Tebalnya kabut di pegunungan itu semakin meningkatkan kewaspadaan Rei terhadap keamanan para rombongan. Ia lalu menyadari hal yang mengganjal dalam pikirannya.
Mereka beristirahat kah? atau malah tertinggal? atau mungkin mengundurkan diri? batin Rei setelah mendapati Rodney dan guild nya tak menampakkan diri.
Selepas menuruni gunung, kabut yang tebal itu perlahan memudar. Rei mengajak para rombongan untuk beristirahat di tepi sungai yang besar. Mereka tak menyadari bahwa guild Rodney semakin jauh tertinggal dibelakang.
Dengan diliputi rasa cemas, Rei menggunakan sihir penglihatan guna mencari tahu keberadaan mereka. Ia lalu mendapati Iris yang menangis seraya menjerit ketakutan.
"Tidak!!! tolong!!!" sorak Iris yang mendapati dirinya akan di lecehkan oleh seorang bandit.
"Jangan mengelak! atau kubunuh kau! " tegas sang bandit yang berusaha merobek baju Iris.
Api amarah dalam hatinya pun berkobar seketika. Tanpa sepengetahuan para pedagang, Rei dengan segera mengeluarkan sihir perisai yang melindungi mereka. Ia pun turut membuat rombongan tersebut tertidur dengan sihirnya guna mempermudah misinya.
"Menjauhlah darinya!" Rei dengan sihir teleportasi nya pun muncul dalam sekejap seraya berdiri dibelakang bandit tersebut. Ia lalu menyeret leher sang bandit seraya melemparnya ke arah langit. Bandit itu pun hangus terbakar menjadi abu setelah menembus ruang angkasa.
"Rei!!!" ucap Iris seraya memeluk Rei dengan erat.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Rei.
"Kakakku! mereka dalam bahaya!" ujar Iris dengan raut wajah gelisah.
Rei tidak dapat mengabaikan kesedihan yang mendalam dari raut wajah cantik tersebut. Dengan penuh perhatian, ia pun mengusap air mata sang gadis secara lembut. Pria itu lantas mengangkat tubuh Iris seraya menggendongnya layaknya seorang putri kerajaan.
"Iris, dengarkan aku! akan ku pastikan Rodney dan yang lainnya dalam keadaan aman" ujar Rei dengan penuh keyakinan.
"B-b-baik Rei!" Iris pun tersipu malu. Ia terpesona dengan ketampanan dan keberanian Rei.
Inikah yang dinamakan Pangeran? ... Zeta, Silvia, aku tidak akan kala**h dari kalian, batin Iris seraya menatap wajah Rei.
" Kita akan pergi menuju para pedagang terlebih dahulu" Rei dengan segera mengeluarkan sihir teleportasinya menuju rombongan pedagang. Ia pun tak punya pilihan lain selain menggunakan sihir itu demi mempersingkat waktunya.
Iris pun terkejut setelah mendapati tubuhnya berpindah dengan sangat cepat. Gadis itu lalu terkagum setelah menyadari kehebatan Rei dalam menggunakan sihir yang luar biasa tersebut. Tanpa ia sadari, benih cinta dalam hatinya telah tumbuh pada pria itu.
Mereka kemudian tiba dihadapan para rombongan yang sedang tertidur pulas tersebut. Rei yang masih mendapati Iris memeluknya pun dengan spontan mengarahkan tangannya ke arah langit.
"Iris, perhatikan! aku akan mengajarimu sihir ini suatu saat nanti"
"B-benarkah?" Iris semakin mengencangkan pelukannya pada tubuh Rei.
Gadis itu tercengang setelah melihat gelombang sihir yang melingkarinya beserta para rombongan.
"Mass Teleportation!"
Gelombang angin pun muncul setelah Rei merapalkan sihirnya. Mereka lalu tiba di sebuah kota yang menjadi tujuan akhir dari para rombongan. Rei dengan lembut menurunkan Iris seraya menghampiri ketua rombongan tersebut.
"Tuan, bangunlah! kita sudah sampai" ucap Rei.
"Hah? benarkah?" Pria tua itu pun menepuk-nepuk pipinya seakan tak percaya bahwa ia telah sampai di kota yang menjadi tujuannya.
"Tentu saja!" ujar Rei dengan sedikit senyuman di bibirnya.
"Baiklah! kalau begitu, aku telah memberikan bayaran mu pada Julia, temui ia segera di gedung serikat petualang" tutur sang pedagang seraya mengemas barang bawaannya.
Rei kemudian berencana untuk menggunakan sihir teleportasi nya lagi, guna menyelamatkan Rodney dan yang lainnya. Ia dan Iris pun bergegas menuju sebuah tempat yang menurutnya sepi agar tak ada siapapun yang dapat melihat sihirnya itu.
