Selepas membawa pulang kedua putrinya menuju istana, Dewi Kesucian kembali mengepakkan kedua sayap besarnya dan terbang menuju tempat dimana Rei berada.
Hatinya sempat merasa gugup namun kepercayaan dirinya sangatlah besar dan mendominasi keinginannya untuk segera bertemu serta memberikan pengetahuan tentang alam kahyangan kepada titisan Dewa Terakhir tersebut.
Setelah mempercepat laju terbangnya, sang Dewi pun tiba dan melayang tak jauh diatas tubuh Rei yang tengah tertidur serta beralaskan hamparan rumput yang luas dan hijau. "Wahai anak manusia, bangunlah!" seru Sang Dewi.
Rei seketika membuka kedua matanya secara perlahan. Ia lalu mengerjapkan mata lentiknya itu berulangkali dan tercengang saat mendapati kehadiran sosok Dewi cantik yang tengah melayang didepannya.
Ia pun sontak bangkit dari tidurnya dan terduduk sambil menatap penuh heran pada area disekitarnya. "Dimana aku?" tanya Rei setelah menolehkan wajahnya kearah kiri dan kanan.
"Kau sekarang berada di alam kahyangan," kata Sang Dewi yang kibasan kedua sayapnya, membuat tubuhnya berayun-ayun secara perlahan diatas langit.
Mendengar Dewi itu berbica kepadanya, Rei pun sontak berdiri dari tempatnya terduduk santai sambil memfokuskan pandangan pada sang Dewi. "K-kahyangan?" tanya Rei dengan raut wajah heran.
"Ya! Terbanglah! Dan ikuti aku!" seru Sang Dewi turut menatap Rei dengan pandangan yang sangat tajam.
"T-t-terbang? Apa maksud anda? Aku bisa terbang? Itu mustahil!" bantah Rei yang seolah tidak percaya dengan perkataan Sang Dewi
Sang Dewi pun menghela nafasnya dengan perlahan. "Cobalah tengok apa yang ada dibelakang punggungmu," seru Dewi Kesucian seraya terbang secara perlahan menghampiri pria yang sedang kebingungan itu.
Rei pun semakin penasaran dengan apa yang dikatakan Sang Dewi. Ia lalu menelengkan wajahnya seraya melirik ke arah punggung dan terkejut, saat mendapati sepasang sayap yang besar telah melekat dipunggungnya. "Mustahil! Ini mustahil. Apa aku telah berubah menjadi malaikat?" ungkapnya dengan mata yang membelalak lebar sambil menyentuh sayap sebelah kirinya.
Sang Dewi pun sontak menggengam ketiak Rei dan membawanya melayang ke atas langit dengan perlahan. "Kau lebih dari seorang malaikat," katanya dengan raut wajah yang menatap penuh keseriusan.
Kakinya sempat menendang-nendang, meski tubuhnya telah berada di atas langit. Rei tercengang bukan kepalang, saat menatap wajah cantik Sang Dewi. "Apa kau sudah menikah?" tanya Rei tanpa mengetahui siapa sosok sang Dewi sebenarnya.
Dewi Kesucian pun sontak tersenyum setelah mendapatkan pertanyaan yang benar-benar diluar dugaanya itu. "Kau ingin menikahi ku? Aku bahkan telah memiliki dua putri," ungkap Sang Dewi seraya melebarkan senyumannya hingga nampak giginya yang putih seputih benang sutera.
"Oh. Maaf," Rei kemudian menunduk lesu karena berfikir sang Dewi telah berkeluarga, tanpa mengetahui kebenarannya.
"Kibaskan kedua sayapmu," seru Dewi Kesucian yang dengan sengaja melepaskan genggamannya pada ketiak Rei dan membuat pria itu terperosok kearah bawah.
"Jangan lepaskan a—" -ia menoleh kebawah- "Tidak tidak tidak! Wooaaaaaaaa!!!" Rei tanpa sengaja mengibaskan kedua sayapnya secara cepat saat dirinya terjatuh lalu mendapati tubuhnya hampir berjarak sekitar dua meter dari atas permukaan tanah.
Ia pun kembali melayang ke atas langit secara perlahan sambil menekankan konsentrasi pada kedua sayapnya agar tetap mengibas secara berulang-ulang. "Whoaaa!! ... Hebat! Aku bisa terbang!" katanya sambil mensejajarkan ketinggian terbangnya pada ketinggian terbang Sang Dewi.
"Ikuti aku!" Dewi Kesucian kemudian terbang melayang menuju suatu tempat yang akan ditunjukkannya pada Rei.
"Tungguu!!" sorak Rei saat mendapati Sang Dewi semakin jauh meninggalkannya.
Para Dewa kemudian memunculkan wujudnya masing-masing. "Hmm ... apa kalian yakin bila anak itu pantas menjadi penerus leluhur kita?" tanya Dewa Kemakmuran dengan raut wajah heran.
"Aku justru melihat sang Dewi dan anak itu bagaikan melihat seorang ibu dan anaknya sendiri!" sambung Dewa Keberuntungan sambil bersedekap tangan.
