri 3
2023-08-16
2
✍️⃞⃟𝑹𝑨Pemecah Regulasi୧⍤⃝🍌
kurang huruf a nya kak Dasha untuk kata 'dia'
2023-07-16
3