"Yang Mulia, sudahkah tiba waktu hamba untuk menunjukkan taring?" tanya Venom seraya menunduk.
"Ya! Berikanlah persembahan terbaikmu!" Lucifer menyeru dengan raut wajah penuh kedengkian.
"Baiklah, Yang Mulia!" Venom melenyapkan keberadaannya dalam sekejap.
...****************...
Kelamnya malam yang sunyi itu, tak mengubah suasana keramaian di setiap sudut pasar kota Raven. Semua perbincangan mengarah pada isu menghilangnya sang wanita penyambut di gedung serikat petualang.
"Apakah kau mengetahuinya? Julia si gadis seksi itu telah menghilang entah kemana!" tanya salah seorang pedagang kepada pedagang lainnya.
"Ya! beliau merupakan langganan yang selalu berbelanja sayuran kepadaku, sungguh malang betul nasibnya!" ujar salah seorang pedagang sayuran.
"Haha! andai saja dia mau menerima pinangan dariku waktu itu!" sambung salah seorang saudagar kaya.
Angin pun berhembus amat kencang. Namun, ketenangan di malam itu tidak dapat mencairkan ketegangan suasana yang terjadi di sekitar Istana kerajaan. Para Ksatria mulai memperdebatkan kebijakan kerajaan perihal pengurangan dana kemiliteran yang sangat berpengaruh bagi mereka.
"Kami telah bekerja siang dan malam! tapi inikah balasannya?" ujar salah seorang Ksatria pada Ksatria lainnya.
"Jaga ucapan mu! Raja telah memberikan yang terbaik untuk kita!" tegas salah seorang Ksatria yang memihak kerajaan.
Kekacauan pun tak dapat dihindari. Keributan itu cukup membuat keamanan kerajaan menjadi lebih renggang sehingga menimbulkan kesempatan bagi para bandit untuk bertindak semaunya.
"Hei ... kau! jadilah teman tidurku malam ini ...." ujar salah seorang bandit seraya memeluk seorang gadis yang berkeliaran di tengah malam.
"Tidak!!! lepaskan aku!!!" Gadis itu berusaha mengelak rangkulan sang bandit.
"Jangan melawan! tidak akan ada yang bisa menolongmu!!! hahaha!!!" Sang bandit lalu memukul bagian leher dari gadis tersebut sehingga membuatnya tak sadarkan diri.
Ia kemudian membawa gadis tersebut menuju sebuah tempat yang gelap untuk mengeksekusinya. Begitu banyak kejahatan-kejahatan lain yang telah dilakukan oleh para bandit di tengah kota. Hal itu pun berlangsung tanpa disadari oleh para pasukan Ksatria yang sedari tadi telah memadati istana kerajaan.
Kesemrawutan itu, menjadi pembuka jalan bagi sang iblis ahli siasat, untuk melancarkan aksinya ditengah malam. Seiring dengan turunnya hujan yang lebat, ia terbang melayang menuju pusat dari kota tersebut.
"Wahai para penduduk kota! Bersiaplah! persembahkanlah nyawa kalian yang tidak berharga itu sebagai hadiah yang sangat istimewa! untuk Yang Mulia Lucifer! untuk Yang Mulia, Lucifer!!!"
Pria iblis dengan tanduk yang tumpul dan taring nan tajam di giginya tersebut pun mulai merapalkan sihirnya yang amat mematikan. Para warga kota yang mendengar himbauan itu merasa kebingungan setelah mendapati seseorang yang terbang jauh di atas kota. Mereka tidak menyadari bahwa kematian sesungguhnya telah tiba.
"ULTIMATE GENOCIDE!!!" sorak Venom dengan sihir mematikannya seraya mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi.
Hanya dalam hitungan sekejap, seluruh warga, pasukan kerajaan, para Ksatria, hingga para bandit pun tergeletak tak berdaya seiring dengan cahaya ruh yang keluar dari tubuh mereka. Semua yang berada dalam lingkungan kerajaan pun meregang nyawa seketika.