Iris, maafkan aku yang tidak berguna ini. Zeta, kau sungguh terampil hingga mampu melampaui ku. Silvia, jangan sampai ceroboh untuk yang kedua kalinya, batin Rodney.
Pria itu semakin tak berdaya. Tubuh besar nan kekar serta otot-otot yang kuat itu pun tak mampu lagi menahan air mata atas ketidakberdayaan diri dalam melindungi saudarinya.
"Hahaha, aku akan membantumu menuju neraka dengan cepat!" Sang bandit menginjak-injak tubuh Rodney tanpa ampun. Darah yang tak berdosa itu pun tersembur keluar dari mulut sang pria yang memiliki kasih sayang yang amat mendalam kepada ketiga adiknya tersebut.
"Akulah yang lebih cepat dalam membawamu menuju neraka!" tegas Rei yang tiba secepat kilat seraya berdiri dibelakang sang bandit.
Rei berusaha menahan emosinya. Dengan penuh ketenangan, ia memeluk tubuh pria itu dari belakang lalu membantingnya dengan sangat keras hingga menembus tanah. Mereka yang menyaksikan kejadian itu pun tercengang setelah mendapati tanah yang berlubang akibat benturan tubuh sang bandit itu.
"Cure the curse!" Ia mendaratkan telapak tangannya ke punggung Rodney seraya merapalkan sihir penyembuh.
"Rei! dibelakangmu!!!" Rodney bersorak setelah mendapati lukanya pulih beserta tenaganya.
"Pejamkan matamu!" seru Rei kepada Rodney.
"Baik!"
Dengan kecepatan angin, ia bergerak menuju silvia seraya mendekatkan wajahnya pada gadis cantik berambut pendek tersebut. Silvia pun terkagum dengan kecepatannya yang luar biasa.
"Siluva! pejamkan matamu!" Rei tak menyadari kesalahannya dalam menyebut nama sang gadis.
"Silvia!!!" Gadis itu pun memejamkan matanya dengan wajah kesal.
Rei merasa yakin bahwa semuanya telah memenuhi syarat baginya untuk beraksi setelah sebelumnya menyuruh Iris untuk memejamkan mata terlebih dahulu.
Para bandit yang tersisa pun berusaha melarikan diri setelah melihat kejadian brutal itu. Mereka lalu berpencar tak tentu arah.
"Lari!!! kita sedang berhadapan dengan monster yang sesungguhnya!" seru salah seorang bandit kepada yang lainnya.
Rei melayangkan tubuhnya menuju langit. Ia lalu mengarahkan kedua tangannya kepada semua orang yang melarikan diri tersebut. Para bandit pun terkejut setelah mendapati tubuh mereka melayang-layang di udara tanpa sebab. Rei kemudian merapalkan salah satu sihirnya yang mematikan.
"Fall To The Hell!"
bruk...
Tubuh - tubuh itu melesat secepat kilat menuju tanah seiring dengan cepatnya Rei mengayunkan tangannya ke arah bawah. Mereka yang belum sempat menjerit pun meregang nyawa seketika. Rei dengan perlahan menurunkan tubuhnya setelah mendapati para bandit itu lenyap tak tersisa.
"Silvia, Apa yang telah terjadi!" Rodney sempat mendengar suara benturan tersebut. Ia kemudian menegakkan tubuhnya dan mendapati Zeta telah pulih dari lukanya. Dengan penuh kegembiraan, Rodney berlari tergesa-gesa seraya menghampiri mereka.
"Zeta! Silvia!" sahut Iris dari kejauhan yang turut menghampiri kedua gadis itu.
Tangisan penuh haru pun mewarnai pertemuan keempat bersaudara tersebut. Mereka saling memeluk satu sama lain seraya melampiaskan kebahagiaan tiada tara.
Rodney, kau sangat beruntung, batin Rei.
Rei hanya bergeming seraya memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia tak berniat untuk mengganggu kebahagiaan Rodney dan ketiga adiknya tersebut. Sebab, pria itu tak ingin memicu ingatan tentang kenangan masa lalu yang dapat membuat hatinya bersedih.
Wahai Dewi, apakah ini juga termasuk tugasku? batin Rei seraya menatap ke arah langit.
Banyaknya lubang yang tercipta menjadi saksi atas hukuman yang telah Rei berikan kepada para bandit. Bumi seperti merasakan anugerah dari titisan Sang Dewa Kehancuran setelah menelan habis tubuh - tubuh yang penuh dosa itu.
~To be continued~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
anggita
mass teleportation... 💥
2022-11-21
1