Chu Kai berada di situasi yang sangat genting. Dia tidak bisa lagi mengulur waktu dan sosok yang menjadi lawannya ini merupakan tipekal orang yang penuh semangat masa muda.
"Nalan Shu, pendekar yang menduduki posisi keempat dalam jajaran 5 Pendekar Suci. Dia adalah kecepatan, kegesitan, dan ketajaman dalam setiap serangannya." Chu Kai menelan ludah untuk yang kesekian kalinya.
"Aku adalah penggemar beratnya, jadi--!!" Serangan langsung datang seperti lesatan anak panah di saat Chu Kai masih sedang berpikir.
!!!
Nalan Shu melebarkan mata, bahkan suara riuh dari keterkejutan para murid yang menjadi penonton pun ikut terdengar. Mereka sangat syok menyaksikan serangan yang dialamatkan kepada Chu Kai justru ditahan oleh pria itu sendiri.
"Aku ini sangat menggemari Kelima Pendekar Suci, bahkan menghabiskan uangku untuk bisa membeli suvenir dan buku yang membahas tentang kehidupan kalian. Nalan Shu, pendekar yang selalu memberikan serangan pertama ke bagian utama lawan." Chu Kai tersenyum karena berhasil menebak.
Dia pun menggunakan kakinya dan lantas memberi tendangan, tetapi Nalan Shu dengan lincah mementingkan tubuh ke belakang dan kini memberinya tatapan yang haus.
"Ha ha, lumayan." Nalan Shu tersenyum, "Rupanya kau bisa bertarung. Kupikir kau orang yang bodoh,"
"Kasar sekali..." Chu Kai berkedip. Dia pun dengan gugup berkata, "Aku ini sebenarnya tidak pandai bertarung. Dibandingkan dengan Nona Nalan, kemampuanku bukan apa-apa. Sungguh,"
"Saatnya membuktikan apa yang kau katakan itu," Nalan Shu kembali menerjang. Kali ini dia mengincar bagian bahu Chu Kai dan serangan itu pun mampu ditahan.
"Tubuhku bergerak sendiri, ini keren." Chu Kai hanya melihatnya. Serangan Nalan Shu terlihat jelas di matanya, jadi karena itulah dia bisa tahu arah serangan anak perempuan itu selanjutnya.
Hanya saja Chu Kai sepertinya tidak sadar bahwa dia sudah memprovokasi lawannya. Nalan Shu yang kesal pun menerjang dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa dilihat oleh mata biasa dan Chu Kai terkena serangan yang kuat tersebut.
Wei Zhang Zihan yang baru datang pun sangat terkejut. Dia terlambat untuk menyelamatkan Chu Kai dari serangan itu. Nalan Shu terlihat berdiri dengan tatapan mata yang sepertinya akan melakukan serangan penghabisan.
Melihat Chu Kai tidak bangun membuat Wei Zhang Zihan melesat dan menahan serangan berikutnya dari Nalan Shu. Kehadirannya pun mengejutkan semua orang.
"Gege?"
"Apa yang ingin kau lakukan? Kau mau membunuhnya?" suara Wei Zhang Zihan dingin dan membuat Nalan Shu terkejut.
Wei Zhang Zihan mengedarkan pandangan dan memperhatikan setiap murid Sekte Gunung Wushi. Suaranya tanpa nada saat berkata, "Aku tidak pernah tahu bahwa sekte ini sudah dipenuhi oleh sekelompok berandalan."
!!!
"Kalian semua, pergi ke Paviliun Shan'E dan menerima hukuman. Nalan Shu, kau juga."
Ucapan Wei Zhang Zihan adalah mutlak, tidak ada satu pun murid yang berani mengeluh dan menentangnya. Bahkan Nalan Shu pun juga demikian. Mereka menyatukan tangan dan lalu membungkuk memberi hormat sebelum pada akhirnya pergi ke Paviliun Shan'E.
Wei Zhang Zihan menarik napas dan kemudian mulai berjalan menghampiri Chu Kai yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Dia pun memeriksa nadi pria itu dan bersyukur karena Chu Kai masih hidup.
Masalahnya, ini juga bukan hal yang dapat membuat lega sebab ada luka tebasan besar pada bagian bahu kiri Chu Kai. Pria ini pun terlihat kehabisan banyak darah dan bisa dikatakan dia dalam situasi yang kritis.
Wei Zhang Zihan menggunakan energi spiritual miliknya untuk menahan darah yang keluar dari luka Chu Kai. Dia pun dengan hati-hati mulai mengangkat dan menggendong pria tersebut. Dia membawanya ke Paviliun Lixing untuk mendapatkan perawatan.
Chu Kai dirawat selama seminggu penuh oleh seorang tabib bernama Yun Zhen. Serangan dari Nalan Shu ternyata membuat tulang pada bahu Chu Kai retakan yang parah, tetapi untung saja Yun Zhen bisa menyembuhkannya dengan kemampuan pengobatan yang dia miliki.