Rei yang mendapatkan firasat buruk pun dengan segera bergegas menuju rumah besar. Hatinya seketika berkecamuk setelah mendapati Jessica dan yang lainnya tergeletak tak berdaya. Ia dengan segera menghampiri sumber dari penyebab kemalangan mereka.
Rei menggunakan sihir pendeteksi nya dan mendapati seseorang yang berdiri di tengah jalan. Ia yang tak mampu menahan emosinya pun dengan segera mendatangi pria itu dan mencoba meraih lehernya. Namun, pria tersebut dapat menghindari jangkauan Rei dengan mudahnya.
"Hahaha! seperti ini kah titisan Dewa Kehancuran?" cela Venom dengan keangkuhannya.
"Siapa kau?" Rei menjadi kebingungan setelah serangannya dapat dihalau dengan leluasa.
"Siapa aku? ... kau akan mengetahuinya jika mampu mengalahkan prajuritku yang satu ini ... Helena!!!" Venom menyeru kepada seseorang.
Muncullah sekelebat bayangan yang menghadirkan sosok seorang gadis dengan tatapan tajam serta pisau besar dalam genggaman tangannya. Ia terus mengerang seraya mengeluarkan liur dari mulut yang penuh dengan bercak darah tersebut.
Dengan melihat sosok yang menyeramkan itu, tak membuat Rei gentar sedikitpun. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan keras seraya memusatkan pikiran. Rei kemudian menghampiri kedua orang tersebut dengan secepat kilat alih-alih mengalahkan mereka secara bersamaan.
Namun, hal yang ditakutkan pun terjadi. Venom berusaha menyingkirkan tangan pria itu dan mendorongnya dengan cepat. Ia lalu mengeluarkan sebuah portal yang akan dimasuki oleh Rei sesaat setelah tubuhnya terlempar begitu jauh.
"Helena! masuklah kedalam portal! Kalahkan pria itu dengan seluruh kemampuanmu! Dia setara dengan 1 juta nyawa yang akan dipersembahkan untuk Yang Mulia Lucifer!" seru Venom pada Helena.
"Baiklah!" Helena kemudian memasuki portal itu.
Setelah kedua orang itu memasuki portal, Venom dengan segera menutup portal tersebut. Ia lalu menghilangkan keberadaannya secara cepat alih-alih kembali menuju reruntuhan para iblis.
"Yang Mulia, aku kembali," Venom bertumpu sebelah lutut kepada Lucifer.
"Bagaimana?" Lucifer beranjak dari kursi singgasananya seraya menghampiri Venom.
"Semua telah dilancarkan sesuai rencana, Yang Mulia," kata Venom.
"Hahaha!!! kerja yang bagus!" Lucifer menepuk kepala Venom secara berulang-ulang
...****************...
Rei berusaha menghentikan laju tubuhnya yang cepat dengan menggesekkan jarinya pada tanah. Kuatnya dorongan itu membuatnya berhenti terlalu jauh hingga kakinya turut bergesekan dengan tanah. Setelah berhenti, Rei mencoba memfokuskan dirinya. Ia kemudian melayangkan tubuhnya alih-alih terbang seraya mencari jalan keluar.
Setelah menelusuri cukup jauh area sekitar, Ia pun dikejutkan dengan kehadiran Helena yang melesatkan tubuhnya secepat kilat seraya melayangkan tebasan pisau besar itu kepadanya. Beruntung Rei dapat menahan tebasan yang mematikan itu dengan menahan pergelangan tangannya. Ia lalu mencengkram lengan Helena dan melemparnya sejauh mungkin.