"Aaaaa! Andai saja aku yang ditanyai sudah menikah atau belum, sudah pasti aku yang akan memeluk dan menciumnya!" tambah Dewi Kesuburan yang tak dapat menahan rasa kagumnya, saat menyaksikan ketampanan wajah Rei yang semakin meningkat hawa nafsunya.
"Dewi Kesucian!!" tegur Dewa Kemakmuran dan Dewa Keberuntungan setelah melihat tingkah aneh dari Sang Dewi Kesuburan yang terus menerus menggetarkan tubuhnya sambil menggigit bibir bawah.
Dewa Keadilan pun ikut menambahkan. "Bagaimanapun juga, cepat atau lambat, kita akan menyaksikan apakah anak itu sanggup menerima kenyataan bila dirinya telah menjadi titisan Dewa Kehancuran," ujar Dewa Keadilan dengan raut wajah cemasnya.
"Betul! Dia harus menguasai seluruh kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh dewa leluhur kita itu secepat mungkin," kata Dewa Kemakmuran.
"Atau, jika tidak, tubuhnya akan hancur karena tak sanggup menahan kekuatan itu!" sambung Dewi Kesuburan.
"Betul! Kau benar, Dewi Kesuburan! Semoga keberuntunganku dapat mempercepat proses pelatihannya dalam menguasai seluruh elemen dan kekuatan yang dimiliki oleh Dewa Kehancuran!" tambah Dewa Keberuntungan seraya mengernyitkan dahinya.
"Ya! Jika dia mati, maka sia-sia saja semua usaha kita!" pungkas Dewa Keadilan yang mengepalkan kedua tangannya dengan erat seraya menggertakan giginya berulangkali.
...*** Istana Dewi Kesembuhan ***...
Setelah terbang selama beberapa saat, Dewi Kesucian seketika menurunkan ketinggian terbangnya secara perlahan, menuju sebuah istana yang dikelilingi ribuan hektar lahan tanaman-tanaman herbal.
Setibanya di gerbang istana yang megah itu, Dewi Kesucian masih mendapati Rei tetap melayang diatas langit. "Turunlah!" seru Sang Dewi.
Rei pun sontak menghentikan kibasan sayapnya dan membuatnya hampir terperosok ke atas tanah.
Beruntung Sang Dewi dengan segera menghampirinya seraya menggenggam ketiaknya, lalu mengajarinya cara untuk turun dengan perlahan "Jika ingin turun, jangan hentikan kibasan sayapmu. Kibaskan dengan perlahan sambil mencondongkan tubuhmu sedikit kebawah menuju tanah. Setelah hampir tiba di atas tanah, tegakkan kembali tubuhmu," jelas Sang Dewi dengan panjang lebar.
"Baiklah," kata Rei. Dewi Kesucian kemudian melepaskan genggamannya pada ketiak Rei.
Rei lalu mencoba mempresentasikan apa yang yang telah dituturkan oleh sang Dewi. Ia mengibaskan kedua sayapnya secara pelan-pelan seraya menodongkan tubuhnya menuju permukaan tanah. "Baiklah! Aku mengerti," ucapnya setelah berhasil menapakkan kakinya tepat diatas tanah dengan sempurna.
"Siapa namamu?" tanya Sang Dewi yang bermaksud ingin memudahkan dirinya dalam memanggil pria titisan Dewa Kehancuran tersebut.
"Namaku? Hmm ... seingatku, namaku adalah Rei," jawab Rei dengan sedikit mengingat kembali tentang kehidupannya sebelumnya.
"Rei? Nama yang cocok," puji Dewi Kesucian seraya berbalik dan menghadap pintu istana yang sangat megah itu. "Ini adalah istana Dewi Kesembuhan," ungkapnya sambil membuka pintu yang berwarna putih itu dengan kedua tangannya.
Rei pun tercengang dan terkagum dengan keindahan ornamen-ornamen serta perabotan yang belum pernah dilihatnya selama hidupnya itu. "Wahh!! Apakah barang-barang ini bisa dijual?" tanya Rei setelah istilah 'keuntungan' dalam otaknya seketika mempengaruhi isi hatinya.
"Jangan! Atau Dewa Kesembuhan akan murka padamu!" larang Dewi Kesucian sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya ke arah Rei.
Sang Dewi kemudian melangkahkan kakinya melewati sebuah lorong istana yang menghubungkan sebuah pintu yang sangat besar. Ia kemudian menuntun Rei menuju pintu tersebut. "Aku akan memperkanmu pada Dewi Kesembuhan. Mungkin beliau akan memberikan anugerahnya juga kepadamu," kata Sang Dewi sambil menyentuh pintu itu dengan kedua tangannya.
Dewi cantik dengan rambut panjang yang menjuntai hingga punggungnya itu, membuka pintu tersebut secara perlahan. Seketika muncul sebuah cahaya berwarna hijau cerah dari celah pintu yang terbuka, hingga pantulan cahayanya semakin menyilaukan pandangan Rei.
Rei pun seketika memusatkan pandangannya setelah cahaya itu memudar dengan perlahan. Ia lalu terkejut bukan kepalang, saat mendapati kehadiran seorang Dewi yang tengah tertidur diatas ranjang yang terbuat dari beberapa lembar daun kelapa yang menggantung di setiap sudut ranjangnya.
~To be continued~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
anggita
seal of god,,
2022-11-21
1