Saat bangun, hal pertama yang dirasakan oleh Chu Kai adalah lapar. Dia tanpa tahu malu langsung meminta makanan pada Yun Zhen yang jelas-jelas merupakan orang asing baginya.
"Hah," Yun Zhen mendengus, dia berkedip seakan tidak percaya dengan pria yang baru saja bangun ini. Dia berkata, "Hebat sekali. Aku sudah lama tidak melihat orang makan sampai sebanyak ini. Apa kau serius di belakang punggungmu tidak ada lubang besarnya?"
"Tenagaku berasal dari makanan, jadi tolong untuk tidak mengajakku bicara lebih dulu. Apa kau mengambilkan nasi lagi?"
"Haaah..." Yun Zhen menghela napas, "Di Sekte ini... Makanan hanya disediakan bagi pada murid yang belum tahu caranya berlatih inedia. Apa yang kuberikan padamu merupakan jatah makanan para murid tingkat pemula, jadi jika kau punya malu sebaiknya jangan meminta tambah."
"Apa rasa malu bisa membuatmu kenyang?" Chu Kai bicara disela-sela kunyahannya. Dia berkata, "Sekte ini besar dan megah, masa untuk memberi makan satu orang saja tidak bisa? Aku ini pasien. Tabib sepertimu harusnya senang jika pasienmu mau makan banyak,"
Chu Kai kembali berkata, "Di kedai milikku tidak ada yang namanya kekurangan makanan. Kami tidak akan membiarkan satu pelanggan pun merasa tidak puas. Tapi kau.."
"Anak muda, apa kau pikir ini kedai? Kalau kau sudah bisa berjalan, maka pergi sana. Pulang ke kedaimu dan makan sepuasnya di sana!"
"Waah, kau tabib yang kasar. Tidak baik, sangat tidak baik."
Yun Zhen berusaha menahan emosinya. Dia sungguh ingin sekali menjitak pemuda ini. Entah bagaimana Master Zhuang memilih seorang berandal menjadi Pendekar Naga.
"Serius kau tidak mau memberiku nasi? Aku ini masih lapar," suara perut Chu Kai bergemuruh. Dia belum bisa puas hanya dengan tiga porsi makanan.
"Kau tahu, kau ini merepotkan saat bangun." Yun Zhen bangun dari tempat duduknya dan pergi untuk mengambilkan makanan.
Chu Kai tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Saat Yun Zhen sudah tidak terlihat, dia pun mulai mengingat-ingat apa yang terjadi dan raut wajahnya langsung berubah pucat.
"Kupikir aku akan mati," Chu Kai menggeleng. Dia tidak akan berani untuk melihat Nalan Shu sebagai gadis kecil yang manis lagi.
Perawatan selama tiga hari berikutnya membuat kondisi Chu Kai semakin membaik. Dia pun bisa beraktivitas seperti biasa, termasuk mengikuti pelajaran di kelas pemula.
Namun baru setengah hari belajar, Chu Kai langsung dihadapkan dengan kenyataan di mana dia harus mengikuti Wei Zhang Zihan dan menjalankan misi bersama.
Saat ini, Chu Kai berjalan dengan ekspresi yang terperangah. Dia bahkan tidak ingat bagaimana dirinya bisa menuruni Gunung Wushi dan mengekori Wei Zhang Zihan seperti sekarang.
Sambil menggeleng cepat, Chu Kai pun buru-buru berjalan di samping Wei Zhang Zihan dan bertanya. "Tunggu dulu, apa kau tidak salah dengan sesuatu? Bagaimana kau bisa membawa aku dalam misimu? Kau tidak mabuk, kan?"
Chu Kai menjelaskan, "Tuan Muda Wei. Kau sangat tahu seperti apa aku. Aku ini lemah dan bahkan tidak pandai bertarung. Aku sangat sadar diri dengan kemampuanku dan aku tahu benar bahwa jika ikut denganmu... Aku hanya akan menjadi beban. Jadi mari lupakan ini dan carilah partner yang benar-benar bisa membantumu."
Wei Zhang Zihan menatap Chu Kai yang sejak tadi terus mengoceh, hampir tanpa jeda. Dia pun tanpa nada berkata, "Misi ini adalah untukmu. Aku hanya mendampingimu saja,"
"Apa?!" Chu Kai terkejut, "Ba-bagaimana itu bisa menjadi misiku? Aku masih berada di kelas pemula,"
"Namun para pemula di kelasmu tidak memiliki tanggung jawab sebesar yang kau miliki. Jadi jika kau masih punya tenaga mengoceh, maka buatlah tenaga itu untuk mempercepat langkahmu."
"Tuan Muda Wei, kau harus dengarkan aku. Ini sama sekali tidak benar," Chu Kai berusaha untuk terus membujuk Wei Zhang Zihan. Dia bahkan tanpa sadar sudah berada di kota.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 199 Episodes
Comments
Anonymous
🤨🙃🤨🙃🤨🙃
2023-10-04
1
Anonymous
😝😝😝🤑
2023-10-04
1
Achmad Faiz
hohoho
2023-09-05
1