Setelah mendapati Helena terhempas cukup jauh, Rei kemudian menyusulnya secepat kilat, alih-alih menyerang punggungnya dengan sebuah tendangan yang keras. Namun, Helena berusaha mengelak dengan meraih kerah baju Rei lalu memukul pipinya sekuat tenaga. Pria itu pun terhempas sejauh mungkin lalu terjatuh ke atas tanah. Benturan yang hebat dari tubuhnya itu membuat retakan yang cukup panjang disekitar tanah tersebut. Dan Rei, tak merasakan sakit sedikitpun.
Helena yang mendapati Rei akan bangkit, dengan segera menghampirinya seraya melesatkan dirinya secepat kilat kearah Rei sambil melayangkan sebuah tebasan kepadanya. Namun, Rei dapat mengantisipasi serangan itu. Ia dengan segera bangkit lalu menarik lengan Helena seraya menghempaskan tubuhnya ke tanah secepat kilat.
Helena balik merasakan apa yang dirasakan Rei. Benturan tubuhnya pun menyebabkan tanah tersebut ambruk terlalu dalam. Gadis iblis itu seketika mengucurkan darah dari mulutnya seraya menahan sakit. Rei pun berusaha meraih lehernya alih-alih mengakhiri riwayat sang iblis. Namun, Ia terkejut setelah mendapati Helena menebas tangan kirinya secepat kilat.
Tangan yang kuat nan kekar itu pun seketika terpisah dari tubuh Rei. Ia tidak percaya dengan apa yang terjadi. Rei lalu memundurkan langkahnya seraya menatapi sebagian tangan kirinya yang terputus. Rasa takut pun seketika menghantui pria tersebut. Ia menjadi lengah dan menimbulkan banyak celah bagi Helena untuk menyerangnya.
Gadis iblis itu pun tertawa dengan penuh keangkuhan setelah berhasil memojokkan Rei. Ia merasa bila Rei akan semakin mudah untuk dikalahkan setelah kehilangan sebelah lengannya. Helena tak ingin buang-buang waktu dengan pertarungan itu. Ia lalu membangkitkan kepercayaan diri alih-alih ingin segera mengakhirinya.
Helena kemudian menghampiri pria yang sedang lengah tersebut. Ia lalu menebas tangan sebelah kanannya dengan cepat seraya menjauh dari Rei alih-alih menikmati reaksi dari pria yang sudah tidak memiliki kekuatan itu. Helena pun merasa yakin bila kemenangan sudah berada ditangannya. Ia lalu menjilat pisau besarnya seraya mencicipi darah Rei yang menempel pada benda tersebut.
"Hahaha!!! inikah yang dinamakan titisan Dewa Kehancuran? kau bahkan tidak layak untuk ku sebut tikus!" Helena menghina pria itu dengan kesombongannya.
Melihat kesempatan emas itu, menjadikan Helena tak mampu menahan rasa sabarnya. Ia lalu menghampiri Rei yang hanya terdiam seraya melayangkan pisaunya menuju kedua kaki pria tersebut.
SZEPPP!!!
Rei yang malang itu pun jatuh tersungkur ke atas tanah setelah Helena berhasil menebas kedua kakinya. Tak ada lagi yang mampu menopang tubuh pria itu setelah kedua kakinya pun terpisah dari tubuhnya. Begitu banyak darah yang mengalir deras dari setiap bagian yang terpotong akibat tebasan gadis iblis tersebut.
Helena merasakan waktunya telah terbuang begitu banyak. Ia kemudian mencengkram rambut Rei seraya menarik kepalanya dengan kuat. Setelah mendapati perlakukan yang kejam tersebut, Rei menggetarkan giginya seraya menatap Helena dengan penuh kebencian. Namun, Gadis itu semakin angkuh setelah melihat tatapan yang penuh dengan ketidakberdayaan tersebut.
~To be continued~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
꧁༺૮αƭαรƭ૨σρɦε |°૮ℓσωɳ°|༻꧂
kenapa gak dia aja yg lawan? kenapa harus nyuruh cewek 🤣
2022-11-17
1
ArumiSakagami
MC nya bakal mati kah?
2022-11-17